
[ Eagle POV ]
"Aku tidak menyangka ada seseorang yang mampu menghindar dari tembakanku. Dunia memang luas.”
Sambil membawa Heycat-ku, aku lalu mulai mendekati menara dimana rekan – rekan ku masuk. Setelah hampir 15 menit menunggu. Tidak ada tanda – tanda mereka keluar.
“Apa yang terjadi di sana?”
Aku lalu memberanikan diri mendekati area menara itu secara perlahan. Dilihat dari keadaan sekitar menara tersebut, kurasa tidak ada aktivitas manusia di dalamnya.
“Tempat itu terlalu gelap dan tertutup untuk bisa memeriksanya menggunakan scope.”
Aku lalu menunggu kembali beberapa menit sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam menara tersebut.
“Apa yang sebenarnya terjadi!”
Aku melihat mayat – mayat rekanku yang masuk ke dalam menara. Setelah mengecek kembali area menara, aku lalu mulai memeriksa penyebab kematian mereka.
“Di lihat dari keadaan sekitar dan mayat mereka, pria itu membunuh mereka dengan sebuah sergapan cepat.”
Aku lalu melihat 2 mayat rekanku yang lain agak jauh dari 3 mayat yang lain.
“Bos pasti tidak akan suka dengan kejadian ini.”
5 rekanku yang mati merupakan unit – unit terlatih Badan intelejensi Republik Anconia. Dan salah satunya adalah seorang Tracer yang sangat sulit dilatih.
“Aku tidak menyangka rumor mengenai pembunuh Ouroboros itu ternyata benar. Mereka memiliki kemampuan yang sangat menakutkan sebagai pembunuh.”
...----------------...
[ Lena POV ]
Keesokan harinya, aku terbangun dan tidak mengetahui waktu pagi atau masih malam. Aku tidak berani keluar untuk mengeceknya karena takut akan ada orang jahat yang memanfaatkan ku nanti dan membuat repot Sirius. Kurasa aku harus menunggu Sirius datang kesini. Aku lalu meraba – raba kalung yang di berikannya saat itu. Kurasa liontin kalung ini memiliki bentuk seperti melingkar.
Tok! Tok! Tok!
“Lena, apa kau sudah bangun?”
Terdengar suara familiar setelah ketukan pintu tersebut.
“Ya, masuklah Sirius,” jawabku.
Pintu terbuka lalu Sirius masuk ke kamarku dan bertanya.
“Apakah kau dapat beristirahat dengan baik?”
“Ya, aku tidak mendengar suara keramaian seperti sebelumnya,” jawabku. ”Jadi Sirius, kemana kita akan pergi hari ini?” tanyaku.
“Pertama – tama, kita akan mencari sarapan terlebih dahulu,” jawab Sirius
Aku lalu merasakan sebuah kain di pahaku.
“Apa ini Sirius?”
“Kau harus mengganti pakaianmu bukan? Aku tidak terlalu mengerti tentang wanita,” jawabnya. “Menurut salah satu temanku, wanita tidak akan nyaman jika mengenakan pakaian yang sama. Kurasa pakaianmu yang sebelumnya juga sudah terlalu kotor,” jelasnya.
“Iyah, terima kasih Sirius.”
Aku meninggalkan pakaian – pakaianku di kereta kuda yang sebelumnya. Aku lalu tersadar dengan ucapan Sirius tadi.
“Ngomong – ngomong, Sirius ternyata memiliki banyak teman wanita bisa tahu tentang hal – hal ini.”
Dia lalu terdiam sebentar dan menjawab.
__ADS_1
“Hahhh… bukan seperti itu. Dia hanya sering menjadi partnerku bekerja sesekali saja,” jawabnya. “Dan dia selalu mencaramahiku tentang ini dan itu ketika kami melakukan kerja bersama,” tambahnya.
“Begitukah.”
Aku lalu tertunduk dan menyadari, aku sama sekali tidak tahu apa – apa tentang Sirius. Mungkin wajar karena aku pun tidak pernah menceritakan apapun tentang diriku padanya. Aku ingin sekali mengobrol dengannya tentang diriku yang sebenarnya akan tetapi, Ketua Pendeta melarang ku membicarakan hal ini kepada orang lain.
“Kalau begitu, aku akan menunggumu berganti pakaian di luar. Kau bisa memakainya sendiri bukan?”
“Ummm.” Aku mengangguk merespon pertanyaannya.
...----------------...
[ Sirius POV ]
Aku sedang menunggu Lena berganti pakaian. Setelah membunuh kelompok dari Republik Anconia, aku membersihkan diri dan mengunjungi beberapa toko pakaian untuk Lena. Aku hanya memilih pakaian yang sering wanita itu gunakan. Setelah beberapa menit menunggu, Lena akhirnya keluar dan berkata.
“Bagaimana menurutmu Sirius?”
Kurasa ukuran Blouse itu cukup untuk Lena.
“Pakaian itu sangat cocok denganmu, ayo kita bergegas mencari sarapan,” ajakku.
“Ummm.”
...Author Note : Ilustrasi Lena...
Kami berdua lalu meninggalkan penginapan dan menuju ke distrik makanan dan minuman. Walaupun Kota Omor terkenal dengan dunia malamnya, makanan – makanan yang ada di kota ini juga cukup bervariasi.
“Hey sini datanglah! Rebusan daging khas Kota Melguel di jamin akan membuat anda ketagihan!”
“Minuman segar! Minuman segar! Mauritus khas Bochumia dijamin akan melepaskan dahaga kalian!”
“Dunia luar memiliki berbagai macam makanan ya, Sirius,” ujar Lena terkagum – kagum. “Mendengar berbagai macam nama makanannya saja sudah membuatku penasaran,” tambahnya.
“Memangnya selama ini, apa saja yang Lena makan sehari – hari?” tanyaku.
“Keju, susu, sandwich dan sayuran,” jawabnya.
“Terdengar membosankan,” balasku.
Kami lalu sampai di sebuah tempat makan yang tidak terlalu bising. Mereka menyajikan sebuah makanan yang ingin ku makan setelah terakhir mencobanya beberapa bulan yang lalu.
“Lena, apa kau lebih suka makanan pedas atau manis?” tanyaku.
“Aku percayakan pilihannya pada Sirius,” jawabnya.
“Baiklah.”
Aku lalu memesan sebuah ikan bakar spesial dengan bumbu khas mereka. Setelah beberapa saat, pesanan kami datang. Lena lalu mencoba makanan yang ada di depannya.
“Enakkkk! Ikan ini memiliki rasa yang unik Sirius!” ujar Lena kegirangan.
“Begitukah, mau coba punyaku?”
Lena lalu mengambil ikan bakar ku dan mulai mencicipinya. Tidak lama kemudian, ekspresi Lena membeku dan terlihat wajahnya mulai memerah.
“Ahhh Sirius! Lidahku terbakar, makanan macam apa ini?!”
“Ahahaha, minumlah susumu. Itu akan membantu meredakan rasa pedasnya.”
__ADS_1
Setelah kami selesai sarapan, kami berjalan menuju gerbang keluar Kota untuk melanjutkan perjalanan.
“Wahhh tadi menyenangkan sekali, aku bisa mencoba hal – hal baru!” ujar Lena.
Melihat Lena ceria membuat moodku memulai perjalanan menjadi lebih baik.
“Kau tahu Sirius, aku selalu ingin menjelajahi dunia ini sedari kecil kau tahu. Melihat berbagai macam keindahannya dan variasi orang - orang,” ucap Lena dengan nada melankolis. “Walaupun aku tidak bisa melihat, setidaknya aku masih bisa merasakan pengalaman itu sekarang,” ujar Lena seraya mengubah ekspresinya menjadi ceria kembali.
Kurasa aku mendengar sebuah rumor air kehidupan ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit di negeri Elf. Mungkin aku akan mencarinya setelah mengantar Lena ke tempat tujuannya. Aku ingin melihat ekspresinya ketika dapat melihat dunia kembali.
Kami lalu berjalan selama 2 jam lalu beristirahat di sebuah pohon. Cuaca hari ini sedang lumayan panas.
“Hey Sirius, mengapa kita tidak menyewa sebuah kereta kuda agar lebih cepat sampai ke tujuan selanjutnya?” tanya Lena yang sedang duduk menyender di sebuah pohon besar.
Lena tidak mengetahui dirinya sedang di incar tadi malam. Kurasa aku tidak perlu memberitahunya agar suasana hatinya lebih rileks. Jika kita menyewa atau mengikuti jasa transportasi, aku takut beberapa orang yang mengincar Lena akan mudah mengikuti kami. Jika berjalan kaki, aku bisa mengkontrol tempo dan menentukan sendiri arah perjalanan supaya sulit untuk di lacak.
“Bukankah kau ingin merasakan bagaimana luasnya dunia? Kurasa jika kita berjalan, kau akan lebih mengenal detail tentang itu,” sindirku membuat sebuah alasan.
“Ummm… benar sihhh. Tapi dengan cuaca seperti ini, kapan kita akan sampai ke tujuan berikutnya?” tanya Lena.
“Kurasa sekitar 2 jam lagi berjalan, kita akan sampai di sebuah Desa bernama Elberim,” jawabku.
“Baiklah. Sambil beristirahat, aku akan memperkenalkan mu dengan ajaran Dewi Athena!” ujar Lena.
“Hahhh… baik – baik,” jawabku dengan nada yang kurang antusias.
Setelah setengah jam kami beristirahat, kami melanjutkan perjalan kembali. Lena masih melakukan ceramahnya tentang ajaran Dewi.
“Jadi, kehidupan manusia akan lebih baik jika mereka menerima dan mensyukuri apa yang mereka miliki di kehidupan ini,” ucap Lena.
“Apakah Lena pernah merasakan sebuah ketidakpuasan dalam hidup?” tanyaku.
“Ya. Ketika pertama kalinya aku kehilangan penglihatan ku karena sebuah insiden, hidupku terasa tidak ada artinya,” ucap Lena dengan nada lemah. “Tapi aku menyadari, selalu depresi dan menyalahkan keadaan tidak akan membawaku kemana – mana,” jawabnya.
“Lalu, bagaimana jika kebahagiaanmu di ambil seseorang atau kebahagiaanmu itu pergi meninggalkanmu? Apa yang akan Lena lakukan? Merebut kebahagiaanmu yang di ambil oleh orang itu atau diam saja menerima keadaan?” tanyaku.
Lena lalu diam sebentar sebelum bertanya.
“Apa yang ingin Sirius katakan sebenarnya?”
“Manusia itu sangat rapuh Lena,” jawabku lalu menatap Lena. “Tidak banyak manusia yang memiliki ketabahan sepertimu. Seseorang yang di renggut kebahagiaannya oleh orang lain akan melakukan tindakan – tindakan yang tidak terduga kau tahu,” jelasku.
“Kebutaan Lena di sebabkan oleh kecelakaan bukan? tidak terjadi karena seseorang mengambilnya dengan paksa darimu?” tanyaku.
“I-tu…”
Mulut Lena terlihat terbuka dan menutup selama beberapa kali. Dia kemudian menutup mulutnya dan menundukkan wajahnya. Nampaknya dia ingin menjawab pertanyaanku tapi tidak bisa karena keadaan tertentu. Aku menjadi merasa bersalah membuatnya murung.
“Ngomong - ngomong, kita sudah sampai.”
Lena lalu mengangkat wajahnya dan berkata.
“Benarkah?!”
“Ya. Kita telah sampai di Desa Elberim.”
Aku dan Lena sedang berada di sebuah bukit yang dapat melihat seluruh kawasan Desa Elberim.
“Hey Sirius, beri tahu aku pemandangan Desanya!” pinta Lena.
“Baiklah. Mari kita lihat, terdapat sebuah ladang gandum, sebuah danau di pinggiran desa, terlihat juga beberapa orang yang sedang beraktivitas di sebuah kebun,” jawabku.
“Ayo kita segera kesana Sirius!” ujar Lena.
__ADS_1
“Baiklah, pegang lah tanganku jika tidak ingin terjatuh. Kita akan menuruni jalan yang menurun,” ucapku.
Kami lalu menuruni bukit dengan bergandengan tangan menuju desa tersebut.