
[ Sirius POV ]
Kami melanjutkan perjalanan dan sampai ke salah satu jalur masuk Lembah Black Dread pada siang hari. Terlihat cuaca di sekitaran lembah berbeda dengan cuaca daerah yang lainnya. Awan - awan di atasnya terlihat hitam dan terdapat kabut yang menyelimuti lembah itu.
“Ayo Lena.”
“Umm.”
Setelah beberapa saat kami berjalan masuk ke lembah itu, aku melihat sebuah sungai yang mengalir dari arah sebuah bukit. Terlihat dari warnanya dari kejauhan, air sungai itu sama sekali tidak mencurigakan dan terlihat dapat di minum tanpa mengakibatkan gejala apapun.
“Hey Sirius, aku mendengar suara aliran sungai. Katamu tadi daerah ini sangat sedikit sekali sumber daya untuk bertahan hidup, apakah air di sungai itu tidak dapat di minum?” tanya Lena.
“Ya, kebanyakan air di lembah ini sangat berbahaya untuk di minum. Kebanyakan orang - orang yang pertama melewati lembah ini mendapatkan masalah karena mengkonsumsi makanan dan minuman di lembah ini,” jawabku.
Kami lalu melanjutkan perjalanan kembali. Semakin kami jauh masuk ke dalam lembah, cahaya matahari semakin pudar dan kabut menjadi semakin tebal. Ketika sudah jauh memasuki lembah ini, sangat sulit untuk memperkirakan waktu jika tidak membawa sebuah jam.
Setelah berjalan cukup lama, kami sampai di sebuah tempat yang bagus untuk beristirahat. Akan tetapi, setelah memperhatikan sekitar, aku melihat sebuah cahaya kecil di kejauhan sekitar 200 meter dari tempat kami berdiri.
“Lena, tunggu di sini sebentar. Aku ingin memeriksa sekitar.”
“Baiklah, jangan terlalu lama Sirius.”
Aku lalu berjalan mendekati sumber cahaya yang samar - samar dalam kabut lembah itu. Setelah sekitar 100 meter dari sumber cahaya itu, aku mulai menggunakan teknik Featherstep untuk mengendap - endap secara perlahan. Setelah cukup dekat, aku mulai melihat sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Sumber cahaya itu berasal dari api unggun yang menyala di depan rumah kayu itu.
Aku melihat sesosok mirip manusia sedang membakar sesuatu. Namun aku mengetahui, sosok yang sedang berada di depan api unggun itu bukanlah sepenuhnya manusia. Aku mengetahui betul karena aku yang sebelumnya adalah jenis yang sama dengan mereka. Setelah memastikan tidak ada ancaman yang berbahaya di daerah sekitar, aku lalu berjalan kembali menemui Lena.
Ternyata beberapa dari mereka ada yang tinggal di sini ‘kah? Mungkin itu akan lebih baik. Karena mereka tidak akan pernah bisa di terima hidup berdampingan dengan manusia biasa.
...----------------...
[ Lena POV ]
Setelah Sirius pergi untuk mengintai, aku kemudian duduk sambil mendengarkan suasana lembah ini. Berbeda dengan tempat - tempat lain yang pernah aku kunjungi, di sini sangat terasa sunyi dan dingin.
Akan tetapi, aku mendengar beberapa suara burung dan beberapa binatang lainnya yang membuatku mulai gugup. Apakah dia masih lama? Aku pun mulai memeluk kaki ku dan mulai berdoa kepada Dewi Athena agar perjalanan kami kali ini akan mudah.
“Maaf Lena, kau harus menungguku di sini sendirian.”
Tiba - tiba aku mendengar suara Sirius dari belakang yang menepuk pundak ku.
“Ah! kau mengejutkan ku!”
Serius, dia sangat pandai jika mengendap - endap. Mengapa dia tidak bisa mendekatiku dengan cara yang biasa.
__ADS_1
“Ahahaha maaf, aku terbiasa melakukannya ketika berada di lingkungan yang seperti ini,” jawabnya.
“Jadi, apa yang Sirius temukan?” tanyaku.
Sirius lalu terdiam sebentar lalu menjawab.
“Aku melihat sebuah rumah tak jauh dari sini.”
“Rumah? Lalu, apakah kita bisa kesana? Kurasa kita akan kedinginan jika beristirahat di luar seperti ini,” ucapku sambil menggosokkan kedua telapak tanganku.
“Tidak bisa, ada sesosok Arbil di sana,” ucap Sirius.
“Arbil? Kurasa aku pernah mendengar istilah itu dari Abbot Francis tapi aku tidak tahu apa maksud dari istilah itu,” ujarku.
“Kita harus mencari tempat lain, aku akan menjelaskannya kepada Lena mengapa kita tidak boleh mendekati Sesosok Arbil,” ucap Sirius.
“Baiklah.”
Kami lalu pergi dari sini dan melanjutkan perjalanan kembali. Tidak lama kemudian, Sirius mulai berbicara.
“Arbil adalah sebuah manusia yang memiliki kemampuan khusus yang di namakan Bloodlust Frenzy,” ungkap Sirius.
“…”
“Ketika seorang Arbil menggunakan kekuatan itu, kekuatannya akan bertambah berkali - kali lipat,” jelas Sirius.
Aku terkadang suka iri dengan mereka yang memiliki kemampuan - kemampuan unik. Jika aku memilikanya, mungkin aku akan lebih berguna walaupun tanpa penglihatan.
“Ya, kemampuan itu sangat berguna akan tetapi, Arbil itu akan di rasuki oleh hawa nafsu membunuh yang tinggi. Mereka sering kali membunuh orang - orang terdekatnya tanpa di sengaja,” jelas Sirius.
Aku mendengar nada bicara Sirius yang mulai berubah ketika menjelaskan itu.
“Ketika menggunakan kekuatan itu, kesadaran para Arbil akan hilang sepenuhnya dan tidak akan terkendali. Yang paling parah adalah, kekuatan itu bisa terpancing kapan saja. Itu yang membuat mereka berbahaya,” tambahnya.
Mendengar perkataannya, kurasa Sirius memiliki kenalan seorang Arbil. Apakah dia memiliki penyesalan di masa lalu? Kalau begitu, bagaimana caranya aku bisa membantu Sirius dalam masalah itu? Dia selalu membantu dan menyelamatkanku setiap saat. Aku setidaknya ingin berbuat sesuatu untuknya.
Setelah membahas itu, kami lalu hanya terdiam tanpa berkata apa - apa.
Setelah beberapa lama berjalan, aku mulai mendengar suara petir menyambar dan angin – angin yang berhembus di sini mulai bertiup lebih kencang.
“Lena, kita akan beristirahat di sini. Aku tidak yakin jika kita berjalan lebih jauh, kita akan menemukan tempat yang lebih baik sebelum badai,” ucap Sirius.
Sirius lalu memberikanku mantel agar aku tidak kedinginan.
“Terima kasih.”
“Di lihat dari awan dan anginnya, kurasa badai ini akan memakan waktu beberapa jam,” ucap Sirius. “ Aku akan mencoba untuk membuat sebuah api,” tambahnya.
__ADS_1
Ctak! Ctak! Ctak!
Terdengar suara batu beradu.
“...”
“Ada apa Sirius?” tanyaku.
“Aku sudah mencoba untuk menggesekan batu - batu itu namun, tidak ada percikan api sama sekali yang muncul,” jawab Sirius.
Apa maksudnya itu? Terdengar Sirius membuka kantung nya dan berjalan ke depan melakukan sesuatu.
“Apa yang Sirius lakukan?” tanyaku.
“Ternyata benar, ini adalah angin Arkansi. Angin yang membuat api padam yang hanya di temukan di beberapa bagian lembah di sini.” jawab Sirius.
Tidak lama kemudian, aku mendengar sebuah suara guyuran hujan turun. Kami beristirahat di sebuah gua kecil yang tidak dalam. Sisi bagusnya dalam keadaan ini, kami tidak kehujanan.
“Lena kau istirahatlah terlebih dahulu, aku akan berjaga di sini,” ucap Sirius.
“Baiklah, terima kasih Sirius, kau juga jangan lupa istirahat ya…”
Aku lalu memejamkan mataku dan tidur di atas sebuah terpal milik Sirius.
Jedar!! Jedar!!
Aku sangat kesulitan untuk tidur karena suara gemuruh petir terus menerus. Aku sangat mengantuk dan lelah, tiba - tiba udara menjadi sangat dingin sekali. Tubuhku mulai menggigil dan mulutku bergetar.
Ketika keadaan seperti ini, aku mencoba mengingat kembali kehidupan ku di desa. Menggembala kambing - kambing dan melihat bunga - bunga bermekaran. Tiduran di padang rumput yang nyaman dengan terik matahari hangat menyinari ku. Itu adalah hari - hari yang indah.
Aku lalu mulai merasakan sebuah kehangatan di tubuhku. Rasa dingin yang menusuk tubuhku tadi mulai menghilang di ganti kehangatan yang aku rindukan ketika berada di desa. Aku merasakan sebuah belaian di rambutku bagaikan angin hangat mengibaskan rambutku ketika masih berada di desa. Dengan kenyamanan ini, aku mulai kehilangan kesadaran ku dan tertidur.
.
.
.
Ketika aku mulai terbangun, badai telah berhenti akan tetapi, masalah yang lebih besar muncul. Aku merasakan jantungku seperti sedang berhenti. Se-sebuah tangan sedang berada di rambut dan melingkar di perutku! Mu-mungkinkah kehangatan yang aku rasakan tadi itu?!! Aku lalu mencoba berbalik dan meraba - raba. Sebuah bentuk muka dan bibir aku rasa.
“….”
Aku kemudian berbalik lagi dan mencoba menutupi mukaku dengan kedua tanganku. Tubuhku kembali memanas dan jantungku berdegup sangat cepat.
Badum! Badum! Badum!
Ba-bagaimana nanti aku akan berbicara normal dengannya nanti setelah ini?! Ma-afkan aku Dewi, aku telah melanggar salah satu ajaranmu!
__ADS_1
“Ughhh…”