The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Side Story : Pria yang ingin menjadi Pahlawan 2


__ADS_3

Setelah peperangan usai, aku kemudian menghadiri sebuah rapat para petinggi pasukan Aliansi. Walaupun aku tidak memiliki suara karena posisiku di sini hanyalah sebagai kandidat Pahlawan.


Aku dan 10 kandidat pahlawan lainnya hanya berdiri di pinggiran mendengarkan jalannya rapat.


“Dengan dimenangkannya pertempuran ini, kita berhasil mengangkat cekikan Pasukan Raja Iblis terhadap jantung Kerajaan Thuringia. Untuk itu aku sangat berterima kasih kepada Aliansi dan juga Saint Agung.” Raja Kerajaan Thuringia—Konrad von Salian mengekspresikan rasa terima kasihnya.


“Ini kewajiban kita sebagai para Negeri Aliansi Raja Konrad. Membantu mempertahankan negeri-negeri Aliansi terhadap invasi pasukan Raja iblis,” ucap Pangeran Reinhard von Habsburg—Putra ke-3 dari Kaisar Marx von Habsburg. “Baiklah, kurasa cukup formalitasnya. Kita di sini untuk membahas langkah apa yang harus di ambil kedepannya untuk melawan pasukan Raja Iblis.”


Pangeran Reinhard walaupun usianya masih di bilang muda yaitu 22 tahun akan tetapi, dia memiliki kewibawaan dan karisma yang tidak kalah dengan petinggi-petinggi negeri yang hadir di rapat ini.


“Jika kita tidak terlambat mendapatkan suplai logistik, kita pasti bisa mengalahkan pasukan Raja Iblis di sini lebih cepat.” Pangeran Charles Angevin mengatakan itu memperlihatkan ketidakpuasannya.


“Pangeran Charles, itu di karenakan banyak pemberontak yang melakukan penjarahan di seluruh Kerajaan Castellon.” Pangeran Alfonso de Castellon beralasan. “Kurasa semua negeri di Aliansi mempunyai masalah yang serupa.”


Aku masih tidak mengerti tentang para pemberontak itu. Di saat umat manusia sedang mencoba segala yang mereka bisa untuk mengalahkan pasukan Raja Iblis, mereka dengan kejamnya malah menghambat dan mengganggu kami dalam mengupayakan hal itu.


“Kita tidak bisa membiarkan pemberontakan ini membesar, kurasa kita harus menunda serangan ke Pasukan Raja Iblis bulan ini,” ucap Putri Wilhemina von Lorraine—Putri pertama Kerajaan Lorraine. “Jika pemberontakan membesar, itu akan membuat kita makin kesulitan melakukan serangan ke Pasukan Raja Iblis. Kurasa pemberontakan ini di siasati oleh mereka.”


Putri Wilhemina… Rumor mengatakan, sejak dia masih berumur 12 tahun, dia sudah sering ikut mengurusi urusan Negara. Sekarang dia berumur 19 tahun, tidak hanya pintar dan bijak, dia juga telah tumbuh menjadi wanita yang anggun dan berwibawa.


“Jika kita menunda penyerangan, maka pasukan Raja Iblis akan segera pulih dari kekalahan di pertempuran ini. itu akan membuat kita sama sulitnya untuk mengalahkan mereka kembali,” ucap Duke Robert de Gennoles— Jendral perang Kerajaan Aquitaine.


Para petinggi Aliansi kemudian terdiam. Mereka masih kebingungan harus melakukan apa dalam situasi ini.


“Bolehkah aku berbicara?”


Suara itu berasal dari Sang Saint yang sedari tadi hanya duduk mendengarkan diskusi para Petinggi Aliansi.


“Silahkan Saint Agung, Anda selalu mempunyai suara dalam rapat ini. Jika bukan karena Anda hadir di medan perang, kami tidak akan dapat dengan mudah meraih kemenangan ini,” ucap Pangeran Reinhard dengan sopan.


Perhatian para Petinggi Aliansi kemudian tertuju kepada Sang Saint.


“Aku mendengar, inti masalah munculnya pemberontakan ini di karenakan kenaikan pajak dan tingginya harga pangan di seluruh negeri Aliansi.” Nada Sang Saint ketika mengucapkan itu tidak selembut biasanya.


Mendengar ucapan Sang Saint, ekspresi wajah para Petinggi Aliansi terlihat suram. Kurasa ini seperti hal tabu untuk di bicarakan oleh mereka.


“Ta-tapi Saint Agung, hal ini sangat beralasa—“


“Aku belum selesai berbicara, Pangeran Reinhard.” Potong Sang Saint. “Kesulitan itu hal yang biasa terjadi jika kita sedang di landa musibah. Baik itu bencana alam maupun dalam kondisi perang,” lanjutnya.


Para Petinggi Aliansi mendengarkan secara seksama apa yang akan di bicarakan Sang Saint.


“Di Desa tempatku tinggal, kelaparan sering terjadi karena musim dingin yang panjang. Harga pangan juga naik pada waktu itu akan tetapi, para warga tidak ada yang memiliki pikiran negatif walaupun sedang di landa kesulitan. Kalian tahu mengapa alasannya?”


Kalau tidak salah, kampung halaman Sang Saint berada di sebuah desa kecil di Kerajaan Aquitaine yang di kelola oleh Kuil Dewi Athena.


“Kami para Pendeta bersama mereka, kami mendengarkan penderitaan mereka, kami menemani mereka melalui masa sulit itu. Sekarang aku bertanya, apakah diantara kalian, para Penguasa dan Bangsawan pernah sekali pun mendatangi para pemberontak itu? Mendengar keluh kesah mereka tanpa takut para pemberontak itu, rakyat kalian sendiri akan menyerang kalian?” tanya Sang Saint dengan nada yang tegas.


Para petinggi Aliansi terdiam.


“Hubungan baik itu di mulai dengan saling percaya. Saling peduli dan menukarkan isi pikiran dan perasaan masing-masing. Aku yakin, jika kalian dekat dengan Rakyat kalian sendiri, maka hal ini tidak akan terjadi.” Sang Saint lalu menutup matanya. “Rakyat kalian bahkan tidak pernah bertemu dengan pemimpin mereka, tidak pernah tahu kepada siapa uang pajak yang mereka yang di dapat dengan hasil kerja keras mereka itu berikan.”


Sang Saint lalu berdiri. Pemandangan ini bagaikan Sang Saint berada di atas para Petinggi Aliansi, Bangsawan-bangsawan tertinggi bahkan seorang Raja sekalipun.

__ADS_1


“Kalian tak akan bisa merubah hati para pemberontak itu jika kalian hanya membunuh dan menangkapi mereka. Berbicaralah dengan rakyat kalian sendiri, ajak mereka ke meja perundingan dan selesaikan masalah ini dengan kekerasan seminim mungkin.”


Setelah mengatakan itu, Sang Saint kemudian meninggalkan ruang rapat di kawal oleh Tuan Georgy.


“Terima kasih atas arahannya Saint Agung. Usulanmu akan kami bicarakan dalam rapat ini baik-baik.” Pangeran Reinhard mengatakan itu sambil berdiri lalu menundukkan kepalanya kepada Sang Saint di ikuti para Petinggi Aliansi yang lain.


Dengan begitu, Rapat di isi tentang membicarakan apa yang Sang Saint usulkan kepada mereka. Tentang melakukan pendekatan yang lebih humanis kepada rakyat dan para pemberontak.


Setelah selesai rapat, aku sedang menuju ke tempat dimana Sang Saint berada. Sang Saint melakukan pembicaraan dengan masing-masing kandidat setelah pertempuran tadi.


Apa sebenarnya yang ingin Sang Saint bicarakan?


Aku kemudian melihat sosok yang familiar keluar dari Kuil dimana Sang Saint berada. Dia adalah salah satu kandidat sepertiku akan tetapi, aku sangat tidak suka terhadap kepribadiannya. Bagaimana mungkin orang seperti dia dapat lulus seleksi menjadi salah satu kandidat pahlawan?


“Pierre,” sapaku.


Dia kemudian berhenti berjalan dan menatap mataku.


“Aku adalah Bangsawan terhormat Kerajaan Aquitaine. Rakyat jelata sepertimu harusnya memanggilku dengan hormat.” Dia kemudian berjalan kembali. “Ketahuilah posisimu sendiri, rendahan.” Lanjutnya.


Seperti kataku, kepribadiannya sangat buruk. Aku kemudian memasuki ruangan utama kuil.


“Kandidat Pahlawan—Arthur memasuki ruangan!” Penjaga pintu mengumumkan kedatanganku.


Terlihat Sang Saint duduk di sebuah kursi di depan Patung Dewi Athena dan Tuan Georgy yang menjaganya di sampingnya.


Aku kemudian berlutut seperti yang sering aku praktekan di pelajaran etika.


Sang Saint kemudian tersenyum ke arahku. Senyuman itu kurasa dapat mematahkan hati berbagai pria yang melihatnya.


“Berdirilah Arthur, kita akan jalan-jalan dan berbincang sebentar.”


“Eh?”


Aku terkejut mendengar apa yang Sang Saint katakan.


“Tuan Georgy, bisakah kau membantuku turun.”


“Siap! Saint Agung.”


Sang Saint kemudian menuruni tangga di gandeng oleh Tuan Georgy. Melihat pemandangan ini, layaknya seperti melihat sebuah lukisan yang pernah aku lihat di Kuil Utama Kerajaan Brichnoig tentang turunnya Dewi Athena.


Sang Saint lalu tiba di hadapanku.


“Baiklah Tuan Georgy, Anda tunggu saja di sini. Bukankah Athur itu cukup kuat untuk mejagaku?” tanya Sang Saint padaku.


“Te-tentu saja, aku akan mengorbankan nyawaku demi menjagamu Saint Agung!”


Setelah mendengar jawabanku, Sang Saint kemudian tertawa pelan.


“Baiklah Arthur, mari kita berjalan-jalan dan mengobrol,” ucapnya seraya menawarkan tangannya padaku.


Aku kemudian meraih tanganya lalu mulai berjalan di sekitaran area Kuil. Kami berjalan tanpa berbicara. Aku kemudian mencuri-curi pandang ke wajah Sang Saint. Dia terlihat… tersenyum.

__ADS_1


“Apakah Arthur hadir dalam rapat tadi?” Sang Saint kemudian membuka mulutnya.


Bibir merah muda, kulit putih bagaikan salju yang berjatuhan. Untuk sesaat, aku terpesona dengan kecantikannya.


“Arthur?”


Aku kemudian tersadar karena nada suara Sang Saint yang mulai berubah.


“I-iya Saint Agung, maaf aku sedikit terpesona dengan kecantikan Anda.”


“Heee~ terima kasih. Kau cukup baik dengan pujianmu itu. Tidak seperti orang yang ku kenal,” ucapnya dengan nada yang sedikit melankolis.


Huh? Siapa orang yang di maksudkan oleh Sang Saint itu.


“Kau tahu Arthur, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna.” Sang Saint kemudian memberhentikan langkahnya.”Semua orang mempunyai sisi gelap, semua orang pernah membuat kesalahan dan semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk berubah.”


Aku tidak mengerti apa yang ingin Sang Saint coba sampaikan dengan perkataannya itu. Sisi gelap, kah? Aku tidak terlalu mengerti, sepanjang hidup aku selalu di kelilingi oleh orang yang baik. Master selalu di sampingku untuk membimbingku ke jalan yang benar.


“Kau tahu Arthur, Seorang Saint dapat melihat jiwa seseorang. Dan Jiwamu menunjukan wana hijau cerah warna yang sama yang di miliki oleh Tuan Georgy.”


“A-apa maksud Anda mengenai hal itu Saint Agung?”


Aku terkejut bisa di samakan dengan Ksatria terbaik yang ada di benua ini.


“Ini menandakan, kau memiliki kesempatan besar dibanding kandidat lain untuk terpilih menjadi seorang pahlawan.”


Aku? Mempunyai kesempatan tertinggi di banding yang lainnya? Mendengarnya membuat hatiku menjadi sangat senang. Impianku yang selalu aku damba-dambakan akan menjadi kenyataan.


“Fufufu…”


Aku mendengar Sang Saint tertawa dengan sangat imut.


“Sesenang itukah Arthur mendengarnya sampai tidak dapat berkata-kata?”


“Tentu saja! Itu adalah impianku semenjak Aku kecil!”


Aku lalu memegang kedua tangan Sang Saint tanpa sepengetahuanku. Aku refleks melakukannya karena terbawa suasana. Tangannya sangat mulus dan lembut. Kuharap aku bisa menyentuhnya selama mungkin. Akan tetapi, Sang Saint melepaskan tangannya dari genggamanku.


“Hey Arthur, bagaimana pemandangan langit-langit sekarang?” tanyanya dengan nada suara yang berbeda dari biasanya.


“Malam ini di penuhi bintang dan bulan purnama terlihat jelas.”


“Begitukah…. Apa yang sedang dia lakukan sekarang ya...? Apakah dia berhasil menjadi apa yang diinginkannya untuk menjadi Patrol Guard…?”


Ekspresi Sang Saint ketika mengatakan hal itu sangatlah berbeda dengan biasanya. Wajahnya tersenyum sangat natural, nada suaranya seperti merindukan sesuatu.


Melihat dan mendengarnya membuat dadaku terasa panas. Tanpa kusadari, aku mengepalkan kedua tanganku.


Siapa orang yang selalu di bicarakannya itu?


...----------------...


Author Note : ini adalah akhir dari Side Story Arthur. Bab terbaru akan menceritakan kembali tentang Perjalan Sirius.

__ADS_1


__ADS_2