The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 8 : Pertarungan Desa Runfeld


__ADS_3

Malam harinya setelah para rombongan pahlawan sampai di desa Runfeld siang tadi, tiga orang Patrol Guard sedang melakukan tugas patroli mereka di sekitaran reruntuhan Desa Runfeld lama.


Walaupun cahaya bulan purnama menyinari kegelapan malam, para Patrol Guard itu tetap membawa sebuah lentera agar lebih mudah untuk mereka memperhatikan sekitar.


"Kalian lihat para Acolyte wanita itu? Mereka tidak hanya baik, tapi juga manis-manis. Aku jadi ingin menikah lalu menetap di sini," ucap salah satu Patrol Guard.


...Author Note : Acolyte, pembantu Pendeta Kuil....


"Well... Harus kuakui, aku ingin istriku kelak mempunyai kepribadian yang baik seperti mereka itu," balas rekan Patrol Guard itu.


Mereka kemudian memasuki area dalam reruntuhan. Terlihat bangunan terbesar di area ini sebuah Kuil Athena yang terlihat hanya menyisakan bagian dalam dan sebuah tiang saja.


"Tolong—"


"...!" Terdengar sebuah teriakan wanita yang membuat mereka waspada.


Ketiga Patrol Guard itu kemudian mulai mencari ke arah suara itu terdengar. Keheningan di area reruntuhan membuat mereka gugup.


"Tolong—" Terdengar kembali suara wanita tadi.


Mereka bertiga kemudian sampai di sebuah rumah sumber suara wanita itu berada. Membuka pintu rumah tersebut, ketiga Patrol Guard itu melihat seorang wanita yang terduduk di lantai kayu membelakangi mereka.


"Huuu... Huuu... " Wanita itu menangis tersedu-sedu.


"Tidak apa, Nona. Kami akan segera menol—"


Thud!


Kepala Patrol Guard itu tiba-tiba menggelinding ke lantai. Wanita itu berbalik menunjukan sosoknya kepada dua orang Patrol Guard yang tersisa.


Mata merah, kulit pucat, sebuah cakar yang terlihat tajam layaknya pisau, gigi taring wanita itu terlihat sedikit di mulutnya.


"V-vampir!" Mereka berdua bergegas keluar dari bangunan itu berlari sekencang mungkin.


"Kita harus segera melap—" Suara Patrol Guard itu tertahan. Keduanya kini melayang di udara. Tubuh mereka terasa seperti diangkat oleh sebuah tangan tak terlihat.


Tidak lama kemudian, tubuh mereka tiba-tiba mulai tercabik-cabik. Kedua tangan, kaki dan kepala mereka terpisah dari tubuhnya. Darah segar mengucur ke sekitaran reruntuhan.


"Dengan ini, mereka pasti akan kemari untuk menyelidiki penjaga yang hilang ini bukan?" Seorang Vampir Bangsawan laki-laki— Regulus berada di atas sebuah bangunan berbicara. Dia ditemani oleh Marinus rekan sesama Vampir Bangsawan.


"Kita akan pancing Georgy kesini, lalu kita lakukan serangan penuh ke desa tersebut."


***


"Apa kau yakin mengenai hal ini?"


Malam berikutnya, Aku dan Georgy sedang mendiskusikan mengenai tiga anggotaku yang belum ditemukan dari kemarin malam.


"Ya, terakhir mereka terlihat sedang mengarah ke reruntuhan Kuil," jelasku padanya.


Georgy kemudian sejenak terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Menurutmu, ada musuh yang sedang mengintai kita?"


Merespon pertanyaannya, aku hanya mengangguk. Aku bisa melakukan sebuah investigasi seorang diri. Akan tetapi, itu sangat beresiko ketika aku belum tahu iblis jenis apa yang akan muncul nanti.


Yang paling merepotkan adalah Iblis Bangsawan. Mereka memiliki kemampuan-kemampuan unik yang para pahlawan sebelumnya sekalipun sangat sulit untuk mengalahkannya.


"Kelima para pahlawan telah pergi menuju Kuil rahasia untuk melakukan Trial akhir mereka," ungkap Georgy.


Masing-masing pahlawan membawa 10 Patrol Guard dan 10 Ksatria Suci untuk menjaga mereka ketika melakukan trial. Kurasa Georgy khawatir akan keamanan mereka mengingat siapapun bisa diincar oleh musuh yang mengintai.


"Menurutmu musuh-musuh itu masih berada di reruntuhan itu?" tanya Georgy.


"Hanya tempat itu yang berkemungkinan mereka dapat bersembunyi di sekitar sini," balas ku.


Georgy kemudian mengetuk-ketukan jarinya ke meja. Selama beberapa menit, dia terdiam. "Aku akan membawa lima puluh Ksatria Suci kesana, kalian Patrol Guard tetaplah di sini untuk melindungi warga desa."


Setelah menyusun rencana, aku kemudian mengumpulkan seluruh anggota Patrol Guard untuk lebih waspada dan memperingati adanya sebuah serangan nanti.


Tidak lama kemudian, aku melihat para Ksatria Suci berbaris berjalan keluar desa. Yang membuatku bingung, jumlah para Ksatria Suci itu terlihat lebih banyak daripada yang diberitahukan Georgy padaku. Apakah ada perubahan rencana?


Tidak lama kemudian, aku menemukan jawaban yang kucari. Aku melihat sebuah kereta kuda di tengah barisan para Ksatria Suci itu.


Mengapa Lena juga ikut pergi kesana?


Setengah jam kemudian, para warga desa semua telah di evakuasi ke ruangan bawah tanah rahasia desa. Suasana hening pun memenuhi sekitaran desa. Terlihat sebuah bulan purnama di langit menyinari desa Runfeld.

__ADS_1


-Sring!


Aku menutupi mataku karena tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan muncul dari arah hutan dekat desa. Tidak lama kemudian, aku melihat ke arah langit sumber cahaya itu muncul.


"...!"


Aku melihatnya... Puluhan—tidak, ratusan Vampir sedang terbang dengan cepat menuju kemari.


"Vampir! Bersiap dengan kontak langsung!" teriakku memperingatkan para Patrol Guard dan Ksatria Suci yang berada di desa.


"Kya, kya, kya!" Vampir-vampir itu akhirnya tiba. Terdengar mereka sedang tertawa kegirangan.


"Beranikan diri kalian!"


Pertarungan kami melawan para Vampir dimulai. Mereka terlihat melayang-layang di atas desa. Tidak lama kemudian, para Vampir itu melesat ke bawah menyerang para Patrol Guard dengan cakar tajam mereka.


"Tetap berkelompok dengan para pendeta yang dapat menggunakan sihir Divine!" instruksi ku.


"Ugghh... " Seorang Vampir mencekikku, membawaku ke udara bersamanya. Aku kemudian menusukkan Baselard tepat ke jantungnya.


"Gaghhhh!" Mulut Vampir itu mengeluarkan darah kemudian melepaskan cekikkannya di leherku.


-Brak!


Aku terjatuh di atas sebuah bangunan desa. Dari atas sini, terlihat para Patrol Guard dan Ksatria Suci kesulitan untuk menghadapi para Vampir yang memiliki keuntungan mobilitas.


"Jaga para pendeta!"


Para Vampir mulai mengincar para pendeta yang dapat menyembuhkan luka-luka para Patrol Guard dan Ksatria Suci.


Berlari dan melompat di antara bangunan desa. Aku mencoba mendekat ke salah satu Vampir yang beterbangan.


"Gyahhh!" Aku melompat menebaskan Baselard tepat ke salah satu Vampir yang sedang terbang membawa seorang Patrol Guard.


"Beranikan diri kalian! Kita bisa mengalahkan mereka!"


-Bomb!


Sebuah suara ledakkan tiba-tiba terdengar dari arah reruntuhan. Asap tebal menjulang tinggi ke langit di lokasi reruntuhan.


Menuruni atap sebuah rumah, aku kemudian segera mencari rekan ku.


"Senior Kurt! Aku serahkan yang di sini padamu! Aku akan menuju reruntuhan, aku memiliki firasat buruk."


Mendengar perkataanku, Senior mengangguk. "Jangan khawatir! Serahkan yang di sini pada kami! Kau pergilah ke sumber ledakkan itu!"


Aku kemudian berlari meninggalkan desa menuju reruntuhan dengan secepat mungkin.


"Lena... Aku akan datang padamu—"


***


Di sisi lain, tepatnya di reruntuhan desa lama, Para Ksatria Suci, Lena, dan Georgy sedang menghadapi Dua Vampir Bangsawan—Regulus dan Marinus.


Ledakan tadi adalah sebuah sihir api yang sangat kuat dilancarkan oleh Regulus kepada para Ksatria Suci. Beruntungnya, Lena dengan sigap mengeluarkan sihir perlindungannya membuat para Ksatria Suci hanya terkena luka bakar ringan dan kehilangan kesadaran mereka.


"Hehe... Seperti yang diharapkan oleh Sang Saint. Tanpa sihirmu, mereka semua akan mati hanya menyisakan abu dari tubuh mereka," ucap Regulus yang sedikit takjub akan kekuatan Lena.


"Sekarang hanya dua lawan dua, ini semakin menjadi menarik." Marinus menjilat bibirnya bergairah akan pertarungan yang sesungguhnya yang akan berlangsung saat ini.


Di sisi lain, Georgy berusaha bangkit menggunakan pedangnya untuk membantunya berdiri. Dia hanya menerima luka ringan dari serangan tadi. Perlahan, luka yang diterimanya mulai pulih.


"Saint Agung...," gumam Georgy.


Lena bersikeras untuk ikut bersama mereka. Dia memiliki sebuah firasat buruk mengenai keberangkatan Georgy dan Ksatria Suci lainnya untuk menyelidiki kasus menghilangnya ketiga Patrol Guard kemarin.


Lena menggunakan Eyes of Truth-nya. Memungkin Lena dapat melihat aliran mana dalam tubuh dua tubuh Vampir tersebut membuatnya mengetahui pergerakan dari musuhnya itu.


...Author Note : Kekuatan mata Lena ini sudah di jelaskan di Arc 1 Chapter 19 ya bagi yang lupa....


Tidak lama kemudian, Regulus terbang ke langit lalu kembali mengarahkan kedua tangannya ke arah Lena. Bola api mulai membentuk di antara kedua telapak tangannya.


"Tidak akan kubiarkan!" Georgy segera melesat ke arah Regulus.


Akan tetapi dia dihadang oleh Marinus. "Hehe... Aku tidak akan membiarkan kau mengganggu mereka!"

__ADS_1


"Meteor Blast!" Regulus merapalkan mantranya. Sebuah bola api besar kemudian melesat ke arah Lena.


"Divine Shield!" Sebuah perisai lingkaran muncul untuk melindungi Lena.


-Bomb!


Sebuah ledakan api besar menelan tubuh Lena. Kembali, asap tebal menjulang tinggi ke langit.


"Whirpool!" Georgy menggunakan pedang sihirnya membuat sebuah ombak angin memutar yang besar menembakannya ke arah Manirus.


"Guhhhh!" Marinus terpental jauh terkena serangan Georgy. Dia lalu bergegas melesat ke arah Regulus.


Melihat Georgy tengah melesat ke arahnya, Regulus malah tersenyum. Dia kemudian merentangkan tangannya ke arah Georgy.


"Aghhh!" Georgy tiba-tiba terdorong jatuh ke tanah.


Kepulan asap kemudian menghilang, memperlihatkan sosok Lena yang terlihat tidak terluka sedikitpun terkena sihir api Regulus.


"Sihir pertahanannya sangat merepotkan," ucap Regulus.


Georgy kemudian bangkit, terlihat luka-luka kembali sembuh seperti sedia kala. Lena menyembuhkannya dengan sihir penyembuhan.


Melihat ini, Regulus kemudian memanggil rekannya—Marinus. "Kita lakukan rencana tahap kedua!"


Marinus mengangguk kemudian mengumpulkan mana di tangan kanannya. Melihat ini, Regulus mulai terbang melesat ke arah Lena sambil menembakkan beberapa sihir bola api ke arahnya.


Namun, tidak ada satupun serangannya yang berhasil menembus Lena. Dia kemudian menciptakan sebuah pedang dari darahnya.


"Tak akan kubiarkan kau!" Tiba-tiba Georgy muncul di hadapannya


Ketika mereka berdua akan bentrok, tiba-tiba Regulus menghilang. Dia berpindah tempat dengan Marinus yang telah selesai mempersiapkan sihirnya.


"Portal Dimension!" Tangan Marinus menyentuh pedang Georgy.


Keduanya kemudian dilahap oleh sebuah bola kegelapan yang menelan mereka berdua. Tidak lama kemudian sosok keduanya menghilang bagaikan ditelan bumi.


Melihat rencananya sukses, Regulus tersenyum jahat. "Akhirnya, hanya kita berdua, Saint. Mari bersenang-senang."


Mendengar kata-katanya, Lena tidak panik dan tersenyum balik. "Kau seperti telah yakin akan kemenanganmu, Iblis."


Regulus mengumpulkan mana yang besar di telapak tangannya. "Tentu saja, kali ini hanya soal kontes ketahanan sihir kita berdua saja."


Dia kemudian merentangkan tangannya itu Lena. "Maximize magic—Meteor Blast!" Sebuah bola api berwarna merah melesat ke arah Lena.


-Bomb!


Kembali, Lena menggunakan sihir pertahan—Divine Shield-nya. Akan tetapi, tidak hanya selesai di situ, Regulus kali ini terus menerus menembakkan sihir api kuat ke arah Lena.


"Aku akan menghancurkan pertahanan sihirmu, Saint!"


-Crack!


Terdengar sebuah retakan pada lingkaran sihir pertahanan yang berada di sekitar tubuh Lena.


"Maximize magic—Hell Paradise!" Sebuah laser beam berwarna merah melesat menghancurkan sihir pertahan Lena. Tubuh Lena kini terbuka tanpa pertahan apapun.


"Selamat tinggal, Saint!" Regulus kembali menembakkan bola api besar ke arah Lena.


Wajah Lena terlihat kemerahan karena panasnya api yang sedang melesat ke tubuhnya itu. Namun, di saat kematian akan menjemputnya, dia masih tetap tersenyum dan tidak panik.


"Mirror Force!"


-Bomb!


"Gahhh!" Tiba-tiba muncul luka bakar di tubuh Regulus. Dia kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Kepulan asap masih menyelimuti tempat dimana Lena berdiri. Ketika kepulan asap itu menghilang, terlihat seorang pria berambut hitam sedang berdiri di hadapan Lena melindunginya dari serangan Regulus.


"Maaf aku terlambat, Lena," ucap Sirius.


"Tidak, Aku selalu percaya kau akan datang untuk menolongku." Air mata mulai mengalir membasahi pipi Lena. Dia tidak dapat membendung kebahagiaan yang dia rasakan bisa kembali berbicara dengannya.


"Senang bertemu denganmu kembali, Lena."


"Ya... Aku sangat merindukanmu, Sirius... "

__ADS_1


Setelah berbulan-bulan terpisah, akhirnya mereka berdua bisa bersama kembali.


__ADS_2