The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 18 : Sirius vs 3 Apostle


__ADS_3

Sesuai dugaanku, mereka telah menungguku untuk menyerang dan telah bersiap dengan serangan kejutanku. Bola api itu semakin mendekat akan tetapi aku tidak panik.


“Shadow Link.”


Aku mengaktifkan sihirku kemudian menandai bayangan penyihir itu. Pandanganku mulai kabur dan tidak lama kemudian, tubuhku muncul di atas tanah dimana bayangan penyihir itu berada.


“…!!”


Ekspresi penyihir itu terlihat sangat kaget ketika tiba - tiba saja aku dapat menghindar dari serangannya dan kemudian muncul di belakang tubuhnya. Aku menebaskan Baselard ke lehernya berniat membunuhnya dengan sekali serangan mematikan.


Scrachhtt!


Huh? tebasanku tidak membuat lehernya terputus akan tetapi, aku merasakan sensasi aneh ketika Baselard menyentuh kulit lehernya.


Aku menyadari di belakangku, rekan penyihir itu sedang melesat hendak menyerangku dengan tinjunya. Aku kemudian berbalik menahan tinjuannya itu dengan kedua tanganku.


Bamm!


Aku berhasil menahan serangannya. Akan tetapi, daya serangnya yang kuat membuatku terpental menjauhi mereka bertiga.


“Hee~ refleks yang cukup bagus,” ujar Brawler itu.


Mereka berpengalaman dalam bertarung hidup dan mati. Aku harus berhati - hati.


“Sarkous, Ape. Kita serang seperti biasa,” ucap pria berpedang.


Dia mulai berlari ke arahku menunjukan pedangnya yang berkilau. Di belakangnya aku melihat Brawler itu ikut bergerak juga dan Penyihir di belakangnya tengah menyiapkan sebuah mantra.


Tidak membiarkanku menganalisa pergerakan mereka, pria berpedang datang dan menyerangku dengan sebuah tebasan Horizontal. Serangannya dapat dengan mudah ku hindari karena itu hanya sebuah serangan pengalih.


Pria berpedang lalu melakukan tebasan bertubi-tubi yang mana memaksaku untuk fokus dengan pergerakannya saja.


Tidak mau jatuh ke dalam permainannya, aku kemudian membalas melakukan serangan balik.


Bzttt!


Pedang kami beradu, dia menangkis seranganku. Ketika senjata kami melakukan kontak, tanganku tiba - tiba terasa mati rasa seakan tersengat oleh sesuatu. Tidak lama kemudian, Brawler itu mulai ikut menyerangku melakukan serangan kombo dengan pria berpedang.


Dalam kondisi yang tidak di untungkan ini, aku menghindari pukulan Brawler itu dan mencoba untuk menebas tangannya.


Scratchh!


Lagi, sensasi aneh ketika Baselard melakukan kontak dengan kulit mereka. Dengan ini aku yakin, mereka adalah seorang Apostle.


Pria berpedang itu kembali menyerangku. Aku kesulitan menghindarinya dan mau tidak mau harus menangkis serangan pedangnya.


Setelah menangkisnya, tangan kananku serasa tersetrum lalu kembali mati rasa. Di belakang pria berpedang, telah bersiap pukulan Brawler yang akan menyerangku dengan pertahananku yang sedikit terbuka.


Bamm!


Aku mencoba menahan pukulan itu dengan tangan kiriku akan tetapi, tidak seluruhnya dapat menyerap pukulannya yang kuat itu.


Tubuhku terpental karena tidak sempurna menahan serangan Brawler itu.


“Ini masih belum selesai!”


Aku melihat Brawler itu melompat di udara untuk mendapatkan momentum serangan yang lebih kuat. Dengan jarak ini, aku bisa menghindari serangannya kali ini.


“Mud Wall!”


Sebuah lingkaran sihir tiba - tiba muncul di tanah dimana aku berpijak. Tanah itu tiba - tiba naik ke atas membuatku lebih dekat dengan Brawler itu.


“Hancurkan dia, Ape!!”


Tangan Brawler itu mulai bercahaya.


“Makan ini! Kong Gun!!!”


Aku mengangkat kedua tanganku untuk menahan serangan Brawler itu.


BAAMM!!


Aku kembali terpental terkena serangan kuat Brawler itu. Kali ini, tanganku serasa di hancurkan. Aku bahkan menjatuhkan Baselard karena mencoba untuk menahan serangannya.


“Hahaha! Rasakan itu!”


Brawler itu memiliki mulut yang berisik.


Aku kemudian bangkit dan mengambil dua buah knuckle dari kantungku. Seorang Apostle memiliki kulit spesial yang mencegah benda tajam untuk menusuk mereka.


Satu - satunya cara adalah menggunakan serangan tumpul untuk menghancurkan lapisan kulitnya terlebih dahulu.


“Hee~ kau ternyata tahu kelemahan kami,” ucap pria berpedang melihatku mengganti senjata tarungku.


“Apakah kau pernah bertarung dengan sejenis kami? Orang - orang yang menjual jiwanya kepada Iblis dengan balasan - balasan tertentu,” tanya pria berpedang itu dengan nada yang tertarik.


“Ya, kalian adalah orang - orang putus asa akan kekuatan. Sesungguhnya aku merasa kasihan pada kalian karena telah menjual sisi kemanusiaan kalian dan menyerah kepada Iblis,” ucapku dengan nada yang iba.


“Hoo~ mari kita buktikan di sini apakah perkataanmu itu benar bahwa keputusan kami itu salah menukarkan jiwa kami dengan kekuatan.”


“Dengan senang hati!”


Aku kemudian mengaktifkan kembali Shadow Link dan mengepalkan kedua tanganku yang telah terpasang knuckle. Aku melakukan lompatan bayangan ke belakang penyihir itu.


“…!”


Crackk!


Kali ini aku meninju wajahnya dengan keras dan terdengar suara seperti cangkang pecah. Penyihir itu terpental dan terlihat sebuah retakan di pipinya.


“Sial! Itu sakit kau tahu!!!”


“Hati - hati! Dia memiliki sebuah sihir yang unik!” Pria berpedang memperingati rekan - rekan mereka.


Aku tidak membuang waktu lalu kembali melakukan lompatan bayangan ke pria berpedang itu.


“…!!”


Dia terkejut akan tetapi masih mencoba menebaskan pedangnya ke leherku. Aku menunduk untuk menghindari tebasannya lalu meninju perutnya.


“Ughhh!”


Dia kemudian menunduk memegangi perutnya. Aku kemudian melakukan sebuah Uppercut meninju dagunya dengan keras.


Crackkk!


Tubuh pria itu terpental sambil mengeluarkan suara layaknya cangkang pecah.


“Jangan sombong kau!”


Aku menghindari serangan Brawler itu yang mencoba menyerangku dari belakang dengan berisik. Bodoh sekali.


Aku kemudian menangkap tangannya dan melakukan sebuah kuncian kepada kedua tangannya.


Crackkk!!


“Aghhh! Siall! Apa yang kau lakukan!”


Setelah aku mematahkan kedua tangannya, aku kemudian meninju perutnya hingga membuatnya terpental jauh.


Aku kemudian berbalik lalu mendapati penyihir itu mengarahkan tangannya padaku dan mengucapkan samar - samar sebuah mantra.


Tanah tempatku berdiri kemudian bergetar. Aku dengan terburu - buru melakukan sebuah lompatan. Tiba-tiba, tanah dimana aku berdiri tadi terlipat.


Hampir saja! Penyihir itu hendak mengurungku di dalamnya.

__ADS_1


“Sial! Sihirku kurang cepat!” teriak Penyihir itu kesal.


Aku kembali melakukan sebuah lompatan bayangan untuk muncul di belakangnya.


“Radical Blow!”


Aku memukuli dengan sebuah kombo tinjuan. Dagu, ulu hati dan tulang rusuk. Aku memukulnya terus menerus hingga terdengar bunyi seperti pecahan kaca terdengar dari tubuhnya. Aku kemudian melesatkan pukulan terakhir ke wajahnya yang membuatnya terpental setelah menerima seranganku yang bertubi - tubi.


“Hahh… Hahh… Aku terlalu banyak menggunakan mana.” Nafasku terengah - engah. “Setidaknya itu cukup untuk menghancurkan lapisan kulit spesial mereka.” Aku kemudian mengambil Baselard yang terjatuh tadi.


“Sial! Ini memalukan!” Teriak Brawler itu tampak kesal.


“Sihir yang dia gunakan sangat merepotkan sekali,” ucap Penyihir itu protes sambil berusaha bangkit.


“Dia kuat. Sarkous, dia menggunakan bayangan kita untuk berpindah - pindah sesuka hatinya. Gunakanlah sihirmu untuk mengatasi itu!”


Pria berpedang itu tidak bodoh ternyata.


“Curtain of Darkness!”


Penyihir itu mengaktifkan sihirnya. Tidak lama kemudian, area sekeliling kami menjadi gelap gulita seakan - akan ada sebuah penghalang sihir yang menyelimuti tempat ini.


Aku kemudian mengaktifkan sihir Night Vision agar aku dapat melihat dalam gelap.


“Kita serius kali ini! Gunakanlah pelepasan Iblis kalian!”


Mereka bertiga kemudian di selimuti oleh sebuah aura yang berat. Tidak lama kemudian, terlihat tubuh mereka yang berubah bentuk.


Tangan pria berpedang berubah menjadi sebuah senjata tajam seutuhnya dan kepalanya berubah layaknya seperti seekor belalang.


Tubuh Brawler terlihat lebih berbulu dan kedua tangannya berubah menjadi sangat panjang sekali.


Di kepala Penyihir itu, tumbuh sebuah antena dan kedua tangannya berubah menjadi sebuah capit layaknya Lobster.


“Kau memaksa kami mengeluarkan pelepasan kami.”


“Pertarungan yang sebenarnya baru di mulai.”


“Kami akan tunjukkan batasan yang telah kami lampaui dengan menjadi seorang Apostle!”


Ketiga mata mereka bercahaya merah. Aura di sekeliling mereka terlihat lebih pekat daripada sebelumnya.


Aku melihat Brawler itu mulai melakukan kuda - kuda seperti hendak memukul.


Apa yang dia lakukan? Aku masih jauh dari jangkauannya.


Swosshhh!


Sial! Tangannya bisa memanjang!


Aku kemudian mencoba berlari dari kejaran tangan Brawler itu.


“Percuma saja! Tanganku menjadi lebih cepat ketika memanjang!”


Benar katanya. Tangannya mulai mendekati jarakku walaupun aku sudah berlari.


Aku kemudian berbalik dan menghindari serangannya dengan selisih sehelai rambut. Tiba - tiba, di depanku muncul Pria berpedang hendak mengayunkan kedua lengannya untuk menebasku.


Bagaimana dia bisa secepat itu!?


Bzztt


Aku menahan tebasannya dengan Baselard akan tetapi, sengatan dari senjatanya lebih kuat daripada sebelumnya.


Aku kemudian melompat ke belakang untuk menjaga jarak darinya akan tetapi, aku melihat 3 bola api yang sedang mengarah ke tempatku melompat.


Kecepatan sihirnya juga lebih cepat dari sebelumnya!


Dalam kondisi yang sulit untuk menghindar ini, aku mengeluarkan sebuah benda di dalam kantungku. Aku lalu mengaktifkannya kemudian benda itu terbelah menjadi tiga dan melesat ke masing - masing bola api itu.


Hampir saja! Untung aku masih memilikinya!


Aku kemudian merasakan sesuatu di belakangku. Dua buah lengan sedang melesat hendak menyerangku.


Aku mencoba menghindarinya kembali akan tetapi, pria berpedang itu kembali muncul tepat di depanku.


Sial! Ini hanya akan berulang jika aku tidak melakukan sesuatu!


Kembali, tanganku menjadi mati rasa setelah Baselard melakukan kontak dengan tangan pedangnya itu. Kali ini, aku sulit untuk bergerak. Pria berpedang itu kemudian melakukan sebuah tendangan yang tepat mengenai kepalaku.


Kepalaku bergetar sangat hebat yang membuatku berjalan mundur tak terkendali.


BAMMM!!


Aku merasakan kembali wajahku terpukul sesuatu. Sial! Jangan sampai aku tak sadarkan diri!


Setelah memulihkan kembali penglihatanku, di hadapanku terdapat sebuah bola api yang keluar dari sebuah tangan lobster.


“Fire Blast!”


Tubuhku terasa terbakar dan terpental terkena serangan sihir apinya dengan telak. Aku melihat tanganku yang melepuh terkena serangannya.


“Apakah sudah selesai, Assassin?”


Aku mendengar samar - samar salah satu dari mereka berbicara.


“Kau tidak bisa mengalahkan kami karena kau hanyalah seorang manusia biasa.”


Aku kemudian meraih kantungku dan mengambil sebuah botol berisi obat penahan sakit.


“Sangat di sayangkan jika kau mati di sini. Kau memiliki keterampilan yang bagus kau tahu.”


Aku mulai meminumnya sampai habis dan melempar botolnya hingga pecah.


“Bergabunglah dengan kami. Tuan Geldoro pasti akan memberikanmu apa yang kau mau jika kau melayaninya.”


Hee~ apa yang kumau, kah? Apakah kalian tahu apa yang kumau dalam sisa hidupku ini?


Aku kemudian kembali menggenggam Baselard dengan erat di tangan kananku dan sebuah Knuckle di tangan kiriku.


“Aku takut, tuanmu itu tidak akan bisa memberikanku apa yang ku mau.”


“Hoo~ apa yang kau mau? Harta? Kejayaan? Kekuatan? Tidak ada yang mustahil bagi tuan kami untuk memenuhi semua itu,” ucap Pria berpedang kembali mengajakku ke dalam pelukan Iblis kembali.


“Jika kau menawariku seperti itu ketika aku masih bocah, aku mungkin akan menerimanya. Sekarang, aku mencari hal yang berbeda.” Aku kemudian bangkit dan bersiap mengeluarkan sihir andalanku ketika dalam kondisi seperti ini.


Yaaa… Seperti yang Master bilang pada saat - saat terakhirnya. Yang ku inginkan adalah tujuan hidup untuk menebus hal - hal yang telah kulakukan untuk terbebas dari kutukanku.


“Apakah karena wanita itu? Kau mengorbankan segala potensimu hanya untuk satu manusia. Sungguh konyol sekali.”


“Ya… Alasan konyol itulah yang membuatku berbeda dengan kalian! Night Phantom Murderer…”


Sebuah aura sihir mulai keluar dari sekujur tubuhku. Ini adalah sebuah sihir spesial yang Master buat khusus untukku.


“Kami hanya butuh satu Wanita itu saja sebagai korban! Apakah yang kau lakukan ini sebanding dengan hanya satu nyawa Wanita Buta!?”


“Kalian tak akan berhenti hanya dengan satu nyawa! Ku habisi kalian semua!”


Night Phantom adalah sebuah sihir dimana semakin gelap lingkungan sekitar penggunanya, maka semakin bertambah cepat pula buff kecepatan dan reaksi pengguna sihir ini.


Penyihir itu mulai membuat 5 lingkaran sihir di udara lalu mengucapkan sebuah mantra.


“Meteor Rain!”


Lima bola api besar keluar dari lingkaran sihir itu yang kemudian melesat ke arahku.

__ADS_1


Aku mulai berlari maju. Dengan aktifnya sihir ini, aku percaya diri bisa menghindari serangan penyihir itu.


Swoshh!!


Aku melompat kesamping kemudian melakukan lari Zig-zag untuk menghindari Keempat bola api besar itu. Aku kemudian melompat untuk menghindari bola api yang terakhir.


BOMMBB!!


Terdengar suara ledakan yang kencang di belakangku akan tetapi, aku terfokus dengan pria berpedang yang tiba-tiba muncul di depanku. Kedua tangan pedangnya mengeluarkan sebuah aliran listrik.


“Electric Slash!”


Aku menghindari serangannya dengan memutar tubuhku lalu menendang perutnya memanfaatkan momentumku.


“Ughhh!” Pria itu terjatuh ke tanah dengan keras.


Ketika aku mendarat, aku melihat dua tangan yang memanjang dengan cepat menuju ke arahku.


Kali ini, aku dapat dengan mudah menghindari serangannya. Aku kemudian menjejakkan kakiku ke tanah lalu melesat ke arah Brawler itu.


Dia nampak terkejut dengan kecepatanku, terlihat dia terburu - buru menarik kembali kedua tangannya.


Dia lalu melakukan sebuah kuda - kuda.


“Makan ini!”


Kedua tangannya kembali memanjang. Kali ini, kecepatannya bertambah dan nampak sebuah aura sihir mengelilingi tinjunya. Tanah yang di lewati tangannya mulai hancur berhamburan.


Swossshh!


Aku menghindari serangannya itu dengan melompat. Aku berlari di atas tangannya yang sedang memanjang itu.


“Sial!”


Dia mencoba menarik tangannya kembali akan tetapi terlambat, aku telah berada di hadapannya.


“…!”


Slashhh!


Aku memotong tangan kirinya dengan Baselard.


“Argghhh!” Dia kemudian berputar dan memanfaatkan momentum itu untuk menyeranganku dengan sisa tangannya.


Slasshh!


Aku menghindarinya dengan menunduk sambil melancarkan serangan balik yang mana membuat tangan kanannya terputus.


“Ughhh!”


Ketika aku hendak menghabisinya dengan serangan terakhir, aku merasakan tanah yang aku pijak bergetar. Aku kemudian bergegas untuk mundur.


Benar saja, sebuah sihir tanah kurungan terbentuk dimana aku berdiri tadi.


“Ape! Menjauh dari dia! Tiba-tiba kekuatannya menjadi meningkat!”


Aku kemudian mengganti targetku ke penyihir itu.


Melihatku yang tengah menatapnya bagaikan hewan buas memburu mangsanya, dia mulai membaca sebuah mantra. Tanah dihadapan penyihir itu terangkat. Aku mulai berlari ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


“Million Rain!”


Tanah di depan penyihir itu lalu pecah menjadi ribuan pecahan kecil. Kemudian, pecahan tanah itu mulai melesat ke arahku bagaikan ribuan tusuk jarum.


Aku lalu mengubah arah berlariku ke samping untuk menghindarinya.


Suara bising dari pecahan - pecahan tanah itu menghantam area di belakangku terdengar.


Setelah menghindarinya, aku kemudian melesat kembali ke arah penyihir itu.


Penyihir itu kembali mengangkat 4 bongkah tanah.


“Earth Missile!”


Bongkahan – bongkahan itu melesat cepat ke arahku. Aku melompat ke kanan lalu ke kiri untuk menghindari dua bongkahan tanah itu. Kemudian aku melompat ke udara untuk menghindari bongkahan tanah yang ketiga. Aku lalu mendarat dan melakukan gerakan koprol kemudian menghindari bongkahan tanah yang keempat dengan melakukan gerakan Sliding.


“Sial! Tidak mungkin!”


Telah sampai di hadapan penyihir itu, aku kemudian menghantam lututnya dengan tinju tangan kiriku yang memakai sebuah knuckle.


CRACKKK!


Tulang lututnya bergeser yang mana membuatnya berlutut dengan satu kaki.


STABBB!!


Aku menusuk lehernya dengan Baselard.


“GRHHGRHH!”


Dia mulai kesulitan untuk bernafas.


Aku kemudian menarik Baselard ke atas yang membuat kepala dan lehernya terbelah menjadi dua.


Darah mengucur deras dari leher dan kepalanya. Nampak otak dan tengkorak kepalanya yang menjijikan itu.


Setelah aku membunuhnya, langit kembali mendapatkan sinar bulan purnama. Sihir penghalangnya menghilang karena yang merapal mantranya telah mati.


Aku kemudian melihat Lena tidak jauh dari sini sedang terduduk. Wajahnya terlihat lesu dan ketakutan.


“Lena…”


Stabb!


“…!”


“Frozen Time… aku tidak menyangka harus memakai artefak yang diberikan Tuan Geldoro.”


Sebuah pedang terlihat menembus dadaku. Darah mulai mengucur dan aku kehilangan fungsi tubuhku.


Bagaimana bisa?


“Eghhh!”


Dia mencabut pedangnya dari dadaku. Aku kemudian berbalik dan terlihat sebuah lapisan kilatan petir di mulutnya.


“Lightning Beam!”


Aku terpental terkena serangannya dari jarak dekat. Tubuhku terasa mati rasa semua. Kesadaranku mulai menghilang.


“Si-sirius?”


Aku mendengar suara Lena samar - samar. Apakah aku terpental ke arahnya?


“Le…na...”


Setelah memanggilnya dengan nada lemah seperti itu, aku mulai mendengar samar-samar Lena mengatakan sesuatu padaku.


Inikah akhirnya, kah? Aku mendapatkan serangan telak di organ vitalku. Kurasa aku tidak akan mampu pulih dari ini…


Pandanganku terlihat buram akan tetapi, aku tahu Lena tepat di atasku sedang mengatakan sesuatu.


Pada akhirnya, aku tidak bisa membawamu ke tempat tujuanmu, Lena.


Maafkan aku.

__ADS_1


Tubuhku mulai terasa dingin dan tidak lama kemudian, aku kehilangan kesadaranku…


__ADS_2