The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 2 : Serena von Ritterburg


__ADS_3

Setelah kami mendekat ke sumber suara ledakkan, terlihat gedung museum yang terlah terbakar. Banyak orang yang panik berlarian di sekitar area museum. Tidak jauh dari gedung, aku melihat beberapa petugas keamanan yang terluka. Tidak lama kemudian, anggota-anggota yang lain telah sampai untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.


Terlihat beberapa orang yang sedang menaikkan sesuatu dalam karung ke sebuah kereta kuda.


Mereka lalu menyadari kami mendekat dan melakukan sebuah gestur dengan tangan mereka.


“Hey Sirius, kurasa mereka bukan orang-orang yang terlihat bersahabat,” ujar Senior Hans.


Tak lama kemudian muncul tujuh orang dari arah museum. Beberapa dari mereka membawa sebuah benda yang aku sangat familiar di tangan mereka.


“Senior, kau lihat benda yang di tangan mereka? Ketika mereka mengarahkannya pada Senior, bergegaslah menghindar.”


“Apa maksudmu Si—“


Dorr!


Tidak sempat menyelesaikan perkataannya, orang-orang itu mulai menembaki kami. Aku dan Senior langsung menghindar dan berlari mencari perlindungan di balik sebuah Stal dagangan.


Dorr! Dorr! Dorr!


Serpihan kayu mulai berhamburan karena orang-orang itu kembali menembaki kami.


Untung saja Kayu ini tebal.


“Heyy Sirius! Apa-apan benda yang mereka pegang itu!” teriak Senior di samping wajahku.


Terlihat pipinya berdarah terkena goresan dari peluru benda itu. Dia cukup beruntung ternyata.


“Penjelasannya nanti saja Senior! Kurasa mereka telah mencuri Zirah Agung yang ada di museum!”


Aku kemudian berbalik dan mengintip mereka. Orang-orang itu mulai melarikan diri dan membawa Zirahnya lari dengan kereta kuda itu.


Tidak lama kemudian, para Patrol Guard yang lain mulai berdatangan bersama Wakil Ketua. Aku kemudian menjelaskan pada mereka semua yang terjadi dan mengenai senjata yang mereka pakai.


“Ludger, kah? Kurasa aku juga pernah mendengar istilah itu,” ucap Wakil Ketua.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Hans.


Wakil Ketua lalu diam sejenak sebelum berbicara.


“Pimpinan bersama tujuh anggota lainnya sedang bergerak ke arah jalan menuju gerbang kota. Jika tujuan mereka adalah membawa pergi Zirah itu, kurasa mereka akan menuju kesana,” ungkap Wakil ketua. “Lebih baik kita segera bergegas, kita akan melewati jalur pasar untuk memotong agar kita bisa segera menyusul mereka. Dengan membawa kereta kuda, mereka tidak akan bisa melewati gang-gang sempit.”


Sesuai arahan Wakil Ketua, kami lalu mulai berlari melewati pusat perbelanjaan Kota Wien. Orang-orang di sana terlihat kebingungan melihat kami—Patrol Guard terlihat sedang terburu-buru.


Setelah berlari selama beberapa menit, kami lalu melihat kereta kuda para pemberontak itu. Terlihat di gerobak itu terdapat sebuah benda tertutup kain. Sekitar lima orang berada di gerobak kereta kuda itu terlihat menjaga benda tertutup kain itu. Kereta kuda itu juga di kawal oleh 10 orang pengendara kuda yang ada di sekitarnya.


“Kita lumpuhkan terlebih dahulu para pengawal berkuda mereka! Kita kelilingi mereka di masing-masing sisi!” perintah Wakil Ketua.


Aku, Senior Hans dan dua anggota lainnya mengejar mereka dari bagian samping kiri sedangkan Wakil Ketua dan empat anggota lainnya dari samping kanan.


Kami lalu mulai berlari melewati gang-gang sempit Kota agar dapat lebih cepat mengejar kereta kuda itu.


Kami lalu tiba di sebuah persimpangan mendahului para pemberontak itu. Bersembunyi di balik tembok gang menunggu untuk menyerbu ketika mereka akan berbelok ke jalan utama menuju gerbang kota.


“Hey, kalian. Kita akan menghabisi pengawal kudanya terlebih dahulu. Serang mereka sesuai aba-abaku. Kalian mengerti?” instruksi Hans.


Kami bertiga mengangguk. Tidak lama kemudian, rombongan kereta kuda itu terlihat sedang menuju persimpangan ini.


“Hey Junior, ini kali pertamamu menghadapi situasi ini. bergerak sesuai instruksiku dan jangan gegabah.”


“Tentu saja, Senior. Kita akan menumbangkan mereka semua dalam penyergapan ini.”


Kereta itu lalu mulai berbelok ke arah jalan utama gerbang kota.


“Bersiap…”


Aku kemudian mengambil tutup tong sampah yang terbuat dari besi lalu tiba-tiba berlari kemudian melompat ke salah satu pengendara kuda yang mengawal kereta kuda itu. Aku menyerangnya dengan lututku menggunakan teknik Flying Knee. Seranganku tepat mengenai wajahnya yang membuatnya terpental dari kudanya.


“Goblokk! Aku bilang tunggu aba-abaku!”


Ketiga rekan-rekanku kemudian ikut meloncat untuk menyerang para pengawal berkuda.

__ADS_1


Aku kemudian mengendari kuda ini dan tidak lupa mengambil sebuah Ludger yang dia pegang tadi dan menyimpannya di sakuku.


“…!”


Para pemberontak itu terkejut mendapati rombongan mereka di serang secara mendadak. Mereka lalu mengarahkan Ludger mereka ke arahku.


Dorr! Dorr! Dorr!


Aku beruntung membawa tutup tong sampah ini sehingga berhasil terlindung dari tembakan mereka. Mendengar suara tembakan, para warga kota di sekitar jalanan menjadi panik.


Aku kemudian melihat sebuah tali bergelantungan yang terhubung ke kereta kuda.


“Bodoh tembak kuda yang di kendarai Patrol Guard itu!”


Dorr!


Mereka menembak kudaku yang membuatku harus melompat dan menggapai tali yang bergelantungan di kereta kuda itu. Aku meletakkan tutup tong sampah itu di bawah kakiku menggunakannya sebagai seluncuran agar tetap bisa mengikuti mereka.


“Apa yang kalian lakukan! Cepat bunuh dia!”


Dor! Dor! Dor!


Aku kemudian melakukan manuver dengan mengontrol pijakanku pada penutup tong sampah itu untuk menghindari tembakan mereka.


“Potong saja talinya!”


Aku melihat sebuah papan yang bersandar di sebuah tumpukan barang dan meluncur melewati papan itu.


Tali yang ku pegang kemudian di potong oleh mereka. Aku lalu melompat memanfaatkan momentum kecepatanku ke depan kereta kuda itu kemudian mengambil Ludger dan mengarahkannya ke kaki kuda yang membawa gerobak itu.


Dor!


Kudanya terjatuh yang membuat supir kereta kuda itu kehilangan kendali dan membuat kereta kuda itu terguling.


“Sial! Habisi dia!”


Aku kemudian mendarat dan melihat beberapa pengawal kuda itu turun lalu menarik pedang-pedang mereka. Terlihat para pengawal yang memegang Ludger juga mengarahkan senjata mereka itu padaku.


Dor! Dor! Dor!


Para pengawal yang memakai pedang.


Tiga orang berlari ke arahku. Salah satu di antaranya menebaskan pedangnya. Akan tetapi, aku dapat dengan mudah menghindarinya. Aku kemudian menggapai lengannya dan melakukan sebuah kuncian untuk melucuti senjatanya.


Pria di belakangnya hendak menyerangku juga akan tetapi, aku menggeser pria yang aku kunci tepat di depanku. Pedang pemberontak itu berhenti hampir membunuh rekannya sendiri. Aku kemudian mendorongnya membuat kedua pria itu bertabrakan.


“Woy Sirius! Kau akan di hukum karena bergerak tanpa perintah!” Terlihat Hans dan beberapa Patrol Guard lainnya yang di pimpin Wakil Ketua datang.


“Sial! Kita kabur! Berpencar!” perintah salah satu dari pemberontak itu.


“Tangkap mereka semua! Jangan biarkan mereka kabur!” Wakil Ketua langsung maju menghadapi para pemberontak itu.


Aku menumbangkan ketiga pemberontak tadi yang berlari ke arahku. Dalam pertarungan jarak dekat, Para Patrol Guard memiliki keunggulan dari para pemberontak yang menggunakan senjata Ludger.


“Hey! Aku tahu kau! Kau yang mencoba menembak kepalaku tadi di museum kan!” teriak Hans seraya berlari ke salah satu pemberontak.


Pemberontak itu mengarahkan kembali Ludgernya ke arah Hans.


Dor!


Hans menunduk dan melakukan sebuah tekel kepada pemberontak itu dan membuatnya terjatuh. Hans melucuti Ludger pemberontak itu lalu mulai memukulinya sambil menaiki dada pemberontak itu.


BAM! BAM! BAM!


“Rasakan ini! Beraninya kau mencoba membunuhku di saat aku belum kesampaian meraba gumpalan dada Wakil Ketua!”


Suaranya terdengar marah beneran. Apa-apaan alasannya itu?


“Hey sampah! Setelah ini selesai, aku akan memberimu pelajaran! Bersiaplah!” Wakil Ketua mengatakan itu sambil menusukkan pedangnya ke paha salah satu pemberontak seakan-akan melampiaskan amarahnya.


Tidak lama kemudian, para Patrol Guard telah melumpuhkan keseluruhan pemberontak yang mencuri Artifak Zirah Pahlawan.

__ADS_1


Tidak ada korban jiwa diantara Patrol Guard akan tetapi, beberapa dari kami ada yang mengalami luka-luka.


“Kalian ikat pemberontak ini dan bawa yang masih hidup ke markas untuk kita interogasi,” perintah Wakil Ketua.


Ketika aku sedang mengikat salah satu dari pemberontak itu, aku merasakan ada sesuatu yang mendekati kami dengan kecepatan yang tinggi. Aku lalu melihat dua orang yang bergelantungan menggunakan sebuah kabel sedang mengarah kemari. Salah satu dari mereka kemudian mengambil Zirah yang ada di kereta kuda.


...Author Note : Alatnya mirip 3D manuver di anime attack on titan....


Kejadian itu berlangsung sangat cepat membuat kami tidak bisa merespon aksi mereka.


“…!”


“Apa-apaan itu! Mengapa mereka bisa terbang cepat seperti tadi!?” ujar Hans.


“Kejar mereka! Jangan biarkan mereka lolos!” perintah Wakil Ketua.


Aku bergegas menaiki salah satu kuda para pemberontak itu untuk mengejar dua orang tadi.


Pergerakan mereka cepat sekali. Alat macam apa itu? Mereka bergelantungan dengan sebuah kabel yang tertancap di dinding-dinding bangunan. Pertama Ludger, lalu alat aneh ini. Apakah para pemberontak memiliki koneksi dengan Republik Anconia?


Beberapa saat mengikuti mereka, aku kemudian melihat dua orang bergelantungan dengan alat yang sama dari lawan arah.


“Bunuh Patrol Guard itu!”


Dua orang itu kemudian mengeluarkan dua buah pedang. Salah satunya melesat ke arahku.


Aku kemudian melompat dari kuda. Dia nampaknya terkejut aku melompat dan tiba-tiba berada di hadapannya.


Bamm!


Aku menendang perutnya yang membuat dia terpental jatuh ke sebuah tempat sampah.


“Sial!”


Rekannya kemudian berbalik mengurungkan niatnya untuk menyerangku. Dia memiliki keputusan yang baik juga ternyata. Tidak memaksakan melawan orang yang terlihat jauh lebih kuat dengannya.


Aku kemudian mendarat kembali di kuda yang aku kendarai tadi. Tidak lama kemudian, kami tiba di sebuah persimpangan.


Ketika kudaku tengah melewati persimpangan, dari arah kanan dan kiri jalan terlihat beberapa orang yang tengah menunggu. Mereka dilengkapi dengan alat yang dapat membuat mereka bergelantungan itu.


Aku merasakan enam orang sedang melesat ke arahku. Dalam situasi ini aku berpikir.


Apakah aku harus menggunakan sihir-sihirku?


Swossshhh.


Akan tetapi, tepat di hadapanku, muncul seorang wanita berambut hitam panjang yang melesat dari arah belakangku. Dia lalu melompat ke arah para pemberontak yang akan menyerangku itu.


“Wind Dance.” Wanita itu mengucapkan nama tekniknya.


Dengan sekejap, keenam orang yang hendak menyerangku, tiba-tiba memiliki luka sayatan di sekujur tubuh mereka.


“…!”


“…!”


Tiga orang yang kukejar terlihat shock melihat rekan-rekannya tumbang dengan sekejap. Dua dari mereka kemudian berbalik dan menghadapi wanita itu akan tetapi, wanita itu dengan mudahnya menebas mereka dengan pedangnya.


Tersisa hanya orang yang membawa Artefak Zirah itu. Wanita itu kemudian menjejakkan kakinya ke tanah lalu melompat melesat dengan cepat. Wanita itu memotong kaki pemberontak itu yang membuatnya terjatuh.


Wanita itu kemudian berjalan menghampiri pemberontak itu yang sedang kesakitan.


“Menyerah atau mati,” ucapnya seraya menempatkan pedangnya di leher pemberontak itu.


Rambut hitam bagaikan kegelapan malam. Di area dadanya terlihat sebuah lencana yang menandakan dia adalah Ketua Patrol Guard Kota Wien.


Putri Pertama Duke Franz von Ritterburg— Kanselir Kekaisaran Habsburg, Serena von Ritterburg.



...Author Note : Illustrasi Serena...

__ADS_1


__ADS_2