
Setelah terbebas dari kutukan Witch yang ku bunuh, Lena tiba - tiba kehilangan kesadarannya. Hal ini mungkin di sebabkan oleh Mana Exhaustion. Kondisi dimana seseorang menggunakan mana melebihi kapasitas yang dia punya. Aku tidak tahu bahwa Lena dapat menggunakan sebuah Sihir Purification yang bisa membuatku terbebas dari Sihir Kutukan.
“Jadi, kau sudah menghuni daerah ini sudah berapa lama?”
Aku sekarang sedang mengobrol dengan pria yang membantu Lena ketika aku hilang kendali karena terkena kutukan Witch yang telah kubunuh.
“Entahlah, sangat sulit untuk mengira - ngira waktu di sini. Kurasa ketika Raja Valier de Aquitaine melakukan upacara penobatannya,” jawabnya.
“Itu sekitar 7 tahun yang lalu. Kudengar, acara penobatannya di kacaukan oleh serangan Iblis.”
“Hahaha! Pelaku dari kejadian itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aku!” ungkapnya dengan sebuah tawa.
“Hee ~ ternyata itu kebenaran dari ceritanya. Lalu, kau lari kesini kabur dari kejaran para Inquisitor?”
“Benar sekali. Pada saat itu merupakan keempat kalinya aku kehilangan kendali tubuhku dan menyerang para bangsawan ketika melakukan sebuah acara penting. Ayahku sangat kerepotan sekali karenanya,” ucapnya dengan nada melankolis. “Karenaku, nama baik keluargaku menjadi tercoreng di Kerajaan Aquitaine. Kurasa aku memilih keputusan yang tepat untuk menetap di sini. Aku hanya akan membahayakan orang lain dan diriku jika tetap tinggal dengan manusia biasa.”
Begitulah seorang Arbil dan beberapa Cursed Child lainnya. Mereka tidak akan bisa hidup berdampingan dengan manusia terkecuali…
“Lalu, bagaimana dengan ceritamu? Bagaimana kau bisa lepas dari kutukan Arbil sepertiku ini? rumor mengatakan ‘jika kau sudah membunuh 1000 manusia, maka iblis yang berada dalam dirimu akan terpuaskan keinginan membunuhnya’ jadi, apakah rumor itu benar?” tanyanya dengan nada serius.
“Dua ribu, Setelah aku membunuh 2000 manusia, aku terbebas dari kutukan Arbil,” jawabku mengkoreksi rumor yang salah itu.
“Hoo… begitukah. Lalu, bagaimana dengan suara-suara itu, apakah mereka menghilang juga?”
Aku tahu suara apa yang dia maksudkan. Suara dari orang - orang yang kau bunuh, suara yang muncul ketika seorang Arbil mendapatkan kembali kesadaran dirinya setelah hilang kendali.
“Tidak, suara itu sering kali kembali muncul. Aku meminta temanku untuk membuat sebuah obat untuk itu akan tetapi…”
“Kau tidak akan bisa menghapus rasa bersalah dan kegelapan dari hati seseorang dengan obat maupun sihir.”
Ya, kami mengerti satu sama lain karena apa yang telah kami alami. Untuk itulah Master memberiku perintah ini, sebuah tujuan hidup untuk membersihkan jiwaku yang gelap karena kutukan itu.
“Ughhhhh… Sirius kau berisik sekali….”
Tiba - tiba aku mendengar suara Lena yang sedang berbicara dalam tidur. Melihat hal ini, aku hanya tersenyum mengingat apa yang telah dia lakukan untukku tadi.
“Dia adalah wanita yang hebat,” ucap Pria itu. “Jarang sekali ada manusia yang tahan akan aura membunuh seorang Arbil dan mempunyai keberanian yang tinggi untuk dapat berbicara dengan mereka ketika dalam keadaan Bloodlust Frenzy. Meskipun kau telah kehilangan kutukan itu akan tetapi, Aura membunuh dan kekuatanmu tidaklah jauh dari sebelumnya.”
“Ya… Lena adalah wanita yang kuat. Sama seperti sesosok yang ku kenal itu.”
...----------------...
“Te-terima kasih kakak karena sudah menyelamatkan kami.”
“Terima kasih sudah membebaskan kami dari wanita itu.”
Setelah beberapa jam beristirahat. Lena dan anak kembar yang kami selamatkan kembali sadarkan diri.
“Kalian jangan nakal ya ~ Dengarkan selalu perkataan paman ini dan jangan terlalu merepotkannya,” intruksi Lena kepada anak kembar itu yang masing-masing bernama, Rudd dan Ruby.
__ADS_1
“Ummm.”
“Baiklah.”
Aku lalu menghampiri pria itu untuk mengucapkan kembali rasa terima kasihku.
“Kalian tenang saja, aku akan menemani dan membantu mereka. Aku juga telah mengetahui dinamika perubahan Arbil-ku. Aku akan menjauh dari mereka sebelum aku kehilangan control tubuhku,” ucap pria itu mencoba meyakinkan kami. “Aku juga akan mengajari mereka tentang kekuatan mereka, kuharap mereka akan sedikit - sedikit bisa menemukan tujuan di kondisi mereka yang sekarang ini.”
"Aku mengerti … Dan satu hal, aku hampir lupa memberi tahu kau namaku.”
Aku lalu menawarkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
“Namaku Sirius. Senang berjumpa denganmu.”
Dia meraih tanganku juga dan menggenggamnya dengan erat.
“Namaku Louis de Aquitaine. Senang berjumpa denganmu juga, Sirius,” ucapnya sambil tersenyum.
Aquitaine? Masing - masing manusia memiliki rahasia tersendiri ternyata. Karena kami mengerti satu sama lain, kah dia memberi tahuku nama aslinya?
Kami lalu meninggalkan mereka untuk melanjutkan perjalanan kami. Aku lalu berbalik lalu melihat ketiga sosok itu melambai - lambaikan tangannya kepada kami. Seorang anggota keluarga Raja yang terkutuk dan sepasang anak kembar yang dipilih oleh Dewa iblis. Apakah ini sebuah takdir? Mungkin tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.
...----------------...
Di Ibukota Kekaisaran Habsburg, Ruhmstadt. Tepatnya di Kuil Utama Dewi Athena. Sedang di adakan pertemuan antara 5 Kardinal bersama beberapa petinggi posisi - posisi penting di jajaran kepengurusan Kuil Dewi Athena.
“Aku mohon maaf sebelumnya. Kami bekerja sama dengan Unit intelejensi Kekaisaran akan tetapi, dari keempat tim yang kami luncurkan untuk mengawal para kandidat, sampai saat ini, kami belum menemukan kabar dari mereka,” jelasnya dengan nada yang rendah dikarenakan rasa malunya merasakan ketidakpuasan para Kardinal terhadap kinerja bawahannya. “Terakhir kami menerima sebuah surat bahwa Tim 4 sedang membawanya melewati Hutan Elmea akan tetapi, sampai sekarang belum ada kabar dari mereka lagi,” tambahnya.
“Bukankah tidak jauh dari sana ada Kota?” tanya seorang Kardinal kepada seorang pria botak berjubah.
“Anda benar Kardinal Betrand. Kita memiliki Sel di sana untuk melakukan pemantauan. Kurasa aku mengetahui sedikit tentang kondisi dari kandidat Saint yang Tuan Hohenheim bicarakan tadi,” jawabnya.
“Cepatlah katakan Tuan Velis dan jangan berputar - putar. Saat ini, kita harus mengamankan para kandidat untuk Ritual ini. Kerajaan Thuringia telah di ambang kehancuran oleh pasukan Iblis, kita secepat mungkin membutuhkan seorang Saint dan Pahlawan untuk memukul balik para Iblis itu!” ujar Kardinal yang Lain.
“Baik Kardinal Paul. Menurut Bawahanku, Tim yang di kirim untuk mengawal kandidat Saint ini telah di habisi sepenuhnya. Kandidat Saint itu terlihat bersama seorang pria memasuki Kota Omor pada malam hari. Tidak lama kemudian, Patrol Guard di sana menemukan beberapa mayat yang identitasnya berasal dari Republik Anconia di lihat berdasarkan senjata dan perlengkapannya.” Velis menjelaskan laporan yang dia terima dari bawahannya kepada para petinggi yang hadir.
“Para Atheis bedebah!”
“Mereka berusaha menculik kandidat Saint kita! Ini tidak bisa di biarkan!”
“Hancurkan mereka!”
Mendengar laporan dari Velis, mereka yang menghadiri pertemuan mulai meneriaki orang - orang Republik karena mencoba menyabotase mereka.
“Tenang tuan - tuan, kita tidak boleh bertindak gegabah dalam situasi ini. Jika kita mendeklarasikan Perang Suci juga ke Republik Anconia, Aliansi akan menghadapi dua Front yang mana akan lebih tidak menguntungkan Aliansi,” ucap Kardinal lainnya.
“Apa maksudmu Leroy? Mereka sudah terang - terangan ingin menyabotase kita! Bukankah sudah jelas niat mereka?!” ujar Kardinal Paul.
“Leroy benar, Paul. Mungkin mereka masih melakukannya dengan sembunyi - sembunyi akan tetapi, jika sudah terjadi perang total ... Aliansi besar kemungkinan akan terpojokkan dan tidak lama kemudian akan terpecah, “ jelas Kardinal Betrand.
__ADS_1
Mereka melakukan pertemuan dari pagi yang akhirnya selesai pada malam hari. Setelah pertemuan selesai, para petinggi Kuil Dewi Athena mulai membubarkan diri dari ruang pertemuan. Terlihat seorang Ksatria berusia 50 tahunan hendak keluar ruangan. Tiba - tiba dia berbalik karena merasakan ada yang tengah mengikutinya. Dia kemudian melihat teman lamanya yang tersenyum padanya.
“Lama tidak berjumpa Georgy.”
“Kardinal Leroy?”
“Jangan panggil aku seperti itu. Kita itu teman lama. Maukah kau mengikutiku untuk berkeliling sebentar?”
Mereka lalu berjalan ke tempat yang lebih sepi dari orang - orang Kuil.
“Lalu, ada hal apa yang ingin kau bicarakan.”
“Kau tidak pernah berubah yah, Baiklah aku akan memberi tahumu.” Kardinal Leroy lalu mengeluarkan secarik kertas yang berisikan Illustrasi seorang wanita dan memberikannya kepada Georgy.”Menurut Tuan Velis, keberadaan salah satu kandidat Saint sekarang berada di sekitar area perbatasan. Lebih tepatnya di antara Kota Braswigh dengan Kota Ilmenoy,” jelas Kardinal Reloy.
“Kau ingin aku mencarinya?”
“Ya. Sejujurnya, kami sangat mencurigai Kekaisaran menyabotase beberapa kandidat Saint agar mereka tidak sampai kemari supaya kandidat Saint dari Negeri mereka terpilih kembali pada saat Ritual nanti,” ucap Kardinal Leroy berterus terang.
Mendengar penjelasan teman lamanya, Georgy menjadi sedikit suram raut wajahnya.
“Maafkan aku jika aku menyinggungmu, Georgy,” ucap Kardinal Leroy dengan tulus.
“Tidak apa - apa, aku tidak senaif itu dan tahu betul apa yang di lakukan para petinggi Negeriku.” Georgy hanya tersenyum kepada teman lamanya.”Baiklah, aku akan mencarinya.”
“Terima kasih Georgy.”
Mereka lalu berpisah setelah perbincangan tersebut.
Georgy von Ritterburg adalah mantan Ksatria Eksklusif Saint sebelumnya. Dia adalah terbaik dari yang terbaik sebagai seorang Ksatria. Bahkan dia di sejajarkan dengan Pahlawan - pahlawan sebelumnya dalam hal kekuatan.
Sangat di kenal dengan Kehormatannya sebagai Ksatria. Seorang sosok yang menjadi panutan bagi seleuruh Ksatria sebagai puncak dari Arti menjadi seorang Ksatria itu sendiri. Di benua Alterna dia di kenal sebagai— The White Knight.
...----------------...
Di suatu tempat di perbatasan antara Kekaisaran Habsburg dengan Kota Netral Ilmenoy, tiga orang pria tengah mendiskusikan sesuatu.
“Sayang sekali Tuan Geldoro harus memerintahkan kita dalam misi ini.”
“Kau benar. Aku dengar Albert The Golden Hero akan berada di garis depan untuk memimpin pertarungan. Aku sangat penasaran dengan kekuatan seseorang yang pernah mempunyai gelar Pahlawan.”
Mereka dalam perjalanan menuju Kota Ilmenoy untuk mencari target mereka.
“Sudahlah, kita di perintahkan Tuan Geldoro untuk menangkap kandidat Saint. Dia mengatakan akan memberi kita imbalan yang tak ternilai jika kita berhasil menyelesaikan misi ini,” ucap salah satu dari mereka sambil mengusap - usap sebuah cincin di jarinya.
“Hee~ Cincin penghenti waktu, kah?”
“Kau mendapatkan artifak yang menarik dari Tuan Geldoro.”
Pria itu lalu tersenyum dan membalas mereka, “Tentu saja. Setelah misi ini selesai, kurasa Tuan Geldoro juga pasti akan memberikan Artifak yang lebih hebat dari ini.”
__ADS_1