The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 1 : Festival


__ADS_3

Malamnya, setelah seharian melakukan patrol di sekeliling kota, Aku dan Senior Hans pergi ke Eliza Tavern untuk minum-minum. Di sana kami bertemu dengan para anggota lainnya termasuk Senior Karl.


"Mengapa Ketua menempatkan kita untuk Patrol keliling! Padahal aku ingin melihat Sang Saint!" komplain Senior Hans.


"Well... Bukankah kita harus memastikan agar tidak akan ada masalah selama perayaan penyambutan itu," balasku.


Sejujurnya, aku juga ingin melihat Lena setelah beberapa bulan ini tidak melihatnya. Walaupun aku pernah melihat lukisan dan ilustrasinya, kurasa melihatnya langsung akan sangat jauh berbeda.


"Aku melihatnya! Kecantikannya bagaikan sebuah rembulan menerangi kegelapan malam!" ujar Senior Karl.


"Diam kau Playboy busuk!" timpal Senior Karl.


Sepertinya Lena akan baik-baik saja. Di sekelilingnya terdapat orang baik dan kuat yang akan menjaganya. Aku kemudian memikirkan kembali tentang apa yang ku lalui minggu kemarin.


Aku mengingatnya, kalung Ketua itu sama persis dengan yang dikenakan oleh Fortune Child yang pernah ku bunuh. Apa yang harus kulakukan? Dia pasti orang yang paling berharga dalam hidup Ketua seperti yang dia katakan ketika meluapkan emosinya padaku waktu itu.


Aku... telah berjanji untuk merubah jalan hidupku. Apakah dia akan memaafkanku jika aku bilang yang sebenarnya? Aku tidak tahu... Aku sudah menikmati kehidupan normal ku yang sekarang. Jujur, aku tidak ingin menghancurkannya.


Namun, akan sangat tidak adil bagi Ketua jika aku hanya diam saja.


"Sirius, woy! Sebenarnya apa yang kau sedang lamunkan itu." Senior Hans tiba-tiba membentak ku.


"Kau lihat Hans, jika seorang pria sedang melamun sambil memperlihatkan ekspresi seperti itu, dia berarti sedang memikirkan seorang wanita, " ujar Senior Karl.


Yah, Senior tidak salah. Tapi dari nada suaranya, kurasa dia salah paham mengenai apa yang kupikirkan tentang wanita itu.


"Kurang lebih begitu Senior," jawabku.


-Thumb


Senior Hans berdiri mengangkat birnya ke udara.


"Hehe, akhirnya Sirius kita yang polos ini mengerti akan daya tarik wanita! Kita harus bersulang merayakannya!" Teriakan Senior Hans menarik perhatian perhatian para Patrol Guard lain yang ada di Eliza Tavern.


"Bersulang!"


"Bersulang!"


Setelah Senior Hans duduk kembali di meja, Aku menatapnya dengan jijik.


"Apa? Itu memang hal yang patut dirayakan kau tahu!" ucapnya tanpa rasa malu.


"Terserah apa katamu Senior, Aku terlalu lelah untuk menimpalinya."


Mereka berdua tiba-tiba mendekatiku.


"Hey Sirius, ceritakanlah tentang masalahmu itu. Sebagai Seniormu, aku bersedia memberi satu atau dua saran," ucap Senior Hans.


"Well... Sirius, jika mengenai wanita, Aku sudah tidak diragukan lagi menjadi orang yang tepat untuk membicarakannya," ujar Senior Karl.


Aku memang tidak terlalu paham mengenai masalah yang ku alami. Well... bertanya kepada mereka tidak akan membuatku rugi.


"Bagaimana caranya agar wanita yang pernah kau sakiti memaafkanmu? Apakah Senior memiliki saran yang bagus?" tanyaku.


Senior Hans lalu meminum birnya sebelum mengatakan sesuatu.


"Dengar Sirius, Wanita itu makhluk yang rumit."


Aku tidak bisa menyangkal perkataannya itu. Sangat jarang bagi Senior Hans mengeluarkan kata-kata yang benar.

__ADS_1


"Lalu, apa hubungannya hal itu dengan masalahku?"


"Buat wanita itu mabuk, lalu ajak dia ke se—"


"Senior Karl, bagaimana dengan pendapatmu?" Aku memotongnya sebelum dia berhasil menyelesaikan kata-kata bejatnya itu.


"Sirius! Kau bodoh! Aku ini super Serius!" Aku mengabaikan teriakannya itu.


Senior Karl diam sejenak lalu meminum segelas bir yang ada di tangannya.


"Aku tidak mengerti tentang masalahmu itu. Tapi terkadang, obat wanita yang sakit hati adalah, orang yang membuatnya sakit hati itu sendiri." Mendengar perkataan Senior Karl, membuatku terdiam memikirkan sesuatu.


Akhir-akhir ini, aku selalu mencoba untuk menjauhi Ketua. Aku tidak tahu apakah diriku ini bisa menjadi obat untuk menutupi lubang dihatinya?


"Senior, terima kasih sarannya. Kata-katamu membuatku lebih baik," kataku dengan tulus.


"Kau bisa mengandalkan ku kapan saja, Junior. Sekarang, mari hilangkan suasana suram ini dan lanjut minum-minum!" ujar Senior Karl lalu mulai menghabiskan bir yang ada di dalam gelas.


Kami kemudian menghabiskan malam dengan minum-minun dan saling berbagi cerita. Besok, akan ada festival penyambutan Sang Saint. Sekali lagi, sebuah hari yang akan melelahkan menantiku.


***


Keesokan harinya, Festival penyambutan Sang Saint telah dimulai. Jalanan penuh dengan warga Kota yang sedang menikmati festival. Hari ini, aku melakukan tugas patroli seorang sendiri.


Senior Hans akan menggantikanku untuk Shift patroli bagian malam. Dia masih tertidur karena kebanyakan minum kemarin di Eliza Tavern.


"Ayo dibeli, dibeli! Pakaian bagus langsung dari Ibukota silahkan dibeli!"


"Coba daging bakar khas Utara! Dibeli sebelum kehabisan!"


Para pedagang berteriak menjualkan produk-produk mereka. Para warga terlihat saling berdesakan ketika berjalan. Situasi ini sangat mudah sekali dimanfaatkan oleh para pencuri kecil yang pastinya sedang beroperasi ketika festival berlangsung.



Sebelum dia dapat mengambil dompet wanita itu aku kemudian bergerak.


"Cukup sampai di situ anak muda," ucapku seraya memegang tangan anak itu.


"Aghhh! Lepaskan! Apa yang kau lakukan!?" gerutu anak kecil tersebut.


Wanita itupun terkejut dan para warga mulai memperhatikan kami karena suara berisik anak itu.


"Diharapkan bagi para pejalan kaki untuk menjaga barang bawaan kalian masing-masing! Di situasi seperti ini, banyak pencuri yang berkeliaran!" Aku memperingati mereka.


"Terima kasih, Tuan Patrol." Wanita di hadapanku menunduk mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Tidak usah dipikirkan, Nona. Ini sudah menjadi kewajibanku. Lain kali, lebih berhati-hatilah."


Aku kemudian membawa bocah itu ke pinggir jalanan. Dilihat dari tubuhnya, dia mungkin hanya baru berusia 10 tahun.


"Mengapa kau melakukan tindakan seperti itu? Apakah kau salah satu komplotan pencuri yang suka berbuat onar di Kota?" Aku menginterogasinya.


Mendengar pertanyaanku, dia hanya memalingkan wajahnya.


"Apa kau punya orang tua atau keluarga?" tanyaku kembali.


"Aku hanya memiliki seorang adik saja, dia sedang kelaparan menungguku di tempat kami." Dia kemudian menatap mataku. "Kumohon, jangan tahan aku. Adikku... Dia, dia sedang sakit." Bocah itu mulai menangis.


Inilah dunia yang kita hadapi. Sebaik apapun kau berbuat kebaikan, tidak akan mampu mengurangi kemalangan yang ada di dunia ini jika kau tidak mempunyai pengaruh yang kuat di negeri ini.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik, Nak. Ambil ini dan jangan kau tunjukan ke siapapun. Jangan kau belikan hal-hal yang mencolok. Carilah pekerjaan yang benar." Aku memberinya sekeping Golling cukup untuk mereka bertahan lebih dari sebulan.


Dia terkejut dan terdiam melihat sekeping koin emas yang ada di tangannya.


"Kau mengerti, Bocah?" tanyaku kembali. Dia kemudian tersadar lalu mengangguk.


"Bagus, siapa namamu?"


"Angelo, Tuan."


"Baiklah, Angelo. Sekarang kau belikan adikmu itu makanan dan ingat kata-kataku, jangan sampai orang lain tahu kau memiliki banyak uang."


"A-aku mengerti, Tuan! Terima kasih banyak!" Dia menunduk lalu mulai berlari ke gang-gang Kota.


Aku melihatnya dan berharap, ini tidak akan sama dengan kejadian yang sebelumnya ketika Aku berada di Kota Ilmenoy.


"Kau baik sekali kepada kriminal itu, Sirius." Aku berbalik melihat Ketua sedang berjalan menghampiriku.


Aku telah menyadari ada orang yang sedang memperhatikan ku, tapi aku tidak tahu ternyata orang itu adalah Ketua Serena.


"Hahhh... Aku tidak ingin berdebat denganmu, Ketua." Mendengar perkataanku, Ketua malah tersenyum. "Rapat di kediaman Archduke telah berakhir?" tanyaku mencoba mengganti topik.


"Rapat mengenai pengamanan pesta penyambutan Sang Saint akan dilanjutkan besok. Kau sedang Patroli? Dimana Hans?" Kami mulai berjalan berdampingan.


"Senior? Dia masih tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum semalam," jawabku.


"Hee~ Sepertinya Rissa harus lebih mendisiplinkannya lagi." Ketua kembali tersenyum, tetapi kali ini, senyumannya itu terlihat mengerikan.


"Baru kali ini aku setuju dengan perkataanmu, Ketua."


Kami lalu sampai di area Alun-alun Kota. Tempat ini lebih ramai daripada di jalanan Kota.Terlihat para Patrol Guard lain sedang melakukan patroli juga. Mereka terlihat mencuri-curi pandang ke arah kami.


"Ketua, bukankah kau masih memiliki pekerjaan lain di kantor?" tanyaku.


"Ada apa, Sirius? Kau tidak menginginkanku menemanimu melakukan patroli? Kau ingin aku menjauh darimu?" Ketua Serena menatap mataku yang mana membuatku gugup. Wajahnya dekat sekali.


Aku memalingkan wajahku darinya. Para Patrol Guard itu semakin memperhatikan kami.


Sungguh, mengapa kalian semua melihat kesini? Bukankah kalian harus memperhatikan sekitar? Utamakan lah pekerjaan kalian.


"Aku tidak bermaksud begitu Ketua... " Melihatku yang kesulitan, dia hanya tersenyum. Kami kemudian kembali berjalan berdampingan.


"Aku ingin berjalan-jalan sebentar untuk menyegarkan kepalaku. Kau tahu, banyak sekali laporan masuk mengenai masalah-masalah yang membuatku pusing hari ini," ujar Ketua.


"Kasus baru, kah?" gumamku.


Ketua Serena kemudian menceritakan tentang kasus pembunuhan salah satu anggota Dewan. Patrol Guard telah memeriksa sejumlah orang dalam hal ini. Yang paling dicurigai adalah mantan Supir anggota Dewan tersebut.


Ketua Serena juga kemudian menceritakan tentang kasus maraknya peredaran obat-obatan terlarang di Kekaisaran. Hal ini membuat korban-korban yang sebagian besar remaja dan dewasa sering ke Kuil untuk melakukan pemulihan dari kecanduan obat tersebut.


"Sungguh sangat merepotkan sekali," keluhnya.


Kami kemudian sampai di dekat Markas Patrol Guard. Ketua Serena kemudian berjalan ke arah markas. Namun, dia tiba-tiba berbalik.


"Sirius, besok kau temani aku ke kediaman Archduke untuk rapat mengenai pengamanan Sang Saint ketika berada di wilayah ini."


Mendengar perkataan Ketua Serena, aku terdiam sejenak. Aku belum pernah sama sekali masuk ke gerbang kediaman Archduke Otto. Bukankah banyak Bangsawan yang sedang hadir di sana? Kurasa Lena dan para Pahlawan juga sedang tinggal di kediamannya.


"Baiklah."

__ADS_1


"Sampai jumpa besok, Sirius." Ketua kemudian berbalik lalu berjalan ke arah markas sambil melambaikan tangannya.


Setelah melihat Ketua memasuki markas, Aku kemudian kembali berjalan untuk melakukan tugas patroli ku.


__ADS_2