The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 16 : Keputusan Angelo


__ADS_3

Malam harinya, setelah Angelo mengantarkan paket obat itu ke para Costumer, dia kemudian pergi menuju tempat rahasia untuk mengantarkan uang hasil penjualan kepada pria misterius yang sering ia temui.


Tempat pertemuannya adalah di sebuah gudang yang biasanya menjadi tempat penyimpanan gandum milik pemerintah Kota.


Apakah para sindikat pengedar ini sudah menyuap para petugas yang ada di pemerintahan? pikir Angelo.


Namun Angelo tidak peduli dengan hal semacam itu. Yang terpenting baginya adalah dia bisa mendapatkan uang untuk menghidupi dirinya dan adiknya.


Hadiah apalagi ya yang nanti Aku berikan untuk Aria...?


Angelo ingin melihat senyum adiknya kembali. Baru kali ini sepanjang hidup mereka berdua dapat merasakan hidup normal tanpa takut kelaparan dan kehausan, memiliki pakaian yang layak dan masa depan yang cerah menanti mereka.


Kuharap, semua akan berjalan lancar hari ini juga...


Sesampainya di tempat pertemuan, Angelo terkejut melihat Aria sedang bersama pria misterius tersebut.


"Kakak! Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu!?" seru Aria seraya menghampiri kakaknya yang terdiam membeku.


Angelo kemudian menatap pria misterius itu dengan tajam. Matanya memperlihatkan sebuah kebencian yang membara.


Apa yang pria itu rencanakan dengan membawa adikku kemari? Bagaimana juga dia mengetahui tempat tinggal kami!?


"Kakak, Om baik ini tadi sore berkunjung ke rumah kita," kata Aria seraya menunjukan sebuah penjempit rambut yang cantik. "Om baik ini terus membelikan Aria makanan yang enak dan jepit rambut yang indah ini! Bagaimana? Cantik bukan Aria pakai?"


Perasaan Angelo campur aduk melihat senyuman polos Adiknya itu.


Tidak lama kemudian, datang rekan pria misterius itu menghampiri mereka. Dia kemudian membisikan sesuatu pada pria misterius itu.


"Aria, bisakah kau ikut dengan kakak yang baik ini," kata pria misterius itu menunjuk kepada rekannya. "Aku dan kakakmu harus membicarakan sesuatu yang penting."


"Baiklah! Sampai jumpa Kakak!"


Setelah Aria dan rekan pria itu pergi, Angelo kemudian mulai menggenggam sebuah pisau yang ada di ikat pinggangnya.


"Mengapa kau melibatkan Adikku!? Apa yang kalian inginkan!?" tanya Angelo dengan emosi yang memuncak. Dia curiga, pria misterius ini tengah merencanakan sesuatu untuknya.


"Well... Begini Angelo, rekanku yang bersama adikmu itu tadi sore melihatmu dengan dua orang Patrol Guard yang cukup terkenal kau tahu," kata si Pria misterius.


Ekspresi Angelo terkejut ketika mendengar para sindikat itu mengawasi gerak-geriknya selama ini.


"Menurutmu kami tidak akan memonitor pergerakan para kurir? Kami menjalankan sebuah bisnis yang besar kau tahu, tentu saja kami harus selalu berhati-hati. Itulah mengapa kami dapat mengetahui tempat tinggalmu," jelas si Pria misterius.


Mendengar hal ini, Angelo merasa sedikit menyesal telah bergabung dengan mereka. Saat itu, dia tidak mengerti, kepada organisasi macam apa dia bekerja. Yang dia pedulikan saat itu adalah bayaran mereka yang besar hanya untuk mengantarkan sebuah barang.


"Kau membawa adikku kemana!? Jangan melibatkan Aria dalam urusanku ini!" sentak Angelo.


"Well... Kami membawanya ke tempat produksi dimana markas kami berada di daerah ini," kata si pria misterius. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk kami, Angelo," kata si Pria misterius.


Dugaan dia benar, para sindikat ini menginginkan sesuatu darinya. Karena itulah mereka menyandera adiknya agar Angelo tidak berani berbuat macam-macam.

__ADS_1


"Bunuh Patrol Guard yang bersamamu kemarin, Angelo."


***


Keesokan harinya, Angelo sedang berjalan-jalan di Kota Wien. Dia sedang memikirkan tentang tugas yang diberikan pria misterius itu padanya.


Apa yang harus ku lakukan?


Angelo kebingungan, dia tidak ingin membunuh Sirius—Orang yang telah menyelamatkan dan memberinya kesempatan untuk menyembuhkan adiknya. Dia sudah berhutang banyak pada Patrol Guard itu.


Tapi, jika Angelo tidak melakukan tugasnya, maka nyawa adiknya yang sekarang berada di tangan pria misterius itu akan berada dalam bahaya.


Memikirkannya membuat hati Angelo menjadi berat. Konflik batin seperti ini terlalu besar untuk di tanggung anak kecil seperti Angelo.


Saat Angelo tengah berjalan tanpa arah di Kota Wien, dia melihat Sirius sedang duduk makan siang bersama Serena. Sepertinya mereka tengah mengobrolkan sesuatu.


Angelo menguatkan hatinya, dia kemudian berjalan menghampiri Sirius dan Serena.


"Angelo? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sirius melihat Angelo berjalan menghampirinya.


"Ah tidak, kebetulan Aku hanya berjalan-jalan di sini lalu melihatmu dengan Kekasih Sirius," kata Angelo beralasan.


"Well... Aku dan Ketua bukanlah seorang kekasih, Ketua sedang menggantikan Patner kerjaku karena dia sedang mengalami cidera," jawab Sirius membenarkan kesalahpahaman Angelo.


Mendengar jawaban Sirius, tiba-tiba membuat tubuh Angelo merinding. Serena menatapnya dengan tatapan tajam layaknya sesosok Singa yang hendak memburu mangsanya.


"Se-sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Sirius," kata Angelo.


"Baiklah, jangan terlalu lama," jawab Serena yang terlihat menyilangkan tangannya.


Sirius kemudian berdiri lalu mengajak Angelo ke te sebuah gang untuk melakukan pembicaraan dengan anak tersebut.


Angelo mengikuti Sirius dari belakang. Jantungnya berdebar semakin cepat, dia meraih belati yang terikat pada ikat pinggangnya.


Sesampainya di gang sepi tersebut, ketika Sirius hendak membalikan badannya, Angelo dengan cepat melompat ke arah dadanya hendak menusuk jantung Sirius.


Namun, serangan kejutan semacam itu tidak bekerja padanya. Sirius menangkap tangan Angelo kemudian mencekik lehernya dan menekannya ke tembok gang.


"Apa yang kau lakukan, Angelo?" tanya Sirius dengan nada datar. Sulit menebak apa yang dirasakannya saat ini dengan wajahnya yang seperti itu.


"Khhhh... Ada yang menyuruhku untuk membunuhmu!" jawab Angelo.


"Dan mengapa kau mau melakukan perintah orang itu?"


Mendengar pertanyaan Sirius membuat Angelo dipenuhi perasaan bersalah karena telah mencoba membunuh orang yang telah menyelamatkannya.


"Me-mereka menyandera Adikku!" kata Angelo yang terlihat mulai menangis. "Para sindikat pengedar obat itu menginginkanku untuk membunuhmu dan rekan wanitamu," jawab Angelo.


"Begitu, kah? Jadi kau adalah bagian dari kelompok mereka."

__ADS_1


Angelo merasa Sirius seperti kecewa padanya ketika mendengarnya mengatakan hal itu.


.


.


.


Angelo kini berada di kediaman Sirius. Tangan dan kakinya diikat dengan sebuah tali. Sebelumnya, dia telah menceritakan alasannya mengapa melakukan semua ini pada Sirius.


"Kumohon, selamatkanlah Adikku! Jika mereka mengetahui Aku gagal melaksanakan tugas, Aku takut mereka akan menyakiti Adikku!" teriak Angelo memohon pada Sirius.


"Kecurigaanku benar bukan tentang anak ini? Kriminal tetaplah kriminal, itu sudah menjadi jalan hidup mereka apapun yang terjadi," kata Serena yang terlihat duduk di kasur Sirius.


"Apa kau tahu, dimana mereka membawa Adikmu?" tanya Sirius pada Angelo.


"Mereka hanya mengatakan tempat produksi yang berada di sekitar sebuah Gudang penyimpanan pemerintah kota," jawab Angelo.


Mendengar hal ini, Serena kemudian berdiri. Ekspresi wajahnya terlihat sangat kesal.


"Mereka pasti telah menyuap orang-orang pemerintahan! Dasar manusia tidak berguna!" umpat Serena.


"Ketua, kita harus bergegas menyelamatkan Adik Angelo," kata Sirius kepada Serena. "Angelo, kau tunggulah di sini, Aku akan berusaha menyelamatkan adikmu itu."


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Angelo yang terikat sendiri di kamar.


"Sial! Aku tidak bisa berdiam diri saja di sini! Aria.... " Angelo berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikat tangan dan kakinya.


Dia kemudian melihat sebuah kaca yang tertempel di dinding. Selanjutnya, dia mencoba merayap bagaikan ular menuju kaca tersebut. Selanjutnya, dia berdiri kemudian menendang-nendang kaca itu hingga pecah menjadi bagian-bagian kecil.


Angelo lalu mengambil pecahan kaca tersebut untuk memotong tali yang mengikatnya.


"Aku akan menyelamatkanmu Aria... Aku berjanji!"


Angelo kemudian melarikan diri dari kamar Sirius dengan memecahkan jendela kamar.


***


Di sisi lain, di tempat persembunyian sindikat para pengedar obat-obatan terlarang, Pria misterius yang memerintahkan Angelo untuk membunuh Sirius terlihat sedang berbincang dengan Aria.


"Tuan yang baik, kapan Kak Angelo akan kembali pulang dari pekerjaannya?" tanya Aria polos.


"Oh, kurasa itu tidak akan lama lagi, Aria. Jangan khawatir, kakakmu pasti akan membawamu hadiah yang banyak setelah ini," kata Pria misterius itu tersenyum.


Tak lama kemudian, dia melihat rekannya berjalan menghampirinya.


"Bocah itu gagal melakukan tugasnya," bisik rekan pria misterius tersebut.


"Sayang sekali.... "

__ADS_1


Dia kemudian menatap Aria yang serang makan dengan tatapan jahat.


"Kau bisa kemari sebentar, Aria?"


__ADS_2