
Tiga tahun sebelum cerita utama dimulai...
Di suatu malam, seorang pria berambut hitam tengah mengintai target dari misi yang telah di berikan olehnya. Dia adalah Sirius—seorang Assassin dari organisasi Ouroboros.
"Sepuluh Inquisitor sebagai penjaga Bishop itu, kah? Bagaimana aku harus mengeksekusi target itu kira-kira ya?" Sirius kemudian merogoh kantung yang ada di jaketnya lalu mengeluarkan sebuah benda bulat segenggam tangan.
"Mari kita coba alat yang baru saja dibuat oleh Republik Anconia." Sirius kemudian mencoba mencari posisi yang lebih dekat dengan target.
Sirius diberi misi untuk membunuh seorang Bishop yang menjadi saksi kunci dari sebuah tindakan kejahatan yang melibatkan seorang bangsawan tinggi di Kerajaan Aquitaine.
Setelah dirasa cukup dekat, Sirius kemudian melemparkan benda yang ada di genggaman tangannya ke arah rombongan Bishop tersebut.
Benda yang dilempar Sirius itu meledak kemudian mengeluarkan cahaya yang sangat terang yang membuat mereka mengalami kebutaan sementara.
"...!"
"Aghhh! Apa ini!? Silau sekali! Mataku tidak dapat melihat!"
"Ki-kita diserang! Bersiaplah kalian!"
Sirius tidak membuang waktu, dia langsung menggunakan Shadow Link memanfaatkan sinar cahaya benda yang dia lempar tadi untuk melakukan lompatan bayangan ke arah targetnya.
"...!" Bishop itu terkejut. Dia melihat dadanya tiba-tiba tertusuk sebuah pedang.
Bishop itu kemudian tumbang dengan darah yang mengucur dari dadanya.
"Bishop! Tidak, bunuh Assassin itu!" Para Inquisitor itu sudah pulih dari kebutaan mereka.
Setelah menyelesaikan misinya, Sirius bergegas untuk melarikan diri dari area itu. Para Inquisitor mencoba mengejarnya. Akan tetapi, Sirius mulai melompat-lompat ke atas bangunan membuat para Inquisitor itu kesulitan mengejarnya.
Setelah dapat meloloskan diri dari kejaran para Inquisitor dan merasa tidak diikuti oleh siapapun, dia kemudian pergi menuju tempat dimana Partnernya telah menunggunya.
Di pinggiran Kota, Sirius masuk ke sebuah gubuk dan mendapati seorang wanita cantik berambut coklat sedang duduk menyilangkan kakinya sambil memegang sebuah gelas yang berisikan bir.
"Nightingale, informasi yang kau berikan mengenai dimana target kita akan muncul ternyata benar. Aku sudah membunuhnya dan menyelesaikan misi kita."
Sirius kemudian menaruh jaket dan topengnya di sebuah meja lalu duduk di sebuah kursi yang berada di samping Nightingale untuk istirahat sejenak.
"Sudah kubilang bukan, jika kita hanya berdua saja, panggilah aku dengan nama asliku, Sirius." Menaruh gelasnya di meja, Nightingale lalu berdiri kemudian duduk dipangkuan Sirius.
Sirius memalingkan wajahnya merespon antik Nightingale. Dia terlalu lelah untuk adu bicara dengannya kali ini.
Melihat tingkah Sirius, Nightingale makin menggodanya dengan mengelus-elus dada Sirius.
"Hey..., Sirius. Katakanlah... Namaku." Dia membisikkannya di telinga Sirius.
"Hah... Terima kasih, Visena." Sirius mengatakannya dengan pelan.
"Fufufu... Tidak susah bukan?" Visena tertawa nakal.
"Sekarang, bisakah kau turun dari pahaku?"
Mereka lalu mengevaluasi misi yang telah mereka berdua berhasil selesaikan sebelum melakukan perjalanan pulang ke markas Ouroboros untuk melaporkan hasil misi mereka.
***
Ruhmstadt—Ibukota Kekaisaran Habsburg—Kantor Kanselir.
Duke Franz von Ritterburg tengah melakukan pembicaraan dengan Ketua Ksatria Suci—Zuberg von Lubeck.
__ADS_1
"Kanselir, ada apa larut malam seperti ini Anda memanggil saya?" tanya Zuberg.
"Tuan Zuberg, aku meminta Anda datang kesini untuk meminta sebuah bantuan kepada Ksatria Suci," jawabnya.
Mendengar Duke Franz yang meminta dengan tidak biasa, Zuberg berpikir, Duke Franz memiliki permintaan yang tidak biasa.
Duke Franz melihat Zuberg yang terdiam, melanjutkan bicaranya."Sebelumnya, aku juga telah mengantongi izin dari Yang Mulia Kaisar Marx untuk bekerja sama dengan Ksatria Suci dalam misi ini."
Duke Franz memberikan sebuah surat yang telah dibubuhi stempel khusus kepada Zuberg. Dia kemudian membuka surat itu yang berisi tanda tangan Sang Kaisar yang telah menyetujui rencana ini.
"Tuan Zuberg, Aku akan ke inti permintaan Kekaisaran secara langsung. Aku ingin sebuah tim Ksatria Suci untuk mengambil eksperimen anak-anak Cursed Child yang dilakukan oleh sekumpulan Witch," ungkap Duke Franz.
"Tu-tuan Kanselir, apa yang ingin sebenarnya Kekaisaran lakukan dengan mengambil para Cursed Child ini?" Mendengar pertanyaan Zuberg, Duke Franz terdiam sejenak.
"Kekaisaran akan memakai para Cursed Child untuk menjadi senjata untuk menghancurkan Republik Anconia," ungkapnya dengan nada dingin."Kita akan melatih kekuatan mereka dengan paksa untuk dapat melakukannya."
Mendengar penjelasan Duke Franz, tubuh Zuberg bergetar. Dia tidak menyukai keputusan Kekaisaran untuk mengeksploitasi anak kecil yang malang itu.
"Tuan Zuberg, ini demi keamanan Kekaisaran. Kita mengorbankan sebagian manusia untuk keselamatan orang banyak." Duke Franz kemudian berdiri, berjalan ke arah jendela.
"Kesehatan Saint Olivia tengah memburuk, dikabarkan dia hanya memiliki waktu satu tahun lagi untuk hidup. Jika Sang Saint mati, aku yakin, para Iblis itu akan mendeklarasikan perang terhadap umat manusia. Dan jika itu terjadi, Republik Anconia sudah pasti akan menjadi Sekutu pasukan Raja Iblis dalam perang ini." Duke Franz kemudian berbalik menghadap Zuberg.
"Sebelum itu terjadi, kita harus bergerak terlebih dahulu daripada mereka."
Setelah mendengar alasan Duke Franz, Zuberg yang sedari tadi tertunduk mengangkat kepalanya.
"Baiklah Tuan Kanselir, Ksatria Suci akan bekerja sama dengan misi ini." Zuberg akhirnya menyetujui permintaan Duke Franz.
"Terima kasih, Tuan Zuberg." Duke Franz kembali duduk di mejanya.
"Tuan Zuberg akan menyamarkan Misi ini sebagai Misi untuk mengevakuasi anak-anak agar para Ksatria Suci tidak berpikiran hal yang tidak-tidak ketika dalam menjalankan misi. Anda mengerti, Tuan Zuberg?"
"Ya, sesuai perintah Anda, Kanselir."
***
Mereka kemudian memasuki ruangan lalu mendapati seorang wanita berusia pertengahan 30an sedang membaca beberapa dokumen.
Dia adalah Pimpinan Organisasi Ouroboros—Yeriel The Dark. Dia juga merupakan Master Sirius yang melatihnya teknik-teknik untuk membunuh.
"Ah, Nightfall, Nightingale, Apakah kalian sudah berhasil menyelesaikan misinya?" Yeriel menyadari kedatangan mereka berdua.
"Iya, Master ka—"
"Panggil dengan kode namaku ketika kita berada dalam urusan resmi, Nightfall." Yeriel memotong ucapan Sirius.
"Ya, maafkan aku, Midnight."
"Silahkan duduk terlebih dahulu, kalian berdua," ucap Midnight dengan senyuman.
Sirius dan Nightingale duduk lalu memberikan berkas laporan mengenai misi mereka kepada Midnight. Setelah membacanya sesaat, dia kemudian memasukan berkas itu ke laci mejanya.
"Kerja bagus, kalian berdua. Seperti yang diharapkan dari pasangan terkuat Ouroboros." Midnight mengatakannya seperti orang tua yang bangga terhadap anak-anaknya.
"Tidak, Midnight. Yang banyak bekerja adalah Nightingale, aku hanya melakukan eksekusi saja," ucap Sirius rendah hati.
"Hey, hey, Bos. Kau membuatnya tersipu dengan pujianmu itu fufufu~ Aku juga ingin dia sejinak itu jika bersikap padaku... " Nightingale mencoba menggoda Sirius.
"Nightingale, bisakah kau diam?" ucap Sirius dengan dingin.
__ADS_1
"Uhhh aku takut~" Nightingale mengatakan itu sambil memeluk dirinya sendiri mencoba lebih meledek Sirius.
"Hahh... Bisakah kalian hentikan dulu bercanda kalian? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada kalian." Mendengar perkataan Midnight, mereka berdua kemudian kembali bersikap normal.
"Tuan, Warren. Kau bisa menjelaskan kedatanganmu kemari," ucap Midnight.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka memperlihatkan seorang pria berumur 40an memakai sebuah jas dan topi.
"Nightfall, Nightingale, Tuan Warren adalah Ketua departemen intelejen Republik Anconia," kata Midnight.
"Ah, senang sekali akhirnya bertemu dengan pasangan terkuat Ouroboros." Dia kemudian menjabat tangan Sirius dan Nightingale.
"Silahkan duduk Tuan Warren dan jelaskanlah tujuan Anda datang kemari."
"Terima kasih, Nona Midnight." Setelah duduk di bangku yang sudah di siapkan, Warren kemudian mengeluarkan sebuah dokumen memberikannya kepada Midnight.
"Ouroboros dan Republik Anconia sudah bekerja sama selama bertahun-tahun. Kami menyediakan persenjataan untuk Organisasi kalian dengan balasan, kalian dapat memprioritaskan permintaan misi dari kami."
Midnight mulai membaca dokumen-dokumen yang diserahkan oleh Warren.
"Tujuanku datang kemari adalah untuk memberikan sebuah misi kepada Ouroboros. Detailnya ada di dokumen yang telah kuberikan itu."
Warren kemudian menyampaikan tentang informasi yang dia dapat dari bawahannya mengenai Kekaisaran yang ingin mengambil sekitar dua puluh Cursed Child untuk mereka gunakan menyerang Republik Anconia.
"Aku ingin kalian menyabotase rencana mereka lalu membunuh para Cursed Child itu. Kami akan memberikan hadian setara dengan 2000 Golling jika misi ini berhasil, bagaimana?"
Mendengar tawaran Warren, Midnight kemudian terdiam sejenak. "Seratus Golling per anak, kah? Kau tahu harga Cursed Child di pasar gelap itu 150 Golling, kan? Naikkan menjadi 4000 maka kami akan mengambil misi itu." Midnight menawarnya balik.
"3500."
"3750"
"3600"
"Deal! Kita memiliki kesepakatan, Tuan Warren?"
"Baiklah, aku menunggu kabar baik dari kalian."
Setelah selesai bernegosiasi, Warren kemudian meninggalkan markas Ouroboros. Midnight masih berdiskusi dengan Sirius dan Nightingale mengenai detail misi.
"Misi kali ini cukup berbahaya. Akan ada beberapa Iblis dan Witch di sana. Para Ksatria Suci dikabarkan akan mengerahkan 100 orang untuk melakukan misi yang diberikan oleh Kekaisaran untuk mendapatkan para Cursed Child itu. Kalian akan berangkat malam ini dan harus menyelesaikan misinya, mengerti?"
"Siap, Midnight!"
"Oke Bos~."
***
Kota Ritterburg—Kastil Ksatria Ritterburg.
Seorang pemuda dan wanita sedang mengobrol di depan sebuah Kastil.
"Serena, setelah menyelesaikan misi ini...A-ku, aku—."
"Fufufu~ Jerold, jika kau tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya, selesaikanlah misimu kali ini supaya kau mempunyai kepercayaan diri untuk mengatakannya padaku dengan jelas," goda wanita itu.
Pemuda itu kemudian memeluknya lalu berbalik.
"Tunggu saja! Setelah menyelesaikan misi ini, aku akan menyatakan perasaanku padamu, Serena! Kau tunggu saja!" Dia kemudian berlari meninggalkan wanita itu.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu, Jerold!"
Jerold, pemuda itu adalah salah satu dari Ksatria Suci yang ditugaskan dalam misi ini.