The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 3 : Wings of Freedom


__ADS_3

“Menyerah atau mati.”


Tatapan tajam Ketua nampak sangat dingin layaknya orang yang memiliki dendam kesumat kepada pemberontak itu.


Aku turun dari kudaku kemudian berjalan menghampiri pimpinan dan berdiri di belakangnya saja menunggu perintah.


“Menyerah? Kau tahu sudah berapa banyak dari kami mati demi revolusi ini? kami memiliki alasan yang benar untuk melakukan semua ini!?” ucap pemberontak itu penuh amarah. ”Kalian bangsawan yang tidak pernah mengalami rasanya kelaparan dan kesulitan hidup tidak akan pernah mengerti penderitaan kami!”


Mendengar perkataan pemberontak itu, ekspresi ketua mulai berubah. Ekspresinya kali ini lebih mengerikan daripada sebelumnya.


“Kriminal tetaplah kriminal. Kalian adalah sampah masyarakat yang harus di bersihkan demi stabilitas Kekaisaran.“ Terlihat ketua hendak menebas pemberontak itu dengan pedangnya.


Aku kemudian maju menghampiri pemberontak itu dengan sebuah pengikat. Membalikkan badannya dan menekan kepalanya ke tanah.


“Artikel 10 ayat 3. Jika rakyat memiliki keluhan apapun tentang kebijakan pemerintahan, mereka bisa menyampaikannya ke Dewan Rakyat dan akan di bahas ketika Rapat evaluasi di Pemerintahan pusat,” jelasku seraya mengikat kedua tangan pemberontak itu dan mengikat kakinya yang terputus agar pendarahannya tidak terlalu parah.


“Dewan Rakyat apa? maksudmu tikus-tikus bedebah itu!? Mereka hanya peduli dengan bisnis-bisnis dagang mereka saja! Sesama rakyat biasa, mereka bahkan tidak mau membagi makanan maupun menurunkan harga pangan!”


Bamm!


Aku memukulnya di kepala yang membuatnya tak sadarkan diri dan berhenti melawan ketika aku ikat.


“Kau anak baru ya? mengapa kau bergerak tanpa ku perintahkan?”


Aku berdiri dan berbalik menghadap Ketua. Menatapnya tepat ke arah matanya yang terlihat sekali dia sedang marah.


“Prosedur penahanan nomor 4 tentang penahanan tahanan, jika musuh sudah di lumpuhkan, jika memungkinkan, segera batasi pergerakannya dengan pengikat agar memudahkan kita untuk membawanya untuk interogasi,” jawabku.


Ketua menatapku tajam tepat ke arah mataku untuk sesaat sebelum berbalik meninggalkan tempat ini.


Kurasa aku membuat impresi pertama yang buruk dengannya.


Tidak lama kemudian, sebuah kereta kuda membawa para tahanan pemberontak datang kesini. Para Patrol Guard departemen Logistik pun datang untuk membereskan kekacauan yang di sebabkan oleh para pemberontak seperti membersihkan jalan dan mengembalikan Zirah yang di curi tersebut.


“Baiklah, kurasa saatnya membersihkan diri dan melakukan laporan tugas untuk hari ini.”


Aku lalu berjalan kembali ke markas. Terlihat para warga masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi di sini.


Menjadi tugas humas departemen logistik pula untuk menjelaskan kepada warga kota dan membuat laporan mengenai kejadian-kejadian ini ke Dewan gabungan.


Yaitu pertemuan antara Dewan Bangsawan dan Dewan rakyat yang akan membicarakan mengenai urusan-urusan politik dan ekonomi di setiap daerah.


Setelah tiba di markas, terlihat Senior Hans dan beberapa anggota sedang memeriksa peralatan dan senjata yang di pakai para pemberontak tadi di ruangan autopsi. Aku memutuskan untuk bergabung dengan mereka terlebih dahulu.


“Senjata ini hampir membunuhku tadi!” ucap kesal Senior Hans.


“Ya… sebenarnya darimana mereka mendapatkan peralatan-peralatan aneh ini?” tanya seorang anggota seraya memeriksa sebuah kabel dan tabung kecil yang tertempel di alat itu.


“Hey, bukankah anak baru itu mengetahui sesuatu tentang benda-benda ini?”


“Ya Senior, kurasa benda-benda itu berasal dari Republik Anconia,” kataku sambil berjalan memasuki ruangan autopsi.


Mereka lalu berbalik terkejut mendengar perkataanku.


“Hey Sirius! Kau mengabaikan perintahku tadi!” teriak Hans marah.


“Sudahlah, apakah kau tidak melihat aksinya tadi? Menendang pengawal berkuda, berseluncur menghindari tembakan-tembakan lalu berhasil mengehentikan kereta kuda mereka,” ujar salah Satu Senior yang bernama Rigel.


"Rigel benar Sirius, aksimu itu layaknya tokoh utama di novel-novel aksi yang sering kubaca," ucap Senior Kurt.


Mereka berdua adalah kedua anggota yang menyerbu para pemberontak bersamaku tadi.


Mendengar ucapan Senior Rigel, aku hanya dapat terdiam saja tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


“Kembali ke topik awal. Jika perkataan Sirius benar, maka telah banyak mata-mata Republik yang telah menginfiltrasi kota ini.”


“Well… Bukannya sudah menjadi rahasia umum bahwa negara-negara Aliansi memiliki hubungan yang buruk dengan Republik,” ujar Hans.


Aku lalu melihat lebih detail, alat-alat yang di gunakan para pemberontak tadi untuk bergelantungan diantara bangunan-bangunan.


Sebuah tabung apa ini? Jika aku bisa menggunakannya, mungkin aku bisa menghemat penggunaan sihir Long Jump.


“Bukahkah ini buruk jika mata-mata mereka mulai menjamur di kota? mereka pasti akan sering menyuplai pemberontak itu dengan benda-benda aneh mereka,” ujar Rigel.


"Well... kurasa kita harus mendapat izin terlebih dahulu dari pimpinan untuk memberantas mata-mata itu. Dia sedang menuju ke kediaman Yang Mulia untuk membicarakan hal ini dengannya."


...----------------...


Kota Siselia ibukota Salisburg Duchy.


Dua orang pria dan satu orang wanita tengah bergelantungan di pusat Kota Siselia menggunakan alat yang sama dengan pemberontak di Kota Astria.


“Kita harus bergegas! Saudara-saudara seperjuangan kita tengah menghadapi perlawanan yang sengit di penyimpanan kas Salisburg Duchy!” ucap Pria berambut hitam Ketua dari para pemberontak itu.


Ketika akan sampai di tujuannya, mereka melihat beberapa penyihir Kerajaan yang berdiri di atas sebuah bangunan.


“Kita kalahkan penyihir-penyihir itu!”


Para penyihir itu menembakan sihir bola api kepada tiga pemberontak itu. Sekitar tujuh bola api mengarah pada mereka.


“Menyebar!”


Pria itu melakukan manuver-manuver lincah untuk menghindari bola-bola api itu. Terlihat sekali dia sudah sangat terlatih menggunakan alat aneh yang dia gunakan.


“Tidak mungkin! Apa-apaan mereka itu!”


Slasshh!


Dorrr! Dorr!


Kedua rekannya menembak menggunakan sebuah Ludger membuat dua orang penyihir memiliki sebuah lubang yang ada di kepala mereka.


“Sial! M-mundur!”


Para penyihir itu mulai melompat dari bangunan-bangunan itu. Mereka kemudian mendarat dengan sebuah sihir lalu berlari menggunakan sihir akselerasi.


“Tidak akan kubiarkan kalian kabur!”


Pria itu lalu kembali melesat menembakkan kabel-kabelnya di tembok bangunan-bangunan.


“Sial! Kecepatan benda yang di pakainya menyaingi sihir akselerasi!”


Ketiga penyihir itu kembali berbalik lalu merapalkan sihir bola api ke pria yang mengejarnya itu.


Melihat tiga buah api yang melesat ke arahnya, pria itu lalu dengan cekatan melakukan sebuah gerakan putaran dengan memainkan momentum dari kabel alat yang dia gunakan.


Ketiga bola api itu dapat dengan mudah dia hindari dengan gerakan akrobatiknya itu.


“Tidak mungkin!”


Pria itu kemudian mendarat lalu melakukan gerakan koprol. Dia kemudian memotong salah satu kaki penyihir itu lalu melesat melompat ke arah sisa dua penyihir yang ada di depannya.


“…!”


Slash!


Pria itu menebas kedua leher penyihir itu dengan pedang gandanya. Kedua kepala terlihat melayang lalu terjatuh ke tanah.

__ADS_1


Para warga yang melihat ini menjadi panik dan mulai menjerit.


“Cih! Hanya melihat ini kalian ketakutan seperti ini. Apakah kenyamanan kehidupan dalam kota membuat kalian selemah itu?”


Tidak lama kemudian, kedua rekan pria itu datang menghampirinya.


“Kita kembali bergegas ke tujuan kita!” Perintah pria itu.


Mereka kembali bergerak ke tempat penyimpanan. Setelah sampai, terlihat para pemberontak tengah melakukan pertarungan yang sengit dengan para Patrol Guard.


Pria itu lalu menambah kecepatannya dengan menembakkan kabelnya ke belakang bangunan para Patrol Guard itu. Dia lalu melesat ke arah empat Patrol Guard yang terkejut akan kedatangan dia.


Slash!


Pria itu mengayunkan pedang gandanya menebas leher-leher para Patrol Guard itu dengan cepat.


Dia lalu mengangkat tangan dan pedangnya ke atas untuk menarik perhatian para pemberontak.


“Jangan takut saudara-saudaraku! Kita mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan ini! Beranikan diri kalian dan ingatlah kita berjuang demi keluarga-keluarga kita!” teriak pria itu memberi sebuah mental boost kepada para pemberontak.


Mendengar ucapan ketua mereka setelah membunuh empat Patrol Guard dengan cepat, para pemberontak kemudian mulai percaya diri dan melawan para Patrol Guard dengan lebih agresif.


Tidak lama kemudian, bantuan dari para pemberontak tiba membuat pertempuran di gedung penyimpanan di menangkan oleh para Pemberontak.


Mereka lalu bergegas masuk dan membobol ruangan tempat penyimpanan uang pajak yang dikumpulkan oleh para bangsawan Salisburg Duchy.


“Woww! Lihat tumpukan uang itu! Jika kita memilikinya, kita mungkin bisa memenuhi kebutuhan kelompok kita selama tiga tahun!” ujar rekan Pria itu yang betugas sebagai pengatur keuangan kelompok mereka.


Beberapa pemberontak bahkan ada yang mulai mengambil uang-uang itu.


“Kalian hentikanlah!”


Para pemberontak itu kemudian membeku mendengar suara Kapten mereka yang sangat di hormati itu.


“Kita tak akan mengambil uang ini,” ucap Kapten mereka datar.


“Apa maksudmu Kapten Leon!?”


Para pemberontak itu kebingungan dengan Kapten mereka.


“Apakah kalian tahu yang di bicarakan warga di seluruh penjuru negeri ini tentang kita?”


Mendengar pertanyaan Leon, mereka mulai terlihat suram ekspresinya.


“Kita di sebut pemberontak! Kita di cap sampah! Para warga banyak yang melihat kita dengan jijik dan menganggap kita hanya kriminal yang mencuri uang mereka untuk makan!” Leon berbicara dengan tegas.


Betul saja. Mereka sering sekali mendengar para warga berbicara buruk mengenai mereka. Sebagian karena ulah propaganda yang di lakukan oleh departemen intelejen Kekaisaran agar kelompok mereka tidak berkembang kepopulerannya di masyarakat.


“Apa tujuan awal kita membentuk kelompok ini?” tanya Leon pada mereka.


Para anggota Wings of Freedom membentuk kelompok mereka dengan tujuan awal mengakhiri penindasan pemerintah ke rakyat kecil.


Sebagai simbol perlawanan ketidakadilan menaikkan pajak yang semena-mena. Para pedagang kaya yang tidak mau menurunkan harga pangan mereka yang membuat rakyat kecil kelaparan.


“Masyarakat di Kekaisaran menganggap kita ini sampah! Padahal kita ini berjuang untuk mereka tanpa meminta imbalan apapun dari mereka!” Suara Leon terasa menggetarkan hati para anggota Wings of Freedom.


Leon lalu maju kehadapan tumpukan uang koin itu lalu mengambil mengambil jerigen yang di bawa oleh salah satu pemberontak. Dia lalu menumpahkan minyak yang ada di dalam jerigen itu membasahi tumpukan uang koin di hadapannya. Dia kemudian menghidupkan sebuah korek gas yang dia dapatkan dari mata-mata Republik.


“Operasi yang kita lakukan hari ini itu bukan tentang uang.” Leon kemudian melempar korek gasnya ke tumpukan uang koin itu. Bara api mulai berkobar menerangi ruangan yang agak gelap itu.


“Tapi untuk memberikan sebuah pesan kepada rakyat di seluruh penjuru negeri ini.”


Dengan mereka membakar uang-uang pajak yang di kumpulkan para Bangsawan. Leon berharap, para Bangsawan dan pedagang tamak itu tahu rasanya bagaimana hidup dengan kesusahan seperti rakyat-rakyat kecil lainnya. Yang menderita karena pajak dan kelaparan karena harga pangan yang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2