
Elle yang merasa ditatap oleh keluarganya seperti itu hanya biasa saja, walau dia tahu pasti setelah ini keluarganya akan bertanya ini itu dan yang terpenting bagaimana dia bisa mengenal seorang Theo.
“Baiklah, mari kita mulai makannya” ucap Ibram memecah keheningan di ruangan itu.
Mereka semua pun memulai makan dengan tenang walau terkadang Theo mencari perhatian Elle, dengan cara mengganggu nya hingga membuat Elle sangat kesal namun dia sebisa mungkin harus tahan, rasanya dia ingin sekali memasukkan seluruh makanan di atas meja ke dalam mulut Theo agar mulutnya tetap diam.
Theo meminta tolong Elle mengambilkannya lauk bahkan benda-benda yang pasti berada di dekat Elle dan Theo beralasan tidak bisa menjangkaunya, benar-benar mencari kesempatan.
Bahkan Hansel pun lagi-lagi dibuat terkejut melihat tuannya yang berubah cerewet jika di dekat nona muda Caldwell itu.
Allan dan Jack semakin geram melihat Theo yang seenaknya memerintah princess mereka, namun berbeda dengan Elle yang terus menuruti perkataan Theo demi mommy dan neneknya yang berpesan agar bersikap sopan pada tamu, walau dalam hatinya ingin sekali memukul wajah Theo yang terus tersenyum dan berbicara itu.
Setelah makan malam selesai Elle langsung kabur menuju halaman belakang, terserah jika dia dianggap tidak sopan pada tamu karena dia sudah tidak tahan melihat Theo. Elle anggap pria gila itu tidak pantas untuk diberi sopan santun sebagai tamu.
Karena Elle sudah sangat kesal pada Theo yang selalu memerintahnya sejak tadi saat di meja makan, dengan alasan seorang tamu adalah raja dan harus dilayani. Sangat menjengkelkan sekali.
Sedangkan Theo yang selalu mencari keberadaan Elle karena tidak terlihat sejak keluar dari ruang makan meminta izin untuk ke kamar mandi, padahal hanya alasannya saja untuk menemui Elle karena dia tahu pasti gadisnya saat ini pasti berada di taman belakang.
Ingat Theo pernah memata-matai Elle bahkan pernah menyelinap ke kamar Elle karena itulah Theo tahu semua tentang Elle kecuali tentang Elle yang bukan seorang manusia pastinya, tapi kita tidak tahu nanti.
Theo berjalan menuju taman belakang setelah meminta izin pada keluarga Caldwell dengan alasan ke kamar mandi, benar-benar licik memang.
Dia berdiri sambil memandang lurus ke arah gadisnya yang duduk di gazebo, Theo perlahan berjalan mendekati Elle.
“Untuk apa anda mengikuti saya?” tanya Elle tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Theo.
Sedangkan Theo tersenyum tipis lalu duduk di samping Elle. “Apa yang anda inginkan master Xander atau, tuan muda Black?” tanya Elle lagi.
Sejak Elle bertemu lagi dengan Theo di perusahaan tadi siang, Elle akhirnya mengingat marga Black adalah nama yang tersemat di nama belakang Theo, bahkan saat daddy nya memanggil Theo dengan sebutan master Xander membuat Elle langsung mengerti.
Theo adalah Master X yang juga seorang tuan muda dari keluarga Black, keluarga yang sering sahabatnya gosipkan jika di kelas.
__ADS_1
Mungkin jika ketiga sahabatnya tahu Elle bertemu dengan idola mereka, Elle yakin mereka akan langsung menjerit heboh.
Membuat Elle tak habis pikir, apa yang bisa diidolakan dari seorang Theo. Padahal dia sendiri pernah terpesona pada seorang Theodore Alexander Black.
Merasa Theo yang hanya diam saja Elle pun menoleh dan langsung bertemu tatap dengan mata gelap Theo yang selalu menatap siapapun dengan tajam, namun berbeda dengan sekarang tatapan itu menatap lembut ke arah Elle. Beberapa saat mereka hanya diam dan saling bertatapan.
“Sangat cantik” lirih Theo mengelus pipi Elle yang terasa lembut dan dingin di tangannya.
Elle yang tersadar langsung memundurkan kepalanya. “Sekarang katakan, apa mau anda tuan Xander?” tanya Elle lagi setelah berhasil menormalkan ekspresinya.
Theo yang melihat respon Elle terkekeh kecil. "Yang aku inginkan hanya dirimu, amour.”Jawab Theo dengan suara beratnya.
“Maaf, tapi saya adalah milik diri saya sendiri." Jawab Elle datar.
Theo menyeringai mendengar ucapan Elle lalu dia mendekatkan wajahnya ke depan hingga hidung mereka sedikit saja hampir bersentuhan.
“Maka aku akan tetap membuat mu menjadi milikku, amour.” Tekan Theo mutlak tak terbantahkan.
“Segeralah masuk ke dalam amour dan langsung istirahat, udara malam tidak baik untuk tubuhmu" ucap Theo lembut sambil mengusap surai perak Elle.
Cup~
Namun sebelum pergi dia sempat mencium sudut bibir Elle, karena bibir pink itu sejak tadi terlihat sangat menggoda dan menarik perhatiannya.
"Aku pergi dulu” pamit Theo.
Theo berlalu pergi dengan senyum puas tercetak di bibirnya, meninggalkan Elle yang masih terdiam kaku dengan wajah terlihat semakin memerah.
A-apa itu tadi? batin Elle linglung.
Keesokan harinya Elle terbangun karena suara alarm yang berbunyi nyaring di atas meja. Sejak dia pertama kali terlambat datang ke sekolah, Elle langsung menggunakan alarm untuk membangunkannya agar tidak terlambat lagi begitu pikirnya.
__ADS_1
Di ruang makan, sarapan dengan suasana canggung memang tidak menyenangkan seperti yang dirasakan Elle saat ini, karena semua anggota keluarganya selalu menatapnya aneh sejak Elle memasuki ruang makan.
“Vivi sudah selesai,” ucap Elle dengan nada suara gugup.
“Oh iya, bagaimana dengan undangan itu dad?” tanya Elle, setelah mengingat tentang undangan yang diberikan pada daddy nya.
“Nanti malam kita bicarakan, bersamaan tentang bagaimana Vivi kenal dengan tuan Xander.” Ujar David yang membuat Elle langsung tersedak saat sedang minum.
“Minumnya pelan-pelan saja sayang” nasehat Hannah sambil memberikan segelas air pada Elle.
“Thanks nek” ucap Elle menerima gelas itu.
“Undangan apa? Apa Vivi ada masalah di sekolah?” tanya Ibram heran.
“Tidak kek, itu hanya undangan pertemuan orangtua murid di sekolah mungkin membahas tentang camping karena itulah Vivi jadi bingung” jawab Elle.
“Identitas Vivi masih dirahasiakan jadi kita tidak bisa bebas menjadi wali Vivi, wajah kita semua sudah diketahui oleh orang banyak” ucap Jack.
“Mmm, bagaimana kalau menyamar saja” usul Allan.
“Itu cukup bagus.” Komentar David sambil mengangguk kecil.
"Namun merepotkan" timpal Jack santai.
“Lebih baik nanti malam saja kita bahas, Vivi harus cepat berangkat ke sekolah lho nanti terlambat” ucap Monica.
“Oh iya, kalau gitu Vivi berangkat dulu ya, bye all” pamit Elle lalu berjalan menuju pintu utama.
Elle memarkirkan mobilnya di antara mobil-mobil mewah murid lain, ingat sekolah HIHS adalah sekolah elit jadi tidak heran kalau murid-murid Harvest membawa kendaraan mewah karena kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga konglomerat.
Elle keluar dari mobilnya dan berjalan menuju koridor sekolah menghiraukan berbagai macam tatapan dari murid-murid di sana.
__ADS_1
“Elle!” seperti biasa teriakan Lily dan Stella mampu menarik perhatian semua orang.