
Mereka yang mendengar penjelasan Allan dan ucapan Elle cukup merasa aneh. Apakah sebuah pensil mistis pikir mereka.
“Apa kakek boleh melihat pensil itu sayang?” ucap Ibram.
Elle meminum segelas jus yang berada di depannya karena telah menyelesaikan sarapannya.
Lalu dia kemudian membongkar tasnya mengambil sebuah kotak persegi panjang terbuat dari kayu berwarna putih lalu memberikannya pada Ibram.
Ibram langsung menerimanya dan membuka kotak itu, terlihat sebuah pensil perak dengan ukiran yang cukup rumit namun sangat indah.
Begitu pun dengan yang lainnya merasa penasaran dengan pensil itu sehingga Elle langsung mengatakan jika pensil itu bukan pensil biasa.
“Itu terlihat seperti pensil biasa bedanya pensil itu memiliki ukiran yang indah dan terlihat usang” komentar David.
“Memang benar, aku akan mencoba mencari informasi lain tentang pensil ini” ucap Jack sambil mengeluarkan ponselnya lalu memotretnya pensil itu untuk diberikan pada anak buahnya agar mencari informasi lain tentang pensil itu.
“Vivi berangkat dulu nanti Vivi bisa terlambat” ucap Elle.
Setelah menyimpan kotak pensil itu di tasnya, Elle pun berangkat ke sekolah setelah berpamitan.
Setelah sampai di sekolah, Elle langsung menuju ke taman sekolah dan duduk di kursi panjang yang terdapat di taman itu.
Ia mencari tempat yang lumayan sepi dan cukup menenangkan apalagi Elle yang sangatlah suka berdekatan dengan alam.
Elle membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kotak putih lalu membukanya, dengan perlahan Elle mengambil pensil itu.
Dia sudah mencoba menggunakan pensil untuk menulis tapi tidak ada tinta yang keluar juga pernah ingin memasukkan tinta tapi tidak ada lubang tempat memasukkan tintanya.
Dan itu membuat Elle semakin bingung, jika tidak berfungsi sebagai alat untuk menulis lalu untuk apa.
Saat Elle sedang melamun dengan pikirannya, seorang gadis yang cukup cantik namun kelihatan tomboy mendekatinya.
“Elle,” panggil gadis itu.
Elle langsung menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya, “ada apa?” tanya Elle.
__ADS_1
Gadis bernametag Roseanne Dorris, berjalan mendekati Elle lalu duduk di sampingnya. “Aku melihat pertandingan mu waktu itu dengan Alvaro, kau cukup hebat dalam bermain basket. Mau ikut dalam club basket cewek nggak?” tanya Rose penuh harap.
Rose memang adalah seorang ketua club basket di Harvest Highschool yang cukup terkenal bahkan sudah berkali-kali menjuarai berbagai pertandingan antar sekolah.
“Maaf, aku tidak bisa” jawab Elle membuat Rose yang mendengar itu langsung lesu. Elle menolak bukan karena tidak mau tapi dia ingin fokus dahulu mencari identitasnya.
“Mmm, baiklah tidak apa-apa. Tapi jika kita sesekali bertanding bersama dengan anggota ku boleh kan?” tanya Rose, walaupun Elle tidak bisa masuk ke dalam clubnya tapi dia senang jika bisa dekat dengan Elle.
Elle mengangguk dengan senyuman tipis “tentu.”
Rose yang mendengar itu merasa sangat senang, walaupun dia terlihat tomboy tapi Rose sangat friendly pada semua orang.
“Terima kasih Elle, kabari aku ya jika kamu ingin latihan basket atau berubah pikiran. Namaku Roseanne Dorris tim basket cewek, kalau begitu aku pergi dulu. Maaf ya jika mengganggu waktumu” ucap Rose tak enak.
“Tidak sama sekali, aku senang mengobrol denganmu” ucap Elle ramah yang membuat Rose semakin salah tingkah. Jangan lupa kalau Rose juga salah satu orang yang mengidolakan Elle selain Lily.
Setelah mendengar ucapan Elle, Rose langsung pamit pergi walaupun tidak membawa kabar baik pada anggotanya yang sangat berharap Elle akan bergabung tapi ada juga keuntungannya jika Elle bersedia akan ikut berlatih bermain basket dengan mereka.
Setelah Rose pergi, Elle kembali membuka sebuah catatan bertuliskan teka teki yang dia dapat dari kotak kayu di toko antik itu.
Bel berbunyi tanda masuk, Elle bangkit dari duduknya untuk segera masuk ke kelas. Di dalam kelas sudah ada teman-temannya yang duduk di bangku mereka.
“Elle, kamu darimana sih. Kenapa beberapa hari ini kamu suka sekali menghilang?” omel Lily.
“Maaf,” jawab Elle.
“Jika ada masalah cerita sama kita, kita kan teman kamu Elle” ucap Stella.
Elle hanya tersenyum tipis. “Oh iya, apa tugas kalian sudah selesai?” tanya Elle mengalihkan pembicaraan.
Lily, Emma dan Stella yang mendengar itu tahu jika Elle mengalihkan topik pembicaraan tapi tidak mungkin kan mereka memaksa Elle bercerita.
Setiap orang mempunyai rahasia masing-masing termasuk mereka dan mereka bertiga mengerti itu. Karena itulah mereka membiarkan Elle yang berinisiatif sendiri jika ingin menceritakan masalahnya pada mereka.
Saat jam istirahat di dalam toilet sekolah, Elle membersihkan tangannya di wastafel setelah keluar dari bilik toilet. Dia memandang dirinya di depan cermin dan tanpa sadar Elle memegang helaian rambut peraknya yang tergerai terasa halus dan lembut juga sedikit dingin, itulah perbedaan rambut Elle dengan manusia biasa.
__ADS_1
Jika seorang albino maka rambutnya akan pirang semuanya namun Elle berbeda makanya jika ada orang yang bertanya dia akan beralasan menggunakan cat rambut. Bahkan fisikku saja tidak seperti manusia dan beruntung tidak ada yang curiga batinnya.
Saat Elle akan mengambil tissue dia melihat seorang gadis berambut pirang memasuki toilet lewat pantulan cermin, Amel memandang Elle dengan tatapan sinis dan benci berbeda dengan Elle yang hanya biasa saja dan terlihat tenang melakukan aktivitasnya.
“Ternyata nyalimu cukup besar juga untuk menggoda Alvaro” sinis Amel. “Kamu itu hanyalah gadis rendahan yang tidak pantas berada di dekat Alvaro, maka aku peringatkan padamu menjauhlah dari Alvaro!” geram Amel.
Elle dengan santainya membuang tissue ke tempat sampah yang tadi ia gunakan mengelap tangannya yang basah menghiraukan ucapan Amel.
Amel yang melihat itu semakin geram melihat keterdiaman Elle, “kamu dengar tidak sialan!” bentaknya sambil meremas bahu Elle erat, mungkin akan menyisakan sedikit memar tapi Elle hanya biasa saja tidak sedikitpun meringis kesakitan.
Mendapat perlakuan seperti Elle dengan wajah tenangnya menyingkirkan tangan Amel dengan pelan di bahunya.
“Apa aku menyuruhmu menyentuhku.” Suara Elle terdengar dingin dan tajam membuat Amel sedikit terkejut dan gemetar dengan aura yang dikeluarkan Elle.
Amel menatap netra hijau emerald Elle, dia akui gadis di depannya ini memang sangatlah cantik mungkin melebihi dirinya. Dan Amel tidak terima jika ada yang melebihi kecantikan dirinya.
“Dengar, menjauhlah dari Alvaro karena dia adalah calon tunangan ku.” Geram Amel.
“Kenapa aku harus mematuhi mu?” tanya Elle dengan wajah tenang memiringkan kepalanya.
Nafas Amel terlihat memburu dengan wajah memerah karena marah melihat wajah tenang Elle.
“Alvaro adalah milikku dan tidak akan pernah menjadi milikmu, kami sudah lama saling mengenal dan Al juga pernah bilang jika dia hanya ingin menikah denganku. Tapi kamu datang begitu saja di kehidupan Al dan ingin merebutnya dariku, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!” teriak Amel dengan mata penuh amarah menatap Elle.
Elle terkekeh kecil mendengar ucapan Amel lalu menyandar di wastafel, “itu bukan urusanku, dan aku tidak berminat mendengar curhatan mu itu. Jika Al adalah milikmu maka kamu kejar saja kenapa malah memberitahuku.” Ucap Elle santai sambil melipat kedua tangannya di dada dengan mata masih menatap Amel.
“jika kamu tidak menyukai Alvaro, kamu bisa kan tidak mendekatinya!” bentak Amel mendorong bahu Elle dengan telunjuknya.
Elle melangkah pelan mendekat ke arah Amel dengan aura intimidasi nya, ”aku tidak pernah mendekati Al karena dia yang lebih dulu mendekati ku jadi jika ingin protes maka katakan saja langsung padanya, karena itu tidak ada hubungannya dengan ku.” Desis Elle, jujur dia mulai merasa jengah dengan perdebatan ini.
Saat melihat Elle akan melewatinya, “tunggu, aku belum selesai denganmu!” teriak Amel mencoba mencekal bahu Elle.
Sedangkan Elle yang melihat itu langsung refleks menghindar, karena Amel berdiri secara tidak seimbang dan tersandung dengan kakinya sendiri sehingga dia langsung tersungkur jatuh ke lantai toilet tepat di samping kaki Elle.
“Menyedihkan” komentar Elle tajam, lalu keluar dari toilet meninggalkan Amel yang masih jatuh tengkurap di lantai toilet.
__ADS_1
"Arghhh! Sialan!!" Teriak Amel marah sendirian di dalam toilet seperti orang gila.