The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 13 : Kencan (2)


__ADS_3

[ Serena PoV ]


Tok! Tok! Tok!


"Ayah, ini Aku—Serena."


Kemarin, Ayah tiba-tiba ingin berbicara padaku mengenai sesuatu. Apakah tentang pernikahanku itu? Memikirkan hal itu saja sudah membuat kepalaku sakit.


"Masuklah, Serena."


Membuka pintu ruangan, Aku melihat Ayahku sedang menulis sesuatu di sebuah kertas. Sepertinya masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.


"Duduklah, Aku ingin membicarakan tengan pernikahanmu, Serena."


Sudah kuduga, menarik kursi yang berada di sampingku, Aku duduk di hadapan Ayah yang terlihat serius untuk pembicaraan kali ini.


"Duke Penrose akan menjadi tunanganmu mulai besok," ucap Ayah dengan datar.


Penrose? Sudah lama Aku tidak bertemu dengannya. Dia selalu mencoba mengikuti ku dan Jerold ketika kami masih kecil Kurasa terakhir Aku melihatnya ketika hari pemakaman Jerold


"Ayah, Aku tid—"


"Aku sudah memberimu waktu, Serena. Beberapa hari lagi, Trial pahlawan akan berakhir dan rombongan Saint akan kembali keesokan harinya," potongnya.


Mendengar perkataannya, membuatku mengepalkan tanganku. Mengapa Aku harus menjalani sebuah pernikahan yang dipaksakan ini?


"Serena, apa kau mengetahui tentang kondisi wilayah kita di Duchy Ritterburg?"


"Ya, ekonomi wilayah kita sedang buruk karena wabah yang terjadi beberapa waktu yang lalu."


Mengapa Ayah tiba-tiba menanyakan hal itu? Apakah sesuatu yang lebih buruk terjadi di sana? Kalau tidak salah, Duchy Ritterburg sedang dalam masa pemulihan yang akan kembali seperti semula 3 tahun lagi.


"Duke Penrose akan memberikan uang sebesar 300.000 Golling untuk mahar pernikahanmu, Serena."


Mendengar jumlah yang sangat banyak ini, membuatku sedikit terkejut. Dengan uang sebanyak itu, kita tidak harus menunggu waktu selama tiga tahun untuk memulihkan Duchy Ritterburg.


"Lakukanlah tugas dan tanggung jawabmu sebagai seorang Ritterburg, Serena."


Mendengar kata-kata Ayah, Aku hanya bisa tertunduk diam.


***


Keesokan harinya, Aku bangun dari kasur berjalan ke sebuah cermin. Hari ini, Aku akan berkencan dengannya. Entah mengapa kemarin tiba-tiba saja ajakan itu terucap dari mulutku.


Mungkinkah karena melihat ekspresinya yang terlihat Down setelah menyelesaikan misi dengan korban yang cukup banyak membuatku ingin menghiburnya? Aku sama sekali tidak mengerti.

__ADS_1


"Rambutku sudah terlalu panjang... "


Tok! Tok! Tok!


"Lady Serena, air sudah siap jika Anda hendak membersihkan diri sekarang."


"Rosetta, bisakah kau kemari sebentar."


Aku meminta pelayananku untuk memotong rambutku sekitar sebahu. Apakah dia lebih suka rambut yang lebih pendek ataukah panjang? Aku tidak tahu sama sekali.


Setelah selesai membersihkan diri, Aku melihat ke sebuah cermin.



Setelah mengganti Rok-ku dengan yang lebih panjang, Aku kemudian keluar dari rumah untuk menemuinya di alun-alun Kota.


Kapan terakhir kali Aku keluar bersama seorang pria seperti ini...? Kurasa dengan Jerold ketika kami mengunjungi Ibukota dulu.


Suasana Kota Wien terlihat sangat ramai, Jalan-jalan kota dipenuhi oleh pejalan kaki. Suara bising para penjual dan obrolan para warga yang campur aduk membuat Kota menjadi sangat hidup.


Melihat keadaan kota yang aman dan tentram ini membuat usaha kami akhir-akhir ini memberantas kejahatan terasa membuahkan hasil.


Setelah sampai di Alun-alun, Aku melihat Sirius sedang berdiri di depan Air mancur. Dia memakai sebuah kemeja putih dengan sabuk bretel dan celana hitam.


Aku berjalan menghampirinya, wajahnya terlihat sedikit terkejut ketika menyadari kedatanganku.


Mendengar kata-katanya, Aku reflek memainkan rambutku. "Bagaimana? Apakah terlihat cocok untukku?"


"Tentu saja Ketua, kau selalu terlihat mengesankan," jawabnya sambil tersenyum merespon pertanyaanku.


"Well...Mari kita mencari sarapan untuk memulai kegiatan ini," ajakku.


Kami kemudian berjalan berdampingan, melihat pria dan wanita yang berada di sekitaran kami bergandengan tangan, Aku entah kenapa refleks melihat tangan Sirius.


"Ada apa, Ketua?"


Mendengar pertanyaan Sirius, Aku hanya menggelengkan kepala untuk meresponnya.


Setelah berjalan beberapa saat, kami tiba di sebuah tempat makan yang cukup populer di kalangan wanita. Terdapat juga pemain drama jalanan yang tampil untuk menghibur orang-orang yang berkunjung di sini.


Aku memesankan sebuah Egg Benedict untuk Sirius. Tapi entah mengapa, tiba-tiba wajahnya terlihat suram seperti sedang mengalami PTSD.


"Ada apa, Sirius? Apakah kau tidak menyukai makanan ini?"


"A-ah tidak, Ketua. Aku hanya teringat sesuatu belakangan ini," jawabnya terdengar menghindari pertanyaanku. "Kurasa aku pernah datang untuk sarapan kemari dengan seseorang."

__ADS_1


Apakah dia masih memikirkan tentang banyaknya anggota yang mati karena misi sebelumnya?


"Begitukah? Siapa orang yang pernah mengajakmu kemari?"


Mendengar pertanyaanku, Sirius terdiam sejenak. "Namanya adalah Mirela—Putri salah satu anggota Dewan—Tuan Radolf, dia meninggal beberapa waktu yang lalu karena para pemberontak," ucap Sirius lirih.


Kurasa dia masih menyalahkan dirinya karena kegagalan melindungi keluarga Radolf. Mengapa dia terlalu memikirkan hal yang sudah berlalu? Hah... Melihatnya murung seperti ini entah mengapa membuatku kesal.


"Akhir-akhir ini suasana hatiku sedang buruk kau tahu." Aku mencoba untuk mengalihkan obrolan.


Mendengar kata-kataku, Sirius memiringkan kepala terlihat kebingungan.


"Apakah mengenai kasus peredaran obat terlarang itu, Ketua? Bukankah Anda telah menangkap kurir-kurir mereka di distrik bawah?"


"Ini bukan masalah pekerjaan, tapi mengenai pernikahanku."


Aku kemudian menceritakan tentang pertemuan ku dengan Ayah kepada Sirius. Dan memberitahu siapa Penrose sebenarnya yang tidak lain adalah teman masa kecil yang selalu terobsesi padaku.


Aku mengajak Sirius kencan untuk menghiburnya, mengapa dia sekarang yang harus mendengarkan masalah yang menggangguku...


Setelah selesai sarapan, kami berjalan menuju taman Kota. Ketika melewati gang-gang Kota, Kami melihat dua remaja yang terlihat sedang membullly satu anak kecil dari kejauhan.


"Hey Angelo! Jika kau tidak kembali ke geng kami, kau akan mendapatkan masalah kau tahu!" bentak salah satu remaja tersebut seraya memegang kerah anak itu.


"Aku tidak akan mengikuti perintahmu lagi! Enyahlah dari hadapanku!" Anak kecil itu berontak melepaskan pegangan remaja itu dari kerah bajunya.


Remaja itu terlihat sangat kesal kemudian mencoba meninju anak tersebut. Akan tetapi, anak kecil itu dapat menghindar membuat tinju remaja itu mengenai tembok.


"Argghhh!" jerit remaja itu sambil memegangi tangan kanannya.


"Jangan lari kau Bocah!" rekannya terlihat mengejar anak kecil itu.


Diluar dugaanku, Anak kecil itu berbalik tidak melarikan diri dari dua lawan yang jauh lebih besar darinya. Dia kemudian menghindari tinjuan-tinjuan remaja itu dengan baik.


Remaja itu kemudian melesatkan sebuah tinjuan yang melebar, Anak itu kembali menghindar lalu melakukan sebuah tendangan yang keras ke arah tumit remaja itu, membuatnya terjungkal sangat keras ke tanah.


"Sialan kau!" Remaja yang tangannya kesakitan meninju tembok tadi kemudian berlari ke arah anak itu.


Anak kecil itu terlihat tidak panik lalu kembali menghindar tinjuan yang di arahkan padanya. Dia kemudian menendang tulang kering remaja itu membuatnya terjatuh menimpa rekannya yang terbaring di tanah.


"Ha! Itulah sebabnya kau harus melatih Footwork-mu!" Setelah meneriakkan kata-kata itu, Anak itu kemudian melarikan diri meninggalkan dua remaja yang terlihat kesulitan untuk bangkit itu.


Anak kecil itu sangat berbakat, walaupun kedua lawannya memiliki tubuh yang lebih besar dan kuat, dia berhasil mengalahkan mereka mengandalkan momentum dan kekuatan kedua musuhnya sendiri.


Aku kemudian melirik ke arah Sirius, terlihat dia sedang tersenyum. Aku... Baru pertama kali melihatnya tersenyum seperti itu. Senyumannya seperti senyuman Paman Georgy ketika Aku pertama kali berhasil mendaratkan sebuah serangan padanya ketika kami berlatih.

__ADS_1


Jika diingat kembali, anak tadi mirip sekali dengan anak yang Sirius tolong ketika dia tertangkap basah hendak melakukan pencurian pada saat Festival beberapa waktu yang lalu.


__ADS_2