
“Tuan muda!”
William mengangguk kecil saat mendengar sapaan dari salah satu anak buah mereka.
William berjalan memasuki villa, terlihat keadaan markas yang sangat berantakan dengan pembungkus snack dan minuman kaleng yang berserakan.
William sang penyuka kebersihan menghela nafas kasar melihat itu, sebelum mata tajamnya tertuju pada pemuda yang tengah berbaring di sofa panjang.
“Samuel.” Dengan suara datar yang begitu menyeramkan bagi siapapun yang mendengarnya.
Samuel yang merasa dipanggil lantas menengok, dia langsung membulatkan matanya saat melihat kehadiran William yang tengah berdiri.
“Will!” kagetnya.
William mendengus lalu duduk di single sofa. “Bersihkan tempat ini sekarang, jika tidak kau akan tahu akibatnya” ujar William datar.
Sam yang awalnya ingin protes langsung urung saat melihat tatapan tajam William. “Iya-iya ini aku bersihin kok” ujarnya mulai memungut sampah yang berserakan di lantai.
“Woi fel lantai! Kenapa malah senyum bantuin sini! Kamu juga kan yang kotorin tadi!?” panggil Sam pada Felix yang baru datang dari dapur dengan segelas jus di tangannya sambil menonton Sam yang cosplay menjadi pembantu.
“Bersihin aja sendirilah, lagian kamu kamu juga kan yang paling banyak makannya tadi” ucap Felix santai melengos duduk di sofa.
Sam melotot dan melempar tong sampah yang dia pegang hingga mendarat di kepala Felix.
“Sialan! Malah salahin aku lagi, kesini cepat bantuin aku! ngajak baku hantam ini makhluk astral” ujar Sam melotot tajam pada Felix.
“Ck, iya-iya sabar napa.”
Felix mendengus kesal dan mengambil tong sampah yang tadi dilempar Sam sebelum menghampiri pemuda itu lalu membantunya membersihkan ruangan itu.
Walaupun ada anak buah mereka yang tinggal di tempat ini namun jika di camp semuanya harus mereka lakukan sendiri, seperti memasak dan membersihkan yang mereka buat sendiri.
William hanya menatap mereka tanpa ekspresi, “dimana Varo?”
“Di kamarnya mungkin kalau tidak ya di ruang menembak” jawab Felix tanpa menghentikan aktifitas nya
Alvaro yang mereka bicarakan langsung datang dari arah tangga dan langsung duduk di sofa.
Alvaro menatap William yang duduk santai sambil memegang ponselnya.“Baru datang?”
“Mmm” gumam William sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
“Aku dengar kau dari rumah Elle, apa benar?” tanya Alvaro membuat suasana menjadi hening.
“Benar.”
Alvaro terkekeh kecil, “kenapa hanya kau saja yang diberitahukan alamatnya, sedangkan aku tidak?” tanya Alvaro entah pada siapa namun terlihat jelas ada kemarahan dan kekecewaan di matanya.
“Aku sudah pernah cerita padamu jika Elle adalah sahabat kecilku jadi aku semua tentangnya” balas William.
“Namun kenapa kamu tidak pernah memberitahuku alamatnya William, bahkan kamu tahu dengan jelas jika mencintai Elle” Geram Alvaro.
"Karena kamu tidak pernah bertanya, dan juga ingat masalah mu belum selesai dengan mantan calon tunangan mu itu, Varo" balas William.
Felix langsung berdiri dan melerai berdebatan kedua sahabatnya, “sudah hentikan, kenapa kalian jadi berdebat begini.”
“Lagipula Elle tidak memberiku izin untuk memberitahu siapapun tentang alamatnya” kata William sambil menyimpan ponselnya di saku.
“Kenapa?” tanya Alvaro bingung begitupun dengan Felix dan Sam yang terlihat bingung.
“Aku tidak bisa memberitahumu alasannya karena itu bukan hakku.” Balas William lalu berdiri pergi menuju kamarnya.
“Apakah ada sesuatu yang disembunyikan William? Dan ini mengenai Elle?” gumam Sam memegang dagunya.
“Sudah nggak usah berpikir, otak kamu itu tidak akan mampu jika diajak berpikir lanjutkan saja tuh bersihinnya” ujar Felix.
Sedangkan Alvaro terdiam melamun dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Kenapa? Memangnya apa yang William rahasiakan dan ini tentang Elle? Aku harus mencari tahu semuanya pikirnya.
Di tempat parkiran sekolah HIHS, para murid masih berdiri dan juga berkumpul disana ada yang bergosip, menunggu teman dan lain-lain.
Begitupun dengan Lily, Emma dan Stella menunggu kedatangan Elle. Hari ini adalah pertemuan para orangtua murid untuk membahas Camping yang akan dilaksanakan setelah perlombaan Olimpiade Sains.
Mobil Elle memasuki kawasan sekolah dengan lancar, setelah memarkirkan mobilnya Elle keluar dari mobil dan berjalan menuju para sahabatnya.
“Kalian sudah lama menunggu?” tanya Elle.
“Tidak, sebenarnya kami baru juga datang” jawab Emma begitupun dengan Lily dan Stella yang mengangguk.
Tiba-tiba datang Alvaro, William, Felix dan Sam tak lupa dengan dua cewek yang terus menempeli mereka seperti lintah, Amel dan Sarah.
Wajah mereka langsung tertekuk kesal melihat kedatangan dua parasit itu.
“Kenapa pagi-pagi udah ditekuk aja tuh wajah?” tanya Felix dengan heran.
__ADS_1
“Oh adikku yang imut, ada apakah dengan wajahmu itu hmm?” tanya Sam mengunyel pipi Emma.
“Stop it kak, sakit tahu” ucap Emma kesal menepis tangan Sam dari pipinya.
“Karena kedatangan kalian bersama parasit itu tuh bikin kita kesel” ucap Lily mendelik kesal.
“Oh iya Elle, siapa yang datang ke pertemuan orangtua nanti?” tanya Stella tiba-tiba.
Elle hanya tersenyum tipis mendengar itu, “seseorang” jawabnya singkat.
“Kenapa? Siapa yang datang Elle?” tanya Stella lagi penasaran.
Emma menyenggol lengan Stella untuk memperingatkannya. “Stella stop, apa kamu lupa siapa Elle.” Bisiknya.
“Astaga aku lupa” gumam Stella menepuk pelan jidatnya.
“Sudahlah, ayo masuk ngapain kita berdiri di parkiran gini” ucap Lily.
“Yaudah, kalian ikut saja kita ke kantin” kata Felix.
“Yuklah” ucap Stella dan dengan terpaksa Emma dan Lily ikut mengangguk, padahal mereka malas jika bergabung sama Amel dan Sarah.
Sejak kapan ya kita jadi bergabung gini sama tuh parasit pikir Emma dan Lily kesal.
Mereka pun pergi dari parkiran dan berjalan masuk menuju kantin untuk makan dan mengobrol sambil menunggu waktu rapat datang.
Mereka sampai di kantin yang ternyata ramai dengan para murid, mereka duduk di meja paling pojok di kantin setelah mengambil makanan masing-masing tadi.
“Kalian nanti siapa yang datang?” tanya Felix memecah keheningan karena sejak mereka duduk semuanya tetap diam saja.
“Kalau itu jelaslah orangtua kita yang datang Fel, kan undangan itu hanya untuk orangtua murid” jawab Stella memutar bola matanya malas.
“Jika orangtua yang datang, apakah orang tua Elle juga akan hadir? Memangnya orangtua kamu nggak malu datang Elle? Ini kan pertemuan para keluarga konglomerat yang bermartabat.” Ucap Amel dengan lembut namun terisak sindiran disana.
“Terus masalah buat kamu gitu” ketus Lily.
“Ucapan Amel memang benar kan, orangtua dia itu nggak pantes datang ke pertemuan ini bikin jijik tahu lihat orang miskin, palingan orangtua dia datang hanya agar bisa menjilat orang-orang kaya seperti kita” hina Sarah sambil tertawa remeh.
Elle tiba-tiba berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Sarah dan langsung mencekik leher Sarah dengan erat hingga tubuh Sarah sedikit terangkat.
“Elle!! / Sarah!!” Teriak mereka semua terkejut, karena ini pertama kalinya mereka melihat kemarahan di mata Elle.
__ADS_1
“Beraninya kamu menghina orangtua ku.” Desis Elle tajam mengeratkan cengkeraman tangannya di leher Sarah.