The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 8 : Investigasi


__ADS_3

[ Sirius POV ]


Keesokan paginya, Aku dan Lena mulai mendatangi rumah beberapa keluarga dari warga yang meninggal tidak wajar akhir - akhir ini. Kami di beritahu oleh Reinhold lokasi kediaman dan tempat bekerja keluarga - keluarga mereka.


Pertama - tama, kami mendatangi kediaman keluarga warga yang meninggal terbaru yaitu Riley. Dia hidup dengan adiknya yang bernama Rifaul. Dia sebelumnya bekerja sebagai assisten Kepala Desa, namun harus berhenti untuk mengurusi peternakan keluarganya setelah kakaknya meninggal.


Tidak lama kemudian, kami sampai di sebuah rumah terbuat dari kayu yang sederhana.


Tok! Tok! Tok!


“Permisi, apa benar ini kediaman Rifaul?”


Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada balasan dari dalam rumah.


“Mungkin dia sedang bekerja di peternakannya,” ujar Lena.


Kami lalu pergi ke belakang rumah menuju sebuah peternakan sapi. Di sana terlihat seorang pria yang berusia kira – kira sama sepertiku sedang memerah sapi. Pria itu menyadari kami dari kejauhan dan menghampiri kami.


“Siapa dan ada urusan apa kalian kesini?” tanyanya.


“Namaku Lena dan ini Sirius. Kami ingin menanyakan beberapa hal tentang kakak Anda yang baru saja meninggal, apakah itu tidak apa – apa tuan?” Lena memperkenalkan kami lalu menyatakan tujuan kami kemari.


“Ah, baiklah. Duduklah di Gazebo dekat kolam di sana. Aku akan menyelesaikan urusanku dalam beberapa menit,” ucap Rifaul sambil menunjukan arah sebuah Gajebo tidak jauh dari sini.


Kami kemudian berjalan ke Gajebo itu lalu duduk sambil menikmati suasana sejuk Pedesaan.


“Kurasa aku tahu mengapa banyak orang – orang kota yang pindah dan menetap ke desa ini,” ucap Lena. “Di sini udaranya sejuk dan suasananya tenang. Orang – orangnya juga sangat ramah.” tambahnya.


Lena lalu menanyakan tentang detail – detail pemandangan yang terlihat di sini padaku. Tak lama kemudian, Rifaul datang sambil membawa beberapa kue dan susu.


"Cobalah kue dan susu ini. Aku jamin, rasanya sangat berbeda di tempat-tempat yang pernah kalian jumpai," ucap Rifaul menawarkannya kepada Lena.


“Ah Tuan Rifaul, Anda tidak perlu repot – repot seperti ini,” ucap Lena.


“Tidak apa – apa, sebenarnya sangat jarang yang mengunjungi tempat ini. Jadi tidak ada salahnya jika aku ingin kalian lebih nyaman di sini bukan? dan jangan panggil aku Tuan, usiaku tidak begitu jauh dengan kalian,” jelasnya. “Jadi, apa yang ingin kalian ketahui tentang kakakku?” tanyanya.


Kali ini, aku yang menjawab pertanyaannya.


“Apakah kau tahu, beberapa warga di sini ada yang mencurigai bahwa kematian beberapa warga desa akhir – akhir ini itu karena di bunuh seseorang?” tanyaku.


Rifaul lalu duduk di hadapan kami dan menjawab.


“Ya, aku mengerti mengapa warga - warga berpikiran begitu. Yang kutahu, para warga yang meninggal merupakan warga yang sering berinteraksi dengan Lydia,” ungkapnya. “Kakakku sering sekali berinteraksi dengannya sebelum Lydia meninggal dan kurasa dia sering mengobrol dengan Johann mengenai kematiannya,” jelasnya.


“Mengenai kematian kakakmu, apakah ada hal yang janggal?” tanyaku.


Rifaul lalu terdiam seolah – olah mengingat sesuatu.


“Sebelum menghilang, kurasa dia sering mengeluh selalu mendapat sebuah mimpi buruk. Setelah selama 2 hari di lakukan pencarian, dia ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon di bukit arah barat desa,” jawab Rifaul dengan nada berat. “Kakakku bukanlah orang yang gampang depresi. Kebalikannya malah, dia selalu ceria dan gampang bersosialisasi,” tambahnya.


“Bolehkah aku memeriksa pakaian yang dia kenakan ketika ditemukan tewas?” tanyaku.


“Ya, tentu saja. Ini kunci kamar kakakku, baju yang dia kenakan adalah sebuah baju tunik berwarna hijau,” jawab Rifaul sembari menyerahkan sebuah kunci.


“Apakah tidak apa – apa jika Lena di sini bersama Rifaul?” tanyaku.

__ADS_1


“Tentu saja, jika Rifaul tidak keberatan jika Sirius sendirian mengecek barang – barang kakaknya,” jawab Lena.


“Tidak apa – apa, kemarin aku bertemu dengan Tuan Morlin dan dia menceritakan tentang kalian berdua,” ujarnya.


Setelah mendapat ijin dari Rifaul, aku lalu masuk ke rumahnya dan mendekati sebuah pintu kamar yang tertutup. Aku lalu memasukan kuncinya dan membuka kamar tersebut. Di dalamnya sangat rapi yang memiliki kesan Riley adalah seorang yang tekun dan disiplin.


Aku lalu melihat sebuah baju tunik hijau yang di gantung di dekat jendela. Aku lalu mengambilnya dan memeriksa setiap detail baju itu. Terdapat sebuah bau samar – samar yang sedikit familiar. Bau itu sangat kuat ketika mendekati sebuah saku. Di sana terdapat sepucuk bunga berwarna ungu. Melihatnya, aku sudah mulai mendapatkan petunjuk mengapa Riley melakukan bunuh diri.


...----------------...


[ Lena POV ]


“Ya, akhir - akhir ini warga desa sangat takut jikalau korban berikutnya adalah keluarga atau teman terdekat mereka. Semoga saja kakakku adalah yang terakhir,” ucap Rifaul dengan nada sedih.


Kami mengobrol tentang keadaan Desa sambil menunggu Sirius melakukan investigasinya. Aku lalu mencoba kue dan susu yang di berikan oleh Rifaul.


“Kue dan susu ini terasa sangat berbeda dengan yang lain, aku suka sedikit rasa asin di susu ini dan di padukan dengan manis yang unik dari kue ini keduanya saling melengkapi.”


“Tentu saja, warga sini menambahkan susu sapi mereka dengan sebuah cairan khusus dari sebuah pohon yang hanya tumbuh di daerah sini. Dan untuk kuenya, kita tidak menggunakan gula. Akan tetapi, kami menggunakan madu lebah Elmora yang unik,” ungkap Rifaul dengan bangga.


Beberapa saat kemudian, aku mendengar langkah kaki Sirius mendekat.


“Apakah kau menemukan sesuatu?” tanya Rifaul kepada Sirius.


“Ya, aku setidaknya sudah mendapatkan beberapa petunjuk. Kurasa kami akan pergi ke kediaman keluarga warga yang meninggal dengan janggal lainnya untuk menambahkan petunjuk,” jawab Sirius.


“Baiklah, semoga kalian berhasil dalam investigasinya,” ucap Rifaul.


“Terima kasih Rifaul atas susu dan kuenya, sangat lezat sekali,” ucapku seraya berdiri hendak mengikuti Sirius.


Setelah meninggalkan kediaman Rifaul, kami lalu pergi ke beberapa kediaman keluarga warga yang meninggal dengan tidak wajar. Ada yang meninggal karena kecelakaan dan keracunan yang mendadak. Sirius bilang, keempat warga yang meninggal itu sering berinteraksi dengan Lydia sebelum Lydia meninggal.


Menurut Lampert, Johann adalah pria yang ramah penjual tanaman. Kami lalu tiba di kediaman Johann pada sore hari. Terasa aroma - aroma tanaman yang bercampur di sekitar rumahnya.


“Lena, aku percayakan pembicaraan dengan Johann kepadamu. Aku nanti akan menginvestigasi sekitaran rumahnya untuk mencari petunjuk,” pinta Sirius.


“Ya, serahkan saja padaku,” jawabku.


“Dan cobalah untuk memintanya untuk mengikuti salah satu kegiatannya.”


“Mengapa?” tanyaku tidak mengerti tujuan Sirius memintaku seperti itu.


“Akan kuberi tahu alasannya nanti ketika kita ada di penginapan,” jawabnya ambigu.


Tok! Tok! Tok!


Kami lalu menghampiri pintu rumahnya dan tidak ada jawaban sama sekali. Setelah beberapa saat menunggu, seorang pria lalu terlihat menuju kesini. Dia adalah Johann pemilik rumah ini. Dia menghampiri kami lalu berkata.


“Siapa kalian dan apa ada urusan denganku?”


“Ah, Tuan Johann, kah? Bolehkah kita berbincang sebentar?” tanyaku.


“Tentu saja, kita lebih baik berbicara di ruang tamu,” jawabnya.


Johann lalu membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan kami masuk. Akan tetapi Sirius diam saja dan berkata.

__ADS_1


“Aku hanyalah penjaganya. Seperti yang dapat Anda lihat, dia buta dan aku hanya mengantarkannya kesini. Aku akan menunggu di luar,” ucap Sirius.


“Baiklah, mari kita masuk nona muda,” ucap Johann.


Aku lalu duduk di ruang tamu lalu memberitahu maksud kedatangan kami.


“Namaku Lena dan pria dingin di luar itu Sirius, kedatangan kami adalah untuk menanyai beberapa hal tentang istri Anda. Apakah Tuan Johann berkenan?”


“Ahh Lydia yah… boleh saja. Akhir – akhir ini banyak warga yang menanyai tentangnya,” ucap Johann. “Aku baru saja mengunjungi makamnya,” tambahnya.


“Kudengar, Anda dan istri anda berasal dari Kota di Kekaisaran namun pindah untuk menetap di sini sekitar 1 tahun yang lalu.”


“Ya, lebih tepatnya kami berasal Kota Siselia di Duchy Salisburg. Aku menikah dengan Lydia ketika umur kami 20 tahun. Aku bekerja sebagai penjual tanaman sedangkan Lydia bekerja di salah satu Departemen Kementerian Sihir di Kekaisaran Habsburg,” ucap Johann dengan nada melankolis.


“Kami menjalani hidup bahagia selama 4 tahun pernikahan kami walaupun belum di karuniai seorang anak,” ungkapnya yang mata terlihat mulai berkaca-kaca.


“Setelah mengumpulkan cukup uang, kami lalu pindah ke sini karena Lydia ingin suasana baru. Aku masih tetap bekerja sebagai penjual tanaman sedangkan Lydia membantu para warga desa dengan berbagai urusannya,” jelasnya dengan nada suara yang berbeda kali ini.


“Ketika mulai hidup di sini, terlihat jelas perubahan Lydia. Dia lebih sering tersenyum dan berinteraksi dengan warga sekitar. Para warga sangat mengandalkannya dan selalu mencoba mendekatinya setiap saat.”


Aku merasakan perubahan nada dari Tuan Johann menjadi lebih tertekan ketika menceritakan perubahan Lydia.


“Disini, Lydia tampak lebih bahagia. Akan tetapi, kebahagian itu tidak berlangsung lama,” ucap Tuan Johann dengan nada sedih.


“Aku pada saat itu memintanya mencari sebuah tanaman di bukit akan tetapi, dia tidak kunjung kembali. Kami menemukannya pada malam hari dengan luka cakaran di leher dan perutnya,” jelas Tuan Johann dengan nada semakin berat.


“I-ini semua salahku…. Ji-jika saja aku tidak memintanya waktu itu…. Uhhh.”


Suara Tuan Johann tertahan karena dia mulai menangis. Setelah beberapa, saat dia kembali bisa mengontrol emosinya.


“Maafkan aku Lena. Hanya saja, aku sangat merindukan Lydia,” ucap Tuan Johann.


“Ah tidak apa – apa. Aku minta maaf jika membuat Anda membahas hal yang sensitif ini.”


“Tidak apa – apa Lena, mari kita lanjutkan pembicaraan kita.”


...----------------...


[ Sirius POV ]


Setelah Lena memasuki ruangan tamu bersama Johann, aku lalu melihat – lihat koleksi tanaman yang di miliki Johann. Setelah beberapa saat memeriksa, Aku tidak menemukan satupun tanaman yang cocok dengan yang aku temukan di saku baju Riley. Kurasa aku memang harus menyelidikinya lebih lanjut malam ini. Tidak lama kemudian, Lena dan Johan membuka pintu rumah. Kelihatannya Lena telah selesai mengobrol dengannya. Lena lalu berpamitan kepada Johann dan menghampiriku. Kami lalu meninggalkan kediaman Johann.


“Lalu, bagaimana dia bersikap ketika menceritakan tentang istrinya?” tanyaku.


“Ini aneh kau tahu, di sisi lain kesedihannya terasa nyata ketika menceritakan kehidupannya ketika di desa. Akan tetapi, terdapat sebuah emosi kelegaan di saat dia menceritakan tentang kematian Lydia,” jawab Lena terlihat meletakkan tangannya di dagunya. “Dia bahkan menangis dan aku merasakan tangisan dia itu nyata,” tambahnya.


“Lalu, apakah Lena akan berbicara dengannya lagi besok?” tanyaku.


“Ya, aku mengikuti saranmu dan akan mengikutinya mencari tanaman besok pagi – pagi sekali,” jawabnya.


“Begitukah.”


Kami lalu sampai di penginapan ketika matahari telah terbenam. Aku lalu mengantar Lena ke kamarnya dan berkata.


“Aku akan pergi ke suatu tempat malam ini lalu menemui kepala desa untuk berbicara dengannya.”

__ADS_1


“Ya, selamat malam, Sirius. Berhati - hatilah,” ucap Lena dengan tersenyum.


“Ya, selamat malam Lena.


__ADS_2