The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 5 : Nightfall


__ADS_3

[ Sirius POV ]


Aku dan Lena memasuki sebuah penginapan dan menghampiri repsesionisnya.


“Berapa tarif untuk 2 kamar semalamnya?” tanyaku kepada resepsionis.


“Satu kamar semalam memiliki tariff 50 Colling,” jawab resepsionis itu.


Aku lalu memberikan 1 koin Shilling kepada resepsionis tersebut. Negeri – negeri di benua Alterna memiliki 3 mata uang yaitu, Koin Perunggu Colling, Koin Perak Silling dan Koin Emas Golling. 100 Colling sama dengan 1 Silling sedangkan 100 Silling sama dengan 1 Golling.


“Ini kucinya, tuan bisa menambah 10 Colling untuk sarapan jika tuan mau,” tawar resepsionis tersebut sambil memberikan 2 kunci kepadaku.


"Tidak usah," jawabku singkat.


Kami lalu pergi ke lantai 3 penginapan tersebut. Kurasa aku memilih penginapan yang tepat. Lena tidak akan sering mendengar suara - suara aneh ketika beristirahat nanti.


“Masuklah Lena, ini kamarmu,” ucapku sambil membukakan pintu sebuah kamar.


“Ummm,” Lena mengangguk dan duduk di sebuah kasur.


“Lena, pakailah ini,” aku memanggilnya dan memberikan sebuah kalung kepadanya.


“Apa ini, Sirius?” tanya Lena kebingungan.


“Itu adalah sebuah kalung khusus untuk berjaga – jaga, aku bisa melacakmu jika terjadi hal – hal yang tidak di inginkan terjadi,” jawabku.


“Emm.. maukah Sirius memakaikannya untukku,” ucap Lena sedikit malu.


“Kau tidak bisa memakainya sendiri?” tanyaku.


“Ahhh, tidak. A-aku bisa sendiri memakainya,” ucap Lena dengan nada sedikit kecewa.


“Hahhh… Baiklah,” ucapku dengan nada mengeluh.


Aku lalu jongkok di hadapan Lena dan mengambil kalungnya. Ekspresi Lena mulai berubah menjadi aneh. Pipinya terlihat memerah karena alasan yang tidak ku mengerti. Aku lalu memasangkan kalung itu di leher Lena dan berkata.


“Dengan ini, jika kita terpisah tidak terlalu jauh, aku masih bisa mencarimu dengan cepat,” jelasku.


“Ummm, terima kasih Sirius.”


Aku lalu berdiri lalu menuju pintu keluar kamar dan berkata.


“Aku akan keluar sebentar untuk mencari sesuatu, kau beristirahatlah agar punya tenaga untuk perjalanan berikutnya.”


“Baiklah, hati – hati Sirius,” ucap Lena.


“Ya.”


Aku lalu keluar meninggalkan penginapan. Baiklah, saatnya membasmi para penguntit itu. Aku lalu mulai berjalan ke arah tempat yang agak sepi. Aku lalu memastikan 5 dari 6 orang yang mengintai kami tadi sedang mengikutiku.


Aku telah sampai di sebuah tempat di pinggiran Kota Omor. Di sini lebih tenang daripada di pusat Kota. Malam hari ini langit sangat cerah dan nampak sebuah bulan purnama bersinar menerangi lokasiku berada. Tidak lama kemudian, seorang pria muncul dari bayang - bayang sebuah gang dan menghampiriku lalu berkata.


“Mari kita membuat kesepakatan.”


...----------------...


[ Bull POV ]


“Pengawalnya terlihat keluar dari penginapan tersebut, apa yang akan kita lakukan?” tanya seorang wanita padaku.


“Kita lebih baik membunuh pengawalnya terlebih dahulu, kita akan mengintainya dan membunuhnya di tempat yang tidak akan terlalu menarik perhatian,” jawabku.


“Mengapa tidak kita culik langsung saja targetnya? Mengapa repot - repot harus membunuh pengawalnya terlebih dahulu?” tanya wanita itu.


“Fox, kita di perintahkan untuk menangkap target hidup - hidup. Akan sangat sulit bagi kita jika pengawal itu mengganggu kita ketika sedang membawa target,” jawabku.


“Baiklah. Jadi, bagaimana rencana kita?”

__ADS_1


“Eagle akan menjadi pelindung kita dari jarak jauh, sisanya akan menyerangnya langsung jika negosiasi gagal,” perintahku.


Kami lalu bergerak mengikuti pria itu. Setelah pria itu sampai di ujung Kota, dia tiba – tiba berhenti hanya berdiri tidak bergerak. Apakah dia menunggu kami? Apakah dia menyadari kami selama ini? Aku lalu keluar dan mencoba menghampirinya dan berkata.


“Mari kita membuat kesepakatan.”


Pria itu tidak terkejut seperti dia telah memprediksi aku akan mengatakan ini.


“Kesepakatan seperti apa?” tanya pria itu.


“Kami akan membayarmu tiga kali lipat dari majikanmu jika kau tidak mengganggu kami membawa wanita itu,” tawarku.


Mendengar perkataanku, pria itu malah tertawa dan berkata.


“Ahahahahah… di lihat dari perlengkapanmu, kalian berasal dari unit khusus intelejensi Republik Anconia. Negeri itu terkenal dengan suap – menyuap dari para petingginya. Aku tidak tahu bahwa unit – unit khusus mereka memiliki kebiasaan yang sama,” ucapnya dengan nada mencemooh.


Aku lalu menyiapkan belatiku dan berkata.


“Sayang sekali…”


Aku lalu melesat menyerangnya dengan belatiku, dia menghindar dengan melompat ke arah samping. Rekanku yang telah menuggu dari arah sana tiba - tiba keluar untuk menyerangnya sebelum kaki pria itu mendarat.


Clang!!


Pria itu berbalik dan menangkis serangan rekanku dan menendangnya yang membuat rekanku terpental ke sebuah gubuk.


Aku lalu kembali melesat untuk memojokkan pria tersebut dan menyerang pria itu bertubi - tubi. Pria itu hanya menghindar dan tidak melakukan serangan balik. Dia lalu menjaga jaraknya denganku.


Rekanku yang terpental kemudian menghampiriku.


“Kau tidak apa – apa Fox?” tanyaku.


“Ya. Kecepatan reaksinya sangat cepat, kurasa akan sangat sulit membunuhnya dengan serangan kejutan,” ujarnya.


“Ya, Kita harus memancingnya. Kita harus lebih menyerangnya untuk menguras staminanya dan membuat fokusnya berkurang.”


Clang! Clang! Clang!


Kami secara bergantian menyerang pria itu namun, tidak ada tanda – tanda sedikitpun pria itu kelelahan. Aku harus mencari strategi lain. Aku lalu mengangkat tanganku dan membuat sebuah simbol dengan jari - jariku.


“Fox, rencana B.”


“Oke.”


Kedua rekanku yang sedang bertarung dengannya terlihat mendapatkan beberapa luka sayatan di tubuhnya.


Aku lalu menyerangnya dengan sebuah ayunan lebar untuk memancingnya. Ketika aku menyerang, Fox akan bersiap melakukan serangan untuk mengantisipasi serangan balik pria itu. Hal ini bertujuan untuk menipunya dari serangan pembunuh yang sebenarnya.


Pria itu lalu mengganti strateginya bertarung dari defensif menjadi ofensif. Dia terlebih dahulu mengincar Fox. Terlihat Fox sangat kesulitan menghindari serangan - serangan pria tersebut. Ketika pria itu berhasil mendaratkan sebuah tendangan kepada kepala Fox, aku langsung melesat dengan sebuah serangan yang komit untuk membunuhnya.


Namun, dia berhasil menghindar dengan melompat ke belakang. Namun, itu adalah tujuanku. Dari jauh, Eagle yang seorang Marksman menggunakan senjata khusus akan menembaknya ketika dia sudah kesulitan menghindar.


Thuwww!!


Terdengar sebuah peluru bertabrakan dengan tanah. Pipi pria itu mengeluarkan darah. Aku sangat terkejut dia dapat menghindari tembakan seorang Marksman dengan senjata keluaran terbaru.


Setelah menyadari kami memiliki seorang marksman, dia lalu mulai melarikan diri.


“Jangan biarkan dia ke pusat Kota! Kejar dia!” perintahku.


Pria itu berlari sangat cepat di atap – atap bangunan. Kami kehilangan sosoknya di kegelapan malam.


“Dog! Keluarlah, lacak keberadaan pria itu!”


...----------------...


[ Sirius POV ]

__ADS_1


Aku sedang bersembunyi di sebuah menara setelah melarikan diri dari kelompok mereka. Jika saja aku tidak menyadari pandangan mata musuh di depanku, aku tidak akan menyadari tembakan dari Marksman tersebut. Aku agak bingung ketika pandangan pria itu tidak berfokus padaku setalah melakukan serangan. Ternyata dia menunggu tembakan dari rekannya. Dan senjata yang digunakan oleh Marksman tadi tidak menimbulkan suara sama sekali. Apakah itu senjata baru yang dikembangkan oleh Republik Anconia?


Aku kemudian memutuskan untuk mencari lingkungan bertempur yang bisa menutup tembakan Marksman tersebut. Kode nomor 8 dalam pertarungan langsung, carilah lingkungan yang menguntungkanmu ketika berada di posisi yang tidak di untungkan. Tidak lama kemudian, aku mendengar sebuah langkah kaki menuju ke menara ini.


“Dog, apakah benar dia bersembunyi di sini?”


“Ya. Aromanya mengarah kesini. Berhati – hatilah, di tempat gelap ini mungkin dia sedang bersiap menyergap kita.”


Lima orang itu lalu memasuki menara dan mencari keberadaan ku di kegelapan. Seorang Tracer, kah? Aku harus membunuhnya terlebih dahulu. Tracer merupakan seseorang yang di latih khusus untuk melacak. Penciuman dan pendengarannya sangat sensitif bahkan melebihi binatang – binatang. Aku lalu mulai menahan nafasku dan mengambil sebuah benda bulat di sakuku dan melemparnya. Benda itu memiliki kegunaan untuk menyimpan aroma.


“Berhati - hati lah, aromanya mulai bergerak.”


Aku lalu menggunakan teknik membunuhku yang bernama Featherstep dan mulai bergerak.


“Di sana! Aromanya sangat terasa di sana!”


Dua orang lalu bergerak ke arah aku melemparkan benda itu tadi. Sebuah celah terbuka dan aku bergegas untuk membunuh Tracer itu di titik butanya.


Stabb!!!


Aku berhasil menusukkan Baselard dari belakang ke arah jantungnya. Teknik Featherstep memungkinkan penggunanya untuk bergerak tanpa mengeluarkan suara. Teknik ini hanya efektif di gunakan sekali jika menyerang orang yang berkelompok.


“Sial! Bagaimana bisa dia mendekat tanpa mengeluarkan suara sama sekali!”


Tanpa membuang waktu aku menebaskan pedangku ke wanita terdekat dari Tracer tersebut.


Slashh!


Aku berhasil menebas kepala seorang wanita memanfaatkan keadaanya yang terkejut.


“Sial! Fox! Ku Bunuh kau!”


Pria itu berlari ke arahku dengan amarah. Aku kemudian menghindar dan memposisikan diriku di belakangnya lalu mengunci lehernya.


Crackkk!


Terdengar suara yang menandakan lehernya telah patah. Sisa dua orang itu kemudian telah kembali dan melakukan serangan – serangan kombinasi. Aku berhasil memutuskan tangan salah satu dari mereka dengan serangan balik.


“Aghhhhh!” jerit pria tersebut.


Aku kemudian berlari untuk menyerang pria selanjutnya. Aku mengangkat tanganku yang memegang Baselard. Pria itu terlihat akan menahannya dan mengangkat pedangnya. Melihat pertahanan depannya terbuka, aku dengan cepat merubah pola serangan ku lalu mencekik lehernya dengan tangan kiriku.


“Aghhhhh!”


Crackkk!!


Lehernya berhasil ku hancurkan lalu pria itu mati seketika. Aku kemudian menghampiri satu musuh tersisa. Dia sedang memegangi tangannya yang telah putus.


“Si-siapa kau sebenarnya?” tanya pria itu dengan gemetaran.


Aku mendekatinya dan menatap matanya lalu berkata.


“Unit pembunuh Spesial Ouroboros, Kode Nama— Nightfall.”


-Slashhhh!


Kepala pria itu kemudian melayang di udara yang kemudian aku tangkap menggunakan tanganku.


“Firasat ku, tidak hanya Republik Anconia saja yang menginginkan Lena,” gumamku.


-Crackkkk!


Aku lalu menghancurkan kepala yang ada di genggamanku. Tanganku kemudian berlumuran darah dan sisa - sisa otak pria tersebut.


“Kurasa itu tidak masalah. Akan ku hancurkan orang - orang yang akan mengambilnya dari pengawalan ku,” ucapku bertekad layaknya setiap Ketua memberiku sebuah misi.


Aku lalu keluar dari menara dan menatap rembulan yang menyinari suasana malam kota.

__ADS_1


__ADS_2