The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 12 : Kencan


__ADS_3

Keesokan harinya, aku mendapatkan libur untuk minggu ini karena telah berhasil menyelesaikan dua misi yang telah di berikan oleh ketua.


Apa yang akan aku lakukan untuk hari ini ya…?


Sejujurnya, aku tidak memiliki rencana apapun. Kurasa pagi ini aku jalan-jalan menelusuri kota saja. Ini libur pertamaku semenjak aku menjadi Patrol Guard jadi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.


Setelah berganti pakaian, aku kemudian keluar dari penginapanku yang terletak di dekat taman Kota. Di luar penginapan, terlihat sekali jalanan mulai ramai oleh pejalan kaki. Kereta kuda mewah juga berlalu-lalang di jalanan.


Tampaknya, kondisi kota telah menjadi normal kembali setelah terjadi serangan pemberontak ke Musium beberapa hari yang lalu.


Berjalan ke arah distrik kuliner, aku berniat untuk mendapatkan sarapan di sana. Setelah sampai di sana, mulai tercium aroma makanan yang campur aduk. Terlihat para warga kota juga banyak yang datang ke tempat ini untuk sarapan mengawali kegiatan mereka hari ini.


Baiklah… aku sedikit terlalu bosan dengan makan donat yang biasa kami beli ketika bertugas.


Mungkin aku akan mencari sesuatu yang baru. Akan tetapi, aku merasakan keberadaan seseorang mendekatiku. Setelah mengetahui dia tidak memiliki niatan untuk membunuh, aku kemudian hanya diam saja menunggu apa yang akan di lakukan orang itu.


Tiba-tiba, pandanganku menjadi gelap. Aku kemudian mencium aroma parfum yang menyegarkan. Sebuah sentuhan lembut ini… seorang wanita, kah?


“Hey~ tebak aku siapa?” Aku mendengar wanita itu berbicara. Suara yang cukup familiar.


“Nona Mirela?” Setelah aku mengucapkan namanya, dia kemudian melepaskan tangannya yang menutup mataku lalu melangkah ke hadapanku.


“Tuan Sirius membosankan sekali… setidaknya coba tebak dengan salah sekali atau dua kali agar menjadi menarik permainan ini.” Dia mengatakan hal itu dengan cemberut.


Tidak, jika aku menebak dengan salah, yang ada kau akan lebih marah lagi dari ini. Aku sudah mengerti trik wanita ini karena sering dilakukan oleh Nightingale yang selalu menggodaku setiap ada kesempatan.


“Apa yang Nona Mirela lakukan di sini sendirian?” Mendengar pertanyaanku, dia kemudian tersenyum.


“Ahh… aku sedang mencari sarapan. Ibu dan Ayah sedang pergi sedangkan Milo—Adikku sedang bermain bersama teman-temannya.” Setelah dia mengatakan hal itu, tiba-tiba dia mendekatiku kemudian memegang kedua tanganku. “Hey Tuan Sirius~ mau menemaniku sarapan? Kau sudah janji pada saat itu kau tahu.”


Kalau tidak salah, aku memang mengatakan hal demikian ketika aku menolak tawarannya tempo hari. Kami akan melakukannya di lain waktu.


“Baiklah.” Mendengar jawabanku, dia terlihat sangat senang. “Mau kemana kita?” tanyaku.


“Ikuti aku. Aku tahu tempat yang bagus dibandingkan sarapan di tempat berisik ini.”


Aku kemudian mengikutinya dari belakang. Tidak lama kemudian, dia kembali berbalik dan terlihat lebih kesal daripada sebelumnya. Dia kemudian menarik lenganku lalu kami mulai berjalan bergandengan tangan.

__ADS_1


Uhhh… wanita memang merepotkan. Mengapa mereka harus selalu mempermasalahkan hal-hal sepele.


Ketika kami berdua berjalan bergandengan, aku melihat Senior Hans dan Wakil Ketua sedang jalan berdua di salah satu gang Kota.


Apa yang sedang mereka berdua lakukan? Patroli harian, kah? Wakil Ketua menggantikanku sebagai partner Senior Hans.


Kami kemudian tiba di sebuah tempat yang memiliki lapangan terbuka. Di sana terlihat beberapa orang sedang menyiapkan sebuah pertunjukan drama jalanan. Kami kemudian duduk di sebuah meja yang terdapat sebuah payung di atasnya lalu memesan sarapan kami.


“Pertunjukan apa yang akan mereka mainkan, Nona Mirela?”


“Ahh… kurasa pertempuran Limburg yang terjadi beberapa minggu yang lalu antara pasukan Aliansi menghadapi Pasukan Raja Iblis di Kerajaan Thuringia.”


Nona Mirela cukup banyak tahu mengenai hal ini. Mungkinkah karena diberitahu oleh Tuan Radolf?


“Pertunjukan ini akan mengilustrasikan Para Kandidat Pahlawan dan Saint Magdalena membasmi para iblis itu dan memotivasi para pasukan aliansi yang sedang tertekan.” Mendengar nama itu, membuatku membayangkan apa yang sedang dilakukannya sekarang.


“Tuan Sirius?” Melihatku yang terlihat melamun, Nona Mirela memanggilku.


“Ahh… Maaf, apa yang Nona Mirela ketahui tentang Sang Saint?” Nona Mirela kemudian seperti mengingat-ingat sesuatu.


“Rumor mengatakan, dia memiliki wajah secantik Dewi Athena sendiri. Dia sangat baik dan selalu memberikan senyuman membuat para warga di ibukota banyak yang mengidolakannya.” Mendengar perkataan Nona Mirela, kedua sisi bibirku kemudian terasa naik.


“Nona Mirela, nilai seorang wanita seharusnya tidak di nilai dari kecantikan luar fisik dirinya, melainkan kecantikan yang berada dalam hati diri wanita tersebut.” Mendengar kata-kataku, Nona Mirela terlihat mengedip-ngedipkan matanya. Ekspresinya terlihat shock.


“Ada apa, Nona Mirela?”


“Ah tidak, aku tidak menyangka pria seperti Tuan Sirius dapat mengatakan hal bagus seperti itu kepada seorang wanita.” Dia mengatakan hal itu sedikit malu-malu.


Memangnya kau anggap aku ini pria yang seperti apa?


“Aku pikir, Tuan Sirius adalah orang yang tidak peka dan cuek yang tidak mengerti akan perasaan wanita.” Dia mengatakan hal itu seperti dapat membaca pikiranku.


“Haahh… memang benar, aku mendengar perkataan itu dari seorang temanku.” Lena sering menceramahi ku tentang hal ini sebelumnya.


Sarapan kami kemudian telah sampai. Mereka memberiku sebuah telur yang di taruh di atas sebuah roti yang berisikan daging renyah dan sebuah daging yang agak lebih besar. Kurasa mereka menamakan makanan ini Egg Benedict. Kami memakan sarapan kami sambil menikmati pertunjukan drama yang ada di hadapan kami.


Terlihat seorang pria sedang menjaga seorang wanita berambut putih yang tengah bernyanyi. Mereka sedang menghadapi beberapa monster yang diperankan oleh orang yang memakai kostum yang lucu.

__ADS_1


Dari adegan yang telah diperlihatkan, apakah Lena sudah dapat melakukan sihir Divine Buff?


Kami telah menyelesaikan makanan kami ketika drama itu selesai. Tidak lama kemudian, seorang pria dengan wajah penuh make up datang menghampiri kami.


“Tuan dan Nona di sini, apakah kalian menikmati pertunjukan kami?” Pria itu mengatakan hal itu sambil menyodorkan sebuah topi kepada kami.


“Tentu saja, pertunjukan kalian sangat bagus. Apakah kalian akan melakukannya lagi nanti?” tanya Nona Mirela seraya memberikan beberapa Shilling kepada pria itu.


Setelah kulihat baik-baik wajah pria itu, terdapat beberapa luka sayatan di wajahnya.


“Tentu saja Nona cantik, itupun jika kita dapat bertemu kembali besok.” Setelah mengatakan perkataan aneh itu kepada Nona Mirela, dia kemudian pergi.


“Apa maksudnya dengan kita dapat bertemu kembali?” gumam Nona Mirela. “Ngomong-ngomong, bukankah para Pahlawan itu sangat keren? Setiap wanita setidaknya pernah sesekali ingin di selamatkan oleh seorang Pahlawan gagah berani kau tahu.”


Mendengar perkataan Nona Mirela, aku kemudian teringat cita-citaku yang ingin menjadi seorang Pahlawan. Tapi sekarang lihatlah aku, mencoba menebus dosa-dosaku kepada orang-orang yang telah ku bunuh berkebalikan dengan seorang Pahlawan yang selalu menyelamatkan banyak nyawa.


“Tuan Sirius, apakah nanti malam Tuan ada rencana?”


“Kurasa tidak, hari ini aku kebetulan mendapatkan libur.”


“Maukah Tuan Sirius datang ke Teater Hollande? semua keluargaku akan menghadiri teater itu pada jam 7 malam nanti.” Nona Mirela menawariku selembar tiket di tangannya.


“Tentu saja, aku belum pernah mengunjungi sebuah teater sebelumnya.” Mendengar jawabanku, Nona Mirela terlihat sangat senang.


“Baiklah, kita akan bertemu nanti malam. Aku harus pergi dulu untuk menjemput adikku.” Nona Mirela kemudian berdiri. “Terima kasih telah menemaniku sarapan, Tuan Sirius. Sampai jumpa nanti malam~ .” Dia tersenyum lalu melambai-lambaikan tangannya padaku.


***


Beberapa saat setelah Sirius dan Mirela berpisah, seorang pria ber make up dan mempunyai luka di wajahnya yang mereka temui tadi berjalan ke sebuah gang di perkotaan. Dia bertemu dengan beberapa orang untuk mempersiapkan rencana mereka nanti malam.


“Apakah kalian telah bertemu dengan koneksi yang di bicarakan oleh orang berjubah itu?” tanya pria itu.


“Ya, dia bilang, dia akan menyamarkan kita sebagai anggota Patrol Guard yang akan menjaga teater,” jawab rekan pria itu.


“Baiklah, kita hanya akan membawa pedang saja kesana. Jika kita menggunakan Ludger, suara tembakannya hanya akan membuat banyak perhatian.” Mendengar instruksi pria itu, rekan-rekannya kemudian mengangguk.” Baiklah, kita harus berhasil membunuh keseluruhan keluarga Radolf nanti malam.”


...----------------...

__ADS_1


Maaf untuk update yang lama karena Author akhir2 ini sedang berada di luar Kota. Untuk bonusnya aku kasih ilustrasi Hans sama Clarissa sedang jalan berdua di bab ini.



__ADS_2