
Justice Will Prevail... itulah Motto keluarga Ritterburg yang terkenal memiliki unit Ksatria paling kuat di Kekaisaran. Keluargaku menjunjung tinggi keadilan, dan tidak akan pernah mentoleransi orang-orang yang menciderai hal itu.
Karena itulah keluarga Ritterburg menjadi salah satu Keluarga yang paling dihormati di Kekaisaran. Karena itu juga Sang Kaisar yang sekarang—menikahkan adiknya sendiri—ibuku dengan ayahku.
Berbicara tentang ibuku, dia adalah wanita yang paling disegani setelah Sang Saint di Kekaisaran. Kecantikannya, kedermawanannya, Karismanya, semua hal yang ada pada dirinya mempresentasikan bagaimana seorang Putri Kekaisaran harusnya terlihat. Dia adalah permata keluarga Habsburg.
Jika Keluarga ayahku mengajariku tentang tindakan keras terhadap kejahatan, sebaliknya dengan ibuku, dia mengajariku tentang mengasihi dan memberi kesempatan kepada manusia. Karena sejatinya, tidak ada manusia yang sempurna luput dari kesalahan. Termasuk diri kita.
Namun ketika aku berumur 6 tahun, hal itu terjadi. Ibu dan aku sedang mengunjungi tempat dimana orang-orang yang kurang berada tinggal. Ibu selalu rutin membantu mereka karena kebaikan hati yang dia miliki.
Kami pergi dengan menyamarkan diri dan membawa penjagaan yang tidak terlalu banyak agar tidak menjadi perhatian publik.
Setelah selesai dengan kegiatan di sana, ketika kami hendak pergi, ada seorang anak kecil yang hendak memberikan ibuku sebuah kue. Dia bilang, warga di sana yang membuatkannya sendiri sebagai bentuk terima kasih dari mereka.
Ketika pengawal hendak menyuruhnya untuk pergi, ibuku mencegah mereka. Dia membiarkan anak itu mendekat. Namun, ketika ibuku akan mengambil makanan itu, anak kecil itu tiba-tiba menusukkan sebuah pisau ke dada ibuku.
"Ini pembalasan dari kaumku—Suku Aryan!" kata anak kecil itu
Penjaga bergegas menangkap mereka, seseorang mencoba untuk menyelamatkan nyawa ibuku. Tapi nahas, ibuku tidak tertolong. Dia bilang, pisau yang digunakan anak itu telah diberi racun mematikan.
Kami tidak membawa seorang Healer sama sekali ketika menuju ke sini.
Namun, meski kebaikan hatinya telah dikhianati seperti itu. Ibu tetap menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman.
Kata-kata anak itu tentang pembalasan dari kaumnya, aku tidak mengerti sama sekali kenapa dia ingin membunuh ibuku.
Menurut penjelasan ayahku, Kekaisaran pada waktu itu sedang melakukan sebuah penyerangan terhadap salah satu suku yang memberontak di sekitar perbatasan.
"Dengar Serena, niat jahat itu tidak memandang bulu kepada siapa hal buruk itu akan muncul. Setiap orang memiliki sisi gelap masing-masing. Jadi janganlah kau mempunyai belas kasih terhadap para kriminal sampah itu." Ayahku, walaupun memiliki pandangan yang bersebrangan dengan ibuku, dia benar-benar sangat mencintainya.
Karena itulah, dia tidak ingin aku—anaknya satu-satunya mempunyai pikiran naif seperti ibuku. Dia mengatakan, keadilan itu tak pandang bulu.
Ketika umurku sudah memasuki 8 tahun, ayahku meminta pamanku—Georgy untuk melatihku berpedang. Dia adalah Ksatria Ekslusif Sang Saint. Terkenal sebagai Ksatria terkuat Kekaisaran.
Namun, dia tidak datang seorang diri. Dia membawa seorang anak laki-laki seumuranku. Namanya adalah Jerold. Ketika paman sedang menjalankan sebuah misi, dia menemukan bayi yang terlantar di sebuah tempat pembuangan.
Dari saat itu, dia merawat anak itu bagaikan anaknya sendiri dan melatihnya untuk menjadi seorang Ksatria terhebat.
Namun, ada sesuatu yang aku tidak suka dengan anak itu. Dia terlalu naif sama seperti ibuku. Dan satu hal lagi yang membuat aku tidak suka dengannya, aku sama sekali tidak pernah menang berduel dengannya.
Kata paman, Jerold memiliki potensi untuk melampaui dirinya.
Aku dan Jerold hampir setiap hari berlatih bersama paman. Lambat laun, hubunganku dengan Jerold semakin dekat. Umur kami menginjak 13 tahun saat itu, dan selama 5 tahun, aku sama sekali belum pernah mengalahkannya dalam duel.
"Serena, apakah kau mempunyai cita-cita yang ingin dicapai nanti?"
__ADS_1
Menikahimu mungkin? Aku ingin sekali mengatakan hal itu, namun aku tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya.
Ya, aku selalu mengaguminya setelah dekat dengannya selama 5 tahun. Dia pekerja keras, jujur, dan hatinya sangat baik. Seperti ibu.
Aku sekarang mengerti mengapa ayah sangat mencintai ibu walaupun mereka memiliki pandangan yang berbeda.
"Cita-cita, kah? Hm... aku belum memutuskan hal itu. Jerold, kau sendiri, apakah kau mempunyai cita-cita atau tujuan tertentu yang ingin dicapai?" tanyaku penasaran.
"Ya... Kau mengerti tentang asal-usulku dari Master Georgy bukan? aku dibuang sejak masih bayi. Aku yakin, pasti masih banyak bayi-bayi yang tidak beruntung sama sepertiku diluar sana," katanya sambil melihat langit-langit.
"Aku ingin menghilangkan segala kemalangan yang terjadi kepada orang-orang di dunia ini... Layaknya seperti seorang pahlawan yang menghilangkan keresahan orang-orang dimanapun mereka berada."
Yap, Jerold adalah orang yang naif. Tapi itulah yang menjadi daya tariknya, mengapa dia bisa menjadi sekuat itu. Dia memiliki tujuan mulya yang ingin dia capai.
"Hey! mengapa kau senyum-senyum seperti itu padaku Serena! Kau meledek ku dalam pikiranmu bukan? Ughhh... kau selalu mengolok-olokku sedari kita kecil!" wajahnya memerah ketika mengatakan hal itu.
Imutnya...
"Ahahaha! Tidak-tidak Jerold. Sejujurnya, aku mengagumimu kau tahu... "
"Sungguh? Kau tidak sedang meledekku?" tanyanya ragu.
"Iya-iya, ayo kita kembali latihan! Kali ini, aku akan mengalahkanmu!" Mendengar tantanganku, dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Waktu berlalu, umur kami menginjak 17 tahun. Jerold telah menjadi seorang Ksatria Suci termuda waktu itu. Dia terkenal sebagai talenta muda paling menjanjikan di Kekaisaran.
Terdapat sebuah kalung yang ada di lehernya. Paman Georgy memberikan kalung itu sebagai hadiah karena kami telah melewati masa pelatihan dengannya.
"Ya... Hajar para orang-orang jahat itu, Jerold," kataku sambil membalas senyumannya.
"...!" Tiba-tiba dia memelukku.
"Terima kasih, Serena... setelah misi ini... A-ku, aku... " Dia tiba-tiba menjadi gagap berbicara.
Apa yang terjadi dengannya? Aku melepaskan pelukannya lalu melihat wajahnya memerah.
Melihatnya, aku hanya tersenyum lembut.
"Fufufu~ Jika kau tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya, selesaikanlah misimu kali ini supaya kau mempunyai kepercayaan diri untuk mengatakannya padaku dengan jelas," godaku padanya.
"...!" Mendengar kata-kataku, dia kemudian berbalik.
"Aku akan menyelesaikan misinya dan menyatakan perasaanku padamu! Kau tunggu saja!" Dia mengatakan hal itu sambil berlari.
"Ahahaha! Aku akan menunggumu, Jerold!" seperti biasa, dia memang imut sekali.
__ADS_1
Satu minggu telah berlalu, seharusnya Jerold akan kembali malam ini. Aku menunggunya ditempat kami biasa latihan. Dimana kami pertama bertemu.
Mendengar sebuah langkah kaki, aku kemudian berbalik. Namun, bukannya melihat Jerold, Paman Georgy sedang menghampiriku dengan ekspresi yang suram.
Apakah terjadi sesuatu?
"Serena... Mengenai Jerold..."
Kami berdua lalu pergi ke Kastil Ksatria Ritterburg. Di sana aku menemukannya, Tubuh Jerold yang sudah tidak bernyawa. Tepat di bagian jantungnya, terdapat sebuah luka tusukan.
"Tidak, tidak, tidak! Jerold! Bangunlah Jerold!"
Aku tahu, berteriak seperti itu tidak akan membawanya kembali. Aku tahu, mengguncang-guncang tubuhnya tak akan membuat matanya kembali terbuka.
Namun aku tak kuasa menahan rasa sedihku. Aku menangis, air mataku mengucur membasahi pipiku.
"Paman! Apa yang terjadi kepada Jerold! Apa yang terjadi dengan misinya!?"
Paman menceritakan, awalnya misi yang dilaksanakan oleh Jerold hanya membantu untuk mengungsikan beberapa warga di perbatasan. Namun, Tiba-tiba beberapa iblis muncul.
Jerold dan timnya berhasil mengalahkan iblis-iblis itu. Akan tetapi, seorang Assassin dari Ouroboros muncul. Dia seorang diri membantai para Ksatria Suci yang ada di sana.
Tersisa Jerold dengan satu rekannya. Jerold bertarung satu lawan satu dengan Assassin itu sedangkan rekan Jerold dia perintahkan untuk kembali ke markas untuk melapor meminta bala bantuan.
Akan tetapi, ketika dia kembali ke sana dengan bala bantuan. Hanya mayat Jerold saja yang dia temukan.
Aku kemudian melihat kembali tubuh Jerold. Kalung pemberian paman tidak ada sama sekali dilehernya. Menurut paman, Assassin itu mungkin mengambilnya sebagai souvenir karena telah membunuhnya.
Mendengarnya, aku tak kuasa menahan amarah ku. Dendam menguasai hatiku. Assassin Ouroboros... Aku akan memusnahkan mereka. Aku akan membunuh semua para kriminal itu! Aku bersumpah di depan makam Jerold.
Pada hari itu, aku tidak pernah mempunyai belas kasih kepada para kriminal. Mereka telah merenggut dua orang yang aku sayangi di dunia ini.
Aku... Akan membinasakan mereka.
Justice Will Prevail...
Assassin Ouroboros... Aku akan membalaskan dendam Jerold apapun yang terjadi.
***
"Ughhh... Dimana aku?"
Kalau tidak salah, Monster bajingan itu menarikku jatuh bersamanya.
Aku mencoba untuk berdiri. Akan tetapi, aku tidak bisa menggerakkan sama sekali satupun bagian tubuhku.
__ADS_1
"Ketua, Anda sudah bangun?" Aku mendengar suara seorang pria.
Dia mempunyai rambut hitam dan mata hitam. Dia adalah si anak baru itu.