
"Mengapa, Kak Sirius?”
Aku melihat beberapa rumah terbakar. Di sekelilingku, terlihat beberapa mayat anak kecil yang sedang merangkak ke arahku. Terlihat mata mereka gelap dan darah keluar dari kedua bola matanya.
“Mengapa Kak Sirius membunuh kami? Bukan kah kita memiliki nasib yang sama?”
Mayat-mayat itu kemudian memeganggi kakiku mencoba naik ke atas tubuhku.
“Pembohong… Kau pembohong… Kakak mengkhianati kami…” Mayat-mayat anak kecil itu membisikkannya di telingaku.
Aku kemudian melihat seorang pria di kejauhan, terlihat juga seorang anak kecil yang menghampirinya dengan ekspresi senang.
“Ah, Kak Sirius! Kakak datang untuk menyelama—?” Anak itu dengan riangnya menghampirinya. Akan tetapi, suara anak itu tertahan karena pria itu memenggal kepalanya dengan sebuah pedang.
“A-aku… Maafkan aku… kalian semua…” Aku mendengar pria itu menggumamkan sesuatu.
“Pembunuh! Pembohong! Pengkhianat!”
“Pembunuh! Pembohong! Pengkhianat!”
Tidak, aku tidak punya pilihan lain. Aku melakukan semua itu bukan karena aku ingin. Aku hanya… Aku hanya… Uhhh.
Mayat-mayat itu kembali meneriakan kata-kata yang membuat nafasku terasa sesak. Aku kemudian tenggelam oleh kerumunan-kerumunan mayat yang menaiki tubuhku ini. Penglihatanku mulai gelap. Cahaya… Siapa saja… Tolong aku…
Aku mulai tenggelam dalam sebuah kegelapan yang tak berujung ini.
Terus maju dan jangan terjebak dalam masa lalu
Semua orang memiliki kesempatan untuk menebus segala kesalahannya.
Aku mendengar suara wanita yang sangat familiar sekali… Aku sangat merindukan suaranya…
Cahaya mulai terlihat dalam kegelapan yang aku alami ini. Aku memejamkan mataku, terbayang senyumannya yang tulus ketika mengatakan kata-kata itu. Aku ingin bertemu dengannya kembali…
Aku kemudian membuka mataku kemudian mendapati aku berada di ruangan yang gelap gulita—ini adalah kamarku. Tubuhku berkeringat banyak sekali dan pipiku terasa basah. Apakah aku menangis?
Aku berdiri kemudian membuka jendela kamarku. Terlihat sebuah bulan sabit di langit menandakan ini masih malam hari.
Suara-suara itu kembali lagi karena aku menggunakan kekuatannya… Kekuatan iblis yang telah menghilang dari tubuhku.
***
Pagi harinya, Aku berjalan ke markas dengan kondisi kurang tidur. Setelah bertarung dengan Nightingale, aku bertemu dengan Patrol Guard unit Logistik sekembalinya menelusuri infromasi yang aku dapat dari Daniel. Senior Hans terkejut dengan beberapa luka sayatan yang aku terima dan menanyai beberapa hal.
__ADS_1
Kurasa Nightingale tidak memberitahukan keberadaan diriku kepada penjaga-penjaga gua itu. Jika tidak, mereka pasti sudah mengejarku.
Hari ini aku akan menghadap Ketua untuk melaporkan misi investigasi yang kami bertiga lakukan. Sesampainya di markas, aku kemudian hendak mencari Senior Hans untuk menghadap ketua. Para Senior bilang, dia sedang ada di tempat latihan untuk mencoba alat-alat aneh para pemberontak itu. Aku kemudian berjalan ke arah tempat latihan yang berada di tengah-tengah bangunan ini.
Brakk!
Sesampainya di sana, aku mendengar sebuah bunyi seperti seseorang telah menghantam sesuatu.
“Sial! Alat ini sangat sulit untuk di gunakan!” Terlihat Senior Hans bangkit berdiri setelah menabrak dinding bangunan. “Oh, Sirius! Hey, mengapa matamu terlihat aneh seperti itu? Kesulitan tidur karena di kalahkan seorang wanita?” Dia mengatakan hal itu dengan nada meledek.
Hey, bukannya kau pun sama setiap harinya selalu kabur dari amukan Wakil Ketua.
“Senior, ayo kita menghadap Ketua sekarang. Aku ingin segera menyelesaikan laporan ini.”
Senior Hans kemudian berjalan menghampiriku sambil membawa peralatan pemberontak itu.
“Kau tahu cara menggunakan benda ini, Sirius?” Mendengar pertanyaan Senior, aku kemudian memperhatikan alat itu kembali.
Kalau tidak salah… tabung kecil ini selalu mengeluarkan kepulan asap aneh ketika kabel-kabel itu keluar. Kurasa tidak akan berbeda jauh dengan menggunakan tali sebagai seluncuran untuk melakukan manuver-manuver seperti yang di lakukan oleh para pemberontak.
“Mungkin jika aku mencobanya selama satu atau dua hari, aku bisa menggunakan alat ini.”
Setelah menyimpan kembali alat-alat itu di gudang markas, kami kemudian pergi menuju ke ruangan ketua.
Kami kemudian tiba di ruangan ketua lalu duduk di hadapan meja kerjanya. Tatapan mata yang tajam, aura yang karismatik, dengan usia seperti ini sangat aneh ketua belum sama sekali di jodohkan oleh Ayahnya.
“Aku telah membaca laporan tertulis kalian barusan, aku ingin mendengar analisa hasil investigasi ini juga dari kalian secara langsung sebelum memutuskan berhasil atau tidaknya kalian dalam misi kali ini.” Mendengar perkataan Ketua, tangan Senior Hans mulai menyikut pahaku.
Iya-iya, bisakah kau berhenti melakukan itu setiap hal ini terjadi?
“Dalam investigasi kemarin malam kami menemukan beberapa informasi tentang beberapa hal yaitu, keterlibatan Bangsawan Barat Kekaisaran dengan bisnis illegal ini menurut keterangan Pendeta Lemar. Akan tetapi, kami belum dapat meverifikasi kebenaran mengenai informasi ini. Lalu, keterlibatan para pemberontak dan yang terakhir mengenai lokasi pelelangan ilegal itu.” Aku merinci informasi penting yang kami dapat kemarin malam.
“Jelaskan lebih detail tentang keterlibatan para pemberontak.”
“Mereka menjual Patrol Guard yang mereka tangkap juga para Demihuman yang mereka dapat dari negeri luar ke pelelangan.” Setelah aku mengatakan hal itu, Ketua kemudian menaruh tangannya ke dagunya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Kurasa kita memang harus memberantas para mata-mata republik secepat mungkin, kah…” Ketua menggumamkan hal itu.
“Kami juga mendapati para pemberontak itu memiliki artefak yang kemungkinan besar berasal dari para Iblis,” tambahku.
“Begitukah… Setelah operasi para pemberontak di Kota ini gagal, firasatku mengatakan, mereka tengah mempersiapkan sesuatu untuk menghadapi kita nantinya.” Ketua kemudian menatap mataku. “Kerja bagus kalian berdua, aku akan membentuk tim lain untuk menggerebek pelelangan itu. Tugas kalian sekarang adalah melakukan interogasi kepada para pemberontak itu. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, kalian harus membawa informasi mengenai rencana operasi baru mereka padaku sore ini, mengerti?”
“Siap, Ketua!”
__ADS_1
“Siap, Pimpinan!”
“Baiklah, kalian boleh keluar ruangan ini.”
Setelah mendapat arahan dari ketua, kami lalu meninggalkan ruangannya. Kami mulai berjalan ke tempat para pemberontak di tahan yang berada di samping gudang markas. Setelah sampai di sana, aku melihat sebuah sel yang berisi sekitar 6 orang pemberontak yang kami tangkap tadi malam. Kami menghampiri penjaga sel kemudian meminta untuk meminjam salah satu dari mereka untuk kami interogasi.
Kami kemudian membawa salah satu dari mereka ke ruang autopsi. Di dalam ruangan itu, terdapat bekas darah dan sebuah gigi berserakan di lantai bekas para anggota melakukan interogasi kepada para pemberontak yang beraksi di museum. Kami kemudian mendudukan pemberontak itu di sebuah kursi lalu menyeret sebuah meja yang terdapat beberapa alat siksaan ke hadapannya. Senior Hans kemudian melepaskan sebuah perekat yang menutupi mulutnya.
“Aku tidak akan mengatakan apapun! Tidak mungkin aku mengkhianati saudara seperjuanganku!” Teriak pemberontak itu dengan tekad kuat.
“Ah Sirius, maukah kau menggantikanku mengirimkan surat laporan penangkapan pemberontak ini ke Kantor Dewan Kota.” Senior mengatakan itu sambil memberikan sebuah amplop.
“Hm… bukankah ini tugas dari Departemen Logistik?”
“Seharusnya begitu. Laporan ini di buat mereka bersama Wakil Ketua, kebetulan aku bertemu dengannya tadi di lobi kemudian tiba-tiba menyuruhku untuk melakukan hal ini karena aku sedang tidak patroli.”
“Baiklah, lalu bagaimana dengan tugas interogasinya?” tanyaku seraya mengambil amplop di tangan Senior Hans.
“Jangan khawatir, aku sangat ahli dalam urusan ini kau tahu hehehe. Ketika kau sudah kembali, dia pasti sudah membeberkan semua rahasia para pemberontak itu.” Senior mengatakan hal itu dengan percaya diri.
***
Di sebuah gua tepatnya di perbatasan antara Archduchy Astria dengan Duchy Salisburg. Ini adalah markas para pemberontak Wings of Freedom cabang Astria. Terlihat beberapa orang sedang mendiskusikan rencana mereka dalam operasi lanjutan di Kota Wien.
“Jadi, kau ya yang di pilih oleh Kapten Leon untuk memimpin cabang ini?” Salah satu pemberontak menanyakan hal itu kepada seorang pria yang menggunakan sebuah topeng pada wajahnya.
“Memangnya kenapa? Ada masalah dengan aku menjadi pimpinan di sini?” tanya balik pria bertopeng itu.
“Ti-tidak.”
Pria bertopeng ini di kenal dengan kekejamannya terhadap musuh-musuh yang di hadapai Wings of Freedom.
“Akhir-akhir ini, kami sedikit mengalami kesulitan dalam masalah merekrut anggota di sekitaran Kota Wien,” ucap salah satu anggota mereka. “Rumor mengatakan, ada seorang anggota Dewan yang dermawan turut membagikan makanan juga menginformasikan kepada rakyat kecil tentang upaya pemerintah mengembalikan kepercayaan masyarakat kembali,” tambahnya.
“Ini masalah.” Pria bertopeng itu kemudian menghisap rokoknya sampai habis lalu membuangnya.
“Bukankah, ini baik? Mereka mulai membantu para warga?” tanya salah satu anggota mereka.
“Bagus untuk mereka, tetapi buruk untuk revolusi yang akan kita mulai,” ungkap pria bertopeng itu dengan nada dingin. “Jika kita ingin revolusi kita berhasil, kita harus mendapatkan dukungan rakyat kau tahu dan ini tidak akan terjadi jika rakyat mulai dekat dengan pemerintah.”
“De-dengan kata lain…”
“Ya, kita harus membunuh anggota Dewan itu.”
__ADS_1