The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 8 : Nightingale


__ADS_3

"Nightingale…”


Mendengar aku menggumamkan kode namanya, wanita itu malah tersenyum. Dia kemudian kembali berjalan mendekatiku.


“Sudah kubilang bukan, jika hanya kita berdua saja, panggilah aku dengan nama asliku, Sirius.”


Tidak menghiraukan perkataannya, aku mengeluarkan Baselard dari sarungnya. Melihat apa yang aku lakukan, wanita itu tersenyum lebih lebar.


“Ahahahaha… Oh Sirius, kau tidak pernah berubah ya?” Dia berjalan lebih dekat lagi dan berhenti tepat selangkah dari area jangkauan tebasanku. “Apa yang kau lakukan di sini? melakukan sebuah investigasi kah?”


Dia memiliki kemampuan deduksi yang bagus. Aku mengetahui seberapa hebatnya dia selama 5 tahun ini menjadi Patnernya dalam melakukan berbagai macam misi.


“Kau tidak merespon perkataanku… itu artinya kau menganggapku adalah musuhmu, Sirius?”


Dia mengetahui kebiasaanku. Aku akan selalu diam menganalisa seseorang jika dia ku anggap memiliki potensi untuk menyerangku. Jika dia adalah musuh, bahkan aku sekalipun ragu untuk bisa mengalahkannya tanpa menggunakan kekuatan itu.


Dia kembali melangkah mendekat. Walaupun dia terlihat dengan santai dan cerobohnya melangkah ke area jangkauanku, dia tetap tenang dan percaya diri. Sebaliknya, aku yang memakai senjata dan sudah bersiap menebasnya, merasa pesimis akan mengenainya jika aku menyerangnya sekarang.


Dia berada dekat sekali denganku, wajah kami hampir bersentuhan. Dia menatap mataku tanpa berkedip sekalipun. Aroma parfum yang dia kenakan mulai tercium hidungku. Dia kembali tersenyum dan mendekatkan mulutnya ke telingaku.


“Aku di tugaskan untuk menjaga tempat ini, kau tahu.”


Clang!


Aku kemudian menyerangnya dengan tiba-tiba. Akan tetapi, di berhasil menahan Baselard dengan sebuah pisau di tangan kirinya.


“Ah… Baselard. Apakah kau merindukan mama nak? Hey, apakah papa Sirius bermain dengan wanita lain di belakang mama akhir-akhir ini?” Dia mengatakan hal itu dengan nada seperti seorang ibu sedang berbicara dengan anaknya.


Aku kemudian melompat kebelakang untuk menjaga jarakku. Dalam keadaaan seperti tadi, senjatanya lebih di untungkan dari pada senjataku.


“Hey, Sirius. Aku masih marah karena kau memilihkan nama seorang anak kecil seaneh itu kau tahu. Anak semanis Baselard itu seharusnya memiliki nama yang imut.” Dia terlihat kesal sungguhan hanya karena sebuah nama.


Baselard… Aku menatap sebuah pedang yang ada di genggaman tanganku. Hanya aku, Master dan wanita di hadapanku inilah yang mengetahui rahasia tentang senjata ini. Aku kemudian melesat ke arahnya melakukan sebuah serangan vertikal.

__ADS_1


“Huh? Serangan yang membosankan sekali.” Dia dapat dengan mudah menghindarinya.


Aku kemudian menjejakkan kakiku ke tanah dengan keras kemudian mengaktifkan sihir Long Jump untuk melesat dengan cepat ke arah wanita itu.


-Clang!


Wanita itu dapat dengan mudah menangkisnya kembali. “Ada apa? kemana barang-barang yang biasa kau bawa? Tanpa cahaya yang memadai, kau tidak akan bisa mengalahkanku kau tahu itu kan.”


Ya, serangan biasa saja tidak akan dapat melukainya. Di dalam organisasi Ouroboros, Nightingale merupakan yang tercepat selain Master. Aku tidak akan dapat mengalahkannya jika aku melakukannya dengan setengah-setengah. Tapi, jika aku memakainya, suara-suara itu akan kembali lagi padaku.


Aku kemudian melihat tubuh Nightingale mulai memperbanyak diri. Dia sudah mengaktifkan sihirnya, kah? Sihir yang membuat lawannya berhalusinasi. Dia akan memanfaatkan kebingungan indra musuh-musuhnya untuk membunuh mereka dengan mudah—Fatamorgana.


Aku berkonsentrasi lebih agar dapat mengetahui serangan dia yang sebenarnya nanti lalu mulai berlari menjauh darinya.


“Kejar-kejaran seperti biasa?” lima sosoknya yang kulihat mulai mengikutiku.


Mereka kemudian berpencar. Seberapa banyakpun sosok yang kulihat, yang asli tetaplah hanya satu orang. Di depanku terlihat wanita itu melesat ke arahku. Aku kemudian melakukan sebuah tebasan. Akan tetapi, Baselard hanya menembus sosok itu. Aku kemudian merasakan sesuatu di belakangku dan bergegas berbalik dan menangkis pisaunya yang hendak menusukku dari belakang.


Kelima sosoknya di sekelilingku mulai membelah diri menjadi empat bagian. Sekarang, aku melihat 20 puluh wanita memegang sebuah pisau mengelilingiku. Kedua puluh sosok itu mulai melesat ke arahku. Aku memfokuskan segala inderaku untuk mencari yang asli dari wanita itu.


-Slash!


Terdapat sebuah luka sayatan di bahuku. Ilusi-ilusinya membuatku teralihkan membuatnya lebih mudah untuk menyerangku. Kedua puluh sosok itu kemudian berlari memutar. Mencegah diriku untuk berlari melarikan diri. Mereka kemudian melesat ke arahku kembali.


-Slash!


Aku mencoba menangkis merespon serangannya tetapi percuma, aku terlalu terdistraksi oleh ilusi wanita itu. Apakah aku harus menggunakannya?


“Ada apa Sirius? Apakah kau menjadi selemah ini setelah menjadi Patrol Guard? Dimana Sirius Sang pembantai 100 orang Ksatria yang dulu ku kenal? Pembunuh kejam yang membantai sebuah Klan seorang diri!?”


Mendengar perkataannya, aku teringat akan hal-hal buruk yang telah aku lakukan ketika kutukan Arbil-ku tidak terkontrol. Aku mempererat genggamanku ke Baselard. Aura hitam mulai keluar dari sekujur tubuhku. Aku merasakan panca indraku lebih tajam sebelumnya. Aku kemudian menatap mata dari salah satu sosok wanita itu kemudian melesat ke arahnya dengan kecepatan penuh.


“…!”

__ADS_1


Dia nampak terkejut namun kedua sisi bibirnya terlihat terangkat. Ilusi-ilusi wanita itu kemudian menghalang-halangi pandanganku tapi aku tidak peduli. Aku sudah mengetahui yang asli.


“Kaulah yang asli!”


Aku melakukan beberapa tebasan ke arahnya tetapi dia dapat menghindari seranganku yang sudah lebih cepat dari biasanya ini. Aku melakukan sebuah tebasan diagonal ke arahnya. Dia kemudian menunduk dan mengangkat kakinya mencoba menendang ke arah wajahku tetapi aku berhasil menahan tendangannya dengan tangan kiriku.


Kami kemudian saling bertukar serangan, bagaikan dua pasangan sedang berdansa dalam lantunan sebuah musik pesta. Tidak lama kemudian, aku melihat perubahan dari kecepatan geraknya.


Staminanya mulai terkuras, kah?


Aku kemudian meningkatkan intensitas seranganku. Dia kemudian menghindar dan melakukan sebuah serangan tusukan mengincar mataku. Aku kemudian berbalik lalu menangkapnya kemudian membantingnya ke tanah. Setelah itu aku bergegas menaikinya hendak mengakhirinya dengan sebuah serangan ke arah jantung.


“Segitu inginnya kah kau membunuhku?” Dia menanyakan hal itu sambil menahan pergelangan tanganku mencegah Baselard menusuk jantungnya.


“Aku tidak punya pilihan lain.” Posisiku berada di atasnya.


Dia terlihat masih tersenyum walaupun dengan keadaan seperti ini. Kadang aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya itu.


“Hey, apakah kalian mendengar sesuatu? Kurasa aku mendengar suara orang sedang bertarung di sana.” Aku mendengar samar-samar suara itu dari belakang.


“Mereka tidak lama lagi akan kesini kau tahu. Jika ketahuan, akan lebih banyak dari mereka yang akan datang kesini.” Kembali, wanita di bawahku mengatakannya dengan sebuah senyuman. “Apa yang akan kau lakukan?”


Aku kemudian menatap matanya. Tangan kiriku menahan tangan kanannya yang mulai berontak mencoba melepaskan diri. Aku mulai mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku kemudian membenturkan kepalaku dengan dahinya lalu bangun dan mulai berlari untuk menghilang di balik pepohonan.


Aku menggunakan kekuatan itu… kurasa aku tak akan tidur dengan nyenyak malam ini.


...----------------...


Terima kasih buat para pembaca dan Author lainnya yang sudah ngedukung saya.... Jangan lupa Like, Subscribe dan tinggalkan komen ya...


Dan mohon maaf kalau kualitas 2 chapter akhir2 ini agak menurun karena Authornya terlalu terbagi fokus sama urusan yg lain.


__ADS_1


__ADS_2