
Setelah malam penyambutan usai, Aku mengantarkan Sang Saint menuju ke ruangan istirahatnya. Akan tetapi, aku sedari tadi melihat Sang Saint tampak seperti sedang mencari sesuatu selama di Aula utama tadi.
Apakah terjadi sesuatu?
"Arthur, bisakah kau mengantarku ke taman Istana terlebih dahulu?" pinta Sang Saint.
"Saint Agung, bukankah Anda sudah lelah? Mengapa tidak beristirahat di ruangan Anda saja?" bujukku.
"Tidak apa-apa, Arthur. Aku hanya belum mau untuk tidur saja," balasnya lemah.
Kami kemudian kembali berjalan di sekitaran Istana. Tampak wajah Sang Saint terlihat tidak fokus sama sekali. Ketika kami berada di aula utama juga dia bertingkah demikian.
Kamipun sampai ke taman Istana. Tamu-tamu yang berada di area ini terkejut melihat kehadiran Sang Saint di sini. Ketika para tamu itu mencoba mendekatinya, Aku menghentikan dan memberitahukan kepada mereka agar tidak mengganggunya.
"Saint Agung, mengapa sedari tadi Anda terlihat selalu kehilangan fokus? Apakah ada masalah?" tanyaku tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Arthur, bukankah Patrol Guard ikut turut serta melakukan penjagaan malam penyambutan ini?" Tanpa menjawab pertanyaanku, Sang Saint berbalik menanyaiku.
"Itu benar Saint Agung, kalau tidak salah, Patrol Guard yang dikerahkan untuk menjaga malam penyambutan ini sekitar 100 orang," jawabku.
Mengapa Sang Saint tiba-tiba menanyakan tentang Patrol Guard. Apakah beliau sedang mengkhawatirkan tentang keamanan tempat ini? Itulah sebabnya beliau terlihat seperti ini sedari tadi
Tiba-tiba, aku melihat beberapa penjaga Istana menghampiri kami. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Mohon maaf mengganggu Anda sebentar, Saint Agung. Kami mendapat laporan, telah terjadi pembunuhan di Istana ini. Untuk itu kami mohon, agar Anda segera mungkin kembali ke ruangan Anda," jelas salah satu penjaga Istana itu dengan suara pelan.
Pembunuhan? Bagaimana bisa ada seorang pembunuh menyusup ke kediaman Istana Putra Mahkota Kekaisaran!?
"Begitukah? Aku mengerti. Kuserahkan keamanan Istana ini ke tangan kalian," jawab Sang Saint. "Arthur, kau bantulah para penjaga di sini untuk menangani masalah ini," perintahnya padaku.
"Baiklah, Saint Agung. Setidaknya, ijinkan Aku mengantarmu ke ruangan terlebih dahulu."
Kami berdua meninggalkan Area taman. Walaupun telah terjadi kasus pembunuhan di dalam Istana, para tamu tidak ada yang terlihat gelisah ataupun panik. Kurasa para penjaga merahasiakan peristiwa ini.
"Begitukah... Itu sebabnya aku tidak dapat merasakan kehadirannya sama sekali di aula utama tadi." Aku mendengar Sang Saint menggumamkan sesuatu.
"Uhmm, Saint Agung. Apakah Anda mengatakan sesuatu?" tanyaku.
__ADS_1
"Uhmm... Tidak apa-apa, Arthur," jawabnya dengan senyuman.
Dia kembali tersenyum. Terlihat ekspresi Wajahnya mulai kembali ceria seperti sedia kala. Aku tidak mengerti, entah kenapa, hal itu membuatku kesal.
Aku ingin lebih mengerti dirimu.
Andai aku punya keberanian untuk mengatakan hal itu kepada Sang Saint... Aku memandang sisi wajahnya. Dengan ekspresinya yang ceria seperti sekarang, Sang Saint nampak sangat cantik dan mempesona.
"Saint Agung, kita telah sampai."
Dua orang pelayan wanita kemudian datang untuk membawa Sang Saint masuk ke ruangannya.
"Terima kasih telah mengantarku, Arthur. Selamat malam."
"Anda bisa mengandalkan Saya, Saint Agung."
***
Satu jam setelah terjadinya pembunuhan, diadakan pertemuan diantara Patrol Guard, Penjaga Istana dan Ksatria Suci yang menjadi pengawal Sang Saint.
Aku dan Tuan Georgy sebagai perwakilan dari Ksatria Suci sudah hadir bersama Kapten penjaga Istana di ruang rapat. Kami sedang menunggu perwakilan dari Patrol Guard untuk memulai rapat darurat ini.
Pintu ruangan terbuka. Memperlihatkan seorang wanita berambut hitam panjang layaknya kegelapan malam. Wajahnya yang putih mempesona kontras dengan ekspresinya yang terlihat dingin dan mengintimidasi.
Siapa wanita itu...?
"Ah, Serena. Akhirnya datang juga," ucap Tuan Georgy.
Wanita itu kemudian menghampiri kami berdua. "Maaf kami agak terlambat Paman, Aku harus memeriksa mayat Mayor Landa terlebih dahulu tadi."
Paman? Mungkinkah wanita ini adalah The Black Mamba yang terkenal itu? Pewaris dari Duchy Ritterburg—Serena von Ritterburg.
"Ah tidak apa-apa. Serena perkenalkan, dia adalah Arthur—Sang kandidat pahlawan." Tuan Georgy memperkenalkan ku padanya.
"Sebuah kehormatan akhirnya bisa bertemu dengan Anda, Putri Serena."
"Ya, sebuah kehormatan juga bisa berkenalan denganmu, Arthur Sang Pahlawan." Aku menjabat tangannya.
__ADS_1
Rumor mengenai kecantikannya bagaikan Putri Es memang benar. Terkenal sangat keras terhadap para kriminal dan selalu berada di garis depan ketika menghadapi kejahatan.
Melihatnya secara langsung memang jauh lebih menakjubkan daripada mendengar sebuah rumor.
"Tuan Arthur, bisakah kau melepaskan tanganku?" pintanya dengan dingin.
"Ah, maaf."
Ketika aku melirik Tuan Georgy, ekspresinya terlihat kesal. Dia menatap tajam seorang pria yang ada di samping Putri Serena. Aku baru menyadari kehadiran pria itu.
Apa yang terjadi terhadap Tuan Georgy? Baru kali ini aku melihatnya memperlihatkan tatapan yang mengerikan itu terhadap seseorang.
"Paman, Tuan Arthur, perkenalkan, dia adalah bawanku—Sirius," ucap Putri Serena.
Tuan Georgy hanya diam saja tanpa menjabat tangan pria itu. Sudah jelas terjadi sesuatu antara pria itu dengan Tuan Georgy. Mungkin akan ku tanyakan setelah pertemuan ini.
"Lebih baik kita bergegas Serena."
Putri Serena kemudian menjelaskan kronologi peristiwa pembunuhan itu. Mayor Landa terbunuh akibat sebuah jarum yang telah dilumuri sebuah racun mematikan.
Belum ada petunjuk mengenai pelaku pembunuhan Mayor Landa yang terjadi di Istana Wienburg ini. Namun, Putri Serena mencurigai adanya hubungan antara pembunuhan Mayor Landa dengan pembunuhan salah satu Anggota Dewan beberapa hari yang lalu.
"Menurutmu, apa motif dari pelaku pembunuhan ini?" tanya Kapten Istana.
"Mendiang Mayor Landa dan Tuan Georg, keduanya merupakan dari faksi Dewan yang sama. Kurasa motif pembunuhan ini berdasar perbedaan pandangan politik," jawab Putri Serena.
Aku sejujurnya tidak terlalu mengetahui peta perpolitikan di Archduchy Astria. Bahkan di tempat tinggal ku—Kerajaan Brichnoig, Aku sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang perpolitikan di sana.
Hal seperti itu terlalu rumit untuk ku pahami.
"Lalu untuk keamanan Archduke Otto dan Saint Maria Magdalena, Apakah kita harus merencanakan ulang tentang pengamanan mereka berdua?" tanya Tuan Georgy.
"Kurasa tidak, karena yang diincar pembunuh itu bukanlah merek berdua," jawab Putri Serena.
"Baiklah kalau begitu, untuk pengamanan Trial para Pahlawan yang akan diadakan 3 hari lagi, Aku akan menunjuk bawahanku—Sirius sebagai perwakilan Patrol Guard ketika terjadi pertemuan seperti ini selama Trial berlangsung," ungkap Putri Serena.
Mendengar ini, Tuan Georgy seperti hendak berdiri akan mengatakan sesuatu. Namun, dia membatalkan aksinya itu.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke markas untuk membahas tentang operasi Investigasi kasus ini dan kasus peredaran obat terlarang yang sedang membuat para warga resah," jelasnya.
Setelah melakukan rapat darurat selama kurang lebih 15 menit, kami kemudian kembali keluar untuk menjalankan tugas masing-masing menjaga malam penyambutan di Istana Wienburg.