The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 : Prolog


__ADS_3

Pegunungan Arazeel. Kastil Raja iblis. Ruangan rapat.


Beberapa petinggi dari pasukan raja iblis sedang mengadakan pertemuan membahas mengenai Terpilihnya seorang Saint yang tidak lama ini telah secara resmi diangkat.


“Bagaimana mungkin kita membiarkan ini terjadi! Hey Geldoro, apa maksudnya semua ini!?” ucap seorang pria berbadan kekar dengan dua buah tanduk besar di kepalanya.


“Ya, bukankah ini tanggung jawabmu untuk menangkap para kandidat itu?” seorang wanita berambut ular juga mengeluhkan hal yang sama.


“Aku telah berusaha semaksimal mungkin kau tahu, aku bahkan bekerja sama dengan Tuan Warren yang hadir di sini untuk melakukan tugas ini akan tetapi, berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, Dewi itu memilih kandidatnya tanpa diadakannya sebuah Ritual kali ini,” jawab Geldoro beralasan. Seorang Vampir bangsawan yang bertanggung jawab sebagai pengumpul informasi Pasukan Raja Iblis.


“Itu karena kau memiliki bawahan yang tidak becus Geldoro. Sudah ku bilang jangan terlalu sering menjadikan manusia seorang Apostle, setidaknya kau harus benar-benar menyeleksinya seorang diri,” ujar sesosok manusia berkepala kambing.


“Lalu apa yang akan kita lakukan mengenai hal ini, gandum sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi mengenai hal itu. Sekarang langkah apa yang kita akan ambil? Dengan adanya Sang Saint, pertempuran kita berikutnya tidak akan mudah,” ucap kembali wanita berambut ular itu.


“Hey manusia, kau di undang di sini untuk menyampaikan beberapa hal bukan? bagaimana pendapatmu tentang hal ini?” tanya manusia berkepala kambing itu.


Warren Black yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka sekarang menjadi pusat perhatian para petinggi Pasukan Raja Iblis yang hadir.


“Tidak diragukan lagi. Dengan adanya Sang Saint, Aliansi memiliki keuntungan di pertempuran secara langsung. Tapi itu tidak akan menjadi masalah besar untuk pasukan Raja Iblis dalam perang ini,” ungkap Warren.


“Apa maksud Anda Tuan Warren?” tanya Geldoro.


Para petinggi yang lain juga memiliki ekspresi tanda tanya yang sama. Dalam sejarah, Para Saint selalu menjadi ancaman yang nyata ketika terjadi konflik Ras Iblis dengan manusia bagi mereka.

__ADS_1


“Trial Para Pahlawan akan memakan waktu beberapa bulan, ini kesempatan kita untuk menghancurkan pondasi mereka agar mereka tidak leluasa untuk melawan kita. Hal ini juga berlaku bagi Sang Saint,” jelas Warren lalu menyeruput sebuah kopi panas yang di sediakan. “Beberapa Kerajaan yang tergabung dalam aliansi telah melakukan wajib militer bagi para penduduknya agar dapat memobilisasi lebih banyak pasukan di medan perang. Juga menaikkan pajak dan mengeluarkan beberapa pajak baru untuk membiayai logistik dalam perang,” tambahnya.


“Hey manusia, bisakah kau tidak berputar-putar dan menjelaskan inti apa yang ingin kau sampaikan,” ujar Wanita berambut ular itu.


“Pada saat ini, ketidakpuasan rakyat di beberapa negeri semakin tinggi kepada pemerintahan mereka. Ini di sebabkan dari faktor-faktor yang aku sebutkan tadi. Kelaparan, kebutuhan pangan naik karena beberapa jalur perdagangan antar negeri terganggu karena perang. Senjata yang bisa kita manfaatkan adalah orang-orang lapar dan kehilangan tempat tinggal karena perang,” jelas Warren.


“Dengan kata lain, kau ingin membuat sebuah pemberontakan di negeri-negeri Aliansi?” tanya Geldoro yang sedikit mulai memahami perkataan Warren.


“Tentu saja, pemberontakan akan menciptakan ketidakstabilan, ketidakstabilan akan menciptakan kekacauan. Dan kekacauan akan menghancurkan negeri-negeri itu dari dalam tanpa kita mengorbankan banyak pasukan Raja Iblis,” jelas Warren.


Setelah mendengar penjelasan Warren, para petinggi mulai mengangguk-anggukan kepala mereka.


“Dari api yang kecil ini, kita akan membuatnya lebih besar dan membakar seluruh hutan dan saat itu terjadi, walaupun dengan para Pahlawan ataupun Sang Saint, para negeri Aliansi akan kesulitan bernapas karena asap yang berkobar dari api yang telah membesar,” ucap Warren sambil mengepalkan tangannya.


...----------------...


Seorang Pria berumur 30an tengah mengadakan rapat dengan beberapa bawahannya.


“Pemberontak yang menamakan diri mereka sebagai—Wings of Freedom semakin menjadi-jadi aksinya,” ucap Steward ( Bendahara) Archduchy—Count Alarich von Melsburg. “Jika di biarkan aksi mereka, perekonomian kita akan terganggu dan pemasukan kas kita akan berkurang,” jelasnya.


“Kau pikir ini salah siapa? Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang lapar yang tertindas karena pemerintah pusat menaikkan pajak untuk biaya perang. Mereka mencuri suplai-suplai Kota ini membuat aktivitas perdagangan terganggu dan banyak para pedagang juga merugi,” ucap seorang perwakilan para pedagang yang diundang dalam rapat.


Sebenarnya yang hadir di dalam ruangan ini juga menyadari inti dari masalah mereka. Akan tetapi, mereka tidak dapat melakukan apa-apa karena itu adalah keputusan dari pemerintahan pusat.

__ADS_1


“Aku sudah menghadiri pertemuan di Istana Kekaisaran, kenaikkan pajak ini tidak dapat dihindari. Pasukan Raja Iblis semakin menjadi-jadi dan para Aliansi harus mengerahkan seluruh sumber daya mereka agar bisa mempertahankan garis depan,” ucap Archduke Otto von Habsburg— Putra Mahkota Kekaisaran Habsburg.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan pemberontak-pemberontak ini Yang Mulia? Memberantas mereka? Membunuh rakyat-rakyat kita sendiri?” tanya Seorang bawahannya— Count Liutbert von Koninburg.


“Apanya yang membunuh rakyat sendiri!? Mereka itu kriminal! Mereka melanggar hukum negeri ini! apakah sebuah kejahatan membunuh para kriminal yang mengganggu stabilitas Kekaisaran!?” ucap seorang Pria berpakaian militer dengan tegas. Dia adalah Jendral Kursch—Marshal pasukan militer Archduchy Astria. “Tanggung jawab untuk menangani kasus pemberontak ini harusnya berada pada wewenang Patrol Guard! Dan kenapa Wanita itu tidak hadir di sini!?” tanya Sang Jendral.


“Tuan Kursch, Aku menerima laporan bahwa pemberontak itu sedang beraksi di alun-alun Kota. Serena tidak bisa hadir di sini karena harus memimpin operasi keamanan di sana,” ucap Otto menjawab pertanyaan Sang Jendral.


...----------------...


Di sisi lain, Dua orang pria tengah mengikuti sekawanan pemberontak yang sedang mengendarai sebuah kereta kuda membawa Artefak penting Kekaisaran yang di curi.


“Hey Sirius, seperti instruksiku, apa kau siap?”


“Tentu saja Senior, mereka akan kita lumpuhkan dengan sekali serang,”


...----------------...


Author Note :


Sebelumnya, makasih bagi para pembaca yang sudah mendukung author. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar agar Saya lebih bersemangat untuk update dan meningkatkan kualitas ceritanya. Jangan lupa juga untuk Subscribe atau favoritkan novelnya agar selalu mendapatkan notifikasi update bab-bab berikutnya.


__ADS_1


__ADS_2