The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 15 : Leon


__ADS_3

Kota Helzein, Duchy Salisburg.


Di pinggiran Kota, terdapat anak-anak yang sedang bermain di sebuah air pancur yang baru saja dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih para penduduk yang ada di sekitar area itu.


Mayoritas penduduk sekitar area ini adalah orang-orang miskin yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Maka dari itulah area sekitar sini terlihat sangat kumuh dan tidak terurus karena pemerintah lebih peduli kepada penduduk-penduduk yang membayar pajak.


Tidak jauh dari kumpulan anak-anak itu, dua orang pria sedang memperhatikan mereka. Dua pria itu tersenyum melihat anak-anak di depan mereka itu terlihat gembira sekali bermain di sekitaran air mancur yang dapat terbangun karena hasil dari perjuangan mereka.


Mereka berdua kemudian berjalan menghampiri anak-anak itu.


“Ah! Kak Leon! Kak Fran! Kalian sudah kembali rupanya!” Salah seorang anak menyadari kehadiran mereka. Anak-anak itu kemudian bergegas menghampiri Leon dan Fran.


“Alexius dan yang lainnya, apakah kalian suka dengan Air Mancurnya? Sekarang kalian tidak usah lagi khawatir akan kehausan tidak memiliki sesuatu yang baik untuk diminum,” ucap Leon seraya mengelus kepala Alexius.


“Ummm, terima kasih, Kak Leon! Airnya sangat segar dan terlihat bersih! Lebih baik daripada mandi di pembuangan air kota!” Mendengar perkataan Alexius, ekspresi Leon berubah suram karena teringat akan masa-masa sulit mereka dulu.


Sedari kecil, Leon hidup bersama dengan anak-anak lainnya disebuah panti asuhan yang berada tidak jauh dari sini.


Semenjak Leon mendirikan Wings of Freedom, Leon dapat membantu meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang hidup sekitaran area ini. Leon mendapatkan uang untuk semua itu dari penjualan-penjualan barang atau budak yang dia dapatkan dari transaksinya dengan pasar gelap.


“Kak Leon, berapa lama kali ini kakak akan tinggal?” tanya Aelxius.


Leon tidak pernah memberitahu anak-anak pekerjaan yang dilakukannya selama ini. Dia hanya mengatakan kepada mereka, dirinya membantu orang-orang yang kesusahan dan melakukan pekerjaan mulia lainnya.


“Ngomong-ngomong Alexius, aku sedari tadi tidak melihat Mileus. Aku tahu dia tidak memiliki kondisi tubuh yang bagus, tapi setidaknya dia juga harus menyaksikan Air Mancur baru ini dan ikut serta bersenang-senang bersama anak-anak lainnya.”


Sudah satu bulan semenjak terakhir Leon berada di sini mengunjungi anak-anak panti asuhan. Leon tidak tahu-menahu mengenai kabar dari anak-anak karena sibuk mengurusi Organisasi Wings of Freedom sebagai Kapten mereka.


Mendengar perkataan Leon, Alexius dan anak-anak lainnya tiba-tiba diam yang membuat Leon mempunyai firasat buruk.


Alexius kemudian membawa Leon ke suatu tempat di luar kota.


Di hadapan Leon, kini terdapat sebuah batu nisan. Yang bersemayam di sana adalah seorang anak yang sudah Leon anggap sebagai adik kandung sendiri—Mileus.


Bagi Leon, salah satu alasan dia mendirikan Wings of Freedom adalah karena anak itu. Leon masih mengingat percakapan terakhirnya dengan Mileus ketika dia menggendong anak itu berjalan-jalan di Kota.


‘Mileus, apakah kau punya sebuah cita-cita?’

__ADS_1


‘Iya! Aku ingin menjadi seorang pahlawan! Menjadi berani lalu mengalahkan seekor naga dan menyelamatkan seorang Tuan Putri!’


‘Heh… Kau terlalu banyak mendengar cerita-cerita membosankan itu.’


‘Tidak apa-apa bukan? Pahlawan adalah orang yang hebat! Kemana pun dia pergi, dia selalu membawa kebahagian kepada orang yang sedang kesusahan sepertiku ini!’


Air mata mulai membasahi pipi Leon mengingat kenangan terakhirnya bersama anak yang sudah tiada itu.


“Alexius, bukankan aku sudah memberimu uang yang banyak terakhir aku kesini? Mengapa kau tidak membawa Mileus ke seorang penyembuh ketika kondisinya sedang memburuk? Dengan uang yang kuberikan, seharusnya sudah cukup untuk membawanya dan memberikan pertolongan pertama.” Mendengar pertanyaan Leon, Alexius sedikit ragu untuk menjawabnya.


“Kak Leon, semenjak kakak pergi, panti menjadi cukup populer karena kita memberikan kebutuhan hidup kepada anak-anak yang terbengkalai di kota. Semakin banyak anak yang harus di urus kecukupannya, semakin banyak pula uang yang harus di keluarkan. Aku sudah membawa Mileus ke seorang penyembuh, tapi….” Ekspresi Alexius terlihat menyesal ketika mengingat saat-saat itu. “Penyembuh di kota tidak mau merawat Mileus karena kami tidak mempunyai uang yang cukup untuk membayar pengobatannya.”


Mendengar cerita dari Alexius, Leon tersadar, tidak mungkin hanya Mileus saja yang mengalami hal buruk seperti itu. Leon memejamkan matanya kemudian mengingat kembali perkataan terakhir Mileus waktu itu.


‘Kak Leon, kau adalah pahlawan bagiku. Kak Leon telah memberiku kebahagiaan dalam hidupku yang selalu sakit-sakitan ini… Aku harap, Kakak juga bisa menjadi pahlawan bagi orang-orang yang sedang kesusahan dalam hidup sepertiku ini.’


Membuka matanya kembali seakan membulatkan tekadnya, Leon kemudian berbalik berjalan menghampiri Fran.


“Kita akan melakukan operasi pada malam ini,” bisiknya.


'Mileus... Aku akan mewujudkan harapanmu itu bagaimanapun caranya... '


***


“Ayah! Aku berhasil! Aku berhasil!” Tiba-tiba, seorang anak perempuan menghampirinya lalu memeluknya.


“Ada apa Fio sayang? Apa yang membuatmu bersemangat sekali?” Pria itu kemudian melihat anaknya tersenyum.


“Aku sudah bisa menggunakan sihir yang aku pelajari di sekolah Sihir! Master juga memujiku dan bilang jika aku memiliki potensi yang bagus menjadi Penyihir Istana!”


Mendengar perkataan anaknya itu, pria itu kemudian ikut tersenyum lalu mengelus rambut anaknya. “Kerja yang bagus, Fio. Anak Ayah memang hebat. Aku akan selalu mendukungmu untuk mewujudkan impianmu itu, Anakku.”


“Ummm, terima kasih, Ayah. Fio, sayang Ayah!”


Pria itu selalu bekerja keras sebagai seorang penyembuh mengumpulkan uang untuk membiayai pendidikan Putrinya itu.


Dengan bakat yang dimiliki Putrinya, Pria itu yakin, Putrinya akan menjadi seorang Penyihir yang hebat di masa depan.

__ADS_1


*Brak


Tiba-tiba, pria itu mendengar suara dobrakan pintu. Dia dengan segera memeriksa ke depan bagian rumahnya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Dia kemudian melihat dua orang pria menggunakan sebuah masker memasuki pintu rumahnya.


“Siapa kalian!? Apa yang kali—“ Belum selesai dia berbicara, salah satu penyusup rumahnya itu meninju wajahnya yang membuat dia tersungkur ke lantai.


“Fran, ambil anaknya.” Ekspresi Pria paruh baya itu berubah ketika mendengar perkataan para penyusup itu.


“Tidak! Kumohon! Jangan sakiti anakku! Dia tidak pernah melakukan hal buruk apapun!” Suaranya terdengar putus asa.


“Putrimu tidak, namun kau telah berbuat sesuatu,” ujar penyusup itu dengan dingin. “Mulai sekarang, kau akan mengobati orang-orang miskin yang tidak dapat membayar biaya pengobatanmu juga.”


“Ayah! Tolong aku! Lepaskan aku dari para penjahat ini!” Mendengar teriakan anakknya, Pria itu kemudian segera bersujud di hadapan penyusup itu.


“Tolong Tuan! Dia adalah satu-satunya anakku! Tolong jangan sakiti dia!”


“Aku akan membawa anakmu bersama kami, salah satu dari kami akan memberitahukan lokasi anakmu untuk kau kunjungi satu minggu sekali. Tapi, jika aku mendapatkan laporan kau tidak menerima pasien dari orang-orang yang tidak punya…” Penyusup itu kemudian menempelkan sebuah pedang ke leher anaknya.


“Baiklah! Baiklah! Aku akan menuruti semua permintaanmu! Tolong jangan sakiti anakku—Fio!”


***


Beberapa hari kemudian, Leon kembali ke markas utama Organisasi Wings of Freedom. Dia kini sedang mendengar laporan dari bawahannya mengenai kondisi Organisasi selama kepergiannya selama beberapa hari.


“Kemarin, ada beberapa Patrol Guard terlihat memata-matai tempat kita akan menerima senjata dari orang-orang Republik. Kapten, apa yang harus kita lakukan? Mereka pasti akan melakukan penggrebekan ke tempat itu besok.” Bawahannya menanyakan langkah apa yang harus diambil kepada Leon.


“Jangan khawatir, biarkan saja mereka datang. Aku memiliki rencana untuk memusnahkan mereka. Lebih banyak mereka mengirimkan anggotanya kesana, maka akan lebih baik. Kita akan hancurkan para Patrol Guard itu dalam Operasi ini.” Leon mengatakannya dengan dingin.


“Besok, para Patrol Guard itu akan menyesal karena selalu menghalang-halangi tujuan kita.” Fran kemudian meletakkan dua buah benda di meja tempat mereka berunding.


Itu adalah dua buah Artefak pemberian dari mata-mata Republik yang sebelumnya mereka temui untuk menghancurkan para Patrol Guard.


...----------------...


...Author Note :...

__ADS_1


Sorry untuk update yang lama hehe karena saya lagi sibuk sama persiapan wisuda. Di Chapter-Chaoter selanjutnya bakal ada pertarungan menarik antara Para Patrol Guard dengan para pasukan pemberontak.


Semoga scene aksinya nanti bakal membuat kalian yang baca terhibur XD


__ADS_2