The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 11 : Kembali


__ADS_3

Kami menetap tiga hari lebih lama di Desa Runfeld menunggu bala bantuan yang dikirimkan oleh Kuil Dewi Athena datang. Kami tidak mau mengambil resiko pergi dari sini ketika pertahanan kami kurang memadai.


Di sisi lain, para pahlawan telah berhasil menuntaskan trial terakhir mereka. Tiga orang yang mendapatkan Pedang Suci adalah, Arthur, Pangeran Maxhill von Habsburg dan Pierre de Poitiers.


Entah kenapa, setelah mendapatkan masing-masing pedang suci, mereka bertiga terlihat sangat tidak senang maupun gembira. Terutama Arthur, sebelumnya aku melihatnya hanya berduaan saja dengan Lena kemarin. Dia terlihat semangat ketika mengatakan sesuatu tentang menjadi Ksatria pilihannya kepada Lena.


Namun, Lena menolaknya dengan mengatakan 'Aku sudah memilih Ksatria-ku, Arthur' Entah mengapa, melihat wajahnya yang membeku dan terkejut mendengar jawaban Lena membuatku sangat puas.


Hari ini kami akan mulai perjalanan pulang ke Kota Wien. Kuharap aku bisa mendapatkan libur untuk hari ini, sungguh misi yang menguras energi. Belum beberapa anggota yang mati... Aku harus menemui keluarga mereka.


Sepertinya aku memang tidak cocok untuk memimpin banyak orang. Aku terlalu memprioritaskan misi ku ketimbang nyawa rekan-rekanku. Mana yang benar? aku sama sekali tidak tahu.


Dalam perjalanan pulang, kami sama sekali tidak mendapat hambatan apapun. Ketika sampai di Kota Wien, para warga kembali menyambut rombongan pahlawan. Akan tetapi, berbeda ketika mereka sampai pertama kali ke Kota ini dengan penuh senyum dan bangga, sekarang mereka terlihat biasa saja tanpa menyapa para warga.


Kurasa Trial para pahlawan mengubah kepribadian mereka sedikit. Aku jadi penasaran, seperti apa trial itu sampai dapat merubah mereka dalam satu malam.


Sesampainya di Istana kediaman Archduke, para Patrol Guard berkumpul di lapangan kedua untuk mendapatkan arahan selanjutnya dariku.


"Kalian sudah menjalankan misi ini dengan berani dan terhormat. Aku bangga kepada kalian, Sang Saint bangga pada kalian dan warga Kekaisaran bangga kepada kalian. Mari kita melakukan penghormatan terakhir kepada rekan-rekan kita yang telah gugur dalam menjalankan tugas." Setelah melakukan pembukaan, aku kemudian berjalan untuk masuk barisan seperti Patrol Guard lainnya.


Tidak lama kemudian, beberapa peti mati mulai memasuki area lapangan. Para Patrol Guard yang berbaris mengepalkan telapak tangan kanannya lalu menempelkannya di dada kiri mereka.


Setelah upacara selesai, para Patrol Guard kemudian membubarkan diri untuk melapor ke markas. Setelah itu, mereka bisa kembali pulang dan mendapatkan cuti selama lima hari penuh.


Sekarang, aku sedang berjalan ke ruangan Ketua Serena untuk melapor tentang misi pengawalan Sang Saint dan para pahlawan. Sejujurnya, aku tidak mengharapkan sebuah pujian apapun. Aku hanya ingin cepat menyelesaikan ini lalu tidur di kamarku yang gelap.


Tok! Tok! Tok!


"Masuklah." Terdengar suara dinginnya yang sangat familiar sekali denganku.

__ADS_1


Membuka pintu ruangan, aku melihat Ketua yang sedang melihat keluar jendela. Rambut hitam bagaikan kegelapan malam, ekspresi dingin bagaikan Ratu Es, dan penampilan elegannya yang menunjukkan kebangsawanannya. Pemandangan ini bagaikan lukisan indah yang akan mendapatkan pujian oleh para pengunjung yang melihat.


"Ah Sirius, apa yang kau lakukan berdiam diri di depan pintu seperti itu? Masuklah." Menyadari kehadiranku, Aku kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Duduklah, Sirius," perintahnya seraya duduk di kursi kantornya. "Lalu, bagaimana dengan misinya. Aku ingin mendengarnya langsung darimu."


Aku kemudian menjelaskan dari pertarungan dengan para Nymph di jembatan dan kehilangan tiga anggota sampai pertarungan dengan para Vampir di Desa Runfeld yang mana kami kehilangan hampir setengah seluruh anggota.


"Vampir, kah? Kau mendapatkan hari yang buruk di sana, Sirius," ucap Ketua terdengar bersimpati. "Lusa apakah kau memiliki rencana?" tanya Ketua Serena.


"Kurasa tidak, mengapa Anda tiba-tiba bertanya seperti itu, Ketua?" Ketua jarang sekali menanyakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan padaku.


"Well... " Dia kemudian berdiri lalu berjalan mendekatiku. Tangannya menyentuh bahuku, wajahnya berada di samping wajahku. "Mau melakukan kencan denganku?"


"....!" Suaranya seperti menggelitik telingaku. Aku mencium aroma tubuh Ketua yang harum. Tidak, jangan memikirkan hal itu, aku jadi tidak ada bedanya dengan Senior Hans jika melakukannya.


Aku menjauhkan wajahku, terlihat Ketua Serena tersenyum nakal padaku. "Kau tidak mau?" tanyanya seraya mendekatkan kembali wajahnya padaku.


Ketua kemudian kembali ke tempat duduknya. "Kalau begitu sudah diputuskan, kau bisa istirahat sekarang, Sirius."


Setelah keluar dari Markas Patrol Guard, aku kemudian berjalan menuju kediamanku. Melihat suasana kota Wien yang lumayan ku rindukan setelah melakukan misi di luar kota selama beberapa hari membuat pikiranku terasa jernih.


"Kau sudah cukup sombong ternyata Angelo." Aku mendengar suara ketika akan melewati sebuah gang Kota. "Apakah kau sudah tidak membutuhkan kami? Kau pergi begitu saja dari kelompok kita."


"Aghhh!" Seorang anak terlihat memegangi perutnya, nampaknya tiga anak yang lain sedang membullynya.


Aku kemudian mendekati mereka dan ketika melihat lebih dekat lagi, anak yang sedang memegangi perutnya itu nampak familiar.


"Kalian semua pergi dari sini, atau aku akan memaksa kalian masuk ke dalam sel tahanan," ancamku kepada ketiga anak itu.

__ADS_1


"Cih, ingat ini Angelo, kami akan mendatangimu lagi!" Mereka bertiga kemudian meninggalkan anak itu sendiri.


Aku berjalan mendekati anak itu. Di lihat dari kondisinya, kurasa tidak ada luka pada bagian dalam organ tubuhnya. "Bukankah kau pencuri yang ku beri uang itu?"


Mendengar perkataanku, dia kemudian mulai melihat ke arahku. "Ya, terima kasih atas bantuanmu sebelumnya, Tuan. Berkat uangmu, Adikku bisa disembuhkan dari sakitnya."


Dia kemudian mencoba berdiri sambil memegangi tembok gang. "Terima kasih atas bantuanmu juga kali ini, Tuan. Aku permisi terlebih dahulu."


Namun, sebelum dia dapat bergerak, aku memegangi tangannya. "Apakah kau sudah mendapatkan pekerjaan yang layak?"


Merespon pertanyaanku, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


"Apakah mereka selalu melakukan ini padamu setiap hari?" tanyaku yang melihat ke arah matanya.


"Ya...," ucapnya lirih. "Jika aku tidak membantu mereka, adikku akan mereka incar sebagai balasannya."


"Apakah kau ingin dapat melawan mereka? Menjadi lebih kuat untuk bisa agar bisa melindungi adikmu?"


Mendengar pertanyaanku, dia terdiam sejenak. "Aku hanya anak yang lemah, Tuan. Mana mungkin aku bisa mengalahkan anak-anak yang lebih besar dariku."


"Well... Mengalahkan seseorang itu bukan dilihat dari seberapa besar atau banyak lawanmu, Angelo."


"Apa maksud Anda, Tuan?" tanyanya kebingungan dengan perkataanku.


"Namaku Sirius, jika kau mau, aku dapat melatihmu bertarung," tawarku padanya.


"Sungguh!? Kau mau melakukan ini untukku Sirius!?" Dia terlihat menjadi bersemangat.


Oi, oi, oi. Mengapa cara bicaramu padaku itu berubah? Hah... Dia memang masih anak-anak.

__ADS_1


"Temui aku besok pagi di alun-alun kota, aku akan melatihmu beberapa teknik agar kau bisa melawan ketiga anak itu."


"Baiklah, Sirius!"


__ADS_2