The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 : Epilog


__ADS_3

Setelah pertarungan Patrol Guard memenangkan pertarungannya dengan para pemberontak, mereka berhasil menangkap sekitar 40 orang pemberontak dan membunuh 150 lainnya.


Sedangkan korban jiwa dari pihak Patrol Guard sendiri mencapai 50 orang. Ini dikarenakan perangkap yang dibuat oleh para pemberontak. Yang mana, membuat para Patrol Guard terkurung menghadapi dua monster kuat—Zerrigan dan Giant Lycahthrope.


Satu minggu setelah kejadian, sebanyak dua puluh pemberontak dinyatakan melanggar beberapa peraturan Kekaisaran mengenai perbudakan dan keamanan. Kedua puluh dari mereka itu dijatuhi hukuman gantung yang akan di laksanakan di alun-alun kota.


Hari ini, prosesi eksekusi akan dilakukan. Para warga berjajar di jalanan untuk melihat para pemberontak yang sedang berjalan ke tiang eksekusi di alun-alun.


"Mati kalian, sampah!"


"Orang-orang tidak berguna!"


"Semoga kalian membusuk di neraka!"


Para warga yang kesal karena ulah pemberontak akhir-akhir ini melempari mereka dengan batu maupun buah-buahan busuk. Membuat jalanan kotor, para Patrol Guard terpaksa turun untuk menenangkan mereka.


Sesampainya di alun-alun Kota, para pemberontak itu kemudian menaiki sebuah platform yang sudah disiapkan dengan tali yang menggantung di atasnya.



...Author Note : Kira2 seperti ini Platformnya namun jauh lebih besar...


Para warga kota kemudian berbondong-bondong untuk melihat prosesi eksekusi itu. Mereka berkumpul dihadapan platform tersebut.


Tidak lama kemudian, seorang wanita berambut hitam menaiki platform tersebut membawa secarik kertas. Dia adalah Ketua Patrol Guard Kota Wien—Serena von Ritterburg.


"Hadirin sekalian! Hari ini kalian akan menyaksikan proses eksekusi para pemberontak yang telah sering kali membuat gaduh seisi Kota! Hari ini, keadilan akan ditegakkan dan para kriminal mendapatkan pembalasan atas perbuatan keji mereka!" Sambutan Serena membuat para warga yang hadir bersorak kegirangan.


Serena lalu membuka secarik kertas yang dia bawa kemudian membacanya.


"Kedua puluh dari kalian semua telah terbukti melakukan pembunuhan dalam kota, merusak fasilitas umum, dan melakukan tindakan yang mengancam stabilitas keamanan Kekaisaran. Dengan ini, Aku—Serena von Ritterburg—Ketua Patrol Guard Kota Wien akan memerintahkan proses eksekusi sebagai konsekuensi dari tindakan yang telah kalian lakukan." Setelah membaca secarik kertas itu, Serena kemudian melirik ke arah algojo eksekusi.


"Lakukan!"


Mendengar perintah Serena, sang algojo kemudian mendorong tuas eksekusi. Sontak, lantai kayu tempat berdirinya para pemberontak terbuka, membuat para pemberontak itu bergelantungan di udara.


"Dengan ini, keadilan telah ditegakkan!" Mendengar teriakkan Serena, para warga yang hadir mulai bertepuk tangan ikut merayakan hari besar ini.

__ADS_1


***


Di sini lain, seorang pria paruh baya tengah mendengarkan sorakan para warga yang menghadiri proses eksekusi itu.


Dia lalu berjalan ke arah jendela rumahnya kemudian melihat pemandangan alun-alun kota yang dipenuhi oleh orang-orang.


"Cih, apa yang sebenarnya kalian banggakan dari para Patrol Guard itu. Mereka melindungi keluargaku saja tidak becus!"


Pria paruh baya itu adalah Radolf—Anggota Dewan Rakyat Kota Wien yang seluruh keluarganya baru-baru ini telah dibunuh oleh para pemberontak.


Radolf kemudian berjalan ke sebuah ruangan. Di dalamnya terdapat sebuah papan yang menempel di tembok ruangan.


Di papan itu, banyak sekali dokumen orang-orang yang telah Radolf tandai sebagai penyebab terbunuhnya keluarganya itu. Ada beberapa ilustrasi beberapa tokoh politik di sana.


"Para anggota dewan dan pebisnis yang iri terhadap kesuksesanku pasti mereka yang telah membocorkan lokasi dimana Aku bersama keluarga berada malam itu. Aku bersumpah akan membalas kematian keluargaku. Tidak ada satupun yang akan luput dari pembalasan dendamku!"


Radolf kemudian melihat salah satu ilustrasi seorang pria berambut hitam. "Kau akan menyesal karena membiarkan Mirela mati, Sirius."


***


Di sebuah gua yang berada di Salisburg Duchy, Leon tengah melakukan pertemuan dengan seorang mata-mata Republik.


Leon dan sahabatnya Fran berhasil melarikan diri dari penyerangan yang dilakukan oleh para Patrol Guard di Basecamp mereka tempo hari.


"Ya... Ada seseorang yang membuat rencana kami hancur," kata Leon dengan nada menyesal.


"Oh... Siapa orang itu?" tanya mata-mata itu penasaran.


Leon kemudian memberikan sebuah ilustrasi seseorang pada mata-mata itu.


"Hmm... Kurasa aku pernah melihat wajahnya ketika mendiskusikan sesuatu dengan Instruktur di markas." Dia kemudian memasukan ilustrasi itu ke kantungnya.


"Wings of Freedom tidak akan bisa beroperasi untuk sementara waktu karena kekalahan ini, apakah Republik bisa kembali membantu kami?" tanya Leon.


"Tentu saja, sudah menjadi tugas kami—Unit intelejen Republik yang beroperasi di Kekaisaran untuk membantu membuat stabilitas di negeri ini menjadi kacau." Mata-mata itu kemudian memberikan secarik kertas kepada Leon.


"Tapi kali ini, kalian akan mengikuti cara kami. Kita memiliki sebuah strategi yang lebih bagus untuk menghancurkan Kekaisaran dari dalam. Hal ini akan bisa dicapai berkat bantuan dari klien baru kami," jelasnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Leon kebingungan dengan apa yang dibicarakan rekan kerjanya.


"Kau akan tahu saat waktunya tiba."


***


Beberapa minggu kemudian...


Di suatu tempat dekat perbatasan antara Duchy Salisburg dengan Archduchy Astria, terdapat sebuah rombongan kereta kuda yang tengah melaju untuk menuju Kota Wien—Ibukota Archduchy Astria.


Mereka adalah rombongan Sang Saint dan para Pahlawan yang akan melakukan Trial terakhir di sana.


Di dalam salah satu gerbong kereta kuda, seorang wanita buta berambut platinum panjang tengah mempersiapkan hatinya.


"Rombonganku akan menuju Kota Wien—tempat dimana Sirius bertugas. Sudah beberapa bulan semenjak perpisahan kami..."


Hati Lena belum siap jika sewaktu-waktu dengan kebetulan berpapasan dengannya kembali.


"Ughh... Ngomong-ngomong, apakah Sirius telah melihat wajahku tanpa luka bakar ini? Fufufu... Dia pasti akan terkejut jika melihatnya." Memikirkannya saja sudah membuat Jantung Lena berdebar-debar.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan dari luar kereta Kuda Lena.


"Saint Agung, kita sudah memasuki Archduchy Astria, tinggal beberapa jam lagi sebelum kita sampai di Kota Wien." Seseorang memberitahukan tentang destinasi mereka kepada Lena.


"Ya, Terima kasih atas infonya Tuan Georgy. Aku sudah tidak sabar untuk segera sampai di Kota Wien."


Sirius dan Lena, pertemuan mereka kembali tidak jauh akan datang.


...----------------...


Hai, Author di sini. Arc 2 Novel Assassin & The Blind Saint sudah selesai. Terima kasih buat para Reader dan Author yang sudah mendukung novel ini ya... Saya sangat apresiasi sekali.


Setelah ini akan ada 2 Side Story mengenai masa lalu Sirius ketika masih menjadi Assassin Ouroboros sebelum kita masuk ke Arc 3. Tetap nantikan kelanjutannya ya...


Jangan lupa Like dan Subscribe agar dapat pemberitahuan setiap kali novel ini update.

__ADS_1


Sekali lagi, Terima kasih atas dukungan kalian 🙏


__ADS_2