
Beberapa hari telah terlewati sejak peristiwa percobaan pembunuhan Tuan Radolf. Setelah kejadian itu, publik tetap mengkritik Patrol Guard mengenai terbunuhnya seluruh keluarga Tuan Radolf. Akan tetapi, mereka lebih membenci para pemberontak yang mana menjadi dalang dari semua itu.
Untuk Tuan Radolf sendiri… Aku masih belum bertemu dengannya. Sejujurnya, aku tetap ingin menghindarinya.
Investigasi telah dilakukan tentang bagaimana para pemberontak itu dapat menyamarkan diri mereka menjadi seorang Patrol Guard yang menjaga teater itu. Aku mendengar dari Senior Hans, di dalam Organisasi Patrol Guard terdapat seseorang pengkhianat yang menyabotase mereka. Namun hal ini masih dalam penyelidikan.
Selalu ada mata-mata musuh yang akan selalu dapat berhasil menyusup kedalam organisasimu seketat apapun kau mencoba mencegahnya.
Seperti yang terjadi pada Ouroboros, seorang anggota yang sebenarnya mata-mata musuh memberitahukan segalanya tentang markas Ouroboros yang membuat Ouroboros dapat dihancurkan hanya dengan satu malam.
Memasuki markas, aku kemudian langsung menuju ke Aula untuk melakukan Briefing. Di sana telah hadir puluhan anggota.
Mengapa kami dikumpulkan di sini? Itu karena Ketua dikabarkan telah menerima informasi mengenai tempat dimana para pemberontak itu akan menerima senjata dari mata-mata Republik.
Setelah menunggu beberapa menit, Ketua Serena kemudian memasuki ruangan di damping oleh Wakil Ketua Clarissa.
“Perhatian! Ketua akan menginformasikan tentang operasi kita untuk hari ini,” instruksi Wakil Ketua.
Para anggota kemudian berhenti mengobrol lalu mengarahkan pandangannya kepada Ketua Serena.
“Aku telah melakukan rapat bersama tim investigasi yang beberapa hari kemarin aku tugaskan untuk mencari letak dimana para pemberontak itu akan mendapatkan senjata dari mata-mata Republik.” Ketua Serena kemudian mengambil sebuah kertas di saku dadanya. “Letaknya berada di dekat sebuah ngarai arah Barat Daya Archduchy yang berbatasan dengan Kerajaan Lorraine. Di sana terdapat sebuah Basecamp para pemberontak yang membentuk seperti Kota kecil. Diperkirakan kekuatan mereka berjumlah 200 orang.”
Dua ratus orang, kah? Mungkinkah itu seluruh pasukan pemberontak yang ada di Arcduchy Astria? Jika kita dapat menangkap mereka semua, maka kestabilan keamanan di Archduchy Astria akan terjamin. Para kriminal yang lainnya juga akan takut akan kekuatan Patrol Guard yang mampu mengalahkan Organisasi Kriminal terbesar yang ada di Archduchy.
“Kita akan membawa 200 Anggota lapangan dengan dibantu 20 penyihir untuk menyerbu Basecamp mereka. Rencananya, dua orang dari kita akan menyusup kesana untuk membuat kekacauan untuk mengalihkan pertahanan mereka sehingga kalian semua dapat memasuki Basecamp mereka. Ada pertanyaan?” Ketua Serena telah selesai membacakan instruksi untuk Operasi kali ini lalu memandang para anggota di hadapannya.
Mata kami kemudian saling bertatapan. Itu karena Ketua Serena melihatku yang sedang mengangkat tanganku.
“Ya, kau. Apa pertanyaanmu?” Seperti biasa, dia sangat dingin seperti sebelumnya.
“Siapa kedua orang yang akan menjadi umpan pengalih di Basecamp mereka?” Mendengar pertanyaanku, Ketua hanya membalasnya dengan menyeringai.
***
Beberapa jam kemudian, aku sedang berjalan bersama dengan seorang wanita di sampingku. Wanita ini memakai sebuah jubah compang-camping, noda darah terlihat dari wajah wanita itu.
Ya, dia adalah Ketua Serena. Kami berdua sedang melakukan penyamaran sebagai penjual budak dengan budaknya untuk memasuki Basecamp para pemberontak itu.
Jika kami telah berhasil masuk, kami akan sebisa mungkin menyebabkan kekacauan lalu memberi sinyal kepada para anggota lainnya yang telah bersiap. Setelah itu, para anggota akan melakukan serangan secara penuh menuju Basecamp mereka.
“Hey, apa kau mampu melakukan sebuah penyusupan ke markas-markas musuh? Aku mendapat laporan dari Clarissa, kau cukup bagus dalam bertarung. Aku akan menilainya untuk kali ini secara langsung.” Mendengar perkataannya itu, aku mengerutkan dahiku.
__ADS_1
Aku malah pernah menyusup ke Ruangan perpustakaan Rahasia Kekaisaran yang terkenal sangat sulit ditembus penjagaannya kau tahu… Sayangnya aku tidak bisa mengatakan hal itu padanya.
“Bergeraklah sama seperti yang telah di arahkan ketika Briefing, mengerti?” Ketua Serena membuka jubahnya ketika mengatakan hal itu padaku. Selain darah, terlihat juga debu tanah yang menempel di wajahnya untuk menyamarkan penampilannya sebaik mungkin.
Aku kemudian hanya mengangguk untuk merespon perkataannya itu.
Kami kemudian tiba di depan Basecamp para pemberontak itu. Letaknya berada tepat di samping sebuah Air terjun. Aku tidak mengerti, mengapa mereka harus repot-repot membangun sebuah Basecamp di tempat seperti ini.
“Kita telah sampai, bersikaplah senatural mungkin,” bisik Ketua padaku.
Kami menghampiri seseorang yang terlihat seperti penjaga gerbang utama Basecamp yang terbuat dari sebuah kayu setinggi 5 meter.
“Siapa kau dan apa urusanmu kemari?” Mendengar pertanyaan penjaga itu, Aku kemudian memegang kepala Ketua kemudian memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan debu dan darah kepada mereka.
“Aghhh!” jerit Ketua yang kaget dengan aksiku ini.
“Putih, mulus, segar. Jika dibersihkan wanita ini pasti akan bersinar dan memiliki harga yang tinggi di pelelangan.” Mendengar perkataanku, aku melihat mata Ketua memelototi ku dengan mengerikan.
Hey, bukankah ini perintahmu sendiri untuk bersikap secara natural?
Para penjaga itu kemudian memperhatikan wajah Ketua lebih dekat. “Hmmm… Wajahnya sepertinya tidak asing bagiku. Apakah dia seorang Bangsa—Apa-apaan ini?“ Ketika penjaga itu hendak menyentuh wajah Ketua, aku langsung memegangi tangannya.
“Kau hanya boleh memperlakukan dia sesukamu jika kalian sudah membelinya dariku. Jika tidak, jangan pernah sekalipun kalian punya pikiran untuk menyentuh barangku!” Aku mengatakan hal itu sambil menatap mengintimidasi mereka.
Kami kemudian berjalan memasuki Basecamp ini. Benar sekali, tempat ini cukup besar hampi sebesar Kota Ilmenoy yang Aku dan Lena kunjungi tempo hari. Selain para penjaga, terdapat banyak sekali orang-orang yang bekerja diberbagai bangunan yang ada di tempat ini.
“Bisakah kau melepaskan tanganmu dariku?” Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat dingin dari arah samping.
Secara tak sadar, aku masih memegangi tangan Ketua walaupun sudah berhasil melewati para penjaga.
"Maaf," ucapku singkat sambil melepaskan genggaman tanganku di tangan Ketua.
"Lupakanlah, kita lakukan seperti rencana. Kita akan membebaskan para budak yang di tahan kemudian melakukan kekacauan di tempat ini untuk memberi celah kepada anggota yang lain agar mereka dapat memasuki tempat ini dengan mudah, mengerti?" Aku hanya mengangguk merespon instruksi Ketua.
Kami kemudian memasuki sebuah bangunan yang paling tinggi di sekitaran tempat ini. Di hadapan kami, terdapat beberapa kandang yang di isi oleh manusia maupun Demi-human.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Seorang Pria memakai sebuah topi aneh menghampiri kami.
"Kemarilah, Aku mempunyai budak yang bagus untukmu." Mendengar perkataanku, Pria itu kemudian berjalan lebih dekat ke arah kami. Dia lalu mulai memperhatikan wajah Ketua.
"Hm... Wajahmu ini, sepertinya aku pernah melihat mu... Ahh! Kau adalah Si Black Mam—." Sebelum dia dapat mengakhiri perkataannya itu, Ketua menusukkan pedangnya ke tenggorokan Pria itu.
__ADS_1
"...!"
"...!"
Seperti biasa, Ketua sangat tidak memiliki belas kasih. Melihat aksi Ketua, para penjaga bangunan ini mulai mencabut pedang mereka dari sarungnya.
"Kalian semua akan mati di sini!" Setelah meneriakkan perkataannya, Ketua langsung melesat ke arah para penjaga itu.
Di sisi lain, dua penjaga mulai berlari ke arahku. Mereka menebaskan pedangnya secara bergantian. Aku dapat dengan mudah menghindarinya lalu melakukan serangan balik meninju dagu mereka berdua yang membuat mereka langsung tak sadarkan diri.
Berbalik untuk mengecek kondisi Ketua, Aku melihatnya dengan mudah menumbangkan 8 orang sekaligus menggunakan teknik pedang sihirnya.
"Itu penyusupnya! Tangkap Mereka berdua!" Aku melihat puluhan penjaga mulai masuk ke bangunan ini.
"Ketua! Kurasa kita sudah cukup menarik perhatian mereka!"
Mendengar perkataanku, Ketua lalu mengangkat tangannya ke udara. Sebuah percikan api mulai muncul di pergelangan tangannya.
"Agni Flare!" Sebuah bola api besar terbang ke angkasa menembus langit-langit bangunan.
Ketua memiliki dua elemen sihir, kah?
"Kita tahan mereka sampai bantuan tiba!" Mengatakan perintah itu, Ketua melepaskan jubahnya lalu melesat ke arah puluhan penjaga di depan kami.
Menebas musuh-musuhnya secepat kilat dengan ekspresi dingin seperti itu, aku akhirnya tahu mengapa Ketua dijuluki sebagai The Black Mamba.
***
Tidak lama setelah Serena mengeluarkan sinyal sihir api tadi ke udara, para Patrol Guard mulai menyerbu Basecamp para pemberontak dari segala arah.
Leon dan Fran sedang mengamati sekitar di atap sebuah bangunan.
"Leon, seluruh Patrol Guard yang sebelumnya bersembunyi telah memasuki Basecamp. Mereka telah masuk ke dalam perangkap kita. Kita lakukan sekarang?" tanya Fran sambil memegangi sebuah artifak di tangannya.
"Baiklah Fran. Ingat, tugasmu adalah sebisa mungkin menjaga artefak itu sampai para Patrol Guard yang ada di sini kita habisi semua."
Fran hanya mengangguk merespon instruksi Leon. Dia kemudian mengaktifkan artifak itu lalu muncul lah cahaya berwarna merah dari benda yang sedang dia genggam itu.
Cahaya itu kemudian melesat ke arah langit lalu mulai menyebar ke segala penjuru Basecamp menutupi area itu bagaikan sebuah kandang burung.
"Mereka sekarang tidak akan bisa keluar dari area ini. Tinggal satu lagi... " Leon mengeluarkan sebuah gulungan lalu meneteskan darahnya ke gulungan tersebut.
__ADS_1
Dia kemudian melempar gulungan itu ke udara lalu gulungan itu meledak mengeluarkan kepulan asap tebal.
Dua buah bayangan sesosok makhluk misterius terlihat dari dalam kepulan asap yang disebabkan ledakan gulungan yang di lempar Leon tadi.