The Elves Secret

The Elves Secret
61. Marahnya Seorang Elves


__ADS_3

Elle masih bisa bersabar jika Sarah dan Amel menghinanya tapi tidak untuk keluarganya yang paling berharga dalam hidup Elle.


“L-lepas s-saki-it” ucap Sarah terbata dengan suara gemetar, tubuhnya sudah benar-benar lemas karena pasokan oksigen yang semakin berkurang.


Ctarr


Tiba-tiba suara kilat petir menyambar di langit siang hari yang cerah, membuat mereka semua di kantin teriak ketakutan dan terkejut, mungkin bukan hanya di sekolah bahkan di seluruh belahan bumi pun mengalami fenomena itu.


Elle dengan perasaan amarah yang terlihat jelas di matanya perlahan mulai hilang kendali oleh kekuatan nya sendiri.


Saat akan menumbuhkan tanaman beracun di tubuh Sarah, Elle tiba-tiba mendengar suara bisikan lirih dalam pikirannya.


"Tenangkan diri anda lady"


"Sera?" pikir Elle.


"Jangan sampai anda hilang kendali lady, maka kekuatan anda akan terekspos" peringat Sera.


Lily segera mendekat ke arah Elle yang masih mencekik leher Sarah setelah dia tersadar dari keterkejutan oleh suara petir tadi yang memekakkan telinga.


Walau sedikit gemetar namun dia harus segera menenangkan sahabatnya itu jika tidak Elle bisa masuk penjara jika dia benar-benar ingin membunuh Sarah sekarang.


“Elle hentikan, calm down oke” bujuk Lily sambil memegang tangan Elle yang berada di leher Sarah.


Aku memang sangat senang jika Elle menyiksa parasit itu tapi tidak seperti ini, Elle pasti akan semakin mereka salahkan pikir Lily kalut.


Mata Elle berkedip pelan dengan kesadarannya yang mulai kembali dan tangannya yang mencekik Sarah mulai mengendur, Elle langsung melepas tangannya dan melangkah mundur.


Hampir saja batin Elle sedikit lega.


Dia menghela nafas lalu mengusap pelan wajahnya dengan kedua tangan mengontrol kembali kekuatannya yang hampir bergejolak.


Perlahan Elle memandang sekeliling kantin yang terasa hening, para murid disana terdiam dan memandangnya dengan berbagai tatapan, terkejut bahkan ada juga yang ketakutan.


Elle langsung menoleh ke arah teman-temannya yang terdiam dengan tatapan yang mampu membuat Elle merasa bersalah, lalu tanpa mengatakan apapun Elle pergi meninggalkan kantin.

__ADS_1


Aku membuat teman-temanku ketakutan, apakah jika mereka mengetahui jati diriku mereka akan menjauhiku batin Elle gelisah.


“Elle! Tunggu!” Panggil Lily saat akan menyusul Elle yang sudah pergi tangannya langsung dipegang oleh Emma.


Emma menggeleng pelan, “biarkan, untuk saat ini Elle butuh ketenangan” sambil menatap pintu kantin dengan pikiran berkecamuk, karena tadi Emma melihat sekilas sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dia lihat.


Lily dengan perasaan khawatir dan gelisah hanya bisa menghela nafas pelan “baiklah.”


“A-apa itu tadi?” tanya Stella gemetar, tak tahu dia bertanya pada siapa.


“Sarah!” Ucap Amel berlari menghampiri Sarah terduduk di lantai dengan wajah memucat dan tubuh yang lemas apalagi terdapat bekas memerah di lehernya karena eratnya genggaman Elle tadi.


“D-dia me-mengeri-kaan” lirih Sarah gemetar.


“Ayo aku antar ke ruang kesehatan, bisakah kalian membantuku membawa Sarah?” kata Amel berharap menatap Alvaro dan William.


“Itu adalah hukuman yang pas untuk dia yang berani menghina orangtua Elle!” sentak Lily menunjuk Sarah, lalu pergi meninggalkan kantin diikuti Emma dan Stella.


“Benar-benar nggak punya otak! Setiap di dekat kalian pasti saja ada masalah, bisa nggak sih kalian itu diam dan jangan membuat masalah sehari saja, dasar menjijikkan!” Ucap Felix emosi, cowok humoris kalau emosi itu cukup menakutkan.


“Bangsat.” Umpat William.


“Liam, kenapa kamu membela gadis murahan itu, dia berani menyakitiku bahkan di depan kalian dan aku baru saja hampir mati." Sarah menangis sambil memegang lehernya yang masih terasa sakit.


Alvaro menghembuskan nafasnya kasar mengusap rambutnya ke belakang, dia bingung ingin membela siapa karena disini Sarah adalah sepupunya tapi Elle adalah gadis yang dia cintai.


Terbersit sedikit rasa tidak suka saat dalam diri Alvaro saat mendengar teman-temannya menghina Amel dan Sarah, karena bagaimana pun Sarah sepupunya dan Amel teman kecilnya.


“Kamu seharusnya tidak menyulut emosi Elle, Sarah. Apalagi kamu bahkan menghina orangtua nya siapapun bahkan jika itu aku, juga akan sangat marah dan melakukan hal yang sama.” Jelas Alvaro.


“Aku tidak membenarkan perbuatan mu apalagi perbuatan Elle, karena kalian sama-sama salah disini.”


Setelah mengucapkan itu, Alvaro lalu pergi meninggalkan kantin untuk menenangkan hatinya yang kalut dan bimbang.


Begitupun dengan William, Felix dan Samuel juga pergi meninggalkan kantin. Amel membantu Sarah berdiri perlahan dan menuntunnya berjalan menuju ruang kesehatan.

__ADS_1


Astaga, tadi benar-benar sangat menegangkan.


Eh, tapi aneh nggak sih kenapa tiba-tiba ada petir ya di siang hari yang cerah begini?


Benar juga, apalagi tepat sekali saat Elle mencekik Sarah tadi.


Menyeramkan, aku nggak akan berani mengganggu Elle mulai sekarang.


Ini juga salah Sarah sih berani menghina orangtua Elle, kalau itu aku pasti akan melakukan lebih.


Cih, cuma berani bicara saja. Kamu emang berani melawan keluarga Parker?


Betul juga, terus gimana nasib Elle ya jika keluarga Parker menuntut Elle.


Bisik-bisik para murid di kantin setelah kejadian tadi, banyak juga dari mereka yang menyalahkan Sarah serta juga ada yang membelanya.


Namun yang paling mereka gosipkan adalah tentang fenomena kilat petir tadi, yang terasa aneh menurut mereka karena tiba-tiba ada di siang hari yang cerah ini.


Elle saat ini berada di taman belakang sekolah sendirian karena disana memang selalu sepi, jarang ada murid yang melewati taman ini tidak tahu karena alasan apa.


Elle berjalan perlahan menuju kursi panjang di taman itu lalu duduk di sana, dia memang terlihat seperti melamun namun sebenarnya tidak, tetapi Elle saat ini sedang mengobrol dengan Sera lewat pikirannya.


Entah bagaimana itu bisa terjadi, namun jika itu seorang penyihir apapun bisa terjadi kan apalagi Sera yang seorang penyihir agung.


Elle menyandarkan punggungnya di sandaran kursi lalu menutup matanya. Elle terlihat seperti lukisan seorang peri yang tertidur di tengah taman bunga karena pesona dan kecantikannya itu.


“Bagaimana kamu bisa berbicara di dalam pikiran ku Sera?” tanya Elle.


“Maaf Lady tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada anda, karena saya sangat khawatir apalagi saat terdengar suara gemuruh di langit, maka itu adalah pertanda anda sedang dalam keadaan lepas kendali atau, marah” jelas Sera.


“Bahkan sebenarnya saya juga sedikit ragu melakukan cara ini karena itu mungkin tidak akan berhasil” ucap Sera lagi.


“Apa maksudmu tidak berhasil?” pikir Elle heran.


“Benar Lady, seharusnya saya tidak akan pernah bisa memasuki pikiran anda tetapi mungkin ini juga karena kekuatan anda yang belum sepenuhnya keluar” Jelas Sera.

__ADS_1


“Mungkin benar, tapi aku berterima kasih padamu karena berusaha menenangkan ku tadi, jika tidak mereka semua sudah pasti akan mengetahui identitas asliku” ujar Elle lega.


__ADS_2