
Dua bulan sudah sejak perpisahanku dengan Lena. Aku sekarang menjalani hidup sebagai anggota terbaru Patrol Guard. Sudah dua minggu lebih sejak aku memulai profesi ini. Sebuah profesi yang dahulu ayahku kerjakan.
“Us….”
Apakah ini jalan yang terbaik untukku menebus dosa-dosaku?
"Siriuss! Woy!”
Aku dikejutkan oleh suara yang keras memanggil namaku. Aku kemudian melirik ke arahnya. Seorang pria yang tingginya sebahuku.
“Apakah kau tuli? Mengapa kau melamun seperti itu! Sulit dipercaya anak baru ini.” Ekspresinya terlihat sangat kesal.
“Maafkan aku Senior, aku hanya terpikirkan kampung halaman,” jawabku.
“Hee~ memangnya dimana kampung halamanmu itu?”
“Kerajaan Thuringia,” jawabku dengan datar.
Setelah mendengar jawabanku, ekspresi Senior Hans mulai berubah seperti merasa bersalah. Mungkin dia merasa tidak enak karena Kerajaan Thuringia sedang di porak-porandakan oleh pasukan Raja Iblis.
“Jangan memikirkan yang tidak-tidak saat tugas patroli, kau harus secara profesional melakukan pekerjaanmu kau tahu,” ujarnya lalu kembali berjalan di depanku.
“Kau benar sekali Senior, maafkan kesalahanku.”
“Sudahlah jangan banyak bicara, sudah hampir tengah hari, sebaiknya kita ke tempat biasa untuk mengisi perut kita. Melakukan tugas ini perlu tenaga kau tahu.”
Kami tengah berjalan di pusat Kota Wien ibukota Archduchy Astria. Wilayah khusus yang diberikan kepada seorang Ahli Waris Kekaisaran Habsburg. Kota ini merupakan yang paling maju dibandingkan yang lainnya. Mungkin hanya kalah dari ibukota Kekaisaran, Kota Ruhmstadt.
Kami sedang diberi tugas patroli oleh pimpinan karena baru-baru ini, banyak terjadi kasus kriminalitas dan teror yang dilakukan oleh pemberontak Wings of Freedom.
Dalam Patrol Guard, masing-masing anggota akan dibentuk tim dua orang untuk melakukan patroli. Patrol Guard Kota Wien memiliki sedikitnya 1000 personel yang terbagi dalam beberapa departemen. Lapangan, Spiritual, dan Logistik.
Aku sendiri termasuk dalam Lapangan, yang mengurusi kejahatan di lapangan secara langsung dan yang menjadi kekuatan utama Patrol Guard dalam menangani kejahatan.
Setelah berjalan sesaat, kami kemudian telah sampai di sebuah tempat makan. Terlihat beberapa Patrol Guard yang sedang singgah untuk istirahat makan siang.
Tempat ini menjadi favorit bagi para petugas lapangan karena nyaman dan simple. Makanannya juga tidak aneh-aneh dan sangat cocok untuk kami yang melakukan pekerjaan ini.
“Yo Hans! Bagaimana rasanya melakukan tugas dengan anak baru itu?” tanya salah satu petugas yang ada di sana.
Kami lalu duduk di sebuah kursi dengan meja panjang di depan seorang kasir. Dan memesan sebuah makanan dari gandum yang berbentuk bulat dan memiliki lubang di tengahnya. Makanan ini disebut Donat. Kurasa makanan ini terinspirasi dari makanan yang ada di Republik Anconia.
Walaupun negeri mereka sering berkonflik. Akan tetapi, tidak membuat para pedagang ini menjadi tertutup dalam hal bisnis.
“Nah, dia masih mending daripada rekanku yang sebelumya. Setidaknya anak baru ini tidak terlalu sering mengeluh.” Hans menjawab pertanyaan petugas tadi.
“Hee~ begitukah? Bukannya rekan-rekan mu sebelumnya keluar atau pindah gara-gara mulutmu itu berisik sekali?” goda petugas itu.
“Kalian hanya iri saja denganku mengatakan hal buruk itu. Karena aku lebih dekat dengan wakil ketua dan sering berinteraksi dengannya,” ucap Hans yang balik menggoda mereka.
“…!”
Wakil ketua Clarissa, kah? Dia memang wanita yang disiplin dan patut di contoh. Tidak heran banyak petugas lain yang menghormatinya.
“Kau tahu bagaimana rasanya sering berdekatan dengan tumpukan daging Wakil Ketua yang sering bergoyang itu ketika berjalan?” tanya Hans yang mana membuat para petugas lain mendekat penasaran. “Kedua bola itu sangat menggoda kau tahu. Aku sangat sulit berkosentrasi ketika melakukan pemberkasan jika dia berada di sampingku menunggu berkas yang aku kerjakan selesai,” jelas Hans.
__ADS_1
“Sial! Kau beruntung sekali! Hans dapat perhatian lebih dari Wakil Ketua!” ujar salah satu petugas merasa iri.
“Betul sekali! Betul sekali! Dan kau tahu betapa wangi parfumnya ketika dia berada di dekatku? Seperti aroma surgawiii…”
Kali ini para petugas hanya diam tidak merespon perkataan Hans.
Slingg
Terdengar suara pedang yang tercabut dari sarungnya.
“Begitu ya~ kau menyukai aroma tubuhku, hah?”
Hans kemudian berbalik dan mendapati di depannya sesosok wanita yang wajahnya terlihat menyeramkan.
Hasn kemudian melompat dari kursinya lalu mulai berlari sekuat tenaga seakan-akan kehidupannya bergantung pada kecepatan larinya.
“Jangan kabur kau, sampah!”
Wakil Ketua lalu mengejar Senior Hans dengan aura yang mengerikan.
“Hahaha!”
Petugas yang menyaksikannya, tertawa melihat kebiasaan mereka sehari-hari ini.
“Hey Sirius, makanan yang dia pesan belum dibayar kau tahu,” ujar salah satu petugas memberikanku kantung yang berisikan dua donut.
“Hah… baiklah, aku akan menyusulnya dan memberikan makan siangnya,” ucapku seraya membayar lalu mengambil kantung makanan itu.
...----------------...
Di sisi lain Kota, dua orang misterius sedang berada di sebuah museum sejarah. Ditengah museum ini, terdapat sebuah Artefak Kuno peninggalan salah satu pahlawan dari Kekaisaran Habsburg.
Pada masa itu, Pahlawan Karlomann mengorbankan nyawanya menghadapi monster naga yang menyerang Kekaisaran.
Dia berhasil membunuh naga itu akan tetapi, nyawanya tidak tertolong karena luka-luka akibat pertempuran. Setelah kematiannya, Zirah itu di pensiunkan dan dipajang untuk mengenang Sang Pahlawan yang menjadi simbol keberanian dan kejayaan Kekaisaran Habsburg.
“Terdapat empat penjaga di sekeliling kubahnya dan belasan lainnya tersebar di berbagai ruangan museum. Apakah daya ledaknya akan cukup menghancurkannya?” tanya seorang pria misterius kepada rekannya.
“Kapten bilang, ledakannya bahkan cukup untuk membuat lubang di sebuah dinding baja setebal 1 meter.”
“Baiklah, kita tinggal menunggu sinyal dari yang lainnya sebelum melakukan aksi kita.”
Tidak lama kemudian, terlihat beberapa orang yang berkelahi di sekitaran museum. Para penjaga mulai berdatangan untuk melerai mereka. Itu adalah rekan-rekan kedua sosok misterius itu yang menjadi pengalih bagi mereka berdua.
Perkelahian membesar yang mengakibatkan seluruh petugas harus ikut serta untuk menetralkan keributan itu. Dua dari empat petugas keamanan yang menjaga sekeliling kubah dimana Zirah itu berada pun harus pergi.
“Untuk para pengunjung di mohon keluar agar keributan ini tidak melebar!”
Kedua pria itu tidak mengindahkan peringatan petugas lalu berjalan mendekati kubah itu.
“Hey! Pengunjung di perintahkan keluar! Apa yang ka—“
Dorr!
Kepala petugas itu tiba-tiba mengeluarkan darah dan tubuhnya kemudian roboh ke lantai.
__ADS_1
“Kalian ternyata kelompok pembero—“
Dorr!
Kedua petugas itu mati dengan luka di kepalanya yang berlubang.
“Suara apa itu!? Hey kau! Apa yang kalian perbuat!”
Sisa dari petugas keamanan kemudian baru menyadari bahwa kedua rekan mereka telah terbunuh. Mereka lalu bergegas menghampiri kedua sosok pria itu akan tetapi, tiba-tiba muncul sebuah asap yang memenuhi ruangan itu entah dari mana asalnya.
“Sial! Salah satu dari kalian, cepat keluar dan hubungi Patrol Guard dan aktifkan alarm sihir yang ada di lantai dua!” perintah salah satu Petugas yang nampaknya ketua mereka.
Bombbb!!
Tiba-tiba terdengar bunyi ledakkan di dalam ruangan museum itu. Ledakan itu bahkan sampai melukai beberapa petugas keamanan saking kuatnya.
“Sial! Apa yang sebenarnya terjadi!?”
Petugas keamanan itu kemudian mulai merangkak mendekati kubah Zirah tersebut. Dia terkejut mendapati isi kubah itu telah kosong.
...----------------...
Aku mengejar Senior Hans dan Wakil Ketua sampai di alun-alun Kota.
“Kesini kau, Sampah! Aku pastikan kau tak akan bisa berjalan seminggu penuh!” Wakil ketua berteriak mengejar Senior Hans di keramaian.
“A-apa maksudmu!? Aku tidak berniat untuk pensiun dini kau tahu!”
Para warga kota nampak kebingungan melihat seorang wanita petugas Patrol Guard mengejar Pria anggotanya.
“Mereka lagi-mereka lagi. Hei! Apa kalian tidak bosan seperti itu hampir tiap hari!”
Beberapa pedagang bahkan ada yang sudah terbiasa dengan antik mereka.
Aku tetap mengikuti mereka dan melihat Senior Hans tengah tersudut di sebuah jalan buntu. Dia mencoba mundur akan tetapi, terhalang oleh bangunan yang tinggi.
“De-dengar Clarissa, seperti kata-kata pedagang tadi. Bukankah kau sudah bosan mengejarku terus?” Senior Hans mencoba bernegosiasi karena itulah satu-satunya harapan dia.
“Baiklah, kau mau cara cepat atau perlahan?” tanya Wakil Ketua dengan senyuman sadis.
BOMMMBBB!
Tiba-tiba, aku mendengar bunyi ledakan. Terlihat asap mengepul dari balik gedung-gedung. Aku kemudian mendekati mereka dan mengingatkan untuk mengakhiri antik mereka.
“Wakil ketua! Senior Hans! Terdengar bunyi ledakan, bisakah kalian berhenti bermain?” pintaku.
“Ledakan itu… kurasa berasal dari arah museum, benar tidak Sirius?” tanya Wakil Ketua. “Baiklah, kita harus bergegas. Aku akan kembali ke markas dan memberitahu pimpinan. Sirius dan sampah sepertimu cobalah ke TKP dan periksa apa yang sebenarnya terjadi.”
“Jangan sok memerintahku!”
“Siap Laksanakan!”
Kami meresponnya dengan jawaban yang berbeda. Wakil ketua kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan Junior?”
__ADS_1
Kau bercanda? Kau kan seniornya di sini.
“Ayo kita ke TKP terlebih dahulu untuk melihat keadaan sesuai arahan Wakil Ketua.”