
Aku sedang berada di depan Gedung Dewan yang berada tidak jauh dari kediaman Putra Mahkota Kekaisaran—Pangeran Otto von Habsburg. Berjalan menuju pintu masuk gedung, aku kemudian berjalan ke salah satu ruangan anggota Dewan. Terdapat tulisan angka 12 di amplop surat ini. Tidak lama kemudian, aku sampai di depan pintu ruangan bernomor 12 ini.
Huh? Terdapat sebuah papan nama yang familiar di depan pintu itu. Aku kemudian mengetuk pintu itu tiga kali.
“Iya, silahkan masuk.” Yap, aku mengenali suara ini.
Aku kemudian membuka pintu ruangan itu lalu mendapati seorang pria paruh baya sedang merapihkan beberapa dokumen.
“Ah, Tuan Sirius. Senang bertemu denganmu kembali.” Sapa Tuan Radolf sambil tersenyum ke arahku. “Silahkan duduk, apa yang bisa ku bantu untuk Tuan Sirius?” Tuan Radolf mempersilahkanku duduk seraya menanyai keperluanku datang ke ruangannya.
“Ah, senang bertemu denganmu juga Tuan Radolf. Aku kesini karena di perintahkan untuk memberikan surat laporan ini ke Gedung Dewan.” Aku menyerahkan surat yang di berikan oleh Senior Hans kepada Tuan Radolf.
“Hm… Detail kejadian mengenai aksi para pemberontak di museum beberapa hari yang lalu ya…” Tuan Radolf membuka surat itu lalu menganalisanya. “Baiklah, aku akan menyampaikan laporan ini ke Dewan ketika rapat nanti. Apa masih ada yang Tuan Sirius butuhkan?”
“Tidak ada, terima kasih Tuan Radolf. Aku akan kembali lagi ke markas kalau begitu.” Aku berdiri mengatakan hal itu. Akan tetapi, aku melihat Tuan Radolf juga ikut berdiri.
“Ah, Tuan Sirius. Bisakah kita berjalan sambil mengobrol bersama? Aku hendak mengunjungi anakku di sekolah Kota searah dengan Markas Patrol Guard. Apakah Tuan Sirius tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak, Tuan Radolf.”
Kami kemudian berjalan berdampingan keluar Gedung Dewan Kota. Setelah berjalan beberapa menit, terlihat banyak sekali warga kota yang sedang berbelanja di sekitaran jalan. Kami sedang berada di Pasar Utama Kota Wien.
“Selamat Siang Tuan Radolf.”
“Tuan Radolf, Anda selalu terlihat ceria sama seperti biasanya.”
Para warga yang berada di sekitaran pasar menyapa Tuan Radolf dengan hormat. Kurasa cerita tentang kebaikannya itu memang benar adanya.
“Anda sangat di hormati sekali di Kota ini Tuan Radolf. Tindakan Tuan yang berani tidak menaikkan harga produk dari bisnis-bisnis Anda karena ingin membantu mereka yang tidak punya sungguh sangat terpuji.”
“Ahahaha… Tuan Sirius tidak perlu memujiku berlebihan seperti itu. Sebelum aku sukses seperti ini, aku pun sama dengan mereka yang tidak punya ini. Jadi aku mengerti tentang penderitaan mereka ketika masa sulit ini.” Tuan Radolf merespon pujianku dengan sikap yang rendah hati. “Sebagai hasilnya, mereka memilihku menjadi salah satu Dewan Kota untuk mewakili mereka mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah,” ungkapnya.
Tapi, apakah ini tidak apa-apa? Kurasa tidak hanya rakyat kecil saja yang membeli produk Tuan Radolf karena dia tidak menaikkan harga, rakyat yang mampu juga lebih banyak yang lebih memilih produk Tuan Radolf dibandingkan produk-produk pebisnis lain yang jauh lebih mahal harganya. Apakah para pebisnis lain akan diam saja melihat hampir para konsumennya berpindah ke Tuan Radolf?
Kami kemudian tiba di Sekolah Permulaan Kota Wien. Nampak terlihat beberapa anak sedang bermain di lapangan depan sekolahan.
“Ayah! Kau sudah datang membawa hadiahku!?” Seorang anak kecil yang wajahnya familiar kemudian menghampiri kami. “Hey, hey Ayah. Apakah kau sudah membelikanku hadiah ulang tahunnya?” tanya anak itu penuh semangat.
“Sebelum itu Milo, sapalah terlebih dahulu Tuan Sirius. Apakah kau tidak mengingat orang yang telah menyelamatkan kita dari pencuri dulu itu?” Mendengar perkataan Ayahnya, anak itu kemudian menengok ke arahku.
“Ah, Kakak Patrol Guard itu, ya? Berkat ucapan kakak waktu itu, Kak Mirela menjadi murung semalaman kau tahu.” Anak itu mengatakannya dengan ekspresi cemberut.
Bukankah kau mengharapkan hal itu bocah? Jika aku menerima ajakan kakakmu, kau mungkin yang akan menangis semalaman.
“Baiklah, Ayah! Mana hadiahnya!?” Anak itu kembali menghadap Ayahnya.
“Hahhh… karena kau bertindak tidak sopan kepada Tuan Sirius, kita harus melakukan hal seperti biasa untuk memutuskan kau akan mendapatkan hadiahmu sekarang atau tidak.”
“Ehhh… membosankan….”
Tuan Radolf kemudian mengeluarkan sebuah Koin emas dan melebarkan telapak tangannya.
“Kepala atau Ekor?” tanya Tuan Radolf dengan senyuman.
“Ehhhmmm… Ekor!” Setelah mendengar anaknya mengatakan hal itu, kemudian Tuan Radolf melemparkan koin itu ke udara lalu menangkapnya dengan kedua telapak tangannya.
Dia kemudian membuka telapak tangannya itu secara perlahan tepat di depan mata Sang Anak.
“Sayang sekali Milo… kau tidak akan mendapatkan hadiahmu hari ini.” Mendengar perkataan Ayahnya, anak itu kemudian menatap mataku dengan tatapan jengkel.
__ADS_1
“Ini salahmu!”
Hey, kenapa aku menjadi seperti penjahat di sini? Anak itu kemudian berlari kembali ke lapangan untuk bermain dengan anak-anak lainnya kembali.
“Maafkanlah dia Tuan Sirius, Milo masih anak-anak dan selalu mengagumi kakaknya— Mirela.” Suara Tuan Radolf terdengar menyesal ketika mengatakan itu.
“Ahh… tidak apa-apa Tuan Radolf, aku ketika masih kecil juga sama seperti Anak Tuan. Malahan, melihat tingkahnya itu sedikit mengingatkanku tentang masa lalu.”
“Begitukah… Ngomong-ngomong, kapan Tuan Sirius akan menemui Mirela? Dia sering menanyai tentang dirimu kepadaku kau tahu.” Tuan Radolf mengatakan hal itu dengan ekspresi menggoda.
Aku hanya bisa tertawa pelan merespon pertanyaan Tuan Radolf itu.
“Baiklah Tuan Sirius, aku tidak akan menahanmu lebih lama. Kau masih memiliki tugas di tempat kerjamu bukan?”
“Iya, ada beberapa pekerjaan yang aku harus selesaikan sore ini. Kalau begitu, saya mohon pamit Tuan Radolf.”
***
Setelah berpisah dengan Tuan Radolf, aku kemudian kembali ke markas lalu berjalan ke ruangan autopsi untuk mengecek hasil interogasi Senior Hans. Setibanya aku di depan ruangan, aku mendengar suara pukulan dan jeritan seseorang menggema di dalam ruangan ini.
Apakah interogasinya masih berjalan? Aku kemudian membuka pintu ruangan lalu mendapati Senior Hans sedang memegangi kerah pemberontak yang sedang duduk terikat di sebuah kursi. Aku kemudian melihat ke meja yang di atasnya terdapat alat-alat untuk menyiksa terlihat masih bersih dan nampaknya belum di pakai sama sekali.
Apakah dia mengintrogasi pemberontak itu dengan hanya memukulinya saja? Hahh…
“Senior…” Mendengar aku yang memanggilnya, Senior kemudian melepaskan kerah pemberontak itu dari tangannya. Terlihat nampak keringat mengucur di sekitar wajah Senior.
"Kau sudah kembali Sirius? Cepat juga kau, aku baru saja memukulnya tiga kali. Nampaknya dia harus mendapatkan lebih dari itu untuk membuka mulutnya mengenai informasi penting kelompoknya itu.” Dia mengatakan alasannya itu dengan muka tanpa dosa. Di lihat dari luka-luka wajahnya, mana mungkin kau baru saja memukulinya hanya dengan tiga kali.
“Senior, ini sudah 3 jam sejak aku meninggalkan ruangan ini untuk pergi ke Kantor Dewan.” Aku kemudian memukul tengkuk leher pemberontak itu yang membuatnya tak sadarkan diri. “Aku akan membuatnya bicara, Senior tolong mintakan aku sesuatu di Departemen logistik guna untuk mempermudah proses interogasi ini.
...Author Note : Skip aja bagian setelah ini bagi kalian yang tidak suka adegan penyiksaan...
***
Aku mulai kembali mendapatkan kesadaranku setelah rekan pria berisik yang terus memukuliku itu ke belakang tubuhku. Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadaranku sepenuhnya, di depanku terlihat rekan dari pria yang memukuliku tadi sedang duduk di sebuah kursi. Di antara aku dan dirinya terdapat sebuah meja yang di atasnya terdapat tiga buah ember yang memiliki ukuran yang berbeda.
“Ahh… kau sudah bangun.” Pria itu kemudian berdiri menghampiri meja itu. “Baiklah Tuan pemberontak, aku tidak mau berbicara basa-basi di sini. Tugasku adalah untuk menyiksamu seberapa lama pun itu untuk membuatmu berbicara. Jadi, jika kau ingin prosesi ini berhenti, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?”
“Yang kau lakukan itu percuma saja! Aku tidak akan pernah mengkhianati saudara seperjuanganku!” Aku meneriakkan perkataan itu untuk membulatkan kembali tekadku.
Kapten Leon… berilah aku secercah keberanianmu untuk melewati semua ini. Aku yakin, kalian akan mewujudkan mimpi kita. Jadi… aku tak akan menyesal walaupun mati di sini.
“Jika kau berpikir untuk memberi kami informasi palsu, well… tim kami akan mengecek kebenarannya. Lalu siksaanmu itu tidak akan berhenti sebelum tim kami mengkonfirmasi informasi yang aku dapat darimu.” Setelah mengatakan hal itu, Pria itu kemudian memegangi ember-ember itu. “Lalu, ember mana yang akan kau pilih Tuan pemberontak? Di dalamnya berisi sesuatu untuk membuat mulutmu itu berbicara kau tahu.”
Aku kemudian dengan ragu menunjuk ember yang paling besar. Pria itu kemudian mengetuk-ngetuk embernya lalu terdengar suara seperti hewan pengerat di dalam ember itu. Dia kemudian membuka ember itu lalu terlihat sebuah tikus sebesar kepalan tangan orang dewasa.
“Baiklah, kita akan mulai dengan tikus Breampis.” Dia kemudian membuka bajuku lalu meletakan tikus itu di atas perutku dan menutupnya dengan ember tersebut. “Kau tahu tikus Breampis? Mereka hidup dengan cara menggali dan menggigiti lubang di dalam tanah. Kau tahu apa yang akan mereka lakukan jika sebuah api di masukkan ke lubang rumah mereka?” Pria itu membisikkan kata-katanya di telingaku.
Di tangan pria itu terlihat sebuah korek api yang rekanku biasa bawa. Kami mendapatkan benda itu dari mata-mata Republik Anconia. Dia kemudian mulai menghidupkan korek itu lalu menempelkannya di ember besi yang ada di atas perutku.
“...!”
Aku merasakan perutku sedang di cakar-cakar oleh tikus itu. Tak lama kemudian, rasa sakit yang hebat mulai terasa di bagian perutku ini.
“Aghhhhh! Tikus itu menggigitiku!”
Sial! Perutku terasa di cabik-cabik! Tikus itu… tikus itu mencoba membobol perutku untuk keluar dari kurungan ember besi panas ini!
“Aghhhh! Tikus sialan! Hentikan itu!!” Setelah beberapa saat Pria itu membiarkan tikus ini menggerogoti perutku, dia kemudian membuka kembali embernya lalu menaruh tikus itu kembali di meja seperti sedia kala.
__ADS_1
Aku melihat perutku di penuhi penuh lubang. Nampak darah mengucur membasahi perutku.
“Lalu, ember mana yang ingin kau coba kali ini Tuan pemberontak?” Mendengar perkataannya, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Kau tidak mau memilihnya? Bagaimana dengan ini, aku akan menggantimu dengan rekanmu yang lain jika kau berhasil menahan apapun yang ada di dalam sisa kedua ember ini.” Dia kembali berbisik di telingaku.
Aku kemudian menunjuk ember yang ada di tengah itu. Pria itu kemudian membuka ember itu lalu memegang sebuah serangga yang memiliki kaki yang jumlahnya tidak terhitung.
“Ahh… Kelabang kalajengking. Sengatannya lumayan menyakitkan kau tahu.” Pria itu kemudian berjalan ke sampingku.
“A-apa yang akan kau lakukan!?” Suaraku bergetar ketika mengatakan hal itu.
“Ssttt… Serangga ini sangat benci suara yang berisik kau tahu. Jadi, jangan terlalu banyak berteriak.” Pria itu mengatakannya seraya memasukkan serangga itu ke dalam telingaku.
Aku mulai merasakan sensasi geli aneh di telinga kananku ini. Aku harus bertahan… ini akan segera berakhir. A-aku, tidak akan kalah dengan permainan orang sadis ini!
Pria itu kemudian jongkok lalu mengambil sesuatu di kolong meja.
“Baiklah, Tuan pemberontak. Mari kita mulai menghitung.”
Menghitung? A-apa yang dia maksudkan tentang itu!?
“Aghhhh!” Pria itu tiba-tiba mencabut kuku-kuku di jari kakiku.
Setelah aku berteriak, serangga di dalam telingaku mulai menyengat. Aku mulai merasakan sakit teramat hebat sambil mendengar suara menjijikan binatang itu menggigiti isi telingaku.
“Aghhhh! Tolong hentikan! Aghhhhh! Ghhhhh!” Sengatan serangga yang ada di dalam telingaku mulai menjadi-jadi.
Pria itu kemudian berjalan ke arah samping kiri.
“Seribu dikurangi tujuh, berapa?”
Huh? A-apa yang dia maksud itu?
“Aghhhh! Sial Aghhhh! Apa yang kau lakukan!” Pria itu kembali mencabut kuku jari kakiku.
Aku kembali merasakan sakit di dalam telingaku ini. Kembali aku mendengar suara aneh serangga itu langsung dari dalam telingaku.
“Seribu di kurangi tujuh, berapa?” Kembali, pria itu membisikkan kata-kata aneh itu di telingaku.
“Se-sembilan ratus sembilan puluh tiga.”
“Bagus sekali… mari kita lanjutkan.”
Setelah itu, aku terus menerus menjawab pertanyaan hitungan pria itu. Aku bahkan beberapa kali salah menjawabnya karena tidak dapat fokus untuk berpikir karena menahan rasa sakit. Kuku-kuku jari kakiku bahkan sudah habis di copotinya.
“Tiga belas dikurangi tujuh, berapa?”
“Hahhh…Hahh… E-enam.”
“Bagus sekali, sekarang tinggal ember yang terakhir.”
Aku sudah tidak kuat lagi… kesadaranku mulai memudar… Pandanganku mulai kabur.
“Ini adalah cacing Bloodsuck. Hewan ini dapat masuk ke tubuh manusia lalu menjadi parasite di dalamnya, memakan darah inangnya lalu membesar dan memecahkan tubuh inangnya tersebut.” Setelah dia mengatakan itu, pria itu kemudian memasukkan cacing itu ke lubang yang di buat tikus tadi di perutku.
“Aku mempunyai sebuah gulungan sihir yang mampu membunuh cacing itu dari dalam perutmu. Tapi ingat, waktumu itu terbatas.”
Aku menutup mataku. Terasa sesuatu yang bergerak di dalam tubuhku.
__ADS_1
I-ini sangat menakutkan. Apakah aku akan mati dalam keadaan mengenaskan seperti itu…? Mengapa aku harus melewati semua ini… Yang kuinginkan hanyalah sebuah keadilan… Aku hanya ingin hidup bersama keluargaku kembali… berternak… berburu bersama si kecil Reo dan senyum Istriku yang selalu menunggu kami pulang setelahnya…
Ah… aku merindukan masa-masa itu…