The Elves Secret

The Elves Secret
10. Khawatir


__ADS_3

Saat berjalan keluar dari restoran Elle berpapasan dengan Alvaro dan teman-temannya yang akan masuk ke dalam restoran.


“Oh, hai Elle akhirnya kita bertemu lagi setelah pertemuan terakhir kita di ruang kesehatan. Mungkinkah ini yang dinamakan jodoh,,,” goda Sam tanpa melihat situasi.


“Astaga, apa di otaknya hanya tahu menggoda cewek saja” gumam Felix malu.


Ruang kesehatan, apa Elle pernah terluka tanya Allan dalam hati.


“Mmm hai.” Sapa balik Elle. Ia takut Allan mengetahui tentang dirinya yang pernah terluka maka keluarganya pun akan tahu, pasti mereka akan khawatir dan akan lebih posesif lagi padanya.


Sedangkan Alvaro menatap tak suka pada pria yang berdiri di samping Elle, dia tahu pria yang bersama Elle adalah tuan muda dari keluarga Caldwell karena mereka pernah bertemu dalam sebuah pesta.


“Sebaiknya kita pergi.” Ucap Allan tiba-tiba.


“Iya, kami pergi dulu.” Pamit Elle pada mereka lalu pergi bersama Allan.


“Apa pria itu kekasih Elle. Haah belum juga berjuang sudah patah hati” ucap Sam lesu.


“Sabar teman tapi aku senang melihatmu patah hati” ucap Felix mengejek Sam lalu tertawa.


“Teman sialan, tapi tunggu dulu kenapa aku seperti pernah melihat pria itu ya.” Ucap Sam.


“Masuk.” Perintah Alvaro dengan aura dinginnya. Mereka pun kembali masuk ke dalam restoran dengan aura dingin yang dibawa oleh kedua sang Prince Ice siapa lagi kalau bukan Alvaro dan William, entah apa yang ada di pikiran mereka berdua.


Di dalam Mannor Caldwell, saat ini Elle sedang di sidang oleh keluarganya karena tidak memberitahukan tentang kejadian di kantin sekolah.


“Vivi katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi hingga kamu pernah masuk ruang kesehatan?” tanya Ibram.


“Sebenarnya waktu itu aku hanya ingin menolong temanku yang hampir terkena lemparan gelas dan,,,”


“Sayang kamu terluka!” potong Monica.


“No mom i’am oke, wait biar aku melanjutkan ceritaku dulu. Temanku hampir terkena lemparan gelas dan aku langsung menghadangnya dengan menangkap gelas itu jadi aku tidak terluka. Mereka membawaku ke ruang kesehatan hanya untuk memeriksa apakah aku terluka dan juga mengganti seragamku yang basah.” Jelas Elle dengan sedikit kebohongan, ia juga memperlihatkan tangannya yang mulus tidak ada sedikit pun bekas luka di sana.

__ADS_1


“Yes dad.” Jawab Elle cepat.


“Baiklah, jika itu terjadi lagi cepat beritahu kami sayang. Kami sangat khawatir terjadi sesuatu padamu” ucap Hannah.


“Iya nenek, Vivi janji.” Ucap Elle.


“Baiklah. Pergilah ke kamar dan istirahatlah sayang kamu pasti capek pulang sekolah” perintah Monica.


“Oke mom, good night all.” Pamit Elle setelah mencium pipi semua anggota keluarganya lalu berjalan masuk ke lift.


Setelah Elle pergi suasana kembali hening. “Kamu yakin Vivi terluka Jack, tapi tidak ada luka bahkan sedikit pun goresan yang terdapat pada tangan Vivi.” Ucap Ibram.


“Aku juga tidak tahu karena itulah informasi yang diberikan oleh orangku yang bertugas menjaga Vivi secara diam-diam.” Ucap Jack terlihat bingung.


“Mungkin orangnya daddy bodoh hingga bisa salah informasi” timpal Allan.


Sedangkan Jack masih diam memikirkan itu, tidak mungkin bawahannya salah informasi sedangkan ia telah menyeleksi orangnya yang paling hebat untuk menjaga Elle.


Apakah aku harus memberitahu siapa diriku pada keluargaku tapi bagaimana jika mereka takut dan tidak menerimaku lagi, apalagi waktunya hampir tiba aku tidak akan bisa lagi bersembunyi di hadapan mereka batin Elle khawatir juga takut.


Sedangkan di negara M, di sebuah kamar mewah yang bernuansa hitam terdapat seorang pria tampan yang saat ini sedang menikmati wine di tangannya sembari menatap langit malam yang begitu gelap. Pria dengan postur tubuh tinggi dan tegap, walau berbalut kemeja ototnya tercetak dengan jelas menandakan jika pria tersebut memiliki kualitas hidup yang baik dan sering berolahraga. Sorot mata yang tegas dan tajam, alis hitam yang tebal, hidung mancung dan bibir tipis. Satu kata untuk pria tersebut yaitu sempurna.


“Master.” Ucap seorang pria yang baru saja memasuki kamar itu.


“Jadwal untuk keberangkatan ke negara A sudah dipersiapkan untuk besok.” Jelas pria itu lagi pada atasannya. Sedangkan pria tampan itu hanya diam mendengar semua informasi yang sekretarisnya sampaikan sambil sesekali menyesap wine di tangannya.


Pagi harinya, Elle dan sekeluarga sedang sarapan bersama. Tapi yang tidak hadir hanya David dan Jack yang sudah lebih dahulu berangkat kerja pagi-pagi.


“Mom, daddy dan paman dimana?” tanya Elle.


“Daddy dan pamanmu sudah berangkat tadi pagi, karena ada urusan mendesak.” Jawab Monica.


“Urusan mendesak?” bingung Elle.

__ADS_1


“Mereka hanya sedang bersiap akan kedatangan tamu terhormat ke negara ini.” Jelas Allan.


“Berarti berita itu benar, Master X akan datang ke negara ini?” tanya Hannah.


“Benar grandma” jawab Allan.


“Master X?” gumam Elle pelan.


“Yang menjadi pikiranku adalah pastinya tidak lama lagi akan ada pesta mewah bagi seluruh perusahaan besar untuk menyambut kedatangan Master X. Dan pastinya ada masalah besar yang akan terjadi, karena kita tahu sebagian besar saham di setiap perusahaan di negara ini dimiliki oleh Master X. Dia tidak mungkin datang ke negara ini jika tidak ada masalah yang serius, aku hanya berharap ini tidak berdampak buruk bagi perusahaan kita.” Jelas Ibram yang sedari tadi diam.


Mendengar ucapan Ibram mereka semua mengangguk setuju, mereka pun kembali sibuk menghabiskan makanan yang berada di depan.


“Aku selesai” ucap Elle setelah menghabiskan makanannya.


“Aku antar sekalian berangkat bersama.” Ucap Allan. Mereka pun keluar bersama setelah mencium pipi Ibram, Hannah dan Monica.


Sesampainya di sekolah seperti biasa Elle disambut dengan pekikan Stella, benar-benar suara temannya yang satu itu membuat telinganya berdengung.


“Berhentilah berteriak Stella” protes Emma yang sudah kesal sejak tadi melihat tingkah berisik Stella.


“Sudah, ayo kita masuk kelas” ajak Elle agar mereka tidak berdebat di tengah koridor.


Seorang pria tampan, saat ini masih sibuk dengan laptop di atas pahanya di dalam mobil sejak keluar dari bandara. Mobil pun sudah berhenti beberapa menit yang lalu dan dia sepertinya belum menyadari itu. Sedangkan sekretarisnya saat ini sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahu tuannya.


“Master, we have arrived.”


Pria tampan itu langsung menghentikan kegiatannya, mata hitam pekat miliknya langsung menatap luar jendela. Dengan cepat pria itu menutup laptopnya dan langsung memperbaiki jasnya sembari memasang kacamata hitam miliknya.


Sekretarisnya tersebut langsung keluar dari mobil dan dengan cepat membuka pintu mobil untuk tuannya. Pria itu pun berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan miliknya dengan aura dominan khas seorang pemimpin.


Di dalam lobby, semua karyawan sudah berbaris rapi dan langsung menundukkan kepala saat melihat pria itu. Pria yang biasa dipanggil Master X atau Master Xander oleh semua orang hanya diam dan menatap datar sekelilingnya lalu melanjutkan langkahnya menuju lift.


Setelah Master X pergi semua karyawan langsung bernafas lega, mereka gemetar melihat tatapan tajam sang pemilik perusahaan XCompany apalagi saat melihat puluhan bodyguard di belakangnya di tambah melihat wajah CEO mereka sedekat ini. Biasanya mereka hanya bisa melihat rupa Master X lewat sosial media itupun jarang sekali dia menampilkan wajahnya di awak media.

__ADS_1


__ADS_2