
Malam harinya, Jerold beserta 100 Ksatria Suci lainnya mulai melakukan perjalanan ke perbatasan untuk menyelesaikan misi yang telah diberikan oleh Zuberg.
Setelah beberapa jam melakukan perjalanan dengan berkuda, mereka lalu sampai di sebuah Kota mati. Tempat ini ditinggalkan oleh para warganya 20 tahun lalu dikarenakan ada wabah penyakit yang muncul.
"Kita akan berpencar menjadi dua grup agar bisa lebih cepat menemukan anak-anak itu!" perintah pemimpin mereka.
Jerold beserta 50 Ksatria lain mulai menyusuri kota mati tersebut.
"Hey, Kapten. Apakah tempat ini aman? Aku dengar wabah di sini sangat mematikan dengan warga yang selamat dapat dievakuasi dari sini hanya mencapai 20 persen saja." tanya salah satu Ksatria Suci.
"Itu adalah peristiwa yang tabu untuk dibicarakan kau tahu. Kekaisaran ingin melupakan kejadian tragis ini agar sisa para warga kota yang bertahan bisa melangkah maju dari bayangan masa lalu peristiwa mengerikan itu," jawab Kaptennya.
Mendengar percakapan ini, Jerold semakin sadar bahwa dunia itu sedang tidak baik-baik saja. Jerold semasa hidup tidak pernah mengalami kesulitan apapun. Itu karena dia beruntung telah ditemukan oleh Georgy, bukan oleh orang yang memiliki niat jahat.
Namun, banyak orang yang tidak seberuntung Jerold. Banyak anak-anak terlantar yang malah ditemukan oleh orang jahat lalu dijual ke perbudakan.
Dalam misi ini, Jerold ingin menyelamatkan anak-anak yang diculik itu apapun yang terjadi.
Setelah menelusuri kota selama beberapa saat, mereka tiba di sebuah area yang memiliki banyak bangunan yang mengindikasikan ini adalah pusat kota.
"Bagilah menjadi tim dari empat orang lalu periksalah isi setiap bangunan yang ada di sini. Jika kalian menemukan sesuatu, berteriaklah agar yang lainnya segera ke tempat kalian," perintah Kapten mereka.
Jerold bersama dengan tiga Ksatria Suci lain mulai memeriksa setiap bangunan yang ada di sana.
"Aman!"
"Aman!"
Satu demi satu bangunan yang mereka telusuri. Namun, tidak ada satupun tanda-tanda sebuah kehidupan yang ada di sekitaran area itu.
Mereka lalu tiba di sebuah bangunan yang cukup besar. Suasana yang hening sunyi membuat para Ksatria Suci yang bersama Jerold sedikit gugup.
"Senior, bisakah kalian kemari." Jerold memanggil rekan-rekannya. "Pintu bangunan ini sulit sekali untuk dibuka, kita dobrak bersama-sama."
"Baiklah." Mereka berempat lalu berbaris bersiap-siap untuk melakukan ancang-ancang.
"Sesuai aba-abaku, satu, dua, tiga!"
-Brak!
Pintu pun terbuka. Namun, ekspresi mereka sedikit terkejut. Di hadapan mereka, seorang wanita tengah berdiri ditengah-tengah ruangan bangunan itu.
"Halo, Nona?" Mendengar ada yang memanggilnya, wanita itu berbalik.
Wajahnya penuh bercak darah, sekitaran matanya terdapat bundaran hitam dan wanita itu menyeringai kepada para Ksatria Suci itu.
"...!"
"...!"
Wanita itu mengarahkan tangannya pada mereka.
"Ughhh!" Keempat Ksatria Suci itu termasuk Jerold terpental keluar bangunan.
"Sial! Itu adalah seorang Witch!" Jerold kemudian mencoba berdiri."Musuh ditemukan!" Dia kemudian berteriak sekencang mungkin untuk memperingatkan semua rekan-rekannya.
Jerold melihat Witch itu keluar bangunan, wanita itu lalu menembakkan sebuah sihir ke udara. Tidak lama kemudian, nampak sesosok manusia berterbangan di udara. Mereka kemudian mendarat di atas bangunan-bangunan kota.
"Mereka adalah—Vampir."
Pertarungan para Ksatria Suci dengan para Iblis pun dimulai.
***
Di sisi lain, Sirius dan Visena sedang mengawasi pertarungan para Ksatria Suci dengan para Iblis. Membiarkan mereka saling membunuh, melemahkan kedua belah pihak menunggu kesempatan yang paling bagus untuk bergerak.
Sebelum para Ksatria Suci itu datang, mereka berdua telah menelusuri kota mati ini. Mereka berkesimpulan, para Witch dan Iblis-iblis itu telah menunggu kedatangan para Ksatria Suci.
"Visena, aku urus bagian ini. Kau urus bagian di area lain kota." Sirius memberikan Instruksi kepada Visena.
Pertempuran antara Ksatria Suci dengan para Iblis berlangsung di dua area karena sebelumnya para Ksatria Suci itu berpencar menjadi dua grup.
-Bomb!
Mereka berdua melihat sebuah ledakan sihir. Orang yang mengeluarkannya adalah seorang pemuda seumuran mereka.
"Apa kau yakin ingin menangani yang di sini? salah satu dari mereke sepertinya seorang Fortune Child."
Fortune Child sangat dikenal sangat sulit dibunuh karena memiliki sebuah perisai khusus pemberian Sang Dewi ketika mereka berada dalam keadaan hidup dan mati.
Mana yang dimiliki oleh Fortune Child juga tidak pernah habis dan mereka tidak akan pernah mengalami yang namanya Mana Exhaustion seperti para Pahlawan.
"Aku akan melawannya, ini akan menjadi kali pertama aku akan bertarung dengan seorang Fortune Child, doakan aku, Visena," ujar Sirius.
"Apa maksudmu do'akan, aku ini Atheis," balas Visena yang kemudian pergi meninggalkan Sirius.
***
Setelah dua jam melakukan pertarungan dengan para Iblis, Jerold dan para Ksatria Suci akhirnya dapat mengalahkan mereka.
"Kita menang!" Jerold mengangkat tangannya ke atas langit mengumandangkan deklarasi kemenangan setelah membunuh Vampir terakhir.
Selama pertarungan, Jerold lah yang berperan paling aktif diantara Ksatria Suci lainnya.
-Plak!
Jerold berbalik karena ada yang menepuk pundaknya.
"Kerja bagus, anak baru. Seperti yang diharapkan dari murid Tuan Georgy—The White Knight," puji Kapten Ksatria Suci yang memimpin grup Jerold.
"Terima kasih, Kapten!" Mendengar pujian Kaptennya, Jerold menjadi lebih termotivasi.
Pertarungan mereka namun tidak tanpa korban jiwa, sebanyak 20 Ksatria Suci mati dan belasan lainnya luka-luka setelah melawan Witch dan para Iblis itu.
Grup Ksatria Suci Jerold lalu mengirimkan dua orang untuk menemui Grup lain, sedangkan Jerold dan sisanya pergi untuk melanjutkan penelusuran mereka untuk mencari anak-anak itu.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya mereka menemukan sepuluh dari dua puluh anak yang diperintahkan oleh mereka untuk dievakuasi.
Namun yang membuat mereka kaget, keadaan anak-anak itu sangat buruk. Tubuh dari setiap anak itu dipenuhi luka bekas eksperimen yang dilakukan oleh para Witch.
Melihat ini, hati Jerold bergetar. Dia kembali membulatkan tekadnya untuk menyelamatkan anak-anak yang malang ini.
Mereka lalu memberi mereka makanan dan minuman terlebih dahulu sebelum membawa mereka keluar.
Suasana Kota kembali hening setelah pertempuran, mereka berjalan kembali menuju dimana rekan-rekan mereka yang terlukan dan meninggal berada.
"Dua orang yang kita kirimkan itu, Kapten, mengapa mereka sangat lama sekali hanya untuk memberitahu Grup lain tentang keadaan kita?" tanya Jerold.
"Iya, mereka berdua cukup lama. Ini cukup an—"
-Bomb!
Sebelum sang Kapten dapat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah ledakan cahaya yang membuat mereka mengalami kebutaan selama tiga detik.
Namun untuk Sirius, tiga detik adalah waktu yang cukup untuk membunuh kesepuluh anak tersebut. Para Ksatria Suci kebingungan dengan apa yang sedang terjadi termasuk Jerold.
Mereka mengalami kebutaan kemudian mendengar suara jeritan anak kecil. Ketika mereka berhasil memulihkan pandangan mereka, para Ksatria Suci itu melihat Sirius tengah menancapkan pedangnya ke leher anak yang terakhir.
__ADS_1
Misi mereka yang telah mereka perjuangan hidup dan mati kandas begitu saja dalam sekejap. Melihat ini, emosi Jerold memuncak. Sirius kemudian bergegas melarikan diri.
"Kejar Assassin keparat itu!" perintah Sang Kapten.
Belasan Ksatria Suci itupun mulai mengejar Sirius. Namun Jerold masih terdiam tidak mengikuti rekan-rekannya yang tengah mengejar pembunuh sadis tersebut.
Ini kali pertama Jerold melihat seorang manusia membunuh anak kecil tanpa basa-basi. Jerold melihat mayat para anak-anak itu, darah mereka mengalir membasahi kaki Jerold.
"Aku bersumpah, aku bersumpah akan membunuh Assassin itu!" Baru kali ini Jerold mempunyai rasa ingin membunuh seorang manusia begitu kuat.
Dia mengejar rekan-rekannya dengan cepat. Para Ksatria Suci dan Jerold terus mengejar Sirius yang berlari dan melompat ke gang-gang kecil Kota. Yang ada dipikiran mereka semua hanya satu—Yaitu memburu Assassin tersebut.
Namun, mereka kehilangan jejak Sirius di gang-gang kota tersebut. Mereka mencari ke berbagai sudut dan atap sebuah bangunan. Namun, mereka tidak berhasil mencarinya. Dengan kondisi cahaya yang minim, akan sangat sulit untuk mencari seorang Assassin.
"Gaghhh!" Mereka kemudian mendengar teriakkan salah satu rekan mereka.
"Dimana Assassin keparat itu bersembunyi!?" Mereka semua kebingungan.
Mereka kemudian menemukan mayat salah satu dari mereka dengan sayatan di leher. Itu menunjukan, Ksatria Suci itu mati dengan cepat tanpa mengetahui atau melihat siapa yang membunuhnya.
Benar sekali, bagi Assassin yang berpengalaman seperti Sirius. Satu detik saja kau lengah maka akan membuat nyawamu melayang.
"Aghhhh!" Kembali, terdengar suara jeritan dari rekan mereka. Sudah dua orang Ksatria Suci yang mati dengan cara yang sama.
"Berkumpul!" perintah Sang Kapten.
Para Ksatria Suci termasuk Jerold pun berkumpul berkelompok membentuk sebuah formasi melingkar.
"Tetap perhatikan sekeliling kalian!" instruksi kembali Sang Kapten.
Sekarang, yang awalnya mereka memburu Sirius, kini keadaan berbalik menjadi mereka yang di buru Sirius. Dalam hati para Ksatria Suci itu, mulai timbul rasa takut. Mentalitas manusia memang akan terguncang jika hanya dalam sesaat, posisi mereka menjadi terbalik. Yang memburu kini menjadi yang diburu.
"Dimana kau pengecut!? Keluar tunjukan dirimu!' teriak salah satu Ksatria Suci.
Jerold kemudian mulai memfokuskan mananya untuk mengaktifkan sebuah sihir pelacak. Namun, sebelum dia dapat melakukannya, tiga buah benda berbentuk bulat sekepal tangan jatuh di tengah-tengah mereka.
"Lindungi pandangan kalian!" perintah Sang Kapten.
Namun, ledakan cahaya seperti sebelumnya tidak keluar, melainkan sebuah kepulan asap tebal yang memenuhi segala sudut gang yang kali ini keluar. Dengan cepat seluruh area gang ini dipenuhi oleh asap tebal.
"Aghhhh!" Mulai terdengar kembali suara kematian rekan mereka.
Jerold kemudian mulai berjalan, dia kemudian berpapasan dengan salah satu rekannya. Namun, Ksatria Suci itu tiba-tiba ambruk. Terdapat sebuah luka sayatan di lehernya.
Jerold masih tidak mengerti bagaimana Assassin itu dapat membunuh rekan-rekannya tanpa membuat suara sama sekali. Dia lalu memfokuskan mana ke pedangnya.
"Great Swing!" Jerold melakukan tebasan kuat guna untuk membuat asap-asap ini menghilang.
Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Yang digunakan Sirius adalah sebuah bom asap spesial yang tidak akan terpengaruh sama sekali dengan hembusan angin. Dia mendapatkan benda-benda ini dari Departemen Intelejen Republik Anconia.
"Kalian semua! Keluar dari kepulan asap ini secepat mungkin!" terdengar suara perintah Kapten mereka.
Jerold kemudian bergegas untuk keluar dari area ini. Setelah berlari beberapa saat, dua orang berhasil keluar dari area gang tersebut.
"Kapten! Dimana yang lainnya?" tanya Jerold.
"Aku tidak tahu, kita harus bergegas kembali ke markas! Aku takut, Grup yang lain juga telah di serang oleh Assassin-Assassin ini."
Namun, Sirius tidak akan semudah itu membiarkan mereka berdua kabur. Dia kemudian melesat mengarahkan pedang kepada Sang Kapten.
Kali ini, Jerold dapat merasakan keberadaan Sirius.
-Clang!
Jerold menangkis pedang Sirius yang hendak menebas leher Sang Kapten.
Melihat serangannya digagalkan, Sirius kemudian kembali menghilang ke gang-gang Kota.
"Tapi Jerold—"
"Hanya aku yang dapat menghadapinya sekarang!" Melihat bawahannya yang bersikeras, Sang Kapten akhirnya mengangguk.
Dia pun mulai berlari meninggalkan bawahannya itu. Sedangkan Jerold, dia mengikuti Sang Kapten dari belakang sambil mengawasi dan mencari keberadaan Sirius.
Tidak lama kemudian, Jerold melihat Sirius kembali melesat dari atas bangunan menuju Sang Kapten.
"Tidak akan kubiarkan kau!" Jerold bergegas berlari dengan cepat untuk melindungi Kaptennya dari Sirius.
Namun, Sirius tiba-tiba berbalik lalu melesat ke arah Jerold. Target sebenarnya yang akan dia bunuh bukanlah Sang Kapten melainkan Jerold sendiri.
Jerold yang terkejut tidak sempat untuk melakukan pertahanan maupun menghindar karena dia berlari dengan cepat tanpa pikir panjang.
Pedang Sirius sudah tinggal beberapa centi saja dengan leher Jerold.
-Tang!
Namun, tiba-tiba saja muncul sebuah perisai cahaya yang mencegah pedang Sirius untuk menebas leher Jerold. Cahaya itu terlihat mengelilingi sekujur tubuh Jerold.
Kontras dengan apa yang terjadi, Sirius nampak tidak terkejut karena telah menduga hal ini sebelumnya. Melainkan Jerold lah yang terkejut dengan apa yang telah terjadi.
Dia kemudian menjaga jarak dari Sirius, masih kebingungan dengan perisai unik yang telah melindunginya tersebut. Setelah beberapa saat, perisai itu kemudian menghilang.
Sirius kembali menghilang ke gang-gang kota. Namun, kali ini Jerold mencoba mengejarnya. Dia mengeluarkan sihirnya untuk mempercepat gerakannya.
"Lightning Step!"
Sirius yang menyadari dia sedang dikejar, malah tersenyum. Dengan menggunakan sihirnya, Jerold dapat mendahului Sirius lalu melakukan sebuah serangan.
"Dancing Sword : Lightning Stardust Stream!" Jerold melakukan kombo 11 serangan terhadap Sirius.
Tujuh serangan berhasil Sirius hindari, dua diantaranya dia tangkis. Namun, sisa dua tebasan berhasil menyayat bahu dan tangan Sirius.
Jerold yang melihat ini terkejut, hanya Masternya—Georgy lah yang selama ini dapat sepenuhnya menghindari serangan kombonya itu.
Sirius kemudian melancarkan serangan balik dengan menebaskan pedangnya kembali ke leher Jerold. Namun, ketika dia melihat tangan Jerold bergerak akan menangkis serangannya, Sirius mengganti pola serangannya dengan menendang tubuh Jerold yang membuatnya terpental menghantam tembok.
Ketika Jerold bangkit, Sirius sudah menghilang dari pandangan matanya. Walaupun Jerold mencari di sekelilingnya, dia masih belum menemukan keberadaan Sirius. Pandangannya terhalang oleh bangunan-bangunan kota.
"Dragon Thunder Hurricane!" Jerold menggunakan pedang sihirnya untuk meratakan semua bangunan yang ada sekelilingnya agar Sirius tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.
Namun, usahanya sia-sia. Walaupun tempat pertarungan sekarang menjadi lebih terbuka, dia masih belum bisa menemukan sosok Sirius.
"Mana Zone!" Jerold mengaktifkan sihir pelacak.
Sihir ini dapat mendeteksi aktivitas Sihir dengan radius 100 meter. Namun, walaupun sudah menggunakan sihirnya, Jerold masih belum merasakan keberadaan Sirius.
Jerold tidak mengetahui, bahwa yang digunakan Sirius untuk menghilangkan keberadaan dirinya bukanlah sebuah sihir, melainkan sebuah teknik Assassin yang dapat menghilangkan suara langkah kaki yang bernama Featherstep.
Sirius terus bergerak ke tempat dimana titik buta Jerold berada yang membuat seolah-olah dirinya menghilang.
Tiba-tiba, sebuah perisai cahaya muncul di tubuh Jerold. Pedang Sirius kembali hampir berhasil menebas leher Jerold tanpa terdeteksi olehnya.
Jerold kemudian kembali mulai menjaga jarak.
"Dengan ini, sudah dua kali perisai itu keluar," gumam Sirius.
Jerold sama sekali tidak mengetahui apa arti yang dikatakan oleh Sirius. Setelah perisainya menghilang, Jerold kembali mengaktifkan sihirnya.
__ADS_1
"Raging Lightning Dragon!" Tebasan Jerold mengeluarkan sebuah petir naga yang menyambar ke arah Sirius.
Namun, Sirius dapat dengan mudah menghindar dari serangan yang sangat jelas itu dengan melompat. Akan tetapi, di tempat Sirius akan mendarat, Jerold telah menunggunya di sana.
"Dragon Lightning Damnation!" Tebasan Jerold kembali membentuk sebuah naga petir yang menyambar ke arah Sirius. Dengan jarak sedekat ini, mustahil dia untuk bisa menghindar.
"Mirror Force!" Sirius mengaktifkan sihirnya.
-Bomb!
Keduanya terpental jauh. Sihir Sirius memungkinkan dirinya membuat sebuah cermin sihir yang membuat musuhnya merasakan juga dampak dari serangan yang dia lancarkan ke tubuh Sirius.
Sirius mencoba bangkit, tubuhnya terasa mati rasa semua setelah terkena serangan tadi walaupun dampak serangannya telah terserap sedikit oleh sihir Mirror Force.
Sirius kemudian menyusun strateginya kembali. Dia kini memusatkan mananya di tangan kiri lalu menyarungkan pedangnya kembali.
Di sisi lain, Jerold juga sudah bangkit. Tubuhnya masih bergetar akibat bentrokan tadi. Hanya Masternya—Georgy lah yang pernah membuatnya berakhir dalam kondisi ini.
Namun, dia tidak punya waktu untuk mengenang masa lalu. Dia melihat Sirius kembali bergerak di atas bangunan.
"Lightning Spirit!" Tubuh Jerold kali ini diselimuti oleh petir.
Rambut dan matanya berubah menjadi warna kuning. Dia kemudian melesat secepat halilintar ke arah Sirius.
"Dancing Sword : Final Flash!" Jerold melancarkan sebuah kombo 20 serangan.
Tanpa sebuah pedang di tangannya, Sirius kali ini hanya fokus untuk menghindar. Dia berhasil menghindari 15 serangan. Akan tetapi, empat serangan Jerold berhasil menyayat tangan dan kaki Sirius yang membuatnya terlihat melemah.
Jerold kemudian menebaskan serangan terakhirnya dan telah yakin akan kemenangan dirinya.
"Mati kau!"
Namun sayang, tebasan Jerold hanya menebas angin saja.
"Afterimage." Sirius menunggu menggunakan sihirnya di saat Jerold telah yakin akan kemenangan dirinya.
Menggunakan teknik bayangannya, Sirius berhasil mengecoh Jerold lalu muncul dibelakang tubuhnya.
Sirius kemudian menempelkan tangan kirinya yang telah dia kumpulkan mana di sana.
"Reject Impact!"
-Bomb!
Tubuh Jerold terkena sebuah ledakan mana. Dia kemudian terpental jauh menembus dinding-dinding bangunan.
Tangan kiri Sirius terkulai lemas setelah menggunakan sihir itu. Reject Impact memiliki efek samping yang besar. Setelah menggunakannya, tangan si penggunanya tidak akan bisa digerakkan selama beberapa hari.
Jerold mencoba kembali bangkit, petir yang melapisinya kini menghilang. Dia mencoba untuk mengeluarkan sihir namun tidak bisa.
Itu karena effect yang diakibatkan oleh serangan Reject Impact Sirius. Korban yang terkena serangannya tidak akan dapat menggunakan mana selama beberapa hari.
Sirius mengambil resiko ini karena dia yakin, jika Jerold bertarung dengannya tanpa menggunakan sihir, Sirius dapat mengalahkannya dengan mudah walaupun hanya menggunakan satu tangan.
Dia kini melesat kembali ke arah Jerold yang masih mencoba untuk berdiri. Sirius melakukan serangan bertubi-tubi ke arah Jerold.
Jerold hanya bisa menghindar menunggu celah untuk melakukan serangan balik. Sirius kemudian melakukan serangan Horizontal yang melebar ke arah Jerold. Namun, Jerold telah menunggu untuk Sirius melakukan serangan ini.
"Blitzkrieg!" Jerold melakukan serangan balik cepat ke arah Sirius.
Namun, Sirius sudah mengantisipasi hal ini, dia tiba-tiba membatalkan serangannya lalu melakukan serangan tackle ke tubuh Jerold.
Sirius menaiki tubuh Jerold kemudian hendak menusukkan pedangnya ke arah jantung musuhnya itu.
-Bam!
Akan tetapi, sebuah perisai kembali muncul di tubuh Jerold. Tidak hanya itu, sebuah ledakan mana membuat tubuh Sirius terpental jauh.
"Aku telah berjanji akan kembali untuk menyatakan perasaanku padanya. Mana mungkin aku mati di sini!" Sirius samar-samar mendengar Jerold berbicara.
Dia kemudian melihat tubuh Jerold kembali di lapisi oleh petir.
"Ahahaha, Dewi Athena memang menyukai para Fortune Child, kah? Ternyata rumor mengenai mereka sangat sulit di bunuh itu memang benar. Selalu muncul keajaiban aneh di saat mereka sedang terdesak."
Wajar saja Sirius mengatakan hal itu. Jerold tanpa Cheat statusnya sebagai Fortune Child, pasti telah mati oleh Sirius sebanyak tiga kali. Namun kali ini, tidak hanya Jerold yang mendapatkan mananya kembali, luka-luka yang dia dapatkan selama pertarungan juga ikut pulih.
"Aku akan mengakhiri ini, Assassin. Lightning Spirit!" Mana Jerold mulai meningkat drastis daripada sebelumnya. Di wajahnya muncul sebuah Mark yang biasa dimiliki oleh Para Fortune Child.
"Silahkan mencobanya, oh kau yang diberkahi Sang Dewi. Night Phantom Murderer!" Sirius juga menggunakan sihir rahasianya.
Aura kegelapan mulai menyelimuti tubuh Sirius.
Mereka berdua kemudian kembali bentrok. Saling jual beli serangan. Sirius dalam posisi yang tidak diuntungkan di sini. Dengan tubuh penuh luka dan hanya mengandalkan satu tangan saja, Jerold berhasil memukul mundur Sirius.
"Uhukk... Uhukkk... " Mulut Sirius mulai batuk darah. Tubuhnya sangat berat dan sulit untuk digerakkan. Aura kegelapannya pun memudar lalu menghilang tanpa sisa.
"Berakhir sudah! Maximize magic : Dragon Lightning Damnation!" Sebuah naga petir raksasa melesat ke arah Sirius.
-Bomb!
Serangannya menimbulkan sebuah ledakan besar dengan diameter 50 meter.
Jerold kemudian berlutut dengan satu kaki, menahan tubuhnya dengan pedangnya sendiri.
"Hah... Hah... Hah... Dengan ini... Sudah cukup, kan?" Petir yang menyelimuti Jerold menghilang.
"Aku mena—!?" Sebelum dia mendeklarasikan kemenangannya, sebuah pedang terlihat menembus keluar dari dalam dadanya.
"Shadow Link... " Di belakang Jerold, Sirius tiba-tiba muncul.
"Ba-bagaimana bisa?" Tubuh Jerold terjatuh ke tanah. Darah mulai mengucur deras di sekujur tubuhnya. Sirius menusuk Jerold tepat di bagian jantungnya.
Pandangan Jerold mulai kabur, nafasnya mulai tidak beraturan. Kematian tidak akan lama lagi menjemputnya. Dia lalu memegang kalung yang ada di lehernya.
'Serena... Maafkan aku. Kurasa aku tidak dapat memenuhi janjiku... '
Tidak lama kemudian, Jerold menghembuskan nafas terakhirnya. Kekaisaran kehilangan seorang talenta muda paling menjanjikan dalam sepanjang sejarah Benua Alterna.
Jika Jerold tidak bertemu Sirius, sudah dipastikan dia akan menjadi seorang pahlawan yang akan memegang pedang legendaris Balmung.
Beberapa saat setelah Sirius membunuh Jerold, Visena kemudian muncul di hadapan Sirius.
"Seperti yang diharapkan dari Sirius. Kau berhasil membunuh seorang Fortune Child yang terkenal sangat sulit di bunuh." Visena mencoba menggodanya.
Namun Sirius hanya diam saja tidak menanggapi Visena. Dia hanya memperhatikan sebuah kalung yang ada di tangannya.
"Ada apa Sirius?"
"Tidak apa-apa Nightingale. Ayo kita kembali ke markas."
"Hey, sudah kubilang, panggil dengan nama asliku jika kita hanya berdua saja!"
***
Di sisi lain, Serena yang baru saja selesai berlatih tengah membersihkan diri menunggu kedatangan Jerold kembali dari misi pertama yang dia jalani.
"Bagaimana ya wajahnya nanti ketika aku menerima perasaan cintanya? Fufufu... Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya kembali." Serena mengatakan hal itu sambil memegangi kalung yang dia kenakan.
__ADS_1