The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 12 : Witch


__ADS_3

Setelah badai berhenti, aku dan Lena kembali melanjutkan perjalanan. Untuk saat ini, aku sedang duduk membaca salah satu bukuku untuk mencari tahu posisi keberadaan kami di lembah ini. Kami sedang berada di sebuah persimpangan yang terbentuk dari sebuah celah - celah tebing.


Aku lalu melihat Lena yang duduk agak lebih jauh dari biasanya. Aneh sekali, biasanya dia selalu berada di dekatku. Apa yang sebenarnya terjadi?


Ketika terjadi badai beberapa waktu yang lalu, Lena menggigil dan tubuhnya terasa sangat dingin sekali. Aku yang menyadari itu lalu memeluknya agar tubuhnya tetap terasa hangat dengan membagi panas tubuh kami. Prosedur itu sangat umum jika seseorang melakukan perjalanan pada kondisi seperti itu.


Aku lalu menutup bukuku dan berkata kepada Lena.


“Saatnya kembali berjalan Lena. Aku sudah mengetahui harus mengambil jalan yang mana.”


“Y-ya, aku mengerti Sirius,” jawabnya dengan suara agak pelan dan kepala tertunduk.


Tingkahnya juga sangat aneh ketika aku ajak bicara. Mungkinkah dia gugup karena berjalan di daerah ini? Wajar saja kurasa, selama hidupnya, dia baru pertama kali berpergian ke daerah seperti ini. Kuharap setelah keluar dari lembah ini, Lena bisa bersikap normal kembali.


Kami berjalan menyusuri celah - celah tebing tinggi di lembah ini. Untuk sementara ini, kami beruntung tidak berjumpa dengan beberapa penghuni lembah ini. Meskipun tempat ini sangat tidak cocok untuk di tinggali namun, tempat ini sangatlah cocok untuk bersembunyi karena keadaan geografisnya.


Rata - rata yang mendiami tempat ini adalah seorang kriminal yang memiliki buronan untuk kepalanya dan manusia - manusia yang tidak di terima oleh masyarakat seperti Arbil yang aku lihat sebelumnya.


Setelah berjalan cukup lama menyusuri celah tebing ini, kami akhirnya dapat keluar. Terlihat lingkungan lembah dimana kami berada sangat berbeda dengan saat kami pertama kali masuk. Pada saat kami masuk, kebanyakan kondisi lingkungan berupa batu - batuan dan tebing tinggi.


Saat ini, kami melihat hamparan tanah landai yg luas dengan beberapa pepohonan. Ini menandakan kami sudah berada di tengah - tengah Lembah Black Dread. Di area ini, kabut juga sudah tidak terlalu tebal dan aku bisa melihat agak lebih jauh.


“Si-Sirius, dimana kita sekarang? Kurasa aku merasakan hawa yang berbeda di bandingkan saat kita berjalan menyusuri lembah ini sebelumnya,“ ucap Lena yang tiba - tiba berbicara setelah dari tadi diam saja.


“Ya, kita sudah setengah jalan menyusuri lembah ini. Kurasa dataran ini akan lebih mudah untuk kita berjalan daripada yang sebelumnya.”


“Ummm…” Angguk Lena.


Kami lalu kembali berjalan agar keesokan harinya kami dapat keluar dari Lembah ini. Kami lalu memasuki area yang banyak sekali pepohonan di dalamnya.


Tolongggg! Tolonggg!


Aku lalu mendengar samar – samar suara meminta tolong dan dari suaranya, kurasa dia adalah seorang anak kecil.


“Si-Sirus, kau mendengarnya juga? Kurasa ada anak kecil yang kesusahan berada tidak jauh dari sini!” ujar Lena.


“Jangan terlalu gegabah mengambil kesimpulan Lena. Di tempat ini, suara meminta tolong bisa jadi sebuah jebakan,” ungkapku. “Tidak sedikit pengembara yang tertipu akan hal itu,” tambahku.


“Ta-tapi, bagaimana ternyata itu adalah memang anak yang sedang membutuhkan pertolongan,” balas Lena. Kali ini dia tidak berbicara sambil tertunduk lagi seperti yang sebelumnya.


“Hahhh… Baiklah, aku akan memeriksanya sebentar.”


Aku lalu berbalik dan berjalan ke arah suara tadi terdengar. Aku kemudian mendengar suara langkah kaki Lena yang mengikuti ku. Aku lalu berbalik dan berkata.


“Kau tunggu saja di sini Lena.”


“Ti-tidak bisakah aku ikut denganmu Sirius?” tanya Lena dengan suara pelan.


“…”


Aku lalu kembali berbalik dan berkata.


“Baiklah, tapi usahakan jangan terlalu banyak mengeluarkan suara,” intruksiku padanya.


“Ummm.”


Kami lalu mulai berjalan kembali. Setelah teriakan tadi, suasana dari dataran ini kembali menjadi hening.


Setelah beberapa saat berjalan, aku lalu berhenti.


“Lena, kau tunggulah di sini sebentar. Aku merasakan sesuatu di depan sana,” perintahku.


“Baiklah.”


Aku lalu berjalan ke depan dan berhenti di samping sebuah pohon yang tertutup oleh sebuah semak. Di depanku terlihat sebuah pohon agak besar dari pada yang lain dan aku melihat dua orang anak kecil yang sedang terikat oleh salah satu batang pohon besar itu.


Aku lalu melihat samar - samar sebuah simbol yang berada di pipi mereka.


Mungkinkah itu adalah sebuah tanda kutukan Child of Destruction? Mereka tidak berbeda dengan seorang Arbil. Seorang manusia yang memiliki kekuatan khusus. Para anak yang memiliki simbol itu memiliki sebuah kekuatan sihir kinetik yang sangat kuat.


“Apakah Sirius menemukan sesuatu?”


Aku mendengar suara Lena dari belakang.


“Ya, apakah Lena mengetahui tentang Cursed Child? ” tanyaku.


“Kurasa aku pernah mendengar cerita tentang mereka,” jawab Lena yang datang menghampiriku.


“Di dunia ini ada anak yang di berkahi oleh Dewi dan ada juga yang di pilih oleh Dewa Iblis. Mereka yang di berkahi oleh Dewi di sebut Fortune Child. Sedangkan anak yang di pilih oleh Dewa Iblis di sebut Cursed Child ,” jelasku. “Fortune Child mereka membawa banyak keberkahan terhadap sekelilingnya. Sebaliknya dengan Cursed Child, mereka merusak apapun di sekelilingnya,” tambahku.


“Jadi, anak yang berteriak tadi adalah…”

__ADS_1


“Ya, salah satu Cursed Child, Child of Destruction,” ungkapku pada Lena.


“Bagaimana keadaan mereka?” tanya Lena.


“Mereka sedang terikat di sebuah pohon dan tak sadarkan diri,” ucapku.


Aku melihat Lena mengepalkan tangannya dan tertunduk.


“Bagaimana para pendeta Kuil Dewi Athena memandang para Cursed Child, Lena?” tanyaku padanya walau aku sudah mengetahui jawabannya.


“Jika tidak bisa kita bunuh, menjauh lah dari mereka,” jawab Lena dengan suara yang bergetar.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.


Lena lalu terdiam dan perlahan mengangkat wajahnya.


“Tapi! Aku percaya bahwa kita tidak bisa mengabaikan mereka karena keadaan yang sama sekali tidak bisa mereka kendalikan! “ ucap Lena dengan tegas. “Untuk itu kumohon Sirius, jika kau dapat membantu mereka, walaupun hanya sedikit bantuan…” Suaranya terhenti karena menahan emosi yang meluap dalam dirinya.


Kurasa memang sangat sulit untuk Lena yang memiliki hati sebaik itu di hadapkan dengan pahitnya realita kehidupan manusia. Dia yang ingin mengubah dunia ini menjadi lebih baik walaupun sedikit akan tetapi, dia tidak memiliki kekuatan apa - apa untuk melakukan itu.


“Baiklah, aku akan melakukan sesuatu, Kau tunggu saja di sini, aku tidak yakin hanya kita yang ada di area sekitar sini.”


“Te-terima kasih Sirius.”


Aku lalu menggunakan Featherstep untuk mendekati kedua anak itu. Di lihat dari wajah mereka yang mirip, kurasa mereka adalah saudara kembar laki - laki dan perempuan.


Aku lalu memeriksa ikatan batang pohon yang melilit tubuh mereka dan menyadari sesuatu. Sial! Ini adalah sebuah ikatan sihir seorang Witch. Aku lalu merasakan sebuah kehadiran di belakangku dan berbalik.


Tepat di depanku, terlihat seorang wanita dengan aura gelap di sekelilingnya sedang memelototi ku. Aku dengan refleks mengambil Baselard untuk bersiap melakukan pertarungan.


“Ah, apa yang dilakukan mantan yang terkutuk sepertimu di sini?” tanya Witch itu.


Aku tidak menjawabnya melainkan menganalisa kapabilitas tempur yang dia miliki.


“Apakah kau hendak mencuri kelinci penelitianku oh kau yang telah terbebas dari kutukan Dewa Iblis?” tanya dia sambil terlihat melakukan sesuatu dengan jari - jarinya.


Aku masih terdiam tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. Yang harus di waspadai dari seorang Witch adalah, kemampuannya mengeluarkan sihir kutukan.


“Hanya diam saja ternyata. Kalau begitu, MATILAH!” Dia mengangkat tangannya ke arahku kemudian muncul dua akar pohon dari dalam tanah dan keduanya melesat ke arahku.


SWOSSSHH! SWOSSSHHH !!


Aku menghindari serangannya dengan melompat ke samping.


Muncul lagi sebuah akar pohon yang besar dari dalam tanah melesat ke arahku. Aku kembali menghindar dengan melompat kebelakang.


Jarak kami semakin menjauh yang mana membuatku berada dalam keadaan yang tidak baik.


Berapakah akar pohon yang dapat dia gunakan? Sial!!


Swoshh !! Swoshhh !!


Aku hanya bisa berlari kesamping menghindari serangannya agar jarakku dengannya tidak menjauh lebih besar lagi.


Swoshhhh !! Swossshh !!


Akar - akar itu kembali menyerangku. Kali ini, ketiganya mulai menyerangku secara bersamaan.


Aku lalu melompat menghindari serangan akar - akar itu dan menaikinya. Aku kemudian berlari ke arah Witch itu yang sedang memainkan jari jemarinya. Aku merasakan dari samping salah satu akarnya hendak menyerangku.


Aku kemudian memfokuskan manaku di kedua kakiku dan melompat ketika salah satu akar itu menyerangku yang tengah berlari ke arah Witch itu.


Lompatanku menjadi lebih kuat berkat sihir pendorong. Aku lalu bersiap mengayunkan Baselard untuk menebas Witch itu akan tetapi, aku melihat Witch itu menyeringai kepadaku.


Ghrrrhuuuu !!!


Sebuah akar muncul di bawahku keluar dari dalam tanah lalu menangkap kakiku.


“Aku menangkapmu fufufufu,” ucapnya sambil tertawa nakal.


Akar itu kemudian mengayunkanku di udara lalu membantingku ke tanah.


“Aghhhh!" teriak ku kesakitan karena menghantam tanah dengan cukup keras.


“Mengapa kau ingin membebaskan para anak terkutuk itu ‘hah!?” tanyanya seraya memainkan jarinya kembali.


Akar yang mengikat kakiku lalu terangkat ke atas yang membuatku bergelantungan di udara. Aku melihat ketiga akar yang lain mulai kembali bersiap untuk menyerangku.


“Apakah kau bersimpati mengenai takdir yang menimpa manusia - manusia sejenismu ‘hah!!??”


Aku lalu memusatkan mana ku ke Baselard mengaktifkan sebuah pedang sihir untuk memotong akar keras yang melilit kakiku.

__ADS_1


"Seharusnya, sebagai orang yang terbebas dari kutukannya, kau tidak memiliki rasa simpati semacam itu!! Mati saja kau!!!"


ketiga akar itu lalu mulai melesat ke arah ku. Aku kemudian secepat mungkin berusaha memotong akar yang melilit kakiku.


SLASSSHH !!!


Aku kemudian terjatuh dan terhindar dari serangan akar - akar itu.


Jika aku telat sedikit saja, mungkin aku sudah tercabik-cabik oleh serangannya.


“Hehhh… kau bisa memotong sihirku ternyata,” ucapnya sedikit terkejut.


Aku lalu meraih kantungku dan mengambil sebuah benda sebesar genggaman tanganku. Aku lalu melihat Witch itu mulai di selimuti aura kegelapan. Kurasa dia telah mengaktifkan salah satu sihirnya apapun itu. Dia kemudian mulai kembali menggerakkan jemarinya.


Akar - akar itu kembali menyerang ku akan tetapi, warna dan ukurannya lebih hitam dan lebih besar.


Clangg!!!


Aku mencoba menebas akar itu akan tetapi, akar itu tidak terputus dan mampu menyerang dadaku yang membuatku terpental.


“Ughhhhh!”


Witch itu lalu mulai ikut menggerakkan tangannya. Aku melihat akar - akar itu melesat lebih cepat dari biasanya.


Swosshhh! Swosshhh!


Aku dapat menghindari serangannya dengan selisih sehelai rambut.


Witch itu masih belum mengeluarkan sihir kutukannya selama pertempuran ini. apa yang membuat dia menahannya?


Aku tidak memiliki waktu lagi, aku harus membunuhnya sekarang karena manaku akan lebih dulu habis di bandingkan dengan Witch itu.


Aku lalu melempar benda yang aku ambil tadi. Salah satu akar itu lalu menghancurkannya. Tak lama kemudian sebuah cahaya muncul di udara tepat dimana benda itu hancur.


“Hmmm… kukira itu adalah sebuah benda peledak, ternyata hanya samp—“


Stabbbb !!!


Aku muncul di belakangnya dan menusukkan Baselard ke jantung Witch itu.


“Grhhhh! Ba-bagaimana bisa!?” tanyanya sambil berbalik memperlihatkan wajahnya yang kesakitan dan kebingungan.


“Shadow Link,” ucapku menyebut sihir yang baru saja aku gunakan.


Aku lalu mencabut Baselard dari jantungnya kemudian tubuh Witch itu roboh jatuh ke tanah bersimbah darah.


Aku lalu mengecek tubuhnya untuk memastikan dia benar - benar mati.


Setelah di rasa aman, aku lalu menghampiri kedua anak itu untuk memeriksa kondisi mereka berdua.


“Si-sirius, apakah aku sudah boleh keluar?”


Aku kemudian mendengar suara Lena dari balik semak.


“Ya, kesini lah Lena.”


Lena lalu menghampiriku yang sedang berada di depan kedua anak itu.


“Sepertinya kedua anak ini berada dalam pengaruh sihir Witch tadi yang ku lawan. Itulah kenapa mereka tak sadarkan diri sekarang,” ungkap ku.


“Sihir? Apa maksudmu Sirius? Bukannya Sirius sudah mengalahkannya tadi?” tanya Lena yang kebingungan.


Tunggu, ada yang aneh. Harusnya sihir Witch itu akan lepas jika dia sudah mati. Aku lalu berbalik untuk memeriksa mayat Witch tadi. Kemudian aku melihat, wajah Witch itu menyeringai dan menatap Lena.


“Endless Nightmare!!!!”


Aku kemudian bergegas mendorong Lena.


“Aghhhhh” Lena menjerit karena terkejut.


Akan tetapi terlambat, sihir Witch itu telah mengenaiku. Tubuhku mulai kaku dan muncul simbol - simbol sihir yang mulai muncul di tanganku.


“Hahahah ku kutuk kau! Hahahaha!”


Witch itu tertawa puas dan tidak lama kemudian dia mati karena kehilangan banyak darah.


Sial! Bagaimana dia masih hidup!? Aku lalu mulai kehilangan fungsi tubuhku secara perlahan dan pandanganku mulai kabur.


“Le-lena.”


Aku lalu berbalik dan menatap Lena.

__ADS_1


“La-lari lah… Menjauh dariku…”


Setelah aku mengatakannya, aku kemudian kehilangan kesadaranku.


__ADS_2