The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 20 : Serena vs Sirius


__ADS_3

Setelah berhasil keluar dari hutan Rodea, Aku dan Sirius memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tujuan kami adalah ke Desa yang bernama Aubern.


"Ketua sudah siap? Kita akan mulai berjalan lagi. Aku perkirakan, kita akan sampai di desa itu sebelum matahari terbenam."


Kami melanjutkan perjalanan kembali menyusuri aliran sungai. Menurut Sirius, jika kita berjalan selama 6 jam mengikuti sungai ini, kita akan sampai di Desa Aubern.


6 jam perjalanan akan sangat membosankan... Aku kemudian melirik ke arah pria berambut hitam di sampingku. Ekspresi wajahnya terlihat berbeda sekali ketika dia diam seperti ini. Berbeda ketika dia mulai berbicara. Sangat menjengkelkan.


Tapi melihat kemampuannya, Sirius terlihat cukup terampil dalam bertarung. Pembawaannya terlihat sangat natural. Apakah dia sudah berpengalaman? Apakah dia seorang mantan petualang? Ataukah dia bagian dari unit intelejen khusus Kekaisaran. Aku tidak tahu.


Kurasa akan ku cek kembali berkas dirinya jika sudah kembali ke markas.


"Hey Sirius... "


"Ada apa, Ketua?"


"Ceritakanlah sesuatu yang menarik agar perjalanan ini tidak membosankan," pintaku.


Ayah bilang, perkataan yang keluar dari mulut seseorang adalah cerminan dari sifat aslinya. Mungkin aku akan mengetahui sedikit tentang karakternya jika mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Sirius.


"Cerita, kah?"


Dia kemudian melihat ke atas langit seolah sedang mengingat sesuatu.


Sirius kemudian mulai bercerita mengenai seorang pria. Dia mengatakan, pria itu sangat menjunjung keadilan dan tidak pernah menyerah sama sekali dalam menegakkan hal itu.


Walaupun masalah yang dia hadapi itu sangat mustahil untuk diselesaikan, dia masih tetap teguh dengan pendiriannya dan tidak menyerah. Percaya bahwa keadilan akan tegak bagaimanapun yang terjadi.


Mendengar ceritanya, aku teringat akan seseorang. Aku kemudian memegang kalungku. Sebuah barang yang tetap membuatku ingat akan dirinya.


"Apa yang terjadi dengan pria itu, Sirius?" tanyaku.


"Dia... mati." Dia mengatakannya seperti menyesal akan sesuatu. "Orang baik selalu mati terlebih dahulu, orang berani selalu menjadi yang terdepan dan mati melindungi yang lain."


Aku mengerti dengan yang dikatakan Sirius. Seperti ibu dan Jerold, mereka berdua adalah orang yang baik. Mereka juga meninggalkan dunia ini dengan cepat.


Sedangkan orang-orang jahat—para kriminal itu selalu hidup bertahan karena sifat licik dan pengecut mereka.


"Ketua, aku memiliki pertanyaan kepada penegak keadilan yang berpengalaman seperti Anda." Sirius menghentikan langkah kakinya lalu menatap mataku.


"Jika ada sebuah kejahatan yang Anda tidak bisa hancurkan dengan cara yang bersih, apakah Anda akan tetap di jalur keadilan yang benar menjauhi cara-cara kotor dan jahat? Atau Anda akan melakukan tindakan yang tidak adil dan jahat untuk memusnahkan kejahatan itu?"


Aku kemudian mencoba memproses pertanyaan Sirius itu dengan baik. Di lihat dari ekspresi wajahnya, dia menanyakan hal ini dengan sungguh-sungguh.


Kejahatan yang tidak dapat aku hancurkan dengan cara bersih, kah? Sebenarnya aku sering sekali menghadapi masalah ini. Seperti para Bangsawan licik yang melakukan tindakan kejahatan dalam bayangan.


Jika aku tidak hati-hati dan gegabah dalam menangani kasus mereka dan memenjarakan mereka semua, akan terjadi ketidakstabilan politik dan keamanan yang akan terjadi di Kekaisaran.


Lalu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus melakukan cara-cara kotor dengan menculik salah satu keluarga dari bangsawan itu? Mengancam akan membunuhnya jika mereka tidak mengakui kejahatan-kejahatan mereka? Menyiksa keluarga mereka dan memaksa para bangsawan itu untuk menghentikan aksi melanggar hukum yang mereka lakukan. Mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah?


Jika aku memilih jalan kotor itu, kejahatan tetap tidak akan hilang karena ada kejahatan baru yang telah aku lakukan kepada salah satu keluarga mereka. Itu adalah yang dinamakan dengan Evil Paradox.


"Apa yang akan Ketua pilih? Menyerah kepada kejahatan yang tidak bisa Ketua atasi itu? Ataukah Ketua akan melakukan sebuah kejahatan untuk menumpas kejahatan yang lebih besar?" tanya Sirius kembali.


Aku... tidak memiliki jawabannya. Apa yang akan Jerold katakan jika dihadapi dalam situasi ini...?


"Aku percaya, bagaimanapun caranya, keadilan akan tetap tegak. Aku tidak akan menyerah terhadap kejahatan apapun."


Mendengar jawabanku, Sirius hanya tersenyum lalu kembali mulai berjalan.


"Apa yang akan Sirius pilih?" tanyaku penasaran akan pandangannya dalam masalah ini.


"Aku pun masih mencari jawaban dalam hal itu," jawabnya.


Setelah berjalan untuk waktu yang lama, kami lalu beristirahat untuk minum dan memulihkan tenaga. Setelah melanjutkan perjalanan kembali, kami akhirnya sampai di Desa Aubern saat matahari terbenam.


Kami lalu menuju ke Kantor Patrol Guard menemui Kapten mereka.


"Ada perlu apa kalian kesini? Salah satu diantara kalian ada yang memakai seragam Patrol Guard kota, dari satuan mana kau berada?"


"Namaku Serena von Ritterburg, Aku adalah Ketua Patrol Guard Kota Wien. Ini adalah bawahan ku. Apakah Anda menerima selebaran atau informasi tentang orang hilang?" tanyaku.


Kapten itu kemudian mengambil beberapa berkas.


"Ya, berkas ini datang kemarin. Di sini tertulis, seorang Ketua Patrol Guard dan satu anggotanya telah dinyatakan MIA setelah melakukan misi pemberantasan pemberontak di perbatasan Archduchy Astria," gumamnya membaca laporan itu.


...Author Note : MIA ( Missing in Action)...


"Lalu, apakah ada yang dapat membuktikan identias Anda adalah Lady Serena dari keluarga Ritterburg?"


Aku kemudian menunjukan cincin di jariku. Cincin itu memiliki simbol yang hanya dimiliki oleh keluarga Ritterburg.


"Maafkan atas tindakanku yang agak lancang Lady Serena, ini dilakukan karena sudah menjadi prosedur kami." Kapten itu menunduk padaku.


"Tidak masalah, Kapten. Dapatkah Anda membantu kami dalam beberapa hal?"


"Silahkan, Lady Serena."


"Dapatkah Kapten meminjamkan kami dia ekor kuda untuk perjalanan kami ke Kota Hesse besok? Keluargaku akan menggantinya jika aku telah berhasil pulang ke Kota Wien nanti."


Mendengar permintaanku, Kapten itu diam sejenak. "Aku dapat membantu Lady Serena tentang kuda itu. Akan tetapi, kami hanya memiliki seekor kuda sehat saja yang mampu membawa Anda berdua ke Kota Hesse."


Mendengar perkataan Kapten itu, aku refleks melirik ke wajah Sirius.


Tunggu, mengapa seakan-akan aku harus mendapat izin darinya terlebih dahulu. Aku adalah Ketuanya di sini.


"Itu tidak masalah, Kapten."


Setelah menyelesaikan urusan kami di Kantor Patrol Guard desa, Aku dan Sirius lalu pergi untuk mencari penginapan.


"Hanya tersisa satu kamar saja untuk malam ini." Mendengar perkataan resepsionis itu, aku dengan reflek menatap Sirius.


"Ketua, aku akan mencari tempat lain untuk istirahat," kata Sirius.


Aku hanya mengangguk merespon ucapan Sirius.


"Satu kamar semalam tarifnya 35 Colling." Mendengar ucapan Resepsionis itu, aku kembali lagi menatap Sirius.


Aku tidak membawa sepeserpun uang ketika sedang menjalankan misi kemarin.


"Ini Ketua, kau dapat menggunakan uangku terlebih dahulu." Sirius memberikan sekeping Shilling padaku.


"Ya... "


Ughhh... Memalukan sekali. Ketua macam apa yang meminjam uang kepada bawahannya?


***


Keesokan harinya, Aku dan Sirius kembali bertemu di kantor Patrol Guard.

__ADS_1


"Teruslah melaju mengikuti aliran sungai Padua selama 2 jam maka kalian akan sampai di Kota Hesse." Kapten memberikan kami sebuah arahan.


"Terima kasih, Kapten. Keluargaku akan membalas kebaikan Desa Aubern."


"Tidak usah dipikirkan Lady Serena. Aku senang melayani pewaris keluarga Ritterburg yang terkenal," ucapnya rendah hati.


"Baiklah, kami pergi terlebih dahulu."


Aku dan Sirius pergi meninggalkan Desa Aubern. Kami berdua menaiki seekor kuda dengan posisi aku duduk di bagian belakang sedangkan Sirius yang mengendalikan kudanya.


Kami mulai pergi menyusuri sungai seperti yang di arahkan Kapten.


Hembusan angin segar melewati seraya aku melihat pemandangan padang rumput yang indah di perjalanan ini.


Kapan terakhir kali aku merasa sebebas ini? Setiap harinya aku selalu sibuk bekerja sebagai Patrol Guard dan dikelilingi suasana perkotaan yang berisik.


Aku memejamkan mata menikmati kebebasan yang sedang kurasakan. Mungkin sesekali berlibur ke tempat terpencil seperti ini bukan ide yang buruk.


Namun hal itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba Sirius memperlambat kudanya.


"Ketua, coba Anda lihat di depan sana."


Sekitar 100 meter dari sini, terdapat beberapa orang yang sedang menjarah sebuah kereta kuda. Samar-samar aku melihat seorang gadis yang sedang dipegangi oleh beberapa laki-laki.


"Sirius! Kita harus bergegas membantunya!"


Kami kemudian mendekat ke arah kereta kuda itu lalu turun dari kuda kami. Aku menghunus pedangku lalu melesat ke arah para perampok itu.


-Slash!


Memenggal kepala salah satu perampok itu sontak membuat rekan-rekannya terkejut. Terlihat tiga penumpang dan supir kereta kuda itu telah mati.


"Tolong aku!" Salah satu pemberontak itu memegangi seorang gadis satu-satunya korban selamat.


"Pergi dari sini! Jika tidak, aku akan membunuh gadis ini!" ancamnya.


Jika saja aku bisa menggunakan sihirku, aku dapat dengan mudah membunuhnya dengan cepat.


-Bamm!


Tiba-tiba Sirius menendang kepala perampok yang sedang mengancam gadis itu membuatnya hilang kesadaran seketika.


Huh? Bagaimana Sirius bisa melancarkan serangannya tanpa terdeteksi lawannya? Aku sama sekali tidak mendengar suara langkah kakinya.


Aku melihat sekelilingku, sisa perampok itu telah ditumbangkan oleh Sirius.


"Nona, kau tidak apa-apa?" Sirius mencoba menenangkan gadis malang itu.


Aku berbalik lalu melihat seorang anak-anak sedang berlari membawa barang jarahan itu mencoba menyebrangi sungai. Dia bagian dari perampok itu. Aku bergegas berlari mengejarnya.


"Berhenti kau!" Anak itu berbalik mendengar teriakkanku namun tidak mencoba untuk menghentikan larinya.


-Slashh!


Aku menyayat kakinya membuatnya terjatuh. Dia kemudian melihatku dengan ketakutan sambil memegangi kantung jarahan itu.


"Aku telah memperingatkanmu. Sekarang, terimalah konsekuensi atas perbuatan yang telah kau lakukan, kriminal!" Aku menebaskan pedangku ke arah leher anak itu.


-Clang!


"...!"


"Apa maksudnya ini, Sirius!"


Sirius kembali menyarungkan pedangnya. "Ketua, dia hanyalah anak-anak."


Mendengar ucapannya membuatku ingin tertawa.


"Keadilan absolut tidak memandang bulu baik itu tua maupun muda. Begitu pula kejahatan bisa dilakukan oleh semua kalangan. Mereka harus menerima konsekuensi dari perbuatan mereka masing-masing!" ucapku tegas.


Ya... Seperti ketika hari dimana ibuku terbunuh oleh seorang anak kecil. Kejahatan bisa dilakukan oleh siapapun. Maka dari itu, janganlah kau bimbang hanya karena hal semacam ini.


"Jalan hidupnya masih panjang. Kematian adalah akhir sedangkan hidup penuh dengan kemungkinan." Ekspresinya berubah ketika mengatakan itu.


"Aku peringatkan untuk terakhir kalinya, Sirius! Jangan halangi aku." Kata-kata kita tidak membuat Sirius bergeming.


"Semua orang punya kesempatan untuk berubah."


"Tidak untuk para kriminal!"


Aku kemudian melesat ke arah Sirius melancarkan beberapa serangan. Dia berhasil menghindar lalu menghunus kan pedangnya.


"Ketua, aku tidak ingin bertarung denganmu."


"Hah, kau mengatakan hal itu seakan-akan dapat dengan mudah mengalahkanku!" Aku kembali melesat ke arahnya.


-Clang!


Pedang kami beradu. Aku mencoba kembali melesatkan serangan-seranganku padanya. Namun, tidak ada satupun teknik berpedangku yang dapat mengenainya.


Sedari tadi, dia hanya menahan dan menghindari seranganku. Dia meremehkanku ternyata.


"Dancing Sword : Stardust Stream!" Aku melakukan teknik serangan kombo andalanku.


Teknik ini merupakan 11 tebasan cepat beruntun yang sangat sulit untuk dihindari maupun di counter dengan serangan balik.


-Clang!


Mustahil! Bagaimana dia mampu menghindar dan menangkis semua tebasannya!? Hanya Jerold dan paman Georgy lah yang dapat menggunakan kombo serangan ini!


Sirius, bagaimana dia bisa dapat memprediksi seranganku? Dia seakan-akan telah melihat serangan ini sebelumnya.


Namun tidak akan menyerah, aku akan menunjukan teknik-teknik yang bahkan aku belum pernah perlihatkan kepada Jerold dan paman Georgy!


"Dragon Claw!"


-Slash!


Kali ini, Sirius tidak mampu menghindarinya dengan sempurna. Seranganku berhasil menyayat bahunya.


"Jika kau hanya terus menangkis dan menghindar, kau tidak akan dapat mengalahkanku!"


Setelah mengatakan itu, dia malah menyarungkan kembali pedangnya.


Apa-apaan dia itu?


Aku kembali melesat ke arahnya mencoba menyerangnya kembali.


"Dancing Blade : Waterfall Paradise!" Kembali, aku melancarkan sebuah kombo serangan padanya.

__ADS_1


Kali ini, dia bisa menghindari seranganku. Berbagai sayatan memenuhi seragamnya. Dia membuka seragam itu lalu membuangnya.


Begitukah? Dengan menyimpan pedangnya membuat dia bisa fokus menghindar dengan lebih sempurna. Jika menghindar saja yang akan dia lakukan, maka aku dapat menebak rencananya melawanku.


Dia ingin membuatku kehabisan tenaga karena sering menyerang lalu menumbangkan ku dengan sekali serangan.


Dia pikir akan semudah itu, kah?


"Naif sekali!"


Melesat ke arahnya, aku kemudian mempersiapkan teknik berpedangku.


"Death End!"


Aku mengeluarkan kombo 7 serangan yang kuat. Semua seranganku ini tidak dapat Sirius hindari dengan sempurna. Beberapa bagian tubuhnya terkena sayatan pedangku.


Setelah sukses melancarkan seranganku yang keenam, Tubuh Sirius terlihat akan kehilangan keseimbangan.


Ini saatnya... Maaf Sirius, senang karena telah mengenalmu untuk beberapa saat.


Aku mengarahkan seranganku ke arah lehernya.


-Thudd


Huh? Pedangku tiba-tiba lepas terbang dari genggamanku.


Sirius tiba-tiba berputar lalu melakukan tendangan ke arah pergelangan tanganku.


Sial! Aku termakan oleh pancingannya. Selama ini dia terlihat tak berdaya ingin membuatku lengah dan gegabah untuk melakukan serangan.


Dia kemudian menangkap tanganku lalu membantingku ke arah tepian sungai.


Dia lalu menaikiku menahan kedua tanganku dengan tangannya.


"Menyerahlah, Ketua."


Jika saja aku dapat menggunakan sihirku, akan kubakar dia hidup-hidup!


"Menyerah? Dalam mimpimu!"


"Aghhh!" Aku menendang telur Sirius.


Pegangannya ke tanganku melemah. Aku memanfaatkan keadaan itu lalu membalikkan tubuhku. Posisiku sekarang di atas sedangkan Sirius di bawah.


Aku kemudian mengambil sebuah pisau yang terikat di pinggangku lalu menusukkan pisau itu ke arah wajahnya. Akan tetapi, kedua tangannya memegangi pergelangan tanganku.


Tinggal sedikit lagi berhasil menusuk kepalanya, Aku kemudian mendorong tanganku dengan kuat. Kali ini, hanya masalah kontes kekuatan.


"Ketua, bencilah hanya kepada tindakan mereka, bukan orang yang melakukan tindakan kriminal tersebut," ucapnya lemah.


Mendengarnya membuat emosiku semakin memuncak.


"Apa yang kau ketahui tentangku!? Kau tidak akan mengerti karena kau tidak merasakan rasa sakit yang ku alami dikarenakan para kriminal bajingan itu!" Aku kembali menguatkan dorongan tanganku ke pisau yang ku genggam.


Mata pisauku berada tepat persis di depan mata Sirius. Namun, ekspresinya tetap tenang dan tidak takut sama sekali.


"Percayalah, Ketua. Aku mengerti rasa sakitmu." Ekspresinya terlihat seperti memiliki penyesalan yang besar ketika menyatakan hal itu.


Tenagaku mulai melemah. Aku kemudian melepaskan pisau yang ku pegang ke sungai.


"Apa yang kau tahu!?" Aku memukul wajahnya.


"Jangan pernah kau sok dekat denganku!" Kali ini aku memukuli dadanya.


"Kau tidak tahu seberapa besar rasa benci ku kepada mereka! Para kriminal itu—telah merenggut orang-orang yang kusayangi! Aghhh!" Aku kembali memukul wajahnya. Pandanganku mulai buram karena air mata yang keluar karena ledakan emosiku.


Hahhh... Hahhh... Hahh... Setelah berteriak seperti itu, aku mulai mencoba kembali bernafas dengan normal.


Aku lalu melihat wajah Sirius. Mulutnya berdarah karena menerima beberapa pukulanku.


Setelah mengeluarkan seluruh rasa kesal yang ada dalam hatiku ini, aku dapat kembali berpikir dengan jernih.


Aku kembali mengamati Sirius. Baju kami basah karena bertarung di sungai. Posisiku sedang menduduki perutnya.


Aku baru menyadari, walaupun dari luar Sirius terlihat memiliki bentuk tubuh yang biasa. Kali ini aku dapat menyentuh dada dan perutnya yang memiliki otot-otot kuat dibalik seragamnya itu.


Aku kemudian menyentuh luka sayat yang aku berikan di dadanya. Tepat di bagian jantungnya, jika saja dia tidak dapat menghindari seranganku tadi, mungkin dia telah mati.


Aku kemudian melihat ekspresi wajah Sirius memerah. Dia memalingkan wajahnya ke samping.


"Ketua, bisakah kau berhenti menggelitik dada dan perutku? Itu membuatku geli," ucapnya pelan.


"Eh?"


Aku baru menyadari, posisi kami seperti pasangan yang sedang bertengkar. Orang lain pasti akan salah paham jika melihat kami dalam keadaan seperti ini.


Aku kemudian bergegas untuk bangun. Akan tetapi, tubuhku sangat sulit di gerakkan. Kurasa aku kelelahan karena belum pulih sepenuhnya dari pertarungan sebelumnya serta masih mendapatkan effect dari Mana Exhaustion.


"A-aku... Tidak dapat bergerak."


Pada akhirnya, kami mengampuni anak itu untuk membawanya ke Kota Hesse untuk diberikan hukuman yang setimpal.


Terdapat dua Kuda di kereta Kuda itu. Sirius lalu berkuda bersama dengan anak perampok itu. Sedangkan aku berkuda bersama seorang gadis yang hanya tersisa dari korban perampokan itu.


Setelah sampai Ke Kota Hesse. Aku dan Sirius akhirnya dapat menggunakan jasa transportasi untuk mengantarkan kami ke Kota Wien Ibukota Archduchy Astria.


Setelah pertarungan kami di dekat sungai itu, kami sama sekali belum bicara sepatah kata pun. Dilihat dari luka-luka Sirius, aku memang terlalu berlebihan menyerangnya dengan niat membunuh.


Kurasa aku yang harus memulai terlebih dahulu untuk melakukan pembicaraan.


"Sirius... " Dia berbalik memandang mataku.


"Ya, ada apa Ketua Serena?" Nada bicaranya sama sekali tidak berubah sama seperti sebelum kami bertarung tadi.


"Maaf aku memukulimu tadi, aku tidak dapat mengontrol emosiku."


Merespon kata-kataku, dia hanya tersenyum. "Tidak usah dipikirkan, Ketua. Sudah kubilang, Anda dapat selalu mengandalkan ku.


Mendengar perkataannya, entah kenapa membuat hatiku terasa hangat.


Mungkin Sirius benar. Aku seharusnya hanya membenci tindakan kriminalnya saja bukan malah membenci orang yang melakukannya.


Namun, emosiku tentang terbunuhnya ibuku dan Jerold selalu menguasaiku. Aku senang Sirius mampu menahanku waktu itu.


"Sirius, kumohon kerja samanya di misi-misi berikutnya nanti bersamaku." Aku menawarkan jabat tangan dengannya.


"Tentu saja, mohon kerja samanya juga, Ketua." Dia membalas jabat tanganku dengan senyuman.


Setelah beberapa jam melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda, kami akhirnya telah sampai di Kota Wien.

__ADS_1


__ADS_2