The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 6 : Rencana Dua Vampir


__ADS_3

Setelah pertarungan berakhir, akhirnya rombongan bisa melewati area jembatan sungai Ranola. Berkat bantuan yang diberikan Lena, korban jiwa akibat pertempuran di jembatan jadi lebih sedikit.


Dari sisi Patrol Guard, kami kehilangan empat anggota. Sedangkan sisi Ksatria Suci, mereka kehilangan sepuluh Ksatria. Ini dikarenakan para Nymph lebih memfokuskan serangan kepada mereka. Para Ksatria Suci yang terjatuh ke sungai juga kesulitan untuk naik ke permukaan akibat zirah yang dikenakan mereka.


"Senior Rigel, bagaimana kondisi mayat dari ketiga anggota kita yang tewas?" Aku sedang mengecek kondisi para Patrol Guard sesudah pertempuran.


"Dua mayat kurasa masih bisa kita bawa pulang nanti ke keluarga mereka. Akan tetapi, sisa satu mayat tubuhnya hampir terkoyak habis karena para dimangsa Para Nymph sialan itu," ungkapnya dengan menyesal.


"Begitukah, kita kuburkan yang tersisa darinya lalu kita kembalikan lencana Patrol Guard dia kepada keluarganya nanti."


Dengan jumlah korban luka mencapai 30 orang dari sisi Patrol Guard dengan Ksatria Suci, mau tidak mau kita harus menunda keberangkatan untuk merawat mereka terlebih dahulu.


Seharusnya begitu jika saja tidak ada Lena di sini. Dia dengan sabarnya menghampiri para korban luka lalu menyembuhkan mereka satu persatu dengan senyuman di wajahnya.


Aku yakin mereka tidak akan melupakan momen dimana Sang Saint sendiri menyembuhkan luka mereka akibat pertempuran.


"Kita berangkat! Tujuan selanjutnya adalah Desa Runfeld!" perintah Tuan Wapol.


Perjalanan rombongan pun kembali berlanjut. Lena terlihat kembali menaiki kereta kudanya dengan seorang wanita yang membawa sebuah busur.


Walaupun jarak kami sedekat ini, aku bahkan tidak bisa untuk berbicara dengannya sama sekali. Apakah Lena baik-baik saja setelah mengeluarkan sihir sebanyak itu?


Kami melanjutkan perjalanan sampai malam tiba. Terlihat para Patrol Guard langsung tertidur ketika rombongan memutuskan untuk beristirahat.


Wajar sekali, mereka kelelahan setelah mengalami hari yang berat ini.


"Tuan Sirius, Tuan Georgy dan Tuan Wapol memanggil Anda untuk melakukan pertemuan di tenda utama." Seorang Ksatria Suci datang menghampiriku.


"Baiklah, aku akan segera kesana."


Setelah selesai mengecek kembali kondisi para Patrol Guard, aku kemudian berjalan menuju tenda utama.


***


Di sisi lain, Lena sedang berada di dalam tenda khusus untuknya bersama Alicia.


Lena merasakan tubuhnya terasa lebih lemas dari biasanya setelah melakukan sihir dengan skala cukup besar. Walaupun tidak sebesar ketika saat pertempuran lawan pasukan Raja Iblis, tetap Lena masih belum terbiasa dengan efek samping dari kekuatannya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Anda, Saint Agung?" tanya Alicia merasa khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Alicia. Hanya butuh istirahat sedikit. Dan sudah kubilang padamu, kan? Panggil saja aku Lena jika kita hanya berdua saja," ucap Lena sambil tersenyum untuk menghilangkan kekhawatiran Alicia.


Para pelayan kemudian memasuki tenda membawa sebuah bak dan baju ganti untuk Lena.


Pelayan itu kemudian melepaskan pakaian Lena satu persatu. Yang terlihat kemudian adalah sebuah pemandangan bagi seorang perempuan sendiri seperti Alicia dibuat takjub.


Kulit putih mulus seperti salju, tubuh yang ideal tanpa cacat sekalipun, lekukan tubuh yang indah. Alicia seperti melihat jelmaan Dewi Athena sendiri ketika melihat Lena. Alicia yakin, tidak ada pria yang mampu bertahan dari pesona Lena.


Para pelayan wanita kemudian mulai mengelap tubuh Lena yang lembut itu dengan air hangat.


"Saint Agung, aku akan berjaga diluar terlebih dahulu. Jika Anda membutuhkan sesuatu, panggil, lah saya," ucap Alicia.


"Umm, terima kasih, Alicia." Lena memberinya senyuman.


"Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu."


Alicia kemudian berjalan ke luar tenda. Akan tetapi, ketika dia membuka tirai keluar, dia melihat sesosok pria berambut pirang sedang berdiri di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Arthur?" tanya Lena dengan dingin sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Pergilah terlebih dahulu dari sini, Sang Saint sekarang sedang mandi dan berganti pakaian," ujar Alicia.


Mendengar kata-kata Alicia, Arthur menelan air ludahnya sendiri. Dia lalu mencuri-curi pandang ke dalam tenda.


"Arthur... " Suara dingin Alicia terdengar lagi.


"I-iya, ada apa Alicia?" Arthur terlihat gugup ditatap layaknya pria menjijikan oleh Alicia.


"Pergi dari sini, sekarang." Suara Alicia pelan tetapi memiliki perintah kuat dari ekspresinya.


Melihat Arthur yang mulai berbalik lalu berjalan, akhirnya Alicia bernafas lega.


"Ya ampun, semua pria sama saja. Mereka akan terlihat sangat bodoh ketika berpikir menggunakan tubuh bagian bawah mereka," gumam Alicia.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian Lena mengajak Alicia untuk melakukan obrolan malam.

__ADS_1


"Begitu, kah? Awalnya Alicia akan dijodohkan dengan Pangeran dari Kerajaan Thuringia." Lena baru saja mendengarkan cerita Alicia.


"Ya, Lena. Perjodohan adalah hal yang umum dikalangan Bangsawan." Alicia mengingat kembali pengalamannya ketika banyak pria yang mendekatinya kala masih di kampung halamannya dulu.


"Biasanya pernikahan para bangsawan itu karena dasar politik dan kepentingan," lanjutnya.


"Begitukah? Lalu, apakah para bangsawan itu tidak pernah mendapatkan cinta sejati mereka?" tanya Lena kembali.


Mendengar pertanyaan itu, Alicia diam sejenak. Dia melihat hubungan ayah dengan ibunya sangat akur seperti pasangan yang mencintai pada umumnya. Walaupun kedua orang tuanya hasil dari perjodohan, mereka tetap menjalani kehidupan yang harmonis.


"Lena... Memangnya, apa yang dinamakan cinta sejati itu?" tanya Alicia balik yang agak bingung dengan kedua kata itu.


Mendengar pertanyaan balik Alicia, kali ini Lena yang terdiam. Dia bahkan belum tahu mengenai cinta dengan lawan jenis. Yang diajarkan para pendeta kepadanya hanyalah cinta kasih terhadap sesama manusia, bukan cinta sejati terhadap lawan jenis.


Mereka beruda membicarakan banyak hal pada malam hari itu.


***


Di sebuah hutan di dekat desa Runfeld. Dua orang makhluk humanoid tengah memantau keadaan desa.


"Bagaimana menurutmu Regulus? Dapatkah kita menembus pertahanan desa ini ketika para rombongan Saint dan Pahlawan itu di sini?" tanya Marinus—salah satu Vampir yang Geldoro tugaskan untuk membunuh Sang Saint dan Pahlawan.


"Kurasa akan sulit menembusnya jika pertahanan mereka terkonsentrasi di satu titik," jawab rekannya Regulus.


Mereka sedang menyusun strategi penyerangan ketika para rombongan tiba.


"Kita akan membuat distraksi dengan mensummon ratusan iblis dan monster ke Desa ini ketika para Pahlawan melakukan Trial," usul Regulus.


Para pahlawan tidak akan bisa pergi ke mana-mana jika mereka tengah melakukan sebuah Trial. Ini menjadi kesempatan bagus untuk mereka berdua melakukan pembunuhan Sang Saint


"Begitukah? Lalu siapa yang akan melawan Georgy? Dia rombongan ini, dialah ancaman terbesar kita," tanya Marinus.


Regulus kemudian mengeluarkan sebuah koin di saku bajunya. "Ekor atau Kepala?"


"Kepala."


Regulus kemudian melempar koin itu ke udara lalu mengkapnya. Dia membuka tangannya itu memperlihatkan sisi koin yang ada di dalam tangannya.

__ADS_1


"Hahh... Baiklah, aku yang akan mengurus Georgy. Regulus kau harus dapat membunuh Sang Saint itu."


Keduanya telah menyusun strategi kedepannya. Sirius dan Lena tidak mengetahui bahaya besar sedang mengintai mereka berdua.


__ADS_2