The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 7 : Misteri Kematian Warga Elberim


__ADS_3

[ Lena POV ]


Aku dan Sirius menuruni bukit untuk memasuki Desa Elberim. Suasananya terasa sangat berbeda ketika kami sedang berada di Kota Omor. Desa Elberim memiliki udara yang sejuk dan tenang.


“Hey pasangan muda, kalian pengembara yang baru datang bukan?”


Aku mendengar suara seorang kakek - kakek.


“Benar, Anda siapa jika boleh tahu?” tanya Sirius.


“Ah, namaku Morlin. Aku adalah Kepala Desa Elberim,” jawab Tuan Morlin. “Kalian terlihat asing di sini, apakah kalian membutuhkan sesuatu di desa kami?” tanyanya kembali.


“Kami hanya ingin menginap dan membeli beberapa suplai makanan. Namaku Sirius,” jawab Sirius sambil memperkenalkan dirinya.


Aku lalu merasakan jika Tuan Morlin sedang menatapku.


“Ah, kau bisa memanggilku Lena.”


“Sirius dan Lena... nama yang bagus. Jika tidak keberatan, aku akan mengantar kalian ke penginapan yang ada di sini dan mengajak kalian memperkenalkan desa kami,” ucap Tuan Morlin.


“Baiklah, terima kasih atas kebaikan Anda,” ucapku mengekspresikan rasa terima kasih.


Kami lalu berjalan di belakang Tuan Morlin mendengarkannya menceritakan tentang Desanya.


“Desa ini sangat enak untuk di tinggali. Tidak ada perang dan konflik. Hanya manusia yang saling menolong dalam berbagai urusan,” ungkapnya. “Setiap hari para penduduk memiliki motivasi untuk beraktivitas dan lebih produktif. Ketika aku kecil, Desa ini hanya memiliki belasan kepala keluarga. Tapi sekarang, banyak orang dari kota - kota besar menetap di sini karena suasananya yang lebih baik dari perkotaan. Jumlah penduduk di sini sekarang mencapai sekitar 2000 orang,” jelasnya.


Setelah beberapa saat berjalan, Sirius lalu tiba – tiba berhenti berjalan.


“Tuan Morlin, siapa yang sedang berdiri di pemakaman itu?” tanya Sirius.


“Ahh, dia adalah Johan. Istrinya baru saja meninggal 10 hari yang lalu. Lelaki yang malang, dia baru saja pindah kesini satu tahun lalu dan nampak sangat bahagia hidup di sini dengan istrinya,” jawab Tuan Morlin dengan nada yang terlihat menyesal.


Dari suaranya, aku merasakan sebuah emosi yang negatif dari jawabannya tersebut. Apakah Tuan Morlin ada hubungannya dengan kematian istri dari pria yang bernama Johan tadi?


Kami lalu melanjutkan perjalanan kami dan telah sampai di sebuah bangunan.


“Baiklah, ini adalah penginapan Reinhold. Dia merupakan orang yang baik dan sangat mudah di ajak bicara,” ucap Tuan Morlin.


“Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya Tuan Morlin,” ucapku.


“Ya, sama-sama. Semoga kalian merasa nyaman selama berada di sini.”

__ADS_1


Setelah Tuan Morlin pergi, aku dan Sirius memasuki penginapan tersebut.


“Ohh, pendatang baru. Selamat datang di penginapan Reinhold, ada yang bisa ku bantu?” tanya Reinhold.


“Berapa tarif untuk 2 kamar?” tanya Sirius.


“30 Colling untuk setiap kamar permalam,” jawab Reinhold.


“Ohhh di sini lebih murah daripada yang ada di Kota Omor,” ujarku.


“Yaa! Tapi jangan salah menilai dulu, lebih murah bukan berarti kurang nyaman nona muda. Penginapan yang aku dirikan ini tidak akan kalah kualitasnya dengan yang ada di Perkotaan!” ujar Reinhold.


“Baiklah, ini uangny…”


“Di penginapanku, kalian membayar jika akan pergi. Silahkan saja periksa kamarnya terlebih dahulu,” Potong Reinhold seraya memberikan 2 buah kunci kepada Sirius.


“Baiklah.”


...----------------...


[ Sirius POV ]


Setelah aku dan Lena membeli perbekalan untuk besok, kami lalu menikmati makan malam di lantai satu penginapan. Para warga desa juga banyak yang datang kemari untuk minum - minum setelah selesai bekerja di kebun dan peternakan.


“Ya, itu benar. Sudah 4 orang yang terbunuh semenjak 10 hari ini dan kita tidak memiliki petunjuk sama sekali dalam kasus ini.”


Aku mendengar sebuah obrolan serius di samping meja Aku dan Lena makan malam. Aku lalu menatap mereka dan berkata.


“Maaf tuan - tuan. Kalau boleh tahu, apa yang sedang kalian bicarakan?”


Ketiga orang yang sedang mengobrol itu lalu menatapku. Pria yang bernama Lampert lalu menjawab.


“Ah, kami terlalu keras membicarakan hal ini. Maaf mengganggu makan malam kalian, Pendatang.”


“Tidak apa - apa, aku hanya terkejut mendengar kata - kata kalian tentang pembunuhan. Kami akan menetap untuk beberapa saat di sini kau tahu, akan sangat melegakan jika kami tahu hal – hal yang sedang terjadi di Desa ini,” jelasku.


Mereka bertiga lalu terdiam dan saling pandang satu sama lain.


“Sebenarnya, sudah 10 hari ini beberapa warga kami meninggal dengan keadaan tidak wajar,” ungkap Lampert. “Hal ini di mulai ketika salah seorang warga kami Lydia meninggal di bunuh oleh seseorang,” tambahnya.


“Dibunuh seseorang?” tanyaku ragu.

__ADS_1


“Itulah setidaknya kecurigaan kami. Menurut seorang pemburu di sini, Lydia terbunuh oleh binatang buas. Tapi aku yakin ada hal – hal yang lebih dalam lagi dari itu,” jelasnya.


“Memangnya, siapa Lydia yang kau bicarakan ini?” tanyaku.


“Dia adalah istrinya Johann si penjual tanaman,” jawabnya.


Johan? Bukankah itu nama pria yang di sebutkan Kepala Desa yang sedang berada di pemakaman tadi?


“Lydia adalah wanita yang cukup berpengaruh di sini kau tahu. Dia sering mengajari para wanita – wanita di sini membaca dan menulis, juga membantu kami warga desa dalam melakukan hal – hal lain. Bahkan Kepala Desa sering berkonsultasi dengannya jika ada masalah – masalah tertentu,” jawab Lampert. “Semenjak kematiannya, beberapa warga juga ikut meninggal dengan tidak wajar seperti bunuh diri, kecelakaan dan keracunan mendadak,” tambahnya.


“Begitukah? Karena itulah Kepala Desa tampak melakukan perhatian lebih kepada para pendatang?” tanya Lena yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami.


“Ya. Kepala Desa adalah orang yang baik, baru kali ini peristiwa semacam ini terjadi di sini. kami telah hidup damai tanpa gangguan selama puluhan tahun,” jawab Lampert.


Setelah selesai makan malam, aku lalu mengantar Lena ke kamarnya. Ketika aku hendak berjalan keluar, Lena tiba – tiba menarik lengan bajuku.


“Hey Sirius, apakah kita akan pergi meninggalkan desa ini besok?” tanya Lena.


“Ya, kurasa kita tidak punya urusan lain di desa ini,” jawabku.


“Bisakah kita untuk menetap sementara di sini untuk beberapa saat? Satu atau dua hari lagi?” tanya Lena.


“Jangan bilang kau ingin membantu para penduduk desa mengenai kasus kematian yang di bicarakan tadi?” tanyaku balik.


“Ummm, mereka tampak seperti orang baik dan sedang kesusahan. Aku ingin membantu mereka,” ungkap Lena.


“Bukankah Lena sedang dalam perjalanan ke Kota Braswigh? Dan bagaimana kau ingin membantu mereka?” tanyaku.


“Ya itu benar. Akan tetapi, aku akan sangat menyesal ketika pergi tanpa melakukan sesuatu di saat aku tahu ada orang yang sedang berada dalam masalah,” jawabnya dengan nada sedih sambil tertunduk.


“Mereka memiliki banyak orang, menyelesaikan masalah - masalah orang lain belum tentu benar - benar membantu mereka kau tahu,” ucapku seraya mengingat seorang teman lama.


Membantu masalah orang lain belum tentu membantu mereka, itulah hal yang kusadari ketika berada di Ouroboros. Seseorang terkadang harus menyelesaikan sendiri masalah mereka untuk berkembang. Termasuk orang-orang di desa ini. Walaupun perkembangan itu harus di bayar dengan harga-harga tertentu. Dunia tidak akan mengasihani mu ketika kau sedang jatuh terpuruk. Tidak akan selalu ada pahlawan yang membantumu. Hanya diri kita lah yang bisa menolong kita sendiri.


“Ta-tapi, kita harus tetap saling menolong untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang memiliki kemalangan dalam hidup bukan? sebagaimana seorang bayi membutuhkan bantuan orang dewasa jikalau orang tua mereka tidak ada. Bayi itu kelak akan menjadi orang yang bermanfaat bagi penolongnya suatu hari nanti,” ujar Lena dengan nada yang sedikit bergetar karena berkonfrontasi denganku.


Mendengar ucapannya, aku mengingat ketika Master memungut ku saat aku masih kecil. Mengingat tentangnya membuat lubang di hatiku kembali terbuka.


“Hahhh… Baiklah, besok kita akan mendatangi kediaman Johann untuk melakukan investigasi.”


Mendengar kata – kataku, Lena langsung berdiri dan menggenggam kedua tanganku dan tersenyum.

__ADS_1


“Sungguh!? Terima kasih Sirius!”


Melihatnya ceria membuat kedua sisi bibirku naik tersenyum.


__ADS_2