The Elves Secret

The Elves Secret
28. Perdebatan Kakak Adik


__ADS_3

Saat memasuki pintu kantin langkah keempat gadis itu harus berhenti saat bersamaan dengan keempat orang cowok yang juga akan memasuki kantin yang tak lain Alvaro, William, Felix dan Sam.


“Kenapa adikku yang satu ini mukanya mendung sekali hmm?” tanya Sam melihat wajah Emma yang terlihat mendung dan Emma sendiri semakin kesal mendengar ucapan Sam.


"Kakak, jangan ikut campur deh" dumel Emma


"Oh adikku yang cengeng kalau di luar rumah tetap kalem, kakak hanya nanya saja kok. Apa salahnya coba" ucap Sam tanpa rasa bersalah mengumbar aib adik sendiri.


“Hahaha, jadi kalau di rumah Emma itu cengeng?” tanya Felix tanpa bisa menahan tawanya.


“Diam!” geram Emma.


“Oh temanku, jangan nangis dong nanti cengengnya keluar” lanjut Lily semakin menggoda Emma.


“Diam kalian. Ini semua gara-gara kakak awas saja aku akan balas,” lirih Emma menatap tajam Sam dengan sebuah senyuman manis. Sedangkan Sam sudah ketar ketir mendapat tatapan itu yang ia yakini tersirat sebuah ancaman di dalamnya. ”Aku masih mending cengeng daripada kakak...”


“Adik kakak yang manis tadi kakak hanya bercanda hmmm, kakak janji apapun yang kamu inginkan nanti akan kakak belikan okey” bujuk Sam dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.


Emma tersenyum miring menatap jahil ke arah kakaknya, “bukankah kakak harus minum susu dulu sebelum tidur dan wajib memeluk selimut waktu kakak bayi agar bisa tertidur lelap jika tidak kakak akan menangis, benarkan?” Lanjut Emma dengan wajah polos yang dibuat-buat.


Lalu Emma pun melengos masuk ke dalam kantin meninggalkan Felix yang sudah tertawa bahak bahkan murid-murid lain yang masih di sana juga ikut tertawa saat mendengar ucapan Emma.


Samuel menghembuskan nafas pelan sambil mengelus dadanya sabar. “Sabar, ingat itu adik kamu Sam. Adik laknat.” Ucap Sam lirih di akhir kalimat.


“Hahaha makanya jangan pancing betina yang lagi bad mood kena karma kan, sabar kawan ini ujian.” Ucap Felix setelahnya lalu kembali tertawa.


“Tertawa aja terus!” ucap Samuel, lalu masuk ke kantin meninggalkan Felix yang masih tertawa. Jika saja ada buku atau apapun di tangannya pasti Samuel akan langsung menyumpal mulut Felix dengan itu.


“Woi! Babby besar tungguin!” teriak Felix mengejar langkah Samuel.


Tiba di dalam kantin, mereka semua langsung duduk dalam satu meja setelah mengambil makanan masing-masing, membuat mereka seperti biasa menjadi pusat perhatian murid-murid lainnya.


Karena mereka sudah menjadi most wanted di Harvest Highschool selain itu mereka juga sangat terkenal di sekolah lain termasuk di Brans Highschool setelah terjadinya pertandingan persahabatan itu membuat mereka memiliki semakin banyak penggemar.


“Mau kemana Will?” tanya Felix saat melihat William berdiri.

__ADS_1


“Beli minuman.” Jawab William singkat.


“Bro, nitip ya satu minuman soda!” teriak Sam karena William sudah menjauh. Ia butuh minuman segar untuk menjernihkan kepalanya yang pusing gara-gara aibnya tersebar oleh sang adik sendiri. Padahal itu juga salahnya sendiri memancing kemarahan adiknya.


“Berisik bodoh.” Kesal Lily memukul kepala Sam dengan sendok, karena Sam berteriak di sampingnya hingga hampir membuatnya tersedak karena kaget.


Beberapa saat kemudian William datang dengan minuman di tangannya. “ Minuman kesukaanmu” ucapnya sambil menaruh sebotol susu madu di depan Elle.


Elle langsung menoleh menatap William. “Thanks” jawab Elle sambil tersenyum tipis.


“Ekhem, aku mencium bau-bau terbakar iyakan Fel,” bisik Sam pada Felix.


“Diamlah Sam.” Desis Felix saat melihat tatapan tajam Alvaro pada mereka berdua.


Hei, siapa yang berani mengusik singa yang sedang marah. Si bodoh ini juga nggak peka lagi batin Felix kesal pada Sam.


Mereka pun melanjutkan makan sambil sesekali Alvaro dan William memperhatikan Elle bahkan mereka berebut memberikan Elle minum saat Elle tersedak tapi Elle dengan santainya mengambil minumannya sendiri. Ya terus apa gunanya Elle membeli minuman jika meminum minuman orang lain.


Alvaro yang melihat Elle sedikit terganggu saat makan karena rambutnya yang tergerai berinisiatif mengikat rambut Elle.


Elle yang merasa jika ada yang tiba-tiba memegang lalu mengikat rambutnya terkejut dan ingin menoleh tapi kepalanya ditahan oleh Alvaro, hingga tak lama Alvaro selesai dengan kegiatannya itu.


“Sekarang kamu bisa makan dengan tenang.” Ucap Alvaro dengan tampang datarnya menghiraukan ekspresi terkejut dari teman-temannya dan juga tatapan tajam dari William.


“Mmm thanks.” Ucap Elle setelah mengontrol ekspresinya yang tadi sempat terkejut juga.


“Haaah romantis sekali” lirih Stella sambil menyangga dagunya dengan tangan, melihat perhatian Alvaro pada Elle. Aku juga ingin batinnya sambil menatap seorang pria yang duduk di depannya.


“Makanya cari pacar, jangan betah ngejomblo mulu” timpal Lily melihat Stella.


"Ekhem, sepertinya ada seseorang yang butuh kaca" sindir Samuel.


"Yang masih bayi disuruh diam, minum susu aja sana" ucap Lily menatap Sam kesal.


"Ck menyebalkan" gerutu Sam, jika aibnya diumbar dia akan langsung kalah telak.

__ADS_1


“Gimana mau punya pacar my crush aja nggak pernah ngelirik apalagi memperhatikan” ucap Stella sedih.


“Kasihan.” Ucap Sam, Felix dan Lily bersamaan.


"Tapi pengen ketawa" lanjut Sam.


"Si bayi besar mentang-mentang punya banyak pacar" ucap Stella.


"Padahal udah besar aja masih minum susu" sindir Lily lalu tertawa diikuti Stella. Sedangkan Sam hanya cemberut.


"Makanya, kan aku udah bilang jangan menggoda cewek yang lagi bad mood kena karma lagi kan" ucap Felix.


“Jadi bagaimana tentang perjanjian waktu itu, aku yang dulu atau Elle lebih dulu?” tanya Alvaro pada Elle, dia sejak tadi hanya diam menghiraukan perdebatan aneh teman-temannya yang sudah biasa.


“Maaf Al, hari ini aku belum bisa soalnya aku ada urusan lain” ucap Elle tidak enak.


“Tidak apa-apa” jawab Alvaro tersenyum tipis hingga orang lain pun tidak akan menyadari kalau ia sedang tersenyum.


“Ekhem, ada perjanjian apa nih?” tanya Lily penasaran saat mendengar pembicaraan Alvaro dan Elle sambil sedikit menggoda Alvaro yang telah perlahan berani mendekati Elle.


“Orang luar dilarang tahu.” Ucap Alvaro dengan ekspresi datar.


“Yaak! Apa maksudmu orang luar!? Aku itu sahabatnya Elle tahu, bukan sepertimu yang tidak tahu malu ingin mendekati tapi gengsinya selangit. Diambil orang baru tahu rasa” kesal Lily menyindir Alvaro.


Sedangkan Alvaro langsung menatap tajam Lily dengan aura yang cukup menyeramkan, dia kan jadi malu mendengar ucapan Lily yang kelewat santai padahal Elle saat ini ada di depannya. Ini juga lagi usaha Ly batin Alvaro.


“Cukup. Lanjutkan makan makanan kalian.” Suara Elle terdengar dingin membuat mereka langsung fokus makan. Ingat kan, Elle sangat tidak suka jika ada yang mengganggu dirinya saat makan.


Di sisi lain mobil yang di tumpangi Theo sedang melaju membelah jalanan kota bersama asistennya Hansel yang sedang menyetir menuju restoran tempat adanya pertemuan penting para kolega bisnisnya hari ini.


Mobil mewah Rolls-Royce phantom tersebut melewati jalanan yang cukup sepi, hingga tiba-tiba di pertengahan jalan mobil yang ia tumpangi di hadang oleh sejumlah pria yang berbadan besar yang ia yakini adalah orang suruhan musuh bisnisnya yang tidak ingin dia menghadiri pertemuan hari ini. Seperti biasa lagi-lagi musuh bisnis.


“Master, biar saya yang menghadapi mereka saya akan menyelesaikannya dengan cepat,” ucap Hansel yang sudah bersiap dengan senjatanya, dia ingin langsung membunuh dengan menembak mereka semua agar cepat selesai karena tidak ingin tuannya menunggu.


“Tidak perlu. Kita bersenang-senang dulu sebentar, karena itu yang mereka inginkan maka kita ladeni saja.” Ucap Theo tenang dengan wajah datarnya lalu menyeringai, nada suaranya yang tenang menyimpan amarah dalam ucapannya membuat Hansel yang mendengar itu sedikit merinding. Sepertinya akan ada pembantaian hari ini pikir Hansel.

__ADS_1


__ADS_2