
"Roland, aku ingin menikahi Alissa sesegera mungkin. Apakah bisa di lakukan dalam waktu 3 hari?”
Alissa, Albrech dan Roland sedang membicarakan tentang rencana pernikahan di kediaman Roland.
“Tiga hari, kah? Bisa saja Tuan. Akan tetapi, acara pernikahannya harus dilakukan di sini, apa Tuan tidak masalah?” tanya balik Roland.
Tok! Tok! Tok!
“Tuan Roland, apakah Anda di dalam?”
Tiba - tiba obrolan mereka harus terhenti karena suara ketukan pintu dari seseorang.
Roland lalu membuka pintu rumahnya kemudian melihat salah satu bawahannya.
“Ada apa Beiron? Apakah ada serangan hewan buas? Atau para bandit berulah lagi?” tanya Roland penasaran.
“Ti-tidak Kapten, ini bukan mengenai hal itu,” jawab Beiron bingung dengan bagaimana memberi tahu Roland mengenai peristiwa yang telah terjadi tadi.
“Lalu mengenai apa hal ini? bicaralah dengan jelas, Beiron,” tuntut Roland.
“Ya Kapten! Putra anda telah menganiaya anak - anak desa tadi pagi!”
“Apa katamu!!? Cepat antar aku kesana!” perintah Roland.
“Ayah, ada apa sebenarnya ribut - ribut?” tanya Alissa yang penasaran dengan suara Ayahnya yang meninggi.
“Beritahu Tuan Albrech, Ayah minta maaf obrolan pernikahan kalian harus di tunda terlebih dahulu,” ujar Roland.
“Me-mengapa?”
“Beiron mengatakan, Sirius menganiaya beberapa anak desa. Kau di sini saja temani Tuan Albrech, Ayah kan dengan cepat menyelesaikan masalah ini,” perintah Roland.
“Ti-tidak mungkin, Siriuss??” Alissa merasa tidak percaya bahwa adiknya itu melakukan hal seburuk itu.
“Beiron, ayo kita bergegas.”
...----------------...
Di sisi lain desa, Sirius tengah terikat di sebuah tiang. Para warga melakukan ini untuk berjaga - jaga. Menurut anak - anak yang menjadi korban, Sirius tiba - tiba saja memukuli mereka tanpa ampun. Dan Sirius juga berkata dia tidak mengingat apa – apa tentang kejadian tersebut. Warga menganggap bahwa, Sirius telah dirasuki semacam Roh Jahat.
“Aku tidak melakukan semua itu!” ujar Sirius berusaha mengatakan bahwa dia tidak bersalah.
“Diam kau bocah! Jika saja bukan karena rasa hormatku pada tuan Roland, aku sudah menghabisimu karena apa yang telah kau perbuat kepada anakku!” umpat salah satu ayah korban.
“Betul sekali! Hanya kaulah di keluargamu yang kami para warga benci kau tahu!” ucap seorang pemuda.
Tidak lama kemudian, Roland tiba dengan ajudannya. Roland melihat para warga sedang meneriaki anaknya yang terikat.
“Beiron, bawa Sirius ke kantor. Kurasa akan sangat berbahaya jika kita biarkan dia di kelilingi para warga yang marah,” perintah Roland.
“Baik kapten.”
Mereka berdua lalu berjalan ke depan Sirius. Beiron lalu melepaskan ikatan Sirius.
“Para penduduk desa sekalian. Aku sebagai Ayah dari anak ini sangatlah meminta maaf dan menyesal atas perbuatan yang telah anakku perbuat,” ucap Roland yang berbicara di hadapan para warga.
“Aku akan melakukan kompensasi terhadap para korban meskipun aku tahu hal ini tidak akan membuat kalian menjadi lebih baik. Untuk saat ini, kami akan membawa anak ini ke kantor Patrol Guard dan menyelidikinya lebih lanjut.”
Setelah mendengar perkataan Roland, para warga akhirnya mulai bubar. Roland adalah orang yang paling di hormati di desa ini selain Tuan Baron. Setelah kerumunan bubar, Roland di hampiri oleh seorang kakek tua.
“Roland, kami memanggil Pendeta dari Kuil Athena untuk melakukan pengetesan.”
“Pengetesan?” Mendengar hal ini, wajah Roland menjadi suram.
“Ya, bersiaplah dengan keadaan terburuk.”
...----------------...
Roland dan Sirius berada di kantor Patrol Guard. Roland sedang duduk di kursi menemani Sirius yang sedang duduk dalam jeruji besi.
“Ayah, aku sama sekali tidak melakukannya,” ucap Sirius lirih.
“Ya, aku tahu,” balas Roland singkat.
“Jadi! Apakah kalian akan membebaskanku tidak lama ini?” tanya Sirius sedikit bersemangat.
Melihat senyuman anaknya itu, hati Roland menjadi sangat berat.
“Kau akan di bebaskan jika Abbot dari Kuil menyatakan kau tidak berbahaya,” jawab Roland sambil memalingkan pandangannya.
“Berbahaya? Apa maksudmu Ayah!? Bukankah kau bilang barusan kau mempercayaiku!?” Suara Sirius terdengar putus asa ketika menanyakan itu.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan mereka berada terbuka memperlihatkan Beiron dan seorang Pendeta.
“Selamat datang, Abbot Jeremiah. Aku meminta maaf karena merepotkanmu datang ke desa ini,” ucap Roland yang berdiri menyalami pendeta itu.
“Tidak apa - apa, aku kesini hanya menjalankan tugasku kepada Sang Dewi. Kurasa kita tidak perlu basa - basi, kita langsung saja memulai pengetesan subjeknya.”
Mereka lalu mendatangi Sel dimana Sirius di tahan. Pendeta itu lalu jongko di hadapan Sirius kemudian menempelkan tangannya pada kepala Sirius. Setelah selesai, mereka lalu kembali keluar dari sel itu.
“Aku dapat merasakannya, kerja bagus telah memberitahu kami untuk kesini Kapten. Perintahkanlah anak buahmu untuk mengirimkan simbol ini ke Kuil.” Pendeta itu memberikan sebuah Cincin yang memiliki sebuah lambang kepada Roland.
mendengar ucapannya, wajah Roland terlihat sangat putus asa.
“Aku akan memancingnya keluar agar kita sudah siap saat para Inquisitor tiba, aku menyarankan kau sebagai Ayahnya tidak menyaksikan ini.”
“Tidak Tuan, aku akan menemaninya melewati ini semua.”
Pendeta itu kemudian mengeluarkan sebuah pisau lalu kembali masuk ke sel. Sirius yang melihat benda tajam itu mulai gugup.
“A-apa yang akan kau lakukan?”
“Tidak apa - apa nak, ini semua demi kebaikan kita bersama.” Pendeta itu kembali menempelkan telapak tangannya pada kepala Sirius. Dia lalu menusukkan pisau itu pada telapak tangan Sirius.
“Uaghhhhh! Tidak! Tidak! Sakit,” teriaknya tak kuat mehanan rasa sakit.
Ketika Sirius menjerit, telapak tangan pendeta itu mulai bersinar. Dia lalu mencabut pisau yang ada pada telapak tangan Sirius kemudian menyembuhkan lukanya dengan cahaya itu.
“Tidak apa - apa, aku melakukan ini demi kemaslahatan dunia. Demi menjalakankan tugas Sang Dewi,” ucap Pendeta itu yang terlihat mengkokohkan hatinya untuk menyiksa anak kecil.
“Uaghhhh! Ayah! Tolong Ayah ini sakit sekali! Mengapa!? Mengapa!?”
Mendengar Jeritan anaknya, mata Roland mulai berkaca - kaca.
Pendeta itu terus - menerus menyiksa Sirius lalu kembali menyembuhkannya selama beberapa jam. Sirius sudah kehabisan suaranya karena terus menjerit. Keringat membasahi baju pendeta yang terlihat kelelahan yang terus – menerus menggunakan sihir penyembuh.
__ADS_1
“Eghhhh!”
Pendeta itu kembali menusukkan pisau itu. Roland dan pendeta itu lalu menyadari, pupil salah satu dari mata Sirius berubah menjadi warna merah darah. Setelah mengkonfirmasi hasil tesnya, mereka berdua lalu meninggalkan Sirius.
“Sangat di sayangkan sekali Kapten,” ucap Pendeta itu terlihat menyesal.
“Abbot, apakah tidak ada cara lagi untuk membuat anakku menjadi normal?”
“Di lihat dari responnya yang lambat terhadap rasa sakit, kurasa anakmu menjadi seorang Arbil hanya baru – baru ini,” ungkap Pendeta itu. “Mungkin saja kita bisa mengembalikannya jika proses penyuciannya berjalan dengan lancer.”
...----------------...
Beberapa jam kemudian, Alissa dan Albrech datang untuk mengunjungi Sirius. Melihat ekspresi adiknya yang terlihat seperti seseorang yang mati, Alissa sangat khawatir. Alissa juga membayangkan apa saja yang telah di lewati Sirius hingga dapat menunjukan ekspresi seperti itu.
“Ah, Kak Alissa. Kau datang berkunjung?” tanya Sirius lirih.
“Tentu saja Sirius, kau adalah adikku,” ucap Alissa seraya mendekati dan mengusap - usap rambut Adiknya itu.
“Aku takut… “
Alissa mendengar Sirius yang mulai menangis.
“Aku takut, kakak…” Sirius kemudian memegang tangan Alissa yang sedang mengusap rambutnya itu.
“Tenang saja Sirius, semua akan baik - baik saja. Ayah pasti akan menemukan cara agar Sirius dapat melewati hal ini,” ucap Alissa mencoba menenangkan Sirius.
“Berjanjilah… Berjanjilah Kakak tidak akan pernah meninggalkanku,” ucap Sirius yang meremas tangan Kakaknya.
“Ummm… Aku berjanji.”
Tidak lama kemudian, Pendeta tadi kembali datang bersama beberapa Ksatria berzirah. Melihat penyiksanya datang ke arahnya, Sirius kembali menjadi ketakutan.
“Maaf Nona, kami harus membawa anak itu untuk melakukan penyucian.”
Sirius lalu di bawa dengan rantai yang mengalungi lehernya. Di perjalanan, para warga desa melihatnya dengan jijik dan takut. Bahkan ada beberapa yang mengumpat padanya.
Mereka lalu sampai di hamparan padang rumput pinggiran desa. Tempat dimana semua ini di mulai. Terdapat sebuah tiang yang tertancap dan sebuah lingkaran sihir yang mengelilinginya.
Sirius lalu kembali di ikat di tiang tersebut di jaga beberapa Ksatria berzirah yang tidak lain adalah seorang Inquisitor mengelilinginya di luar lingkaran tersebut.
...----------------...
“Kau tidak perlu untuk menyaksikan ini Alissa,” ucap Albrech.
“Aku sudah berjanji Albrech, aku tidak akan pergi meninggalkannya.”
Pendeta tadi lalu berdiri di depan Sirius dan menaruh telapak tangannya di kepala Sirius kemudian merapalkan beberapa doa. Tidak lama kemudian, keluarlah sebuah rantai dari dalam tanah yang mengikat kedua kaki dan tangan Sirius. Pendeta itu lalu mundur keluar dari lingkaran sihir kemudian kembali membacakan doa yang berbeda.
“Oh Dewi, lindungilah kami dari kejahatan dan tipu daya Iblis laknat. PURIFICATION!”
“UAGGHHHHHH!” Sirius menjerit merasakan tubuhnya seakan terasa terbakar.
“Tolong hentikan! Mengapa!? Aku tidak pernah menyakiti siapapun! Mengapa!?”
Roland dan Alissa yang menyaksikan ini tampak memliki wajah muram.
Tidak lama kemudian, terjadi perubahan pada tubuh Sirius. Pupil kedua matanya menjadi merah darah dan terlihat urat - urat ototnya semakin terlihat.
“Kalian, bantulah aku. Dia mulai berubah menjadi perwujudan Arbil.”
“Keluarlah dari tubuh anak tak berdosa itu IBLIS!!”
“Uaghhhhhhh! Ahahahaha! Apa maksud kalian?! Aghhhh! Hentikan!”
Sirius mulai berontak dan mencoba melepaskan diri dari rantai lingkaran sihir tersebut.
“Persiapkan pedang kalian! Dia akan mengamuk!” perintah salah satu Ksatria berzirah itu.
Roland dan Albrech melakukan apa yang di perintahkan.
Tidak lama kemudian, berkat Sirius yang tiada hentinya berontak, rantai yang menahannya terputus dari lingkaran sihir rantai itu keluar.
“Ahahaha kenapa kalian sebegitu bencinya padaku oh para pengikut Athena?” ucap Sirius yang nada bicaranya mulai berubah.
Sirius lalu melesat dan menyerang orang - orang yang berada pada prosesi penyucian tersebut.
...----------------...
[ Lena POV ]
Aku tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya akan tetapi, setelah Sirius mendorongku, dia mulai bertingkah seperti kehilangan akal pikirannya.
Dia mulai menjerit kesakitan, sedih, marah. Baru kali ini aku merasakan emosi yang meledak - ledak dari Sirius.
“Mengapa!!!???”
“Kenapa kalian melakukan ini padaku!?”
Aku kemudian merasakan Sirius sedang menuju ke arahku. Nafasku menjadi sesak karena aura membunuh Sirius yang sangat kuat. Sebenarnya apa yang pernah dia alami hingga menjadikannya seperti itu?
“Apakah aku seorang monster?”
Aku mendengar suara Sirius. Aku ingin mengatakan dia bukanlah seorang monster. Masih terdapat kebaikan yang di miliki oleh Sirius dan dia masih bisa untuk berubah. Akan tetapi, suaraku tidak keluar karena rasa takut yang lebih besar yang aku rasakan.
“Kau sama saja seperti yang lainnya! Matilah kau!”
Aku merasakan bahwa Sirius akan membunuhku.
“Ughhhhhhh!”
Tiba - tiba, aku merasakan kehadiran orang lain.
“Aku mendengar ribut - ribut di sini jadi aku mencoba memeriksanya. Ternyata ada seorang mantan Arbil yang terkena kutukan seorang Witch.”
“Eh? Si-siapa Anda?”
“Perkenalannya nanti saja, Pria itu akan mengamuk kembali.”
...----------------...
Ketika Sirius mendapatkan kembali kesadarannya, Beberapa Ksatria berzirah telah tumbang, Roland tergeletak tak sadarkan diri. Di depannya adalah Alissa yang sedang mencoba melindungi Albrech.
“Kak Alissa…. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Sirius mencoba mendekati Alissa yang terlihat jelas sangat ketakutan.
__ADS_1
“M-monster…”
“Eh?”
Sirius mendengar samar - samar suara Alissa yang tengah tertunduk.
“Menjauhlah dari kami, Monster!”
Alissa memperlihatkan wajahnya yang berlinang air mata kepada Sirius. Dalam tatapan mata Kakaknya itu, Sirius merasakan sebuah kebencian di arahkan padanya.
‘Mengapa?’
Badumm!
‘Aku hanya ingin menjadi kuat dan membuat kalian bangga’
Badumm!
‘Mengapa kalian memperlakukanku seperti ini?’
Badum!
‘Mengapa… kakak mengatakan hal itu kepadaku?”
Tubuh Sirius kemudian mulai berubah. Rambutnya menjadi lebih panjang, taring mulai keluar pada sela mulutnya, seluruh bagian matanya kini menjadi merah darah dan muncul sebuah simbol berwarna merah di pipinya.
“Tidak, ini sudah terlambat! Dia sudah menjadi sesosok Arbil yang sempurna! Dia sudah tidak bisa lagi dikembalikan, bunuh dia!" perintah salah satu Inquisitor.
Sirius kembali menyerang mereka dengan kekuatan yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Dengan wujud Arbil yang sempurna, para Inquisitor yang berada di sana tidak mampu lagi menahan Sirius.
Setelah membantai para Ksatria yang ada di sekelilingnya, Sirius lalu pergi menuju desa untuk membunuh para warga di sana. Sirius lalu membantai orang - orang yang dia temui di desa. Tua maupun muda, pria ataupun wanita. Tidak ada yang lepas dari amarah Sirius. Dalam keadaan ini, Sirius dapat melihat dari alam bawah sadarnya apa yang telah di lakukan oleh tubuhnya.
‘Begitu, kah? Akhirnya aku mengerti mengapa mereka melakukan ini padaku’
‘Terdapat sebuah monster haus darah yang merasuki tubuhku’
Rumah - rumah warga mulai terbakar. Terlihat sesosok anak kecil tengah menyeret seorang manusia dewasa. Ekspresi wajahnya terlihat menyeramkan akan tetapi, di dalam hatinya dia tengah menangis putus asa.
‘Seseorang, siapa saja, hentikan lah aku.’
...----------------...
[ Lena POV ]
“Aghhh! Kau memiliki kekuatan yang besar juga walaupun kau telah kehilangan kutukanmu itu.”
Aku mendengar pria yang menolongku itu mulai kewalahan menghadapi Sirius.
Apa yang harus kulakukan? Dewi, mengapa kau memilihku yang tidak berguna ini menjadi kandidat terpilih mu?
“Ughhhhh!”
Aku merasakan aura membunuh Sirius kembali di arahkan kepadaku. Kembali, nafasku terasa sesak sekali.
Aku lalu merasakan Sirius berada di depanku.
“Apa aku ini monster?”
Kali ini, aku harus menjawabnya. Jika tidak, kurasa aku akan kehilangan Sirius untuk selamanya. Aku akan membebaskannya dari beban masa lalunya apapun itu. Jadi! Kumohon Dewi, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi segala amarah dan kesedihan Sirius.
Aku lalu berjalan mendekati Sirius.
“Hei Nona! Apa kau sudah gila!!??”
Aku lalu memeluk Sirius dan membisikkan kata - kata yang seharusnya aku katakan sedari dulu.
“Kau bukanlah monster Sirius. Siapapun bisa menebus segala kesalahannya. Aku akan membantumu melewati semua itu. Jadi… kumohon… kembalilah seperti sedia kala… “
Tanpa aku sadari, air mata mulai menetes membasahi pipiku seraya aku memeluk Sirius dengan lebih erat.
...----------------...
“Aghhhhh! Tolong! Ada monster!”
“Menjauh dari monster itu!!
“Kumohon, ampunilah aku!!”
Tubuh Sirius mulai berlumuran darah para warga desa. Pada saat ini, sudah setengah dari populasi desa sudah dia bunuh. Semakin para warga takut akan Sirius, semakin beringas Sirius terhadap mereka. Kekuatan Sirius merespon rasa takut para warga terhadapnya.
‘Kumohon siapa saja, hentikanlah aku’
Namun, tidak ada satupun yang menjawab permohonan Sirius. Dia tetap terus menerus membunuh para warga dengan aura membunuh yang tinggi.
‘Siapapun, siapa saja... bunuh tubuh ini.... Aku tidak mau tubuhku membunuh orang-orang’
Setelah beberapa saat, Sirius telah hampir membunuh penduduk warga di desanya. Pada saat itu, dia melihat sesosok perempuan.
“Oh jiwa yang malang, kau masih sangat muda tapi kau harus melalui hal seperti ini.”
Sirius lalu datang menghampiri wanita tersebut dan berkata.
“A-apakah aku seorang monster?” tanya Sirius dengan tubuh monsternya yang mulai meneteskan air mata.
“Kau bukanlah monster nak, aku akan mencari cara untuk menyembuhkanmu. Ikutlah denganku dan mulai saat ini, panggil lah aku, Master.”
“M-master?”
“Dan namaku adalah…..”
Tidak lama kemudian, sebuah cahaya terang menyinari Sirius.
Dia kemudian tersadar dari mimpi terburuknya mengenai masa lalu. Dia lalu melihat Lena sedang memeluknya.
‘Sihir ini?”
Terdapat sebuah lingkaran sihir yang mengelilingi tubuh Sirius dan Lena.
“Si-sirius, kau telah kembali?”
Sirius lalu melihat wajah Lena yang berlinang air mata.
“Ya… terima kasih Lena, telah membawaku kembali.”
“Syukurlah….”
__ADS_1
Lena kemudian kehilangan kesadarannya dan jatuh ke pelukan Sirius.