The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 16 : Kota Ilmenoy


__ADS_3

Setelah keluar dari Lembah Black Dread dan berjalan selama 3 jam, aku bisa melihat sebuah Kota dari cakrawala. Bukan sebuah Kota yang besar. Kota Ilmenoy awalnya hanyalah sebuah tempat peristirahatan yang di sebut—Ilmenoy Inn. Para pedagang yang menunggu izinnya keluar untuk memasuki wilayah Kekaisaran biasanya akan beristirahat di sini. Lambat laun, tempat ini menjadi populer. Banyak bangunan - bangunan baru yang muncul hingga terlihat menjadi sebuah Kota kecil.


“Hey Sirius, Kota seperti apa Ilmenoy itu?”


“Well… Aku tidak pernah mendengar kabar bagus mengenai Kota ini,” jawabku. “Itu karena Kota ini memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi kau tahu. Dan tidak ada satupun pengelola resmi di Kota ini. Dengan kata lain, ini adalah Kota bebas hukum,” jelasku.


Setelah beberapa saat berjalan, kami akhirnya sampai di Kota Ilmenoy. Orang - orang terlihat bebas masuk dan keluar dari kota ini. Kami berencana hanya untuk beristirahat di sini beberapa jam sebelum pergi ke pos perbatasan Kekaisaran untuk pergi Ke Kota Brashwigh tujuan Lena berada.


“Hey Sirius, aku tidak suka dengan suasana Kota ini,” ucap Lena pelan.


Itu bisa di mengerti, kebanyakan orang yang menghuni Kota ini adalah orang - orang yang tidak memiliki kependudukan. Ditambah ini adalah Kota bebas hukum, sering kali kejahatan terjadi di sini.


Saat kami berjalan, aku melihat seorang anak sedang berjalan meminta - minta kepada orang – orang yang lewat. Tidak lama kemudian, anak itu menghampiri kami.


“Tuan, berbelas kasihlah. Beberapa Colling untukku membeli beberapa Roti,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah topi yang berisikan dua keping Colling.


Anak itu terlihat sangat kurus, kotor dan sangat terlihat lemah. Aku lalu menyadari Lena yang sedang menarik - narik lengan bajuku. Iya-iya aku mengerti, kau tidak harus selalu seperti ini bukan? Aku kemudian mendekati anak itu lalu berkata, “ Dengarkan aku anak muda, aku memberimu beberapa Shilling. Ikuti kata - kataku dengan baik. Belilah makanan yang biasa kau beli. Jika tubuhmu sudah lebih baik, pergilah ke perbatasan dan bekerjalah di Kekaisaran. Jangan sampai kau perlihatkan uang ini kepada orang lain.”


Bocah itu sama sekali tidak mencoba untuk mendengar nasehatku karena tertegun melihat beberapa koin perak di topinya itu. Dia kemudian berlari ke sebuah gang dengan cepat tanpa mengucapkan terima kasih. Seperti yang di harapkan dari bocah - bocah jalanan yang tidak di ajari tata krama. Aku lalu memandangi gang dimana bocah itu pergi.


“Ada apa, Sirius?”


“Tidak apa - apa, Lena. Ayo kita mencari tempat untuk makan.”


Kami kemudian berjalan ke sebuah tempat makan di dekat Ilmenoy Inn, pusat dari Kota ini.


...----------------...


Di sisi lain Kota Ilmenoy, terdapat tiga orang Pria yang sedang berkelahi dengan beberapa orang di sebuah gang.


“Apakah hanya segitu kemampuan kalian?!”


Salah satu dari tiga pria itu lalu melesat dan mengarahkan tinjunya ke arah wajah musuhnya.


Bamm!!


“Heee~ dengan kemampuan seperti ini, berani sekali kalian merampok kami?” Rekan pria itu kemudian menghampiri beberapa musuhnya di arah yang lain.


Para perampok kumuh itu bukanlah tandingan bagi mereka dan tidak lama kemudian, semua perampok itu telah di tumbangkan oleh mereka.


“Well… kurasa ini hal yang bagus untuk dilakukan untuk mengurangi rasa bosanku mencari kandidat itu.”


“Kita sudah dua hari di sini akan tetapi, kita masih belum melihat orang yang cocok dengan karakteristik kandidat Saint itu. Hey Mantis, apakah informasi yang kita terima itu benar?” tanya pria itu pada rekannya yang dari tadi hanya menyaksikan mereka bermain.


“Tentu saja, informasi ini kita dapat dari unit Intelejensi Republik Anconia. Ape, Sarkous, jika kalian sudah bersenang - senangnya, ayo kita pergi ke pusat Kota untuk mengumpulkan informasi,” ajak Mantis.


“Ya~ya.”


Mereka lalu meninggalkan perampok itu dan menuju pusat Kota.


“Hey, bagaimana menurutmu dengan kekuatan yang dimiliki pengawalnya?” tanya Ape.


“Peduli apa? Memangnya, apa yang bisa dilakukan oleh seorang Assassin Ouroboros?” balas Sarkous.

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu Mantis?”


“Well… aku pernah melawan salah satu dari mereka dulu,” jawab Mantis. “Mereka sangat ahli dalam menyergap musuh dan bertarung pada jarak dekat. Memiliki barang - barang aneh dan pembawaan bertarung yang sangat berpengalaman,” jelasnya.


“Hee~ Menarik.”


“Tapi ingat baik - baik, misi utama kita adalah menculik Kandidat Saint. Jika ada kesempatan, kita harus secepatnya harus membawanya ke hadapan Tuan Geldoro.” Mantis mengingatkan kembali rekan - rekannya.


Setelah sampai di pusat Kota, mereka kemudian memasuki sebuah restoran dekat dengan Ilmenoy Inn. Mereka kemudian memesan makanan lalu duduk di tengah - tengah restoran itu.


“Makanan di sini sangat membosankan kau tahu,” ujar Sarkous.


“Apa yang kau harapkan dari Kota jadi - jadian?”


“Cepatlah selesaikan, aku ingin cepat - cepat mengakhiri misi ini dan kembali ke garis depan peperangan,” tegur Mantis.


“Hey Mantis, mataku tidak salah bukan? lihat itu di belakangmu, di dekat dinding tidak jauh dari tangga.” Ape menunjuk sesuatu di belakang Mantis.


Dia berbalik lalu melihat seorang wanita buta berambut platinum sedang makan dengan seorang pria berambut hitam. Mantis kemudian membeku lalu berbalik menghadap rekan - rekannya.


“Rekan - rekanku sekalian, kita menemukannya.”


...----------------...


Setelah selesai makan, aku dan Sirius keluar dari restoran tersebut.


“Hey Sirius, bolehkah kita mampir ke Kuil yang kita lewati tadi? Aku sudah terlalu lama tidak ke Kuil kau tahu,” pintaku pada Sirius.


Sirius kemudian mengantarku ke Kuil yang ada di pinggiran Kota Ilmenoy. Akhir - akhir ini, Sirius terlihat lebih rileks dari biasanya. Dia juga lebih penurut dengan apa yang ku kehendaki. Jika sebelumnya, dia pasti akan membantah ini dan itu jika ku suruh melakukan hal baik. Kurasa ini perubahan yang baik.


Setelah beberapa saat berjalan, kami akhirnya tiba di kuil dan di sambut oleh seorang pendeta Kuil.


“Salam saudaraku, apa ada yang bisa ku bantu?” tanya pendeta itu.


“Temanku ingin berdoa di sini, apakah itu tidak apa - apa?" tanya Sirius.


“Tentu saja boleh, silahkan masuk.”


“Baiklah, Lena. Aku tidak akan lama kali ini,” ucap Sirius.


“Ummm.”


Aku lalu mendengar langkah kaki Sirius yang mulai menjauh. Aku secara tidak sadar mulai memegangi kalung yang di berikannya tempo hari.


“Baiklah Nona, tolong ikuti aku.”


Aku kemudian mengikuti pendeta ke ruangan doa. Dia bilang, para pengurus pusat di Ibu Kota Kekaisaran membuatkan tempat ini untuk para pedagang dan pengembara berdoa meminta keamanan dan arahan Dewi Athena.


Aku kemudian berlutut dan menyilangkan jari - jemariku dan mulai berdoa. Aku bersyukur masih diberikan keselamatan selama perjalanan ini oleh Dewi Athena. Awal perjalanan memang sangat menakutkan karena serangan - serangan musuh. Akan tetapi, setelah bertemu dengan Sirius, perjalanan ini menjadi seperti apa yang selalu aku cari. Berpetualang menemui hal baru, mengetahui berbagai hal baru, bertemu dengan orang - orang yang unik dan permasalahan mereka. Aku sangat menikmatinya. Semua berkat dirinya.


Brakkk!


Tiba – tiba aku mendengar bunyi suara dobrakan pintu.

__ADS_1


“Apa - apaan ini?! tidak boleh ada yang memasuki tempat suci ini dengan cara seperti itu!” Aku mendengar suara pendeta berteriak.


“Hei~hei tenang pendeta. Kami juga ingin ikut berdoa kau tahu, terutama bersama Nona yang di sana itu.”


Aku mendengar seorang pria berbicara. Aku tidak suka dengan nada bicaranya kepada pendeta.


“Sudah kubilang kalian ti—“


BAMMM!


Aku mendengar sebuah hantaman karena pukulan, aku rasa pria itu memukul pendeta.


“Hey Tuan! Apa maksud kalian kemari tiba - tiba datang kesini dan membuat keonaran?!” tanyaku dengan nada tinggi.


“Hehehe~ Sudah kubilang, kami kesini untuk mencarimu Nona.”


“Eh?”


...----------------...


Setelah membeli suplai perlengkapan dan berjalan kembali untuk menemui Lena, aku menemukan sesosok anak kecil tergeletak babak belur di penuhi luka di sekujur tubuhnya.


“Hee~ ternyata dia bisa mencuri sebanyak ini!”


“Padahal dia baru saja masuk ke Geng kita, bagaimana si lemah ini melakukannya?”


Terdapat beberapa anak yang sedang menghitung uang yang tadi aku berikan ke bocah ini.


Aku berjalan untuk mengecek tubuhnya. Aku meletakkan telapak tanganku di urat nadi lehernya.


Dia sudah mati.


“Bodoh, seharusnya kau dengarkan nasehatku tadi, bocah,” gumamku.


Aku kemudian berdiri dan menatap tajam para bocah itu.


“A-apa yang kau mau?”


Para bocah itu terlihat ketakutan ketika aku menatap mereka dengan tajam.


“Enyahlah dari sini kalian!” Bentakku.


“Hiiiikkk!”


Mereka kemudian lari terbirit - birit meninggalkan tempat ini.


Ini mungkin menjadi pelajaran untukku kedepannya. Jika kau ingin menolong seseorang yang tidak berdaya, tolonglah mereka sampai akhir.


Tiba - tiba, aku merasakan kalungku bergetar menandakan Lena telah bergerak di luar jangkauan pengawasanku.


“Lena… .”


Aku kemudian berlari secepat mungkin ke lokasi Kuil itu namun sayang, Lena sudah tidak berada di Kuil itu.

__ADS_1


__ADS_2