The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 Chapter 3 : Proposal Duke Penrose


__ADS_3

"Georgy von Ritterburg, Ada urusan apa Ksatria terkuat Kekaisaran dengan orang biasa sepertiku?"


Mendengar pertanyaanku, dia menyeringai seakan-akan merendahkanku.


"Mengapa kau menatap Sang Saint seperti itu? Jangan-jangan kau berpikir dapat berjalan berdampingan dengannya? Kau—Seorang pembunuh keji yang biadab." Mendengar kata-katanya membuatku lebih waspada.


Apakah dia mengetahui identitas asli ku.


"Ketika kau tak sadarkan diri setelah melawan para Apostle itu, aku hendak membunuhmu karena identitasmu sebagai Assassin Ouroboros." Ekspresinya berubah menjadi mengerikan ketika mengatakan nama organisasi dimana sebelumnya aku bekerja.


"Tapi Sang Saint menghentikanku. Dengarkan ini Assassin, mau sebagaimana pun kau berusaha mencoba merubah jalan hidupmu itu." Dia kemudian berjalan mendekatiku. "Tanganmu itu masihlah ternoda oleh darah orang-orang yang tidak bersalah."


Setelah mengatakan itu, dia kemudian meninggalkanku sendiri. Aku kemudian tertunduk memikirkan perkataannya itu.


Dia benar, merubah diri lalu melakukan perbuatan baik saja tidak cukup...


Jika Georgy tahu identitas asliku, apakah dia akan memberitahukannya kepada Ketua Serena? Nampaknya hubunganku dengan Lena membuatku bisa berkeliaran bebas di Kekaisaran ini.


Jika tidak, Aku pastinya sudah dikejar oleh para Unit intelejen Kekaisaran.


Aku kemudian meninggalkan Aula utama untuk berjalan di sekitaran Istana menjernihkan pikiranku.


Masih terdapat banyak sekali orang diluar Aula walaupun di dalam sana para tamu mencapai ratusan orang.


"Ahhhh!" Aku mendengar sebuah jeritan berasal dari arah bagian Balkon Istana.


Aku kemudian bergegas ke lokasi untuk memeriksa apa yang terjadi di sana di ikuti dua orang Patrol Guard.


Sesampainya di sumber suara, aku melihat seorang pria paruh baya tergeletak di pelukan seorang wanita.


Kulit wajah pria itu berubah menjadi ungu, mulutnya berbusa dan telinganya mengeluarkan darah.


"Apa yang terjadi, Nona?" tanyaku sambil membantu wanita itu berdiri.


"A-aku tidak tahu, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk lalu wajahnya mulai berubah warna," jawab wanita itu dengan suara bergetar.


"Tidak apa-apa Nona, kami akan menangani ini." Aku menyerahkan wanita itu kepada salah satu Patrol Guard untuk diamankan.


Aku kemudian berlutut untuk memeriksa mayat pria ini.


Kalau tidak salah... Pria ini adalah Mayor Landa.


Aku memeriksa tubuhnya untuk mencari suatu petunjuk. Di bagian belakang paha kanannya, terdapat sebuah jarum yang menancap. Aku mencabutnya lalu mencium aroma jarum itu.


Ini adalah... Sebuah racun.

__ADS_1


Kami kemudian mengevakuasi mayat Mayor Landa ke ruangan interogasi Istana dengan diam agar tidak membuat tamu yang lainnya panik.


Setelah menunggu beberapa saat di ruangan interogasi, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku, Sirius," tanya Ketua Serena.


Aku kemudian menjelaskan peristiwa yang baru saja terjadi kepada Ketua.


"Kurasa racun yang dipakai oleh pembunuh Mayor Landa bernama Purple Vein." Aku memberikan jarum yang dipakai oleh pembunuh itu kepada Ketua. "Jika terkena racun ini, kalau tidak diberi penawar racunnya selama tiga jam, maka korban akan mati."


Mendengar penjelasanku, Ketua menatapku curiga. "Bagaimana kau dapat mengetahui hal ini?"


Kurasa aku harus berhati-hati dalam berbicara agar identitas ku sebagai mantan Assassin Ouroboros tidak gampang diketahui.


"Ketika kita berada di Hutan Rodea, Aku pernah mengatakan kepada Ketua bahwa aku sering mengumpulkan tanaman obat sebelum menjadi Patrol Guard," ucapku beralasan.


"Ah begitukah? Maaf aku melupakannya."


"Tidak perlu dipikirkan, Ketua."


Ketua Serena kemudian duduk di sampingku.


"Sirius, menurutmu, pembunuhan Mayor Landa ada hubungannya dengan pembunuhan Salah Satu Anggota Dewan—Georg?" tanya Ketua.


Jika tidak salah ingat, Mayor Landa dan Tuan Georg merupakan anggota satu Faksi di Dewan Kota. Mereka berdua termasuk Faksi yang menginginkan untuk menghukum para pebisnis yang berlaku curang menurunkan harga produk mereka sehingga merusak harga pasar.


Mungkinkah pembunuhan ini berdasar karena perbedaan kubu politik?


"Besok kita harus membentuk dua tim investigasi untuk menyelidiki kasus peredaran obat terlarang dan pembunuhan ini," ucap Ketua.


***


Di sisi lain Istana, Georgy yang baru saja melakukan konfrontasi dengan Sirius sedang berbicara dengan Adiknya—Duke Franz.


"Kakak, apa yang kakak perlukan malam-malam seperti ini ke ruanganku?" tanya Duke Franz.


"Ini mengenai Serena, Apakah kau sudah memutuskan siapa yang akan menjadi pasangan untuk menikahinya?"


Mendengar pertanyaan kakaknya, Duke Franz memejamkan matanya.


Dia mengetahui mengapa kakaknya menanyakan hal itu. Saat ini, Di wilayah Duke Franz—Duchy Ritterburg sedang mengalami sebuah wabah penyakit yang masih belum diketahui penyebabnya.


Selain itu, tanah yang berada di seperempat wilayah kekuasaan Duke Franz tiba-tiba menjadi tidak subur. Ini menyebabkan pemasukan yang diterima Duchy Ritterburg menjadi berkurang.


kegiatan ekonomi di wilayahnya pun menjadi menurun.

__ADS_1


"Duke Penrose mengunjungiku satu minggu yang lalu."


"Duke Penrose van Reginar? Bocah cengeng itu?" Georgy pernah melatih Penrose ketika dia masih menjadi seorang Ward di kediaman keluarga Ritterburg.


"Ya, dia mengirimkan sebuah proposal pernikahan untuk Serena dengan mahar 300.000 Golling," ungkap Duke Franz.


"300.000 Golling!? Dari mana bocah itu mendapatkan uang sebanyak itu!?" Georgy sangat terkejut.


Untuk Bangsawan setingkat Duke— Pemasukan yang dia miliki selama satu tahun biasanya hanya 100.000 Golling saja dan itu adalah pendapatan kotor.


"Tunggu Franz, ini sangat mencurigakan kau tahu. Apakah Kekaisaran sudah melakukan audit mengenai bagaimana cara dia mendapatkan kekayaan sebanyak itu?" tanya Georgy.


"Kekaisaran berhak mengaudit kekayaan para bangsawan dari hasil pajak mereka terhadap wilayahnya masing-masing. Akan tetapi, mereka tidak memiliki kewajiban untuk melaporkan kekayaan dari bisnis yang mereka bangun sendiri," jelasnya.


Duke Franz ingin melakukan penyelidikan terhadap Duke Penrose. Akan tetapi, tawaran 300.000 Golling itu terlalu menggiurkan untuk ditolak. Dengan uang sebanyak itu, dia bisa memulihkan kembali ekonomi wilayahnya yang sedang terpuruk itu.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Franz?" tanya kembali Georgy.


Duke Franz kembali terdiam.


"Aku akan menjawab tawarannya dalam beberapa minggu. Setidaknya sampai trial para Pahlawan berakhir di Arch duchy Astria."


***


Wilayah Barat Kekaisaran—Kota Hainut—Ibukota Duchy Reginar.


Di kediamannya, Duke Penrose sedang bertemu dengan pria suruhannya.


"Tuan Penrose, pejabat Kota Geneva yang telah kita suap, akhirnya tertangkap oleh Patrol Guard kota itu. Apa yang harus kita lakukan?" tanya pria itu.


Duke Penrose tidak menjawab. Pria itu hanya bisa melihat punggung Duke Penrose yang membelakanginya.


"Bunuh pejabat itu, jangan sampai jejak kita tercium oleh para Patrol Guard," perintahnya.


"Baik, Tuanku. Keinginanmu akan hamba laksanakan!" Pria itu kemudian menghilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali.


Duke Penrose kemudian berbalik. Dia sedang memegang sebuah lukisan seorang wanita di tangannya. Wanita itu memiliki ekspresi yang tajam serta serius, berambut hitam panjang bagaikan kegelapan malam. Akan tetapi, ekspresi dingin wanita itu tetap tidak bisa menghapus pesona kecantikan yang dia miliki.


Wanita yang ada di lukisan itu adalah Serena von Ritterburg.


"Ah Serena, tidak lama lagi kau akan menjadi milikku." Dia mencium lukisan itu.


"Aku telah merencanakannya selama bertahun-tahun! Kali ini, kita pasti dapat bersatu!"


Duke Penrose von Reginar, dia adalah dalang dibalik peredaran obat-obat terlarang yang sedang meracuni penduduk-penduduk Kekaisaran Habsburg.

__ADS_1


__ADS_2