
"Ketua, Anda sudah bangun?" Aku mendengar suara seorang pria.
"Ughhh... " Aku masih tidak bisa menggerakkan satupun anggota tubuhku.
"Anda mengalami Mana Exhaustion, tubuh Ketua juga masih belum pulih dari luka-luka setelah bertarung dengan Lycanthrope tadi."
Mana Exhaustion, kah? itu artinya aku tidak akan bisa menggunakan sihir 3-5 hari berikutnya. Ngomong-ngomong, dimana aku? Aku melihat langit sudah gelap, ini artinya, sudah berlalu beberapa jam semenjak penyerangan ke Basecamp pemberontak itu terjadi.
"Jika perkiraanku tidak salah, kita sedang berada di Hutan Rodea—Perbatasan antara Kekaisaran Habsburg dengan Kerajaan Lorraine." Seperti dapat mengetahui kebingunganku, anak baru itu memberitahukan lokasi kami berada.
"Begitukah...?" Aku kemudian berdiam diri sejenak untuk mengumpulkan kembali fokusku agar bisa kembali berpikir jernih dalam kondisi ini.
Aku kemudian melihat anak baru itu memegang kalung yang pamanku masing-masing berikan padaku dan Jerold.
"Hey, kembalikan kalung itu padaku." Aku mengatakan hal itu dengan dingin.
Aku juga baru menyadari, aku hanya terlihat mengenakan blouse ku.
Dimana Seragam Patrol Guardku?
"Seragam Ketua sudah rusak parah karena pertarungan, aku memutuskan untuk membuangnya." Anak baru itu menjelaskannya seraya menaruh kalungku di saku bajuku.
Terdengar suara api unggun di sini, aku melihat anak baru itu sedang membakar sesuatu.
"Ketika Ketua masih tidak sadar, aku memutuskan untuk berburu mencari makan malam untuk kita. Aku beruntung bisa menemukan seekor kelinci di dalam hutan." Dia kemudian berjalan ke api unggun itu. mengambil beberapa daging yang telah di tusuk dengan sebuah kayu padaku.
"Lupakanlah, aku tidak lapar sama sekali." Dengan keadaanku yang seperti ini, mau tak mau dia harus menyuapi ku untuk memakan daging itu.
Aku tidak sudi ada pria asing yang melakukan hal itu padaku! Hanya Jerold lah yang berhak melakukannya.
-Groowwll
Sebuah suara terdengar, aku melihat anak baru itu tersenyum padaku. Di saat seperti ini, mengapa perutku tidak bisa diajak kompromi...
"Ketua, jika Anda ingin segera pulih. Ketua harus makan dengan cukup." Dia mendekatkan daging itu dekat dengan mulutku.
Aku menggigit daging itu lalu memalingkan wajahku darinya. Dengan alasan yang tidak ingin ku akui, wajahku tiba-tiba terasa panas sekali.
"Kedua pipi Ketua memerah, apakah Ketua merasakan demam?" tanya anak baru itu.
D-dia ternyata pria yang bodoh. Tentu saja pipiku ini memerah karena menahan malu disuapi oleh pria asing!
"Bisakah kau diam tidak banyak bicara?"
"B-baiklah."
Aku kemudian berbalik mendapati anak baru itu masih duduk di sebelahku sambil tetap memegang daging tusuk itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku.
Dia hanya diam tidak merespon pertanyaanku. Mengapa anak baru ini sungguh menyebalkan? Apakah dia punya dendam atau ketidakpuasan terhadapku?
"Hey, aku bertanya padamu. Apa yang sedang kau lakukan?"
"Ketua tidak akan cepat pulih jika hanya makan satu gigit saja, jadi... "
"Hahhh... Baiklah, baiklah. Sini, dekatkan daging tusuk itu ke mulutku." Aku kemudian kembali memakan daging itu beberapa gigitan. "Sudah cukup bukan? Sekarang, menjauhlah dariku."
Dia kemudian berdiri lalu bersandar di sebuah pohon besar. Dia hanya berdiam diri saja sedari tadi. Apakah dia tidak tidur juga? Apakah dia tidak kelelahan sama sekali setelah melakukan penyerangan?
"Hey, bukankah kau juga perlu istirahat? Mengapa kau tidak tidur?" Mendengar pertanyaanku, dia kemudian melihat ke arahku.
"Aku akan berjaga sebentar, Ketua. Anda tidak usah khawatir," ucapnya datar.
"Cih, siapa yang mengkhawatirkanmu." Aku kemudian membalikkan badanku. Melihatnya membuatku jengkel.
Aku kemudian mencoba untuk tidur kembali. Walaupun terdapat api unggun, di sini tetaplah dingin karena tubuhku menerima angin malam secara langsung.
Aku lalu mencoba mengingat kenanganku ketika bersama Jerold dan ibuku. Dimana saat Aku bersama Jerold latihan bersama dan saat Aku dengan ibu selalu jalan-jalan keluar Kota ketika aku masih kecil.
Mengingatnya membuat tubuhku terasa hangat. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam tidurku.
***
Aku tiba-tiba terbangun, dilihat dari warna langitnya, ini masih tengah malam. Aku lalu melirik ke arah suatu pohon. Di sana terlihat seorang pria berambut hitam sama sepertiku sedang tidur duduk bersandar pada pohon itu.
__ADS_1
Ekspresi wajahnya tampak berbeda jauh dibandingkan jika sedang terbangun. Mengapa aku tidak pernah memanggil namanya walaupun aku sudah mengetahuinya sedari dulu?
Padahal, dia telah menyelamatkanku ketika terjatuh dari air terjun.
Tunggu... Aku baru sadar tubuhku ternyata diselimuti dengan seragam Patrol Guard milik anak baru itu. Inikah alasannya tadi aku tiba-tiba merasa hangat ketika akan tertidur.
"Tidak!"
"...!?"
"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud melakukannya! Maafkan aku... "
Anak baru itu tiba-tiba berbicara dalam tidurnya. Terdengar dari suaranya, dia seperti sedang bersedih.
"Hentikan! Hentikan aku... Tidak... Kumohon! Menjauh dariku!"
Ekspresinya mulai berubah, sepertinya dia sedang mengalami mimpi buruk. Wajahnya... terlihat tersiksa. Mimpi apa yang dapat membuatnya memperlihatkan ekspresi seperti itu... Selama ini, yang kulihat darinya selalu ekspresi datar saja.
Penderitaan apa yang dia alami sampai membuat dia terlihat kesakitan seperti itu? Entah mengapa, aku ingin berusaha membangunkannya. Menenangkannya bahwa sesuatunya akan baik-baik saja.
Namun, berkat luka-luka dan mengalami Mana Exhaustion, aku masih belum dapat menggerakkan tubuhku.
"Lena... "
"...!"
Siapakah Lena yang dia gumamkan itu?
Tak lama kemudian, anak baru itu terbangun. Kedua mata kami bertemu.
"Kau mengigau dalam tidur kau tahu," sindirku.
"Begitu, kah? Aku melakukannya lagi... Maafkan aku Ketua, karena telah menganggu tidurmu..." Dia tersenyum ringan.
Anak baru itu itu kemudian berdiri lalu berjalan ke arah hutan.
"Mau kemana kau?"
"Aku ingin ber jalan-jalan sebentar Ketua, tidak akan lama." Dia menjawabnya tanpa berbalik sama sekali.
"I-iya... Ada apa Ketua?"
"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku."
Mendengar perkataanku, Sirius kemudian tersenyum. Berbeda dengan senyuman ringannya tadi. Kali ini, senyumannya seperti tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Anda selalu bisa mengandalkanku, Ketua." Dia lalu berjalan kembali kesini lalu duduk di dekat pohon tadi.
"Ada apa hmm...? Kau tidak jadi jalan-jalan?" tanyaku penasaran.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba aku menjadi tidak ingin melakukannya hahaha— " Dia terlihat sedikit tertawa.
Pria yang aneh. Kamipun melanjutkan tidur kami. Aku harus secepat mungkin pulih lalu kembali ke Kota Wien.
***
Keesokan harinya, Aku sudah bisa menggerakkan tubuhku. Akan tetapi, aku masih cukup kesulitan untuk berjalan.
"Hey Sirius, seberapa lama kira-kira kita akan sampai ke Desa terdekat jika berjalan dari sini?"
Dia kemudian terlihat seperti berpikir sejenak." Hutan Rodea berada di sebelah utara wilayah Duchy Dusselburg, kota terdekat berjarak sekitar 80 Km sedangkan Desa terdekat berada sekitar 30 Km dari hutan ini."
Aku selalu penasaran, bagaimana Sirius dapat mengetahui tentang hal-hal ini.
"Aku dahulu pernah berkunjung ke hutan ini untuk mencari tanaman obat. Kebetulan juga aku pernah tinggal di kota Hesse Ibukota Duchy Dusselburg selama beberapa bulan, jadi aku tahu tentang letak geografis daerah ini," jelasnya.
"Hey Sirius, apa kau mempunyai kemampuan membaca pikiran?" Mendengar pertanyaanku, dia malah tersenyum.
"Wajah penasaran Ketua sangat mudah dibaca." Mendengar jawabannya, aku meraba-raba wajahku.
Huh? Seriuskah dia? Apakah wajahku ini sangat mudah sekali dibaca?
"Baiklah Ketua, aku akan menyisir hutan ini agar ketika Anda sudah pulih, kita dapat dengan mudah keluar hutan ini." Setelah mengatakan itu, dia kemudian berjalan menghilang ke kedalaman hutan.
Aku sendirian lagi di sini. Tidak berdaya tanpa bisa melakukan apapun. Aku mencoba menggerak-gerakan tubuhku agar tidak terlalu kaku dan dapat dengan cepat pulih kembali.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, apakah tim pencari Patrol Guard tengah mencari kami? Kurasa memang akan memakan waktu yang cukup lama untuk menyusuri sungai ini.
Apakah ayah sedang mengkhawatirkanku? Mengingat aku yang masih belum ditemukan setelah menghilang selama satu hari?
***
Hari berganti, Aku dan Sirius sekarang sedang berjalan untuk keluar dari hutan ini. Kondisi tubuhku sudah membaik dan mampu untuk melakukan perjalanan.
"Lalu, bagaimana hasil penelusuranmu di hutan ini. Apakah kita dapat keluar dari sini sebelum malam tiba?" tanyaku pada Sirius.
"Jika perjalanan lancar, kita mungkin dapat keluar dari hutan ini dengan berjalan selama 3 jam. Kurasa posisi kita di hutan ini tidak terlalu dalam," jelasnya.
"Apa maksudmu dengan perjalanan lancar? Apakah di hutan ini banyak hewan buasnya?"
"Di hutan ini kurasa tidak terlalu banyak, kita beruntung jika tidak bertemu dengan salah satunya," jawabnya dengan datar.
...Author Note : Ilustrasi Sirius dan Serena...
Setelah berjalan cukup lama, kami kemudian sampai di area hutan yang cukup unik. Pohon dan dedaunan sekitar sini banyak yang berwarna merah yang tidak biasa.
Tidak lama kemudian Sirius menghentikan langkah kakinya.
"Hey Sirius, apa yang—"
-Awuuuuuu!!!
Aku mendengar sebuah lolongan. Tiba-tiba, Sirius naik ke atas pohon meninggalkanku sendirian.
"Hey, mau kemana kau!" teriakku memanggilnya.
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah kehadiran sebuah makhluk. Di depanku, seekor serigala besar kira-kira memiliki panjang 2 meter tengah berjalan menuju kemari.
Serigala besar itu kemudian mulai berlari ke arahku.
Sial! Dengan kondisi ku yang belum pulih seperti ini, aku tidak yakin dapat mengalahkan binatang sebesar itu.
-Groawlll!!
"Aku sudah muak bertemu makhluk sejenismu!" Aku bersiap menghadapi serangannya.
Serigala itu melompat ke arahku.
-Slasshh!
Kepala serigala itu tiba-tiba terjatuh ke tanah. Darah mulai mengucur deras ke tubuhnya. Di hadapanku, Sirius tiba-tiba muncul lalu memenggal kepala serigala itu. Membuatnya mati seketika.
"Beraninya kau... " Emosiku mulai memuncak.
"Ke-ketua?"
"Beraninya kau menjadikanku sebagai umpan!"
-Plak!
***
Ruhmstadt—Ibukota Kekaisaran Habsburg.
Di ruangan kerja Kaisar, terdapat dua orang pria paruh baya sedang mendiskusikan sesuatu. Mereka berdua adalah Marx von Habsburg—Kaisar Kekaisaran Habsburg yang telah memimpin negeri itu selama 30 tahun. Di tangannya, Kekaisaran menjadi negeri paling dominan di Benua Alterna.
Di hadapannyanya adalah Duke Franz von Ritterburg—Kanselir Kekaisaran Habsburg. Dia telah menjabat posisi itu selama 17 tahun.
"Franz, bagaimana dengan rapat dengan para menteri mengenai keamanan negeri kita ini?" tanya Sang Kaisar.
"Tidak ada yang patut kita khawatirkan Yang Mulia. Kita hanya mendapatkan sedikit masalah dengan para pemberontak yang akhir-akhir ini mengganggu keamanan di berbagai penjuru negeri. Namun, berkat usaha para Patrol Guard, aktivitas mereka kini mulai menurun," jelas Duke Franz.
"Ah begitu ya... Ngomong-ngomong tentang Patrol Guard, Franz." Sang Kaisar berdiri menghampiri Duke Franz. "Serena—Keponakanku dikabarkan tengah menghilang setelah membasmi para pemberontak itu di Duchy Astria. Sebagai Ayahnya, apa kau tidak merasa khawatir?"
Duke Franz kemudian terdiam sejenak.
"Yang Mulia, aku percaya, putriku itu akan baik-baik saja. Jika dia kesulitan dengan hanya menghadapi masalah ini saja, dia tidak pantas menyandang nama keluarga Ritterburg dan Habsburg," jawab Duke Franz dengan datar.
"Hah— Kau terlalu keras terhadap putrimu sendiri, Franz. Lalu, bagaimana dengan pernikahan Serena? Apakah kau sudah mendapatkan calon kandidatnya? Jangan terlalu menekannya kau tahu."
__ADS_1
"Aku telah memberinya kebebasan untuk memilih pasangannya sampai Trial para Pahlawan selesai Yang Mulia. Jika dia belum menemukannya sebelum itu, aku akan menjodohkannya. Itu sudah tanggung jawabnya sebagai pewaris Keluarga Ritterburg."