
[ Georgy POV ]
Ca-cahaya itu, mungkinkah? Seorang Saint telah terpilih tanpa dilakukannya ritual pemanggilan!?.
Di lihat dari arah cahaya itu, mungkinkah kandidat Saint yang sedang kucari itu menjadi yang terpilih?
Aku harus bergegas. Jika memang benar dia yang terpilih, para Apostle itu pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.
Aku mempercepat lariku dan tidak lama kemudian, aku melihat seorang wanita yang sedang duduk dan seorang pria yang tidur di paha wanita itu.
Ketika aku mendekat, wanita itu kemudian menengok ke arahku.
“Apakah kau yang bertugas untuk menjemputku?” tanya wanita itu dengan suara yang lembut.
Aku kemudian berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalaku.
“Benar sekali, Saint Agung. Saya adalah Georgy von Ritterburg. Saya akan mengantarmu ke Kuil utama di Ibukota Kekaisaran.”
“Begitukah…”
Aku kemudian mengangkat kepalaku dan melihat Sang Saint sedang tersenyum sambil membelai rambut dari pria itu. Aku kemudian melihat kalung yang ada di leher pria itu.
“….!”
Itu adalah Assassin Ouroboros yang berpapasan denganku tadi di kota. Aku kemudian refleks meraih gagang pedangku.
“Apa yang akan kau lakukan?” ucap Sang Saint dengan nada dingin.
Tatapan matanya membuatku bergetar. Untuk sesaat, aku tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku. Dia seperti dapat merasakan niat jahat ku pada pria itu.
“S-saint yang Agung. Dia adalah salah satu anggota dari Organisasi terlarang Ouroboros. Terdapat perintah untuk menangkap atau membunuhnya di seluruh penjuru Kekaisaran.”
“Begitu, kah? Hey Sirius, kau melakukan banyak hal buruk melebihi dari yang aku bayangkan fufufu…Bagaimana nantinya aku mendisiplinkanmu ya…?”
Sang Saint kembali tersenyum.
“Tapi Saint Agung, dia telah melakukan segala tindakan yang melanggar hukum. Sudah menjadi kewaj—“
“Tuan Georgy.” Sang Saint tiba-tiba memotong perkataanku. “Tanpanya, aku mungkin sudah di bawa pergi jauh oleh para penculikku.”
Aku baru menyadari, kondisi area ini seperti telah terjadi pertarungan beberapa saat yang lalu. Aku kemudian melihat sebuah mayat dengan bentukan kepala aneh tidak jauh dari sini.
Aku berjalan menghampiri mayat itu. Dia mati dengan mengenaskan. Dari ciri-cirinya, aku bisa mengetahui mayat ini adalah seorang Apostle.
Apakah Assassin itu menghadapi tiga Apostle itu sendirian?
Aku kemudian mengambil sedikit sampel dari mayat itu lalu kembali ke hadapan Sang Saint.
“Tuan Georgy, bagaimana jika aku memilihnya sebagai salah satu dari kelima pahlawan.”
Mendengar perkataan Sang Saint, aku sangat terkejut.
“Saint Agung, hanya manusia yang tidak memiliki jiwa yang gelap lah yang dapat terpilih menjadi pahlawan. Jika Anda menggunakan kekuatan Eyes of Truth, aku jamin Anda dapat melihat jiwa Assassin yang kotor itu.”
“Eyes of Truth?” tanya Sang Saint kebingungan.
“Ya. Semua Saint memiliki kemampuan itu untuk melihat bagaimana kondisi dari jiwa seseorang. Saint sebelumnya, Nona Olivia juga dapat menggunakannya,” ungkapku mengingat seorang wanita yang selalu aku damping kemanapun dia pergi.
“Begitukah?”
Sang Saint kemudian menatap Assassin itu lalu terdiam.
“Kau benar, jiwa Sirius sangat gelap sekali di bandingkan dengan dirimu Tuan Georgy.”
“Jiwaku?” tanyaku kebingungan karena Nona Olivia tidak pernah memberi tahuku bagaimana warna jiwaku ini.
__ADS_1
“Ya… berbeda dengan Sirius yang hitam pekat, aku melihat warna hijau cerah dalam jiwamu,” ungkapnya. “Apa artinya warna-warna yang berbeda itu Tuan Georgy?”
“Begitukah, hijau ya…. Saya akan memberi tahu Anda arti dari warna-warna itu Saint Agung. Untuk sekarang, mari kita bergegas untuk pergi ke Ibukota untuk melakukan upacara Seremonial pengangkatan Anda menjadi Saint.”
Setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba Sang Saint terdiam.
“Bisakah, kau memberiku sedikit waktu untuk tetap bersamanya?” pintanya dengan nada lembut.
“Tentu Saja.”
...----------------...
“Ughhhh.”
Kepalaku sangat sakit sekali. Aku melihat sinar bulan purnama di kegelapan malam.
Apa yang terjadi? Oh benar, aku sedang sekarat ketika melawan Apostle itu. Aku kemudian meraba dadaku akan tetapi, luka yang aku terima dari serangannya tadi menghilang.
Huh? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Lena!”
Aku melihat sekelilingku untuk mencari Lena. Akan tetapi, baik Lena ataupun Apostle itu tidak nampak di sekitar sini.
Apakah mereka telah membawanya? Bagaimana aku bisa pulih dari serangan telak itu? Banyak sekali yang tidak ku mengerti. Aku kemudian mencoba bangun untuk lebih mengerti keadaan sekitar.
Kemudian aku melihat sebuah gulungan sihir tidak jauh dari tempatku berdiri.
Aku mengambilnya lalu membukanya. Terdapat sebuah Rune yang menandakan Gulungan ini tidak lama di pakai.
Aku kemudian meletakkan telapak tanganku di gulungan itu dan mengalirinya dengan mana.
Tidak lama kemudian gulungan itu mulai bercahaya.
“Sirius, ini aku, Lena.”
“Aku ingin kau mengetahui bahwa aku baik-baik saja. Ada seorang kenalanku menyelamatkanku dari para penculik itu.”
Begitukah? Lalu, mengapa kau meninggalkan gulungan ini? mengapa dia tiba-tiba menghilang.
“Maafkan aku karena hanya meninggalkanmu dengan gulungan pesan ini. Orang yang menyelamatkanku ingin bergegas membawaku ke Kota Braswigh dimana tujuan awalku semula.”
Kalau begitu, ini menjadi masuk akal. Aku berpikir begitu akan tetapi, aku merasakan sedikit kehampaan dalam hatiku. Perasaan ini hampir sama seperti saat aku meninggalkan Master di sana.
“Kau tahu Sirius, aku sangat berterima kasih atas segalanya yang Sirius lakukan untukku,” ucap Lena dengan nada bicara yang mulai berubah.
“Semenjak berpetualang denganmu… Banyak sekali hal-hal yang telah aku alami.” Nada bicaranya kini menjadi lebih riang.
“Menjelajahi perkotaan, singgah di desa yang indah sampai melewati lembah yang mengerikan.” Aku membayangkan ekspresi wajahnya yang bersemangat ketika berbicara tentang hal-hal tadi.
“Walaupun banyak juga kesusahan yang kita hadapi juga, untuk keseluruhannya, berpetualang denganmu adalah pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan.”
Mendengar perkataan Lena membuat kedua sisi bibirku terangkat.
“Akan tetapi maaf, karena masa lalu Sirius, orang-orang yang menjemputku tidak memperbolehkanku berdekatan dengan Sirius.” Nada bicaranya berubah kembali menjadi sedih.
“Tapi jangan khawatir! Perpisahan ini hanya sementara! Aku akan menemuimu di saat aku menjadi seorang penyembuh yang hebat. Aku akan tunjukkan pada Sirius, bahwa wanita buta sepertiku itu bukan hanya bisa menjadi beban saja!” Dia mengatakan itu dengan suara yang menggebu-gebu seperti saat aku bocah dulu.”Dan Sirius juga jangan melupakan tujuan awalmu ya… kau harus menjadi seorang Patrol Guard yang selalu membantu warga tanpa pandang bulu!” Kata-katanya mengingatkanku pada Kak Alissa.
“Sampai saat itu tiba, Sirius…. Terima kasih atas segalanya…”
Setelah mengungkapkan rasa terima kasihya kembali, Gulungan suara itu kemudian terbakar.
Mendengar pesan terakhir dari Lena itu membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.
“Baiklah… kurasa kembali ke tujuan awalku. Kota Wien, Ibukota Archduchy Astria.”
__ADS_1
Master Lilith… kurasa, aku telah melangkah lebih dekat ke jalan yang Master perintahkan padaku.
...----------------...
Kota Pendragon, ibukota Kerajaan Brichnoig.
Dua orang pria tengah berjalan di sebuah Istana. Mereka sedang di perintahkan untuk menemui Sang Raja dalam sebuah pertemuan penting.
“Master… menurutmu, apa yang ingin Raja bicarakan denganku?” tanya seorang pria berumur antara 19 -20 tahunan.
“Kau akan tahu jika sudah sampai di sana nanti,” jawab Guru pria itu.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka telah sampai di pintu masuk ruangan Utama Istana Kerajaan.
“Earl Alain Yorke dan Arthur, Raja sudah menunggu kedatangan kalian. Silahkan masuk,” ucap penjaga pintu seraya membukanya untuk mereka.
Earl Alain lalu mengangguk lalu mereka berdua pun masuk kedalam ruangan utama Istana.
“Earl Alain Yorke dan Arthur memasuki ruangan utama Istana!” seorang pelayan Raja meneriakkannya untuk menginformasikan semua orang yang hadir.
Mereka berdua berjalan menuju Raja yang sedang duduk di singgasananya. Tatapan para bangsawan yang hadir membuat Arthur muda sedikit gugup.
Setelah mereka berada di hadapan Raja, Alain dan Arthur langsung berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepala mereka.
“Yang mulia Raja George, Aku Alain Yorke beserta muridku Arthur, menjawab panggilan Yang Mulia untuk menghadap!” Alain berbicara menunjukan rasa hormatnya dan etika bangsawan kepada Tuannya.
“Ahh Alain, kau bisa berdiri. Sudah lama kau tidak mengunjungi istana,” ucap Raja George lembut.
Alain lalu berdiri dan menjawab Rajanya.
“Maafkan aku Yang Mulia, aku sangat di sibukkan melatih para talenta muda untuk menjadi kandidat pahlawan yang akan di kirim ke Kekaisaran Habsburg.”
“Ohh~ jadi pemuda inilah yang akan berangkat kesana? Mendekatlah anak muda,” perintah Raja George kepada Arthur.
Arthur lalu berjalan mendekati Raja George seperti yang di perintahkan. Raja George lalu memperhatikan wajah dan ekspresi dari Arthur. Dia kemudian berjalan mengelilinginya seperti sedang menganalisa barang.
“Siapa namamu tadi anak muda?”
“Namaku Arthur, Yang Mulia,” jawab Arthur se sopan mungkin.
“Arthur ya… jadi kau adalah murid terbaik dari Alain the Lionheart.”
“Betul Yang Mulia! Aku sangat beruntung bisa mendapat bimbingan dari Ksatria terkuat Kerajaan!” ucapnya lantang.
“Hey Arthur, kau tidak boleh berbi—“
“Tidak apa-apa Alain. Aku suka pria yang bersemangat kau tahu,” potong Sang Raja sebelum Alain memarahi muridnya yang blak-blakan itu.
“Seperti yang di katakana gurumu, Arthur. Earl Alain mempunyai tugas untuk melatih talenta muda di segala penjuru negeri untuk menjadi seorang kandidat pahlawan.” Terus terang Raja pada Arthur.
“Ini artinya, kau akan pergi ke Kekaisaran Habsburg untuk meraih gelar pahlawan dan membawa pedang legendaris kembali ke pangkuan Kerajaan Brichnoig.”
“Ya! Aku siap mengemban tanggung jawab itu!” ucap Arthur dengan tekad yang tinggi.
“Hee~ kau percaya diri sekali akan terpilih, apa yang membuatmu memiliki mentalitas seperti ini?” tanya Sang Raja.
“Karena aku adalah murid terbaik Sang Hati Singa dari Brichnoig! Aku tidak mungkin mengotori nama Guruku dengan gagal menjadi yang terpilih!”
“Hoo~ baiklah. Tiga hari lagi, kau dan gurumu akan berangkat untuk melakukan Trial dari Sang Saint kepadamu sebagai kandidat seorang Pahlawan.”
“Yes! Your Majesty!”
...----------------...
__ADS_1
...Author Note : Illustrasi baru Lena tanpa luka bakar...