The Elves Secret

The Elves Secret
15. Teman Kecil


__ADS_3

Saat ini mereka berdua sedang duduk di kursi panjang yang tersedia di taman belakang sekolah. Elle masih diam menunggu William untuk berbicara, dalam suasana hening itu William tiba-tiba mengucapkan nama yang membuat Elle cukup terkejut.


“Vivi” ucap William, membuat Elle langsung menoleh terkejut.


“Bagaimana kamu tahu nama itu?” tanya Elle.


Bukannya menjawab William malah tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya, sedangkan Elle yang melihat William tersenyum malahan semakin bingung.


“Vivi, apa kamu tidak mengenal Liam mu?” tanya William sambil menatap netra hijau cerah Elle yang begitu indah.


Terlihat Elle semakin terkejut dengan mata yang sedikit membesar mendengar ucapan William.


“Liam, kamu benar-benar Liam!?” tanya Elle tak percaya bisa bertemu kembali dengan anak lelaki yang dulu mengajarinya menerbangkan drone, yang kini sudah besar dan tak lain anak kecil itu adalah William.


Elle langsung memeluk William karena tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan teman kecilnya sedangkan William yang mendapat pelukan itu sesaat terdiam dan langsung membalas pelukan Elle dengan lebih erat, hingga ia bisa mencium aroma lembut dari tubuh Elle.


William sangat bahagia mendengar nama kecilnya di ucapkan oleh Elle, gadis yang ia sukai sejak kecil hingga ia cari-cari sampai sekarang akhirnya bertemu dan rasa suka itupun berubah menjadi cinta apalagi saat pertama kali melihat Elle yang semakin cantik saat beranjak remaja.


“Vivi, aku sangat senang akhirnya bisa bertemu lagi denganmu. Saat kamu meninggalkan negara E aku datang ke rumahmu untuk mencarimu tapi sudah terlambat kamu sudah pergi.” Ucap William sedih saat mengingat dirinya yang terus mencari keberadaan Elle.


“Maafkan aku Liam” Elle melerai pelukannya, “aku tidak sempat berpamitan padamu waktu itu.” lanjut Elle menyesal.


“It’s okey tapi sekarang kita sudah bertemu lagi dan itu membuatku sangat senang.” Jawab William. “Oh iya, apa teman-teman Vivi tahu kalau Vivi dari keluarga Caldwell?” bisik William hingga hanya Elle saja yang bisa mendengar.


“Tidak, karena itulah tolong Liam rahasiakan ya” pinta Elle menatap William.


“Baiklah, Liam janji.” Jawab William.


“Tapi kenapa baru sekarang kamu jujur tentang dirimu padaku Liam?” tanya Elle mengalihkan pembicaraan.


“Kita tidak pernah ada waktu berbicara berdua, yaah seperti sekarang ini.” Jelas William.


“Benar juga... Astaga jam pelajaran hampir di mulai kita harus segera kembali ke kelas” ucap Elle saat tak sengaja melirik waktu di jam tangannya.


Elle pun berlari tanpa sadar sambil menggenggam tangan William di belakang, sedangkan William hanya tersenyum melihat genggaman tangan mereka dan mengikuti perintah gadis yang ia cintai agar masuk ke kelas, yang biasanya ia hanya akan membolos bersama teman-temannya.


Namun keduanya tidak sadar bahwa obrolan mereka sedari tadi di dengar oleh seorang pria yang berdiri di samping tembok. Atau mungkin tidak semuanya di dengar.

__ADS_1


Ternyata Elle adalah gadis yang selama ini William cari. Tidak, Elle adalah milikku batinnya mengklaim Elle dengan obsesi.


Di lain tempat, seorang pria tampan sedang membaca beberapa berkas dokumen di dalam ruang kerjanya dia adalah Theo bersama sekretaris sekaligus asistennya Hansel yang duduk di depannya.


Theodore Alexander Black tuan muda yang berasal dari keluarga konglomerat pebisnis terkenal di dunia, keluarga besar Black. Tetapi dengan kerja kerasnya sendiri ia mendirikan sebuah perusahaan dalam berbagai bidang hingga berhasil, XCompany perusahaan terbesar dan terkaya di dunia mengalahkan tingkat perusahaan keluarganya sendiri BGroup.


“Apa orang yang menyerang ku masih hidup?” tanya Theo dingin, ia tiba-tiba teringat dengan orang yang membuatnya hampir kehilangan nyawa.


“Saya sudah menghabisi mereka beserta seluruh keturunannya master” jawab Hansel.


“Hmm.”


“Apa kamu sudah menemukan gadis itu?” tanya Theo, tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di depannya.


“Maaf master, sampai saat ini saya masih belum menemukan keberadaan gadis itu.”


“Saat kamu menemukanku, apa kamu tidak melihat seorang gadis di sampingku?”


“Tidak master, hanya anda sendiri.”


“Tidak mungkin” lirih Theo. Aku mengingatnya dengan jelas gadis itu berdiri di sampingku dan juga tentang luka di bahuku bagaimana bisa hilang pikirnya penasaran.


Sebenarnya Hansel sedikit bingung, saat pertama kali tuannya tersadar dia terus memintanya untuk mencari seorang gadis dengan rambut putih mungkin silver.


Hansel telah menyebar seluruh orangnya untuk mencari gadis yang diinginkan tuannya, bahkan sudah beberapa kali ia membawa foto gadis dengan rambut putih ke hadapan tuannya tapi hasilnya nihil tidak ada satupun yang cocok dengan yang tuannya cari.


“Tetap cari keberadaan gadis itu.” Perintah Theo mutlak.


“Yes Master.”


Bel berbunyi tanda akhirnya kegiatan belajar mengajar, para murid bergegas merapikan barang bawaannya untuk pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan Elle, Stella dan Emma yang baru saja keluar dari kelas mereka juga sempat bertemu dengan Lily tapi Lily sudah lebih dulu pulang karena disuruh untuk segera pulang oleh orang tuanya. Dan saat ini mereka sedang berada di koridor dekat lapangan basket.


“Kalian pulang dijemput sopir atau mau ikut denganku?” tanya Emma karena hanya dia saja yang sering menggunakan mobil ke sekolah.


“Tidak, mami yang akan menjemputku nanti” tolak Stella.


“Daddy yang akan menjemputku” jawab Elle.

__ADS_1


“Oh, okey.” Ucap Emma.


“Kalian jangan lupa datang nanti siang, aku tunggu” ucap Elle.


“Oke.” Jawab Emma dan Stella bersamaan.


“Guys aku ingin beli minum dulu ke kantin kalian ikut atau tunggu di sini?”


“Di sini saja” jawab Elle dan Emma serempak.


Setelah mendengar jawaban temannya Stella langsung berlari ke kantin sambil berteriak bertanya pada Emma dan Elle apakah ada yang ingin mereka beli juga.


“Ck, itu anak kebiasaan sekali” gerutu Emma melihat tingkah Stella yang berlari sambil berbicara tanpa melihat ke depan hingga terkadang ia menabrak tembok.


“Sudahlah kita tunggu saja Stella” ucap Elle.


“Hmmm, Elle kita tunggu di situ saja” ajak Emma sambil menunjuk bangku yang berada di pinggir lapangan basket, Elle pun mengangguk dan mereka pun duduk di bangku itu.


“Eh, itu Alvaro dan yang lainnya lagi latihan basket” ucap Emma sambil menatap segerombolan lelaki remaja yang bermain basket.


“Mereka cukup hebat” ucap Elle saat ikut melihat ke Alvaro dan teman-temannya di tengah lapangan.


“Tentu saja, mereka kan anak basket unggulan dan kalau tidak salah, satu minggu lagi mereka akan tanding bersama tim basket Brans Highschool.” Jelas Emma.


“Satu minggu lagi? Di mana tempat pertandingannya?” tanya Elle.


“Di sekolah kita” jawab Emma.


“Guys!!” teriak Stella mengejutkan Elle dan Emma bahkan murid-murid yang sedang asik menonton para lelaki yang latihan basket.


“Ihh, malu Stella” bisik Emma, karena menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di area lapangan karena teriakan membahana Stella.


“Sorry,,,” ucap Stella malu.


“Stella, kenapa kamu beli 3 botol?” tanya Elle yang melihat Stella membawa 3 botol air mineral.


“Oh? Iya sekalian untuk kalian berdua” jawab Stella lalu memberikan botol air itu pada Elle dan Emma.

__ADS_1


“Padahal kita nggak minta tapi thanks ya” ucap Emma dan dibalas anggukan oleh Stella.


__ADS_2