The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 : Epilog


__ADS_3

Kuil Utama Dewi Athena.


Beberapa minggu setelah perpisahan Sirius dan Lena, orang-orang dari Kuil tengah mempersiapkan acara seremonial penobatan resmi Saint Kuil Athena.


Para Acolyte sedang sibuk mempersiapkan hiasan-hiasan yang akan di pasang di Aula Utama Kuil. Mereka melakukan ini karena, akan banyak sekali tamu-tamu petinggi beberapa negeri yang hadir dalam acara ini.


Di sisi lain, Arthur dan Gurunya sedang berjalan melihat proses persiapan acara yang akan di laksanakan besok.


“Kuil di sini lebih besar dibandingkan dengan yang ada di Ibukota Kerajaan,” ujar Arthur yang terlihat takjub melihat kemegahan kuil.


Mereka kemudian melewati ruangan ingatan para Saint dimana, terdapat puluhan patung Saint-Saint terdahulu yang di pajang di sana.


“Cantik sekali… Apakah semua Saint itu sangat menawan dan cantik seperti ini di kenyataan, Master?” tanya Arthur pada Alain.


Alain kemudian memejamkan matanya seolah-olah sedang mengingat sesuatu. Dia kemudian tersenyum lalu berkata, “Tidak lama lagi, kau akan melihatnya sendiri.”


Mereka kemudian melanjutkan berjalan di sekitar area Kuil lalu sampai di sebuah taman. Di tengah taman itu, tampak terlihat tiga buah batu yang mana di masing-masing batu itu, terdapat sebuah pedang yang tertancap di atasnya.


“Master! Bukankah itu…!” Arthur sangat terkejut melihat pedang yang dia impi-impikan secara langsung.


“Ya… Tiga pedang Legendaris para Pahlawan. Tiga dari kelima pahlawan akan mencabut pedang itu dan menggunakannya untuk melawan kejahatan di Benua ini,” jelas Alain.


“Balmung…Durandal… dan…Excalibur,” gumam Arthur yang terpesona akan keindahan pedang-pedang itu.”Excalibur adalah pedang yang digunakan oleh pahlawan legendaris dari Kerajaan Brichnoig—Artorius. Aku pasti akan mencabutnya dan membawa kembali kehormatan bangsa Britonia!” Arthur membulatkan tekadnya.


...----------------...


Keesokan harinya, Upacara Seremonial Penobatan Saint Kuil Dewi Athena akan berlangsung beberapa saat lagi. Tamu-tamu kehormatan seperti, Kaisar Marx von Habsburg, Raja Valier de Aquitaine, Raja Fillipe de Castellon, Ratu Isabella de Aragon, Pangeran Charles Angevin dan Putri Wilhemina von Lorraine.


Mereka semua adalah perwakilan dari Kerajaan-kerajaan yang tergabung dari Aliansi 7 Negeri yang sedang melawan pasukan Raja iblis. Namun, perwakilan dari Kerajaan Thuringia tidak bisa hadir karena negeri mereka sedang menjadi garis depan dalam pertempuran melawan pasukan iblis.


Arthur dan Alain duduk di kursi barisan ke lima dari depan panggung Aula.


‘Banyak sekali bangsawan-bangsawan tinggi yang hadir! Sepenting itukah seorang Saint!?’ pikir Arthur.


Tidak lama kemudian, terlihat lima kardinal memasuki pintu masuk aula lalu berjalan menuju panggung terdepan. Mereka lalu berjajar menghadap para tamu undangan. Kardinal Leroy lalu maju selangkah untuk mengucapkan sambutan pembuka.

__ADS_1


“Aku ucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir di sini. Dua tahun sudah Negeri-negeri yang diberkahi Sang Dewi berperang mempertahankan diri dari Invasi Ras Iblis laknat. Puluhan ribu korban berjatuhan, ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Kini para Iblis tengah memporak-porandakan saudara-saudara kita di Kerajaan Thuringia, Negeri dimana Sang Pendeta Agung Maxwell lahir. Dua tahun sudah, kita bertarung tanpa kehadirannya. Kehadiran dari perwakilan Sang Dewi itu sendiri. Namun kali ini, Sang Dewi telah memilih wanita pilihannya. Mulai detik ini! Kita akan memukul mundur Iblis-iblis laknat itu! Dengan kehadirannya, kita pasti akan memenangkan perang ini. Dengan kehadirannya, para Pahlawan akan lahir dan memusnahkan musuh-musuh umat manusia!” Perkataan Kardinal Leroy membuat tamu-tamu yang hadir menjadi ikut larut dalam momen ini. Momen dimana umat manusia akan memulai serangan baliknya terhadap Iblis-iblis yang telah membuat mereka menderita akibat peperangan.


“Aku, Leroy. Mewakili seluruh jajaran petinggi Kuil Athena, mempersembahkan pada saudara sekalian—Sang Saint baru kita!”


Pintu aula utama kembali terbuka memperlihatkan seorang Wanita cantik berambut platinum di dampingi oleh seorang Ksatria berjubah. Kulit seputih dan selembut salju, wajah yang anggun mempesona memperlihatkan aura yang elegan dan karismatik. Wanita itu kemudian berjalan dengan tangannya yang di gandeng Ksatria berjubah di sampingnya.


Arthur yang melihat Sang Saint pun membeku. Tidak pernah dia melihat wanita yang sangat cantik dan anggun seperti yang dia lihat sekarang. Pemandangan Wanita itu berjalan di tengah-tengah para bangsawan dan penguasa tinggi Benua Alterna ini layaknya sebuah lukisan legendaris yang akan di bicarakan oleh generasi ke generasi.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di hadapan ke lima Kardinal.


Kardinal Leroy memegang sebuah ornamen kepala. Sebuah Artefak yang khusus hanya bisa digunakan oleh seorang Saint.


Wanita itu lalu berlutut di hadapan sang Kardinal.


“Apakah engkau bersedia mengemban tanggung jawab seorang Saint bagi seluruh umat manusia? Membantu yang lemah, melawan kejahatan, melindungi yang tertindas tanpa pandang bulu,” tanya Kardinal Leroy pada wanita itu seperti menyumpahinya.


“Aku bersedia! Selama jantungku masih berdetak, aku akan selalu mengabdikan diriku untuk kemaslahatan umat manusia.”


“Dengan ini, Engkau dinyatakan sebagai Saint ke- 17 umat manusia. Mulai saat ini, dirimu akan dikenal dengan nama—Saint Maria Magdalena,” ucap Kardinal Leroy seraya memasangkan ornamen kepala itu pada Sang Saint.


Sang Saint lalu berdiri dan berbalik menghadap para tamu undangan yang hadir.


Kemudian, para tamu undangan mulai berdiri. Arthur yang tidak terbiasa dengan prosesi ini pun terkejut. Dia kemudian ikut berdiri seperti yang lainnya.


“Long Live The Saint!”


“Long Live The Saint!”


Para tamu undangan kemudian mengucapkan kata-kata itu sebagai ucapan selamat dan dukungannya kepada Sang Saint yang baru.


“Long Live The Saint!”


“Long Live The Saint!”


...----------------...

__ADS_1


Beberapa hari kemudian di markas Patrol Guard Kota Wien ibukota dari Archduchy Astria.


“Hey Hans! Apakah kau sudah merapikan berkas-berkas kasus itu!?” tanya seorang wanita dengan nada tinggi kepada salah satu rekannya.


“Aku tahu itu, wanita! Kau tidak harus berteriak-teriak seperti itu!” balas pria yang sedang duduk merapikan beberapa dokumen.


“Itu karena kau tidak pernah mengerjakan segala hal dengan baik! Aku masih bingung kenapa pimpinan masih mempertahankanmu di kesatuan ini!”


“Itu karena Pimpinan orang hebat yang bisa mengetahui keunggulan dari masing-masing anggotanya! Tidak seperti dirimu, kelebihanmu hanya gumpalan daging besar yang menggantung di dadamu itu!" Balas Hans dengan menunjuk ke arah dada wanita itu.


Setelah melihat ekspresi wanita yang dikatainya itu, Hans kemudian langsung menyesali ucapannya tadi itu.


Wanita itu kemudian memegang gagang pedangnya yang tersarungkan di sebuah ikat pinggang.


“Hee~ rasanya kau masih tidak kapok dengan hukuman yang aku berikan minggu kemarin?” ucap wanita itu pelan namun membuat Hans yang mendengarnya dapat mengucurkan keringat dingin.


“Tidak, aku tidak bermaksud…Hiiii!”


Hans mulai berdiri lalu berlari meinggalkan ruangan kantornya.


“Jangan harap kau bisa kabur, sampah!”


Wanita itu mengejar Hans sampai di pintu masuk markas. Ketika Hans membuka pintu masuk, dia dikejutkan dengan seorang pria berambut hitam yang ada di balik pintu masuk itu.


“…”


“…”


Hans dan wanita itu kemudian berhenti dan memperhatikan pria itu.


“Apakah di sini sedang membuka lowongan pekerjaan?” tanya pria itu dengan ekspresi datar.


...----------------...


...Author Note : Arc 1 sudah selesai, Terima kasih buat para membaca dan author lain yang sudah mendukung novel ini. Sangat saya apresiasi sekali....

__ADS_1



...Illustrasi Sirius & Lena di Arc 2...


__ADS_2