The Elves Secret

The Elves Secret
31. Dinner With Alvaro


__ADS_3

Elle pun turun dari atas motor lalu melepas helm yang melekat di kepalanya, ia lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Ayo masuk.” Ajak Alvaro lalu memegang tangan Elle, membuat Elle sedikit terkejut dengan sentuhan Alvaro yang tiba-tiba itu.


Alvaro membawa Elle masuk ke dalam restoran tanpa melepas genggaman tangan mereka, saat memasuki lobby restoran Alvaro menatap tajam para pengunjung pria yang saat ini menatap Elle terpesona. Lalu kembali berjalan memasuki ruangan khusus VIP.


“Al, bisa lepas dulu tangannya.” ucap Elle tiba-tiba


Karen jujur sejak memasuki restoran Elle merasa sedikit tidak nyaman dengan Alvaro menggandeng tangannya apalagi dia bisa mendengar bisik-bisik pelanggan yang banyak menjelekkannya karena datang bersama Alvaro putra dari keluarga Parker terutama pelanggan wanita yang mengenal identitas Alvaro.


Ingin sekali Elle mengabaikannya tapi itu semakin terdengar jelas dan membuat Elle berusaha menahan diri agar tidak menyakiti orang-orang itu.


“Ah, maaf.” Jawab Alvaro melepaskan genggaman tangan mereka, walaupun Alvaro sedikit kecewa.


“Tidak apa-apa. Kita masuk saja.” Ajak Elle.


Alvaro mengangguk pelan “Mmm.”


Di dalam ruangan VIP yang sudah mereka pesan. Alvaro dan Elle memesan makanan melalui buku menu yang diberikan oleh seorang pelayan, setelahnya pelayan itu pun pergi dengan membawa pesanan mereka.


Ruangan itu kembali hening karena Alvaro dan Elle tidak berbicara satu sama lain. Alvaro yang bingung berbicara apa begitupun dengan Elle yang hanya diam saja.


Ingat mereka itu sama-sama pendiam, itulah kekurangannya jika sesama introvert berada di satu ruangan akan sulit untuk berkomunikasi.


Dan makanan yang mereka pesan pun datang, Elle yang melihat para pelayan yang menyajikan banyaknya makanan ke atas meja pun mengernyit bingung.


“Al ini kenapa makanan nya banyak sekali, apa salah ruangan?” tanya Elle.


“Tidak, aku yang memesannya untukmu.” Jawab Alvaro santai.


“Astaga, Ini banyak sekali Al bahkan mungkin tidak akan habis. Nanti makanan nya nangis kalau tidak dihabiskan” lirih Elle, teringat dengan nasehat neneknya Hannah agar tidak membuang-buang makanan.


Alvaro hampir menyemburkan tawanya saat mendengar ucapan Elle apalagi melihat wajah kaget Elle yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


“Nanti kalau tidak habis, bisa di bungkus dan dibawa pulang saja” ujar Alvaro lembut.


“Oh iya, baiklah kalau begitu.” Ucap Elle terlihat wajahnya yang kembali bersemangat. Sebaiknya aku berikan nanti pada orang-orang yang membutuhkan di jalan usulnya.


Mereka pun menikmati makanan yang tersaji itu dengan lahap walaupun sebagian ada juga makanan yang tidak tersentuh sedikitpun tapi mungkin akan mereka bawa pulang nanti.


“Ini sangat lezat” puji Elle saat menyuap makanan yang ia pesan tadi.


Alvaro yang melihat Elle makan dengan lahap pun tersenyum. Pipi Elle terlihat lucu karena menggembung membuat Elle semakin terlihat imut. Alvaro sangat berbeda jika di dekat Elle, wajah datar yang biasa diperlihatkan pada orang lain akan berubah menjadi lembut jika dihadapan Elle.


Elle yang merasa ditatap pun menatap Alvaro balik. “Kenapa?” tanya Elle.


Alvaro yang mendengar itu hanya terkekeh kecil, “tidak apa-apa.” Jawab Alvaro.


Ternyata memang benar Elle memang tidak peka, jadi aku harus lebih berusaha pikir Alvaro menghela nafas.


Elle sudah selesai dengan makanannya begitupun dengan Alvaro, mereka hanya memakan makanan secukupnya bahkan masih cukup banyak makanan yang belum tersentuh di meja itu.


“Permisi, tolong sisanya di bungkus ya dan ini kartunya” ucap Elle sopan pada seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di sana, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM biasa yang diambil saat di kamarnya tadi tetapi isinya luar biasa, ingat Elle itu adalah nona muda Caldwell.


Pelayan itu pun mengangguk “mohon ditunggu sebentar nona dan tuan muda” ucap pelayan itu sopan lalu bersama ketiga pelayan lainnya membereskan makanan di atas meja.


Setelah pelayan itu pergi Elle langsung menoleh ke arah Alvaro “Al, bukankah aku yang akan membayar lebih dulu” ujarnya heran.


“Tidak, aku yang membayar karena aku juga yang membawamu ke restoran ini.” Jawab Alvaro menolak.


“Tapi aku sudah,,,”


“Mungkin lain kali, saat kita keluar lagi giliranmu yang akan membayar” potong Alvaro saat melihat Elle yang akan protes.


Elle hanya menghembuskan nafas pelan lalu mengangguk “baiklah.”


Pelayan tadi datang ke ruangan bersama dua orang pelayan lain membawa tas berisi makanan tak lupa dengan kartu hitam milik Alvaro. “Permisi, ini pesanan anda nona dan kartu milik anda tuan muda” Ucap pelayan itu.

__ADS_1


“Terima kasih” jawab Elle sedangkan Alvaro hanya mengangguk kecil menerima kembali kartu miliknya.


Saat Elle akan mengambil tas berisi makanan itu Alvaro lebih dulu menahannya, “biar aku bawakan.”


“Tidak apa-apa Al, aku bisa kok” tolak Elle.


“Sudah, ayo kita keluar” ajak Alvaro sambil menggenggam tas berisi makanan itu. Elle pun hanya mengedikkan bahu lalu mengikuti langkah Alvaro.


Seperti tadi saat melewati lobby restoran lagi mereka berdua kembali menjadi pusat perhatian, apalagi saat mereka semua sudah tahu kalau pria yang bersamanya tak lain Alvaro adalah seorang anak konglomerat dari keluarga Parker yang sudah terkenal di negara ini, pasti akan menjadi topik panas di kalangan masyarakat. Karena sangat jarang putra keluarga Parker itu jalan keluar bersama seorang cewek.


Sesampainya di tempat parkir, Elle sudah melihat mobilnya yang sudah ditempatkan tepat di samping motor Alvaro.


“Mobilku sudah disini, siapa yang bawa?” tanya Elle pada Alvaro.


“Orang suruhan ku. Apa kamu akan langsung pulang?” tanya Alvaro mengalihkan pembicaraan.


Elle mengangguk pelan “sepertinya Iya, tapi sebelum itu aku boleh membagikan makanan ini pada orang di pinggir jalan” izin Elle pada Alvaro.


Alvaro tersenyum kecil mendengar itu, gadis yang ia cintai memang tepat batinnya.


“Kamu bisa melakukan apapun dengan makanan itu” ucap Alvaro.


Elle pun langsung tersenyum, terlihat matanya berbinar semangat “terima kasih Al.”


“Mmm, ayo berangkat nanti aku ikuti dari belakang” ujar Alvaro.


Elle memasuki mobilnya setelah memasukkan semua tas berisi makanan itu ke kursi belakang, lalu berjalan keluar dari kawasan restoran diikuti Alvaro di belakangnya. Mereka berjalan perlahan di tengah jalan sambil melihat orang-orang di pinggir jalan. Dan beberapa kali Elle berhenti jika ia melihat seorang gelandangan, pengamen bahkan tukang sapu jalanan untuk di bagikan makanan yang ia beli tadi di restoran.


Benar, Elle tadi kembali membeli makanan untuk dibungkus sejak ia berniat untuk membagikan makanan bahkan di dalam makanan itu juga terdapat uang yang disembunyikan di dalam bungkus makanan, yang di pinta diam-diam oleh Elle pada pekerja restoran. Awalnya restoran itu akan menolak tetapi langsung mereka kerjakan setelah diperintahkan oleh sang manager restoran yang datang langsung menemui Elle setelah manager itu mendapat telepon dari David karena tahu bahwa restoran itu berani menolak permintaan putrinya.


Kenapa David bisa tahu, karena pengawal yang tetap menjaga dan mengikuti Elle secara diam-diam langsung memberitahu David saat melihat pelayan restoran itu akan menolak permintaan sang nona muda Caldwell.


Beruntung restoran itu adalah salah satu properti milik keluarga Caldwell sehingga para pegawai restoran dengan cepat membuat pesanan itu apalagi di perintahkan langsung oleh sang pemilik restoran tapi tentu saja Elle tetap membayar dengan uangnya sendiri.

__ADS_1


Elle sebenarnya tidak tahu kalau restoran mewah ini adalah milik keluarganya tapi walaupun ia tahu, Elle tidak akan pernah membongkar identitasnya dan menyombongkan marganya untuk memerintahkan orang lain karena ia tidak ingin membuat orang kesulitan karena dirinya.


Namun di lain sisi para pekerja restoran bingung dan tetap penasaran siapa identitas Elle hingga bisa membuat manager bahkan chef mereka yang sangat disegani itu mengikuti perkataan gadis berambut perak itu. Mungkin saja karena putra dari keluarga Parker itu pikir mereka.


__ADS_2