
Elle, Lily dan Emma kini sudah berada di parkiran depan gedung MalLex. Mall yang bahkan bukan sembarang orang dapat masuk, hanya orang-orang yang berdompet tebal yang dapat memasukinya.
Apalagi semua brand dan barang yang dijual disana berkualitas tinggi juga berada di bawah naungan XCompany dan BGroup, dua perusahaan raksasa yang sudah terkenal dan tersebar di berbagai negara.
Mereka bertiga langsung berkeliling dan melihat-lihat isi mall tersebut dan tentu saja mereka menjadi pusat perhatian sejak masuk ke dalam mall, apalagi dengan paras mereka yang cantik serta pakaian dan barang yang mereka pakai semuanya dari brand terkenal.
Mall ini tergolong mall besar di negara A dengan bangunan lima lantai yang megah dan mewah berdiri kokoh di tengah kota, di setiap lantai tersebar penjaga untuk keamanan mall.
Mereka bertiga memasuki toko dengan brand ternama, tanpa memikirkan harga Lily dan Emma mengambil beberapa dress untuk dicoba dahulu.
Tak lupa mereka berdua juga memaksa Elle mencoba beberapa dress yang mereka pilih untuk Elle, karena melihat Elle yang sedari tadi terlihat bingung ingin membeli apa.
Mungkin karena ini pertama kalinya Elle datang ke mall hingga membuat dia bingung pikir Lily dan Emma.
Saat Elle keluar dari ruang ganti, Lily dan Emma bahkan pegawai toko tersebut langsung terpukau dengan pesona Elle yang semakin cantik saat memakai gaun.
Setelah mereka puas mencoba dan menemukan yang cocok segera pakaian itu dibawa ke kasir.
Mereka bertiga keluar dari toko itu dan berlanjut di toko make up, sepatu dan perhiasan lalu ke Gramedia sesuai keinginan Elle yang ingin membeli buku.
Emma dan Lily saat ini sedang asik berlomba memasuki bola basket kecil ke dalam ring sedangkan Elle duduk santai terlihat sibuk membaca buku yang tadi dia beli.
Ya mereka saat ini berada di Timezone untuk bersenang-senang juga istirahat.
Mereka bertiga menjadi perhatian para lelaki remaja yang sedang bermain dan menongkrong disana, bahkan ada juga beberapa remaja yang berani mendatangi mereka bertiga untuk berkenalan tetapi langsung diusir oleh Lily dan Emma.
Sebelumnya Elle juga sempat ikut bermain tapi dia selalu menang bahkan dengan jenis permainan lain pun, Elle tetap saja menang membuat Emma dan Lily langsung kesal dan tidak percaya dengan yang dikatakan Elle sebelumnya saat mereka mengajaknya bermain, bahwa Elle baru pertama kali ini memainkan semua permainan itu.
Bunyi suara ponsel terdengar, Elle segera mengambil ponsel di dalam tasnya dan melihat disana terdapat nomor tanpa nama, dengan penasaran Elle lalu menggeser tombol hijau tanda menerima panggilan.
“Siapa.” Tanya Elle to the point.
“Hallo amour.” Sapa suara berat dari seberang sana.
Elle yang mendengar suara seseorang itu di seberang telepon mengernyitkan dahinya, suara yang terasa familiar di ingatannya.
“Theo,,!?” ucap Elle kesal setelah mengenali suara orang itu. Karena ternyata orang yang meneleponnya adalah Theodore Alexander Black, si pria tampan gila.
__ADS_1
“Akhirnya kamu memanggil namaku juga amour, dan itu terdengar indah terucap dari bibirmu.” Ucap Theo dengan suara senang.
“Jika tidak ada yang penting aku tutup.” Ucap Elle.
“Tunggu amour jangan ditutup dulu aku masih ingin mendengar suara indah mu itu, aku juga sangat merindukanmu sekarang.” Ucap Theo dengan suara cemberut seperti anak kecil takut ditinggal oleh ibunya.
Bahkan Hansel yang berdiri di samping Theo menganga terkejut bahkan merasa merinding mendengar suara merajuk tuannya yang pertama kali ini dia saksikan. Apa ini benar-benar Master ataukah Master saat ini sedang kerasukan pikirnya.
"Kau, bagaimana bisa mendapatkan nomor ponselku!?" tanya Elle geram.
"Apapun bisa aku lakukan amour, apalagi jika itu untukmu" ucap Theo dengan suara tenangnya.
Elle menghela nafas karena untuk bisa meladeni pria gila ini, ia harus memilki stok kesabaran tanpa batas. "What do you want?"
“I just want you, amour. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan memelukmu lagi. Bagaimana kalau aku menyusulmu sekarang? Itu ide yang cukup bagus, benarkan amour?” Ujar Theo sambil menyandar di kursi kebesarannya.
“Kau tahu aku berada dimana?” tanya Elle balik dengan dahi mengernyit merasa curiga dengan ucapan Theo.
“Of course, apapun tentang dirimu semuanya aku tahu amour.” Jawab Theo tersenyum miring.
“Amour apa yang,,,”
Belum sempat Theo menyelesaikan ucapannya Elle langsung memutuskan panggilan secara sepihak dan menaruh ponselnya di atas meja.
“Ekhem, siapa yang menelepon mu hmm?” tanya Lily jahil karena tadi dia melihat Elle yang baru saja berbicara dengan seseorang lewat telepon dari jauh.
“Salah sambung.” Jawab Elle singkat. Kenapa aku berbohong ya tanyanya bingung dalam hati .
“Ohh.” Ucap Lily mengangguk karena dia juga mengerti itu mungkin privasi.
“Kita ke restoran yuk aku lapar nih dari tadi perutku udah mulai berdemo." Ucap Emma.
Lily dan Elle langsung terkekeh kecil melihat wajah lelah Emma karena sejak bermain tadi dia selalu dikerjai oleh Lily.
"Baiklah, setelah itu kita langsung pulang karena aku juga dilarang pulang terlambat malam ini.” Ucap Lily.
“Ayo kita ke restoran!” ucap Lily dan Emma bersamaan dan Elle pun hanya mengikuti saja.
__ADS_1
Saat ini, mereka bertiga berada di sebuah restoran yang cukup mewah dan langsung memesan ruang VIP karena tidak ingin menjadi pusat perhatian pelanggan lain.
Saat memasuki lobby restoran tadi mereka sudah diperhatikan oleh para pelanggan yang berada disana yang tentu saja dari kalangan kelas atas, karena paras mereka bertiga dan hanya menggunakan pakaian santai saja padahal ini restoran mewah.
Namun dengan adanya seorang Lily dan juga Emma sebagai anak konglomerat dari keluarga Hester dan Anderson yang cukup terkenal di negara ini membuat mereka dilayani dengan sangat baik.
Di ruang VIP, mereka memakan makanan dengan nikmat tak lupa diselingi dengan candaan apalagi Lily yang selalu heboh saat makanan pesanan mereka datang.
“Oh kalian lihat, makanan ini sangat cantik jadi sayang untuk memakannya,,,” ucap Lily sambil terus memotret makanan itu.
Begitulah seorang Lily, jika melihat bentuk makanan lucu atau cantik dia akan sangat antusias mendokumentasikan nya dalam sebuah foto, walaupun setiap harinya ia sudah merasakan masakan chef pribadi keluarganya yang juga seorang chef profesional.
“Ly, jika kamu hanya terus melihat makanan itu maka kapan makanan itu akan habis” tegur Emma yang sedari tadi sudah bosan melihat tingkah Lily yang sudah melebihi tingkah Stella.
“Bagaimana kalau kita foto bersama dengan makanan ini?” usul Lily menghiraukan teguran Emma.
“Astaga Lily, kita sudah puluhan kali berfoto di mall tadi” ucap Emma dengan senyuman kaku.
“Sudah ayo berfoto, setelah itu habiskan makanan kalian.” Ucap Elle menengahi.
Setelah berfoto bersama mereka kembali fokus menghabiskan makanan masing-masing. Setelah makanan yang mereka pesan hampir habis, Emma dan Lily kembali berdebat tentang siapa yang akan membayar dan tentu saja dimenangkan oleh Elle karena bosan melihat perdebatan keduanya.
Elle langsung mengeluarkan sebuah kartu hitam bergambar mahkota emas dan diberikan pada pelayan yang sudah berdiri di samping mereka.
Saat melihat kartu itu, pelayan itu pun langsung terkejut dan dengan tangan gemetar dia mengambil kartu itu di tangan Elle.
kartu itu bukanlah sembarang kartu yang tidak bisa di miliki oleh orang biasa, kartu hitam itu adalah blackcard limited edition yang hanya ada lima buah di dunia dan hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya.
Bukan hanya pelayan itu bahkan Emma dan Lily pun ikut terkejut, setelah pelayan itu pergi dengan mata berbinar Lily langsung menyerbu Elle dengan berbagai macam pertanyaan.
“OMG! Elle itu kan blackcard limited edition yang bahkan keluarga ku saja tidak memilikinya dan bagaimana bisa kamu memilikinya!?” tanya Lily heboh.
“Yang pasti keluarganya lah yang memberikan Elle” ucap Emma penuh arti.
“Kenapa rasa-rasanya ada yang kalian sembunyikan dariku” ucap Lily curiga menatap Elle dan Emma dengan pandangan menyelidik.
“Mana ada,” bohong Emma sambil memandang ke arah Elle. Sedangkan Elle yang di pandang hanya mengangguk pelan membuat Emma langsung menghela nafas dan ikut mengangguk. Mungkin ini saatnya pikir Emma.
__ADS_1