The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 13 : Teater


__ADS_3

Malam pun tiba, aku sekarang sedang berjalan bersama Tuan Radolf menuju teater. Nona Mirela, adiknya bersama ibunya sudah sampai duluan di sana sedangkan Tuan Radolf baru saja pulang dari pekerjaannya di Kantor Dewan lalu bertemu denganku ketika kami melewati di jalan yang sama.


“Heh… begitukah? Kau tadi kencan berdua dengan Mirela? Kurasa ini perkembangan yang bagus.” Tuan Radolf terlihat senang ketika membicarakan hal itu.


“Ngomong-ngomong Tuan Radolf, apa saja yang tadi dirapatkan di Gedung Dewan hari ini?” Aku menanyakan hal itu untuk mengganti topik bahasan.


“Kami membahas sekitar tiga topik untuk hari ini. Perdagangan, stabilitas politik dan penyambutan Sang Saint beserta para kandidat pahlawan yang akan datang ke Kota beberapa minggu lagi.”


“Sang Saint datang ke kota ini? Mengapa? Bukankah Sang Saint bersama para kandidat Pahlawan sedang berada di garis depan membantu pasukan aliansi?” Aku terkejut mendengar Lena akan datang ke Kota ini.


“Well… Ini hal yang cukup rumit untuk di ceritakan. Soalnya menyangkut informasi tentang keamanan Negara,” jawab Tuan Radolf terdengar menyesal.


Setelah berjalan selama beberapa menit, kami kemudian tiba di pintu masuk utama teater. Bangunan ini cukup besar sekitar 40 meter dan luasnya bahkan lebih besar dari alun-alun Kota. Kurasa ini teater terbesar yang ada di Kekaisaran Habsburg.


Kami kemudian memperlihatkan tiket kami lalu masuk ke dalam gedung. Terlihat beberapa Patrol Guard yang melakukan penjagaan. Kalau tidak salah, kami mengerahkan sekitar 40 personel untuk menjaga teater ini setiap dilakukan kegiatan pementasan atau hal lainya di sini.


Kami kemudian sampai di sebuah balkon tempat duduk. Kurasa tempat ini di sediakan khusus untuk orang-orang tertentu saja.


“Ah Tuan Sirius, kau sudah datang rupanya!”


“Cih, kenapa sih dia harus di undang segala.”


Mendengar respon yang berbeda dari kakak beradik itu, aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka.


“Hey Milo! Jaga ucapanmu itu! Apakah selama ini kau tidak di sekolahkan berbicara seperti itu kepada orang yang telah menyelamatkanmu!?” Nona Mirela menatap tajam kepada Milo. Sikap tegasnya itu mengingatkanku kepada Kak Alissa.


Menghadapi kakaknya yang sedang marah, dia hanya cemberut lalu memalingkan wajahnya.


“Silahkan duduk Tuan Sirius, acaranya sebentar lagi akan di mulai.” Nona Mirela menepuk bangku kosong yang ada di sebelahnya.


Aku kemudian berjalan menghampirinya. Akan tetapi, aku melihat dari atas sini seseorang familiar tengah duduk di kursi bawah bersama seorang wanita. Dia kemudian berbalik lalu menyadariku yang berada di atas.


Apa yang Senior lakukan di sini? Dia sedang melakukan kebiasaan bejatnya itu, kah? Aku kemudian melihat dia melambai-lambaikan tangannya ke arahku.


Mengalihkan pandanganku darinya, aku melihat salah satu Patrol Guard di bawah sedang berjalan ke arah pintu keluar teater. Dia memiliki beberapa luka di wajahnya.


Pria itu… kurasa aku melihatnya tadi pagi. Setahuku dia bukanlah anggota Patrol Guard. Ada yang tidak beres di sini. Instingku berkata demikian.


“Nona Mirela, bisakah aku ijin untuk kebelakang sebentar?” tanyaku.


“Ah, silahkan Tuan Sirius. Tapi segeralah karena pementasannya akan segera di mulai."


Mendapatkan ijin dari Nona Mirela, aku kemudian keluar dari balkon itu lalu turun menuju ke tempat Senior Karl.


“Ah Sirius! Sangat di luar dugaan aku dapat bertemu denganmu di sini,” ucap Senior Karl melihatku menghampirinya.


“Oh Karl, apakah ini temanmu? Dia cukup tampan juga fufufu. Perkenalkan lah aku padanya,” kata wanita di samping Karl dengan menggoda.


Aku tidak ada waktu untuk ini.


“Senior, ada yang tidak beres di sini. Maukah kau ikut denganku untuk memeriksa apa yang terjadi?” bisikku kepadanya.


“Serius?” tanya dia balik.


Aku kemudian menatapnya mengindikasikan aku sedang tidak bercanda.


Senior kemudian berbalik menghadap wanita itu.


“Helena, kurasa ada beberapa hal yang aku harus bicarakan dengan juniorku ini. Aku akan kembali sebelum acaranya di mulai.”


“Oh tentu saja, jangan lupa ajak juniormu itu juga ke rumahku lain kali ya… fufufu. Tentu saja ketika suamiku tidak ada di rumah,” kata wanita itu sambil menjilat bibirnya menatap mataku secara langsung.


Entah kenapa, mendengar perkataan wanita itu membuat bulu kudukku merinding. Dia mengingatkanku kepada Nightingale.


Setelah meninggalkan wanita itu, kami lalu berjalan ke arah pria dengan luka di wajah tadi keluar.


“Hey Sirius, ada apa sebenarnya? Kau tahu wanita itu? Dia adalah Madam Helena, salah satu wanita yang terkenal di seluruh distrik hiburan.” Senior Karl sedikit protes padaku karena tiba-tiba menganggu kencannya. “Tentu saja itu nama samaran, aslinya dia adalah Istri muda seorang Count!” ungkap Senior Karl.


“Akan ku jelaskan nanti Senior, kita harus bergegas.”


Kami kemudian sampai di sebuah pintu yang bertuliskan ‘Hanya pengelola saja yang boleh masuk’ Aku mencoba membuka pintu itu namun terkunci dari dalam. Aku kemudian mendobraknya lalu menemukan tiga orang yang di tutup mata dan mulutnya sedang terikat.


Aku mengenali mereka… tiga orang ini adalah Patrol Guard.


Di belakang mereka, terlihat seorang pria yang mempunyai luka di wajah yang ku lihat pagi tadi ketika bersama Nona Mirela.


Melihat kedatangan kami, pria itu tersenyum lalu menekan jarinya ke sebuah benda yang ada di genggaman tangannya.


“…!”


“…!”


Tiba-tiba, ketiga tubuh Patrol Guard yang terikat itu mulai terbakar hingga menjadi abu.


“Selamat bersenang-senang!” Pria itu kemudian kabur dengan memecahkan kaca ruangan ini.


Ketika aku hendak mengejarnya, sebuah makhluk muncul dari abu-abu ketiga Patrol Guard tadi.


Groaaaahh!


Tiga Wraith itu kemudian melesat untuk menyerang kami berdua.


“Senior Karl!”


“Aku mengerti!”


Kami harus membasmi tiga Wraith itu di sini. Jika mereka sampai membuat kekacauan di teater, maka orang-orang yang bersama pria itu pasti dapat memanfaatkan kekacauan ini untuk mempermudah apapun rencana mereka.



...Author Note : Ilustrasi Wraith...


***


Di sisi lain gedung


“Hahhh… aku sangat ingin mendapatkan libur untuk kencan dengan pacarku… namun aku malah harus berjaga semalaman di sini.” Komplain seorang Patrol Guard muda.


“Well… kurasa kau akan mendapatkan kesempatan di lain waktu,” balas rekannya.


Mereka berdua tengah berjaga tepat di pintu masuk Teater Hollande.


“Suatu saat aku juga ingin membawa pacarku ke si—“ Tiba-tiba suara pria itu tertahan. Sebuah pisau menancap ke tenggorokannya.

__ADS_1


“Sayang sekali, kau tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu.” Orang yang menusuknya dari belakang adalah rekan berbicaranya.


Setelah membunuh Patrol Guard itu, dia lalu segera mengunci pintu teater dari luar agar tidak ada yang bisa keluar.


Beberapa saat kemudian, pria itu mendengar langkah kaki dari belakang. Dia kemudian berbalik lalu mendapati seorang pria dengan luka di wajah menghampirinya.


“Ketua, tahap 1 operasi kita telah selesai. Kita akan masuk dalam tahap 2 operasi.” Mendengarnya, pria dengan luka di wajah itu hanya mengangguk.


Tahap 1 dari rencana mereka adalah melumpuhkan para Patrol Guard yang menjaga teater. Kedua puluh dari mereka menyamarkan di sebagai Patrol Guard untuk dapat memasuki tempat ini. Akses ini mereka dapatkan dari koneksi yang telah di berikan oleh orang yang memberi mereka tugas ini.


“Kita hidupkan gasnya, kita selesaikan operasi ini sebelum orang-orang di luar menyadari adanya ke keanehan dalam gedung ini.”


***


Di sisi lain, Radofl beserta keluarganya dan pengunjung yang datang tidak mengetahui bahwa mereka sedang ada dalam bahaya.


“Milo! Sudah kubilang berapa kali, kau itu harus sopan terhadap Tuan Sirius. Mau bagaimanapun, dia itu penyelamat kita. Mengapa kau jadi seperti ini?” Mirela menasehati Milo terkait perilakunya yang buruk kepada Sirius.


Radolf yang melihat ini hanya bisa menghela nafasnya. Di sisi lain, dia juga ingin memberitahu Milo bagaimana bersikap kepada seseorang. Apalagi terhadap orang yang kita pernah berhutang sesuatu padanya. Akan tetapi, Radolf tidak tega melihat Milo yang murung karena diceramahi Mirela.


“Kakakmu benar Milo, apapun yang terjadi, bersikap baiklah kepada orang-orang yang telah menolongmu.” Radolf mengatakannya sambil mengelus rambut anak tercintanya itu.


Radolf menyadari, di dunia ini, jika kau tidak memiliki kekuatan yang nyata, setidaknya kau harus memiliki skill sosial yang baik. Itulah mengapa Radolf terjun ke dunia politik.


Dia menyadari tanpa perlindungan apapun dari orang yang lebih kuat, orang-orang yang iri akan kesuksesannya pasti sudah dari dulu menjegal bisnisnya. Radolf beruntung dirinya bisa melangkah sejauh ini.


Karena itulah, Radolf ingin anak-anaknya mempunyai tameng yang kuat juga agar mereka bisa terjaga dari orang-orang yang mempunyai niat buruk ke mereka. Dia melihat Sirius sangat cocok menjadi penjaga Mirela dalam hal ini.


Walaupun Radolf sangat dikenal akan kebaikannya, Radolf sebenarnya hanya melakukan hal itu untuk mendapat dukungan masyarakat. Tidak sepenuhnya karena murni simpati belaka kepada mereka yang kesusahan.


Dia ingin menggunakan masyarakat sebagai tameng untuk dirinya dan keluarganya. Benar sekali, pada akhirnya, Radolf hanya melakukan segala kebaikan itu demi menjaga keluarganya saja.


Baginya, seluruh hidupnya dia korbankan hanya untuk keluarganya… Baginya, keluarga adalah segalanya—harta yang tak ternilai dengan apapun… Rasa cinta terhadap keluarganya lah yang membuat Radolf melakukan tindakannya selama ini.


Jika tidak ada keluarganya, mungkin Radolf akan menjadi seperti pebisnis-pebisnis licik yang lainnya tanpa peduli rakyat kecil yang menderita.


“Milo… berjanji pada Ayah, kau nanti akan meminta maaf pada Tuan Sirius, oke?” Dia menatap mata anaknya ketika mengatakan hal itu.


“Baiklah Ayah, aku akan mencobanya.” Milo mengangguk melihat tatapan mata Ayahnya.


“Anak baik, nanti akan Ayah belikan mainan kesukaan Milo ketika selesai dari sini.” Radolf kembali mengelus-elus kepala anaknya itu.


“Asiiikkkk! Terima kasih, Ayah!” Milo tersenyum senang lalu memeluk Radolf.


‘Iya… demi kalian semua, aku akan lakukan apapun. Bahkan jika aku harus menjual jiwaku sekalipun!’ Radolf mengkokohkan tekad di dalam hatinya.


Melihat pemandangan hangat ini, Istri Radolf dan Mirela ikut tersenyum. Mereka berempat saling berpelukan satu sama lain.


*Brakkk!


Ketika Radolf sedang menikmati momen hangat mereka, tiba-tiba pintu tempat dimana mereka berada terbuka.


“Maaf mengganggu drama keluarga yang menyentuh ini, bolehkah aku ikut bergabung?”


Seorang pria bertopeng bersama tiga orang lainnya membawa sebuah pedang dan menggunakan masker aneh yang menutupi bagian mulut dan hidung mereka memasuki tempat Radolf dan Keluarganya.


“Siapa kalian!? Apa yang kali—“ Suara Radolf tertahan, Pria bertopeng itu menempelkan pedangnya di Leher Milo.


“A-yah… Aku takut,” ucap Milo lirih dan terlihat air mata mulai membasahi pipinya.


“Jangan lukai anakku! Aku akan melakukan apapun yang kalian mau!” Radol mengatakan hal itu dengan putus asa.


“Aku akan menanyaimu beberapa hal, dan jangan kau coba menjawab pertanyaannya memutar-mutar, tidak akan ada bantuan yang akan datang padamu. Lihatlah ke bawah,” ujar Pria bertopeng itu.


Radolf kemudian berjalan ke tepian balkon lalu melihat orang-orang yang berkunjung ke teater ini.


Tak lama kemudian, sebuah asap muncul entah darimana mulai memenuhi ruangan teater. Para pengunjung mulai panik kemudian mulai berlarian menuju pintu keluar.


Namun sayang, Pria bertopeng bersama rekan-rekannya sudah mengunci semua jalan keluar yang ada di dalam teater.


Beberapa saat kemudian, terlihat beberapa orang mulai tumbang dan dalam hitungan detik, para pengunjung teater tidak ada yang masih berdiri.


“Apa yang kalian lakukan pada mereka!?” tanya Radolf kebingungan dengan apa yang dia saksikan.


“Ah jangan khawatir, mereka hanya tertidur. Kami hanya mencoba sebuah alat yang di kirim oleh mata-mata Republik dan tidak menggunakan sesuatu yang berbahaya.” Pria itu kemudian berjalan menghadapi Radolf.


“Baiklah Tuan Radolf, aku tidak ingin menanyakannya dua kali. Jadi kau harus menjawabnya dengan jujur, oke.” Pria bertopeng itu kemudian memberikan sebuah kode tangan kepada rekan-rekannya.


“Aku akan menjawabnya! Kumohon! Jangan sakiti mereka!” Melihat rekan-rekan Pria bertopeng itu menempelkan pedang-pedang mereka di leher keluarganya, Radolf kembali memohon dengan putus asa.


“Baiklah, pertanyaan pertama. Dimana pertemuan Pangeran Otto dengan para kandidat Pahlawan nanti di selenggarakan, Kau sering berbicara dengan Pangeran Otto bukan? Dia juga sering memberimu tugas-tugas penting. Aku yakin, kau mengetahui tempat pertemuan ini akan berlangsung nanti.”


Mendengar pertanyaan Pria bertopeng itu, Radolf menjadi bertanya-tanya apa rencana orang-orang ini. Dia memang mengetahui tempatnya. Akan tetapi, itu adalah rahasia yang tidak boleh diberitahukan oleh orang lain karena menyangkut keamaan Negara.


*Slittt


Tubuh seorang terjatuh, dia adalah Istri Radolf. Lehernya mengucurkan banyak darah.


“Sayang!”


“Mama!!”


Anak-anak Radolf melihat pemandangan horor. Mereka melihat ibu mereka di bunuh dengan sadis di depan mata mereka.


“Kau! Tidak akan ku maafkan!” Radolf hendak menyerang pria bertopeng itu namun, dia melihat kedua rekan pria itu menempelkan sisi tajam pedang mereka kepada anak-anaknya.


“Jangan menguji kesabaranku Tuan Radolf, waktu kami terbatas,” ucap Pria bertopeng itu dengan dingin.


“Apa kesalahanku pada kalian!? Kalian pemberontak bukan!? Aku selalu baik kepada rakyat-rakyat kecil! Mengapa kalian melakukan ini pada keluargaku!?” Radolf teriak histeris.


“Jawab pertanyaannya.” Pria bertopeng itu hanya merespon dengan dingin.


Radolf kemudian mencoba menenangkan dirinya.”Mereka akan melakukan pertemuan di sebuah Manor tepatnya di Desa yang bernama Runfeld.”


“Apa yang sebenarnya akan mereka bahas sampai harus ke tempat yang terpencil seperti itu?” tanya kembali Pria bertopeng.


Kali ini Radolf mulai kebingungan. Dia tidak pernah diberitahu sama sekali mengenai apa yang akan di bahas Pangeran Otto bersama para Kandidat Pahlawan.


*Slittt


Tubuh seorang anak kecil kali ini terjatuh. Darah mengucur deras membasahi pakaiannya.


“Tidak, tidak, tidak! Milo!” Radolf bergegas menghampiri anaknya.

__ADS_1


“Tidak, Milo! Kalian semua adalah iblis! Huuuu…” Mirela mengutuk para pemberontak itu dan menangis.


“Kami hanya melakukan apa yang kami yakini akan membuat negeri ini lebih baik, Nona.” Pria itu mengatakan hal itu dengan datar.


Radolf menggenggam tangan anak laki-lakinya itu. Tubuh anaknya mulai terasa dingin di genggamannya. Dia kemudian memeluk anaknya.


“A-ayah… Maafkan Milo—“ Anaknya membisikan kata-kata itu di telinga Radolf sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Tubuh Radolf bergetar, air mata mulai membasahi pipinya. Amarah mulai menguasai hatinya. Dia kemudian melihat wajah anaknya, dia mati dengan sebuah senyuman.


Sangat tragis… tidak ada satupun seorang Ayah yang ingin merasakan kehangatan anaknya yang berada di pelukannya menghilang secara perlahan berubah menjadi mayat yang dingin dan kaku.


Brakkk!


Mereka kemudian mendengar sebuah dobrakan pintu dari bawah. Mereka kemudian melihat seorang Pria berambut hitam menatap tajam ke arah mereka.


Pria bertopeng kemudian mendekati rekan-rekannya lalu berkata, “Bunuh Pria di bawah itu, aku akan ke atap untuk mendapatkan jawabannya dari Radolf. Kita harus mengetahui informasinya sebelum membunuhnya.”


***


Beberapa saat yang lalu…


Di hadapanku, tiga Wraith sedang melesat ke arahku memperlihatkan cakar-cakar mereka. Aku menghindari serangan mereka lalu mulai berlari.


“Senior Karl! Apakah masih belum selesai!?”


“Sudah siap! Bersiaplah Sirius!”


Mendengar instruksi Senior, aku kemudian berbalik bersiap menghadapi ketiga Wraith itu. Aku kemudian memusatkan mana di kedua tangan agar aku mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghancurkan mereka tanpa menggunakan Baselard.


“Holy Stardust!” Sebuah lingkaran bintang kemudian muncul di lantai di bawah ketiga Wraith itu melayang.


Aku kemudian berlari melesat ke arah mereka. Salah satu Wraith itu mengayunkan tangannya hendak menyerangku dengan cakar tajam mereka. Aku kemudian menunduk lalu melakukan sebuah uppercut ke tengkorak Wraith itu. Tengkorak kepalanya kemudian melayang lalu berubah menjadi butiran debu,


Tidak cukup sampai di situ, aku kemudian memfokuskan manaku ke kakiku lalu melesat ke arah sisa dua Wraith itu.


Menghindari kedua serangan mereka, aku kemudian melompat lalu melancarkan sebuah tendangan kepada tengkorak kepala salah satu Wraith itu. Kepala tengkorak itu kemudian terpental lalu pecah menjadi abu ketika menabrak tembok ruangan.


Tidak selesai di situ, aku kemudian mendarat lalu berbalik. Mengarahkan tinjuanku ke dada Wraith yang terakhir. Tanganku menembus tulang dadanya yang kemudian berubah menjadi butiran debu.


“Good Job Sirius!” Senior Karl melakukan sebuah pose aneh sambil memberikan pujiannya kepadaku.


“Senior, aku akan langsung memeriksa apa yang terjadi. Senior hubungilah anggota yang lain untuk meminta bantuan.”


“Baiklah.”


Kami kemudian berpisah. Aku berlari ke arah dimana pria itu kabur. Setelah sampai di lobby bangunan, aku melihat beberapa Patrol Guard yang telah mati di bunuh.


Aku kemudian bergegas ke tempat masuk teater. Akan tetapi, aku mendapati pintu masuknya terkunci. Aku kembali memfokuskan manaku ke tangan kanan lalu meninju pintu itu dengan keras.


Brakkk!


Aku kemudian masuk ke ruangan teater tetapi, ada samar-samar kepulan asap yang aneh memenuhi seluruh area ruangan dan terlihat orang-orang di dalam sini tertidur.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Tidak lama kemudian, aku mencium bau aneh dari kepulan asap ini. Aku sangat familiar dengan bau ini… Tanaman Konyak yang biasa menjadi bahan membuat ramuan Paralyze.


Aku kemudian menahan nafasku lalu melihat ke atas dimana tempat Tuan Radolf beserta keluarganya berada. Terlihat beberapa pria menggunakan masker aneh berada di atas. Mereka kemudian membawa Tuan Radolf keluar dari sana.


Tidak lama kemudian, muncul sekitar 10 orang menggunakan masker yang sama dengan mereka membawa sebuah pedang berlari ke arahku.


Pernafasanku terbatas, dalam situasi mendesak ini, aku kemudian menggunakan Shadow Link.


Melompat dari bayangan ke bayangan, aku dapat menumbangkan mereka dengan waktu yang singkat. Aku kemudian berlari ke dinding ruangan teater lalu melompat ke balkon dimana Tuan Radolf dan keluarganya sebelumnya berada.


Setibanya di sana, aku melihat mayat seorang anak laki-laki dan perempuan dengan darah mereka membasahi lantai-lantai.


Aku terlambat…


Tidak menyia-nyiakan waktu meratapi kematian mereka, aku kemudian segera menyusul Pria Bertopeng itu yang membawa Tuan Radolf.


Melewati beberapa tangga ke atas, aku kemudian membuka pintu yang menuju ke atap bangunan. Aku melihat Pria bertopeng itu berdiri di tepian Gedung. Kedua tangannya memegangi leher dari Tuan Radolf dan Nona Mirela.


“Ahh… kau ada di sini berarti kau telah mengalahkan beberapa anak buahku,” ucap pria bertopeng itu.


Aku kemudian berjalan mendekat tanpa merespon perkataannya itu.


"A,a,a… kau berhenti di situ.” Mendengar perkataannya, aku kemudian berhenti melangkah karena pria bertopeng itu mulai melemaskan pegangan tangannya yang menahan Tuan Radolf dan Nona Mirela agar tidak terjatuh.


“Aku penasaran siapa yang akan kau pilih… Wanita muda yang cantik ini… ataukah pria tua yang sudah rusak melihat keluarganya mati di depan matanya?”


Aku kemudian menatap mata Nona Mirela. Aku bisa mengetahui dari ekspresi mukanya, dia sangat ketakutan. Aku mengerti dari tatapan matanya, dia ingin segera di selamatkan dan percaya aku akan menyelamatkannya seperti kejadian sebelumnya. Berharap pahlawannya dapat menyelamatkannya kembali.


“Tuan Sirius! Aku mohon padamu! Selamatkanlah Mirela! Dia keluarga satu-satunya yang tersisa yang kumiliki! Aku mohon padamu!”


Jika aku menyelamatkan Nona Mirela dan membiarkan Tuan Radolf mati… maka opini Publik terhadap Patrol Guard dan pemerintahan akan kembali buruk karena membiarkan Anggota Dewan tercinta mereka mati. Kestabilan keamanan di Kota Wien akan memburuk dan para pemberontak akan memanfaatkannya dengan mudah.


Sebaliknya, jika aku menyelamatkan Tuan Radolf dan membiarkan Nona Mirela mati… Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mental Tuan Radolf nantinya… Dia mungkin lebih baik menuju neraka daripada menjalani hidup setelah kejadian ini.


Aku hanya bisa menyelamatkan satu orang saja… Shadow Link tidak akan bekerja jika target berada di udara.


Aku kehabisan cara…


“Hororrr!” Pria itu melepaskan genggamannya. Aku melihat Tuan Radolf dan Nona Mirela terjatuh dan mulai menghilang dari pandangan mataku.


Aku kemudian memutuskan untuk mengikuti instingku lalu berlari secepat mungkin ke tepian gedung. Memusatkan mana di kakiku, aku kemudian melesat ke arah targetku.


Aku menangkap tubuhnya kemudian meninju tanganku ke dinding bangunan untuk sebisa mungkin meredam momentum jatuh kami agar kami selamat ketika mendarat.


Aku kemudian menjadikan tubuhku sebagai bantalan agar membuat Tuan Radolf sebisa mungkin terhindar dari cidera-cidera parah.


“Tidak, tidak, tidak!!!! Mirela!!!! Huuu…. Aghhhhh!” Tiba-tiba Tuan Radolf bangkit dari atas tubuhku lalu berteriak histeris.


Aku kemudian mencoba bangkit lalu menghampirinya.


Di hadapan kami, teradapat mayat seorang wanita dengan kondisi kepalanya pecah mengenaskan karena menghantam tanah. Wanita yang sama ketika tadi pagi tersenyum dan tertawa bersamaku pada pagi hari. Wanita yang selalu memimpikan dirinya di selamatkan oleh seorang pahlawan.


Aku... memang tidak pernah bisa menjadi seorang pahlawan bagi siapapun…


Tidak terasa, darah mulai keluar dari bibirku dan kedua telapak tanganku.


Maafkan aku... Mirela

__ADS_1


__ADS_2