
Setelah mengalahkan Vampir itu, sayap Ikarus-ku mulai menghilang menjadi butiran cahaya, menyembuhkan semua luka bakar yang kuterima saat menerjang sihir Vampir tadi.
Aku bergegas menuju ke tempat Lena lalu menangkap tubuhnya ke pelukanku sebelum dirinya terjatuh.
"Terima kasih, Sirius," ucapnya lemah.
Sepertinya dia terlalu banyak menggunakan sihir.
"Kau sangat hebat, Lena. Berkatmu, kita dapat mengalahkan Iblis itu." Mendengar pujianku, telinga Lena terlihat memerah.
"Tentu saja... Aku telah berjanji akan menjadi seorang penyembuh yang hebat saat kita bertemu kembali," balasnya dengan bangga.
"Baiklah, kita harus bergegas kembali ke Desa, Lena."
Aku kemudian berlari dan melompat-lompat diantara reruntuhan Desa yang membuat Lena yang sekarang berada di pangkuanku memegang lebih erat leherku.
"Jangan melompat terlalu tinggi, aku takut akan ketinggian kau tahu," gumamnya.
"Hey, kau ini buta, apa kau sudah lupa?" balas ku setengah bercanda.
Melihat tingkahnya yang sangat berbeda ketika saat dia sedang berada di hadapan yang para pengikutnya membuat kedua sisi bibirku naik.
Lena yang kulihat setelah menjadi seorang Saint selalu tampil elegan, berwibawa dan anggun. Kini saat bersamaku, dia masih sama seperti saat kami melakukan perjalanan dulu.
"Kau sedikit berubah, Sirius," ucap Lena yang kemudian menempelkan telapak tangannya di jantungku.
Aku melihat ke arah bulan purnama. Cahayanya bersinar menerangi kegelapan malam. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin saat-saat ini berlangsung selamanya.
***
Di sisi lain, Georgy baru saja mengalahkan Marinus—Vampir Bangsawan yang telah memindahkannya ke tempat lain. Tubuh Georgy dipenuhi oleh luka akibat pertarungannya dengan Marinus.
Dia kemudian duduk di bawah sebuah pohon untuk beristirahat. Tempat Marinus berteleportasi adalah sebuah hutan di perbatasan Kekaisaran. Sihir ruang dan waktu seperti teleportasi terkenal sangat sulit untuk dikuasai. Itu sebabnya Marinus tidak bisa memindahkan mereka berdua ke tempat yang lebih jauh dari ini.
"Aku harap Sang Saint baik-baik saja... Uhuk... " Georgy memuntahkan darah dari mulutnya. Sepertinya dia memiliki luka dalam di salah satu organ tubuhnya.
"Aku harus segera mencari pemukiman warga... " Georgy kemudian mencoba bangkit lalu berjalan sambil memegangi perutnya.
***
Pertarungan di Desa Runfeld telah berakhir. Para Vampir yang menyerang mulai melarikan diri setelah merasakan Iblis yang mensummon mereka mati.
__ADS_1
Bangunan Desa terlihat mengalami kerusakan parah dan beberapa kobaran api terlihat di beberapa bangunan. Para Patrol Guard dan Ksatria Suci menelan banyak korban jiwa kali ini.
Dari kurang lebih 200 orang yang ikut serta dalam pertarungan mempertahankan desa, hanya sekitar seratus orang yang bertahan. Di sisi lain, korban jiwa para Ksatria Suci yang ikut serta menuju reruntuhan desa hanya sepuluh orang saja.
Mereka lalu mengirim utusan ke Kota terdekat untuk meminta bala bantuan dalam melakukan pemilihan desa. Serangan ini membuat petinggi Kuil Athena waspada akan serangan para Iblis lainnya dan mencoba menambahkan pengawalan Sang Saint ketika berada di Archduchy Astria.
***
Beberapa jam setelah pertarungan antara Sirius dan Lena dengan Regulus, Arthur sedang melakukan trial di sebuah Kuil rahasia. Di hadapannya, ada sebuah sosok yang menyerupai dirinya.
Mereka memiliki kekuatan yang sama, teknik yang sama dan kebiasaan bertarung yang sama. Ini membuat Arthur sangat kesulitan karena musuhnya mengetahui segala gerakannya.
"Ada apa, Hero? Apakah kau sudah menyerah?" tanya sosok pria yang menyerupai Arthur.
Terdapat luka di sekujur tubuh Arthur, mana yang dia miliki juga menipis dan dia masih belum mengetahui bagaimana cara mengalahkan musuh di hadapannya itu.
"Sudah kubilang bukan? Kunci dari trial ini adalah jujur kepada dirimu sendiri, Arthur," ujar sosok yang mirip Arthur itu.
Arthur masih tidak menerima apapun yang telah dikatakan kembarannya itu ketika pertarungan mereka berlangsung sebelumnya. Arthur menyangkal bahwa tujuan utamanya untuk menjadi seorang pahlawan sudah berubah.
"Aku masih sama seperti yang dulu, tidak pernah berubah!" Arthur melesat melancarkan beberapa kombo serangan.
"Fufu... Ya, sifat bebalmu itu yang sama sekali tidak berubah!" Klon Arthur dapat dengan mudah menghindari serangannya.
"Naif!"
-Bam!
Arthur terpental jauh terkena serangan balik Kloningannya itu. Klon Arthur dapat dengan mudah serangan tipuannya itu.
"Bayangkan ketika kau dapat memeluk tubuh mulusnya..., " ucap Klon Arthur sambil memperlihatkan kepalan tangan kirinya.
"Suaranya yang lembut menggelitik telingamu... "
"Bayangkan senyumannya yang mempesona itu khusus diberikan untukmu... " Mendengar ucapan Kloningannya, Arthur memejamkan matanya, membayangkan Sang Saint tersenyum tulus padanya, memeluknya dengan erat bagaikan Arthur adalah seluruh dunia bagi Sang Saint.
Ya... Aku menginginkannya... Aku menginginkan segala yang ada pada dirinya.
Arthur kemudian membuka mata lalu bangkit menggunakan bantuan pedangnya. Dia sudah menyadari apa yang dia inginkan untuk menjadi seorang pahlawan.
"He... Akhirnya kau jujur akan alasanmu menjadi pahlawan."
__ADS_1
Berbeda dengan tujuan Arthur yang sebelumnya menjadi pahlawan untuk mengembalikan kejayaan dan kehormatan kampung halamannya—Kerajaan Brichnoig, kali ini Arthur ingin menjadi seorang pahlawan murni hanya ingin berada dekat bersama Sang Saint.
"Cinta memang dapat mengubah seseorang," ucap Klon Arthur. Terdapat sebuah pedang yang menembus perutnya. Dia sama sekali tidak bergerak ketika Arthur melesat untuk menyerangnya.
"Terima kasih, Sisi lain dari diriku. Kau telah membuatku tersadar akan perasaanku selama ini," ujar Arthur.
Tubuh Klon Arthur kemudian mulai berubah menjadi butiran cahaya. "Kau berhasil menyelesaikan Trialnya, Arthur."
Klon Arthur kemudian melayang ke langit-langit kuil.
"Ikutilah kata-kata hatimu dan dapatkan apa yang selami ini kau inginkan," ucap Klon Arthur sebelum tubuhnya terpecah sepenuhnya menjadi butiran-butiran cahaya.
Ya... Setelah semua ini selesai, aku akan mengungkapkan keinginanku untuk menjadi Ksatria pilihan Sang Saint.
-Siiinggg
Sebuah kilatan cahaya menyinari seluruh area Kuil, di sebuah Altar yang berada di hadapan Arthur. Muncul sebuah pedang yang melayang di atas Altar tersebut.
"Ini... Mungkinkah!?" Arthur bergegas menghampiri Altar tersebut lalu mengambil pedangnya.
"Excalibur... Akhirnya aku mendapatkanmu."
Pedang Suci Excalibur yang semula berada di Kuil Utama Dewi Athena muncul di Kuil rahasia setelah Arthur menyelesaikan Trial terakhirnya. Arthur kini resmi menjadi Pahlawan pemegang salah satu Senjata Suci selanjutnya.
"Saint Agung... Aku telah berhasil."
...Author Note : Arthur...
.
.
.
Di sisi lain, setelah Lena membantu menyembuhkan para korban luka yang ada di desa, Lena dan Sirius kini hanya berdua di sebuah menara Kuil utama Desa Runfeld.
"Sirius, kau sekarang sudah resmi menjadi Ksatria pilihanku. Akan tetapi, aku ingin kau tetap bebas untuk pergi kemanapun kau mau," ucap Lena menyenderkan kepalanya pada dada Sirius.
"Tapi, jika kau berada dalam baha—"
__ADS_1
"Aku yakin kau pasti akan selalu datang jika saatnya tiba." Lena mengatakannya dengan sebuah senyuman. "Aku tidak ingin menjadi belenggumu, Sirius."
"Baiklah, aku mengerti."