The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 2 : Melihatnya kembali


__ADS_3

Festival pun telah usai, kami beruntung tidak ada kejadian besar yang terjadi. Jalanan kota masih penuh dengan sampah karena perayaan kemarin. Hari ini aku sedang berjalan menuju Alun-alun Kota dimana Aku dan Ketua Serena telah janji bertemu.


Aku diperintahkan untuk menemani Ketua dalam pertemuan yang akan diadakan di kediaman Archduke. Akan ada banyak Bangsawan yang akan hadir di sana. Dan aku dengar, beberapa Patrol Guard juga akan ditugaskan untuk menjaga pesta malam penyambutan nanti.


Setelah sampai di alun-alun kota, aku kemudian melihat Ketua tengah duduk di salah satu pembatas Air mancur. Aku pun berjalan mendekatinya.


"Oh, kau sudah sampai. Ayo kita segera bergegas ke kediaman Archduke." Ketua berdiri lalu mulai berjalan.


Kami berjalan menuju kediaman Archduke yang berjarak 300 meter dari Alun-alun. Kediaman Archduke diberi nama Wienburg Palace. Sebuah Istana besar yang dibuat khusus sebagai kediaman Putra Mahkota Kekaisaran Habsburg.


Setelah sampai di gerbang utama kediaman, para penjaga kemudian membukakan pintu gerbang.


Sebuah istana besar kemudian terlihat. kurasa tinggi dindingnya mencapai tinggi 20 meter. Gerbang yang kami baru masuki adalah gerbang luar. Kami harus masih berjalan untuk mencapai gerbang dalam.


Di area luar, terdapat sebuah taman yang menghiasi sekeliling kastil. Area kediaman Archduke sangat luas dan kurasa mampu menampung hingga sepuluh ribu orang di dalamnya.



Kami mulai menyusuri area taman untuk menuju gerbang bagian dalam. Terlihat para pelayan maupun bangsawan lain yang tengah berlalu lalang di area ini.


Aku kemudian melirik ke arah Ketua. Sedari tadi, dia hanya diam saja dan hanya berbicara ketika kami bertemu tadi. Di lihat dari ekspresi wajahnya, kurasa dia sedang kesal.


Apa yang terjadi?


"Ketua, Anda terlihat seperti sedang mengalami suasana hati yang buruk. Apakah ada yang sedang menganggu pikiran Ketua saat ini?" tanyaku.



Dia kemudian menatap mataku dengan tajam. Ekspresinya terasa sangat dingin yang membuatku penasaran, hal apa yang dapat membuatnya menjadi seperti ini.


"Ayahku akan datang ke sini," jawabnya singkat.


Ayah dari Ketua Serena—Duke Franz von Ritterburg—Kanselir Kekaisaran Habsburg. Orang paling berpengaruh di Kekaisaran selain Kaisar Marx. Rumor mengatakan, Kejayaan Kekaisaran Habsburg yang sekarang tidak lepas dari tangan besi pemerintahannya sebagai seorang Kanselir.


"Dia pasti akan membicarakan mengenai pertunangan lagi, " ucap Ketua dengan nada tinggi.


Well... Ini semua bukan urusanku. Maksudku, Ketua Serena adalah pewaris Duchy Ritterburg. Ini bukan saatnya aku tiba-tiba masuk mencampuri urusan bangsawan tinggi seperti keluarga Ketua Serena.


Setelah berjalan beberapa saat, kami kemudian telah sampai di gerbang bagian dalam. Kali ini, penjaga tidak langsung membukakan gerbangnya. Serena lalu menunjukan sebuah cincin yang menjadi simbol Keluarga Ritterburg.


"Nona Serena von Ritterburg memasuki Area Istana!" Penjaga itu mengumumkannya ke rekannya yang berada di atas dinding. Tidak lama kemudian, gerbang bagian dalam pun terbuka.


Memperlihatkan sebuah halaman depan Istana yang begitu indah.


"Ayo, Sirius."


Kami berdua masuk ke area Istana. Terlihat lebih banyak Bangsawan yang sedang menikmati suasana diluar Istana. Berbeda dengan Bangsawan di Area gerbang luar, Bangsawan yang berada di sini merupakan Bangsawan besar dari berbagai Negeri di Benua Alterna.


Sebelum kami memasuki Istana, Ketua memperingati ku untuk tidak berbicara kecuali dia perintahkan.


Kamipun memasuki Istana, terdapat beberapa Aula besar yang cukup untuk menampung ribuan orang. Kalau tidak salah, nanti malam akan ada acara sambutan Sang Saint dan pesta dansa di aula ini.


"Nona Serena, Saya akan mengantarkan Nona ke ruangan Anda. Mari ikuti saya." Seorang pelayan menghampiri kami.


Menurut pelayan Istana, Wienburg Palace memiliki 200 kamar untuk para tamu yang datang ke kediaman Archduke.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berjalan, kami kemudian sampai di ruangan yang telah disiapkan untuk Ketua. Pelayan itu membuka pintu lalu terlihatlah sebuah ruangan yang cukup luas.


Ruangan ini memiliki tiga jendela transparan dengan menampilkan pemandangan Kota Wien dari kejauhan.


"Silahkan Nona Serena Beristirahat terlebih dahulu. Rapat bersama Yang Mulia akan berlangsung tiga jam lagi. Saya mohon permisi terlebih dahulu." Pelayan itu menunduk kepada kami lalu pergi meninggalkan ruangan.


Ketua Serena kemudian duduk, lalu mulai membuka beberapa dokumen yang ada di mejanya.


"Sirius, bacalah laporan kasus ini lalu berilah analisamu mengenai laporan itu." Ketua memberiku se lembaran dokumen.


......Kasus Peredaran Obat terlarang......


- Bulan 8 hari ke - 20 tahun 1123


Mulai beredarnya sebuah obat yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah. Badan intelejen belum menyelidiki obat itu dikarenakan belum ada penelitian mengenai efek obat itu.


- Bulan 8 hari ke-29 tahun 1123


Hasil penelitian keluar. Pihak dari Departemen Kesehatan mengeluarkan hasil penelitiannya. Obat itu mempunyai efek untuk membuat orang berhalusinasi akan masa lalunya namun tidak berbahaya jika dikonsumsi secara wajar bagi tubuh.


Dengan adanya laporan ini, Orang-orang dari Departemen intelejen tidak melanjutkan kembali pengawasannya.


-Bulan 9 hari ke-11 tahun 1123


Masyarakat yang mengkonsumsi obat-obatan ini semakin banyak. Terdapat beberapa kasus overdosis yang membuat orang kehilangan akal mereka dalam kurun waktu yang lama.


-Bulan 9 Hari ke-22 tahun 1123


Obat yang beredar itu resmi dilarang berdasarkan surat keputusan Kanselir Franz von Ritterburg karena mulai banyak korban yang menderita overdosis dikarenakan mengkonsumsi obat itu.


Departemen intelejen berhasil menyita 70 Kg obat siap edar di wilayah Duchy Bradenburg. Namun, tidak mendapat petunjuk siapa dalang yang memproduksi obat terlarang itu.


Departemen intelejen hanya mempunyai petunjuk mengenai daftar-daftar nama orang distributor obat-obatan terlarang itu.


-Bulan 10 Hari ke-8 tahun 1123


Departemen intelejen menangkap seorang pejabat tingkat menengah di Kota Mainsburg, Florenz Duchy. Menurut kesaksiannya, pejabat itu diberi tugas oleh seorang bangsawan yang tidak dikenal agar para petugas pemeriksa barang di kota tidak mengecek salah satu tempat pembuatan obat terlarang itu.


-Bulan 10 hari ke-9 tahun 1123


Unit lapangan Departemen intelejen melakukan penggerebekan terhadap sebuah peternakan dimana menurut pejabat yang ditangkap itu, menjadi tempat produksi obat-obatan terlarang itu. Namun, mereka tidak menemukan bukti atau petunjuk apapun setelah melakukan pemeriksaan di sana.


Setelah setengah jam membaca dan menganalisa laporan ini, Aku mencapai satu kesimpulan. Orang yang melakukan bisnis ini mempunyai koneksi yang luas dengan aparatur Kekaisaran.


Lalu Departemen Kesehatan, bagaimana mereka mengabaikan efek candu dari obat-obatan yang beredar itu. Mungkinkah seorang Bangsawan Besar berada dibalik kasus ini?


"Bagaimana menurutmu, Sirius?" Melihatku yang telah selesai membaca, Ketua Serena menanyakan pendapatku.


"Kurasa, siapapun yang menjadi dalang utama dalam kasus ini, dia mempunyai pengaruh yang cukup kuat karena dapat membuat pejabat Kekaisaran menjadi bidaknya dalam melakukan bisnis ini," jelasku.


"Begitukah? Pemerintah pusat memerintah kan kita para Patrol Guard untuk membantu dalam pengawasan dan pengendalian obat-obatan ini." Ketua kemudian menyeruput teh hangatnya. "Pengamanan Trial Pahlawan, Pembunuhan Dewan Kota, Kasus obat terlarang. Kita akan sangat sibuk mulai besok," gumam Ketua sambil menatap langit-langit ruangan.


Sambil menunggu waktunya rapat, Aku membantu Ketua untuk merencanakan pengamanan yang akan dilakukan Patrol Guard pada malam pesta penyambutan nanti.


***

__ADS_1


Di sisi lain Istana, Lena baru saja selesai mengobrol dengan para bangsawan yang ingin bertemu dengannya.


"Saint Agung, Anda tidak apa-apa? Apakah Anda merasa lelah karena harus menemui semua bangsawan itu?" tanya Arthur yang berada di samping Lena.


Georgy yang biasa mengawal Lena, dia sedang bertemu dengan Adiknya Duke Franz untuk membicarakan sesuatu. Maka dari itu, Arthur menggantikannya untuk mengawal Lena dalam kegiatannya untuk hari ini.


"Tidak apa-apa, Arthur. Aku hanya belum terbiasa bersosialisasi dengan cara para Bangsawan," ucap Lena sambil tersenyum lemah.


Yang dimaksudkan dari perkataan Lena bahasa bangsawan adalah, etika berbicara dan segala aturannya dalam luang lingkup orang-orang besar.


Lena selama seumur hidupnya tidak pernah mendapatkan arahan atau pelajaran yang seperti itu. Alasan utamanya adalah karena kebutaan yang dia alami.


"Saint Agung, sekitar 10 menit lagi, Anda akan menemui Duke Walter von Brabant." Seorang pelayan tiba-tiba menghampirinya.


"Ya... Aku akan mempersiapkan diri," ucap Lena lemah.


Melihat Sang Saint yang terlihat tidak bersemangat, Hati Arthur terasa sesak. Namun apa daya, dia masih belum resmi menjadi seorang pahlawan dan belum mempunyai pengaruh apa-apa di dunia ini.


***


Malam harinya, pesta penyambutan dimulai. Aku sendiri sedang berada di sudut aula utama. Setelah melakukan rapat bersama pejabat penting lainnya, Ketua memerintahkan ku untuk ikut para Patrol Guard lainnya melakukan tugas penjagaan.


Patrol Guard diminta untuk membantu penjaga istana yang kekurangan anggota untuk mengawal berjalannya pesta penyambutan ini.


Alunan musik bersenandung merdu, para bangsawan yang hadir mulai bercengkrama satu sama lain. Mereka akan menetap di sini selama beberapa minggu sampai Trial pahlawan usai.


Aku kemudian melihat Ketua Serena sedang mengobrol dengan seorang pria. Terlihat dari ekspresi wajahnya, dia sangat terganggu dengan pria-pria yang mendekatinya sedari tadi.


Kurasa mereka ingin mencoba keberuntungannya untuk menggaet hati Ketua Serena. Banyak dari mereka bahkan ada yang meminta untuk berdansa dengan Ketua. Namun, tidak ada satupun yang berhasil melakukannya.


Aku harap, ada yang berhasil dari mereka untuk mengajak Ketua untuk berdansa. Aku cukup penasaran untuk melihatnya.


"Yang Tersuci, Saint Maria Magdalena memasuki Aula Utama!" Seorang penjaga mengumandangkan kedatangan Sang Saint.


Aku membalikan badanku untuk melihat ke arah pintu utama. Ini akan menjadi kali pertamaku melihat Lena secara langsung setelah kami berpisah selama beberapa bulan.


Pintu terbuka memperlihatkan sosok wanita yang cantik, anggun, dan mempesona. Kulitnya seputih salju, ekspresi wajahnya terlihat lembut, rambut platinumnya terurai bagaikan sutra.


Wanita itu kemudian berjalan digandeng oleh seorang pria tampan mengenakan pakaian yang gagah dan berjubah. Senyum mereka berdua membuat seisi ruangan membeku takjub.


"Bukankah mereka berdua pasangan yang serasi? Seorang Saint dan Seorang pahlawan. Dua insan yang bersatu melawan kejahatan di dunia ini." Aku mendengar suara seorang pria di sampingku.


Mereka berdua berjalan berdampingan diantara ratusan bangsawan yang hadir. Lena dengan Pria itu bergandengan tangan, tersenyum dan menjadi pusat perhatian di ruangan ini. Mereka berdua terlihat layaknya sepasang kekasih yang sempurna.


Pemandangan Sang Pahlawan tampan dan berani berjalan bergandengan dengan Sang Saint cantik nan mempesona ini bagaikan sebuah lukisan legendaris yang akan diingat selama berabad-abad.


Tanpa kusadari, aku mulai mengepalkan kedua tanganku. Dadaku terasa sesak melihat tangan Lena menempel erat dengan tangan Sang Pahlawan.


Baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini.


"Ya... Pembunuh keji sepertimu tidak akan bisa bersanding dengan Sang Saint yang suci. Hanya Pahlawan seperti dirinya lah yang berhak berada di sisinya."


Aku kemudian berbalik ke arah pria yang ada di sampingku.


Tubuh kekar dan besar, tatapan mata yang tajam, Aura yang berat menandakan pria di hadapanku ini adalah sosok yang sangat kuat.

__ADS_1


"Georgy von Ritterburg—The White Knight. Apa yang di inginkan Sang Ksatria terkuat di Kekaisaran ini dariku?" tanyaku padanya dengan nada yang dingin.


__ADS_2