
Terdapat sebuah buku usang dengan ukiran yang sama seperti kotaknya namun terlihat sebuah tulisan di tengahnya dengan huruf belum pernah Elle lihat namun anehnya Elle dapat mengerti “ელფები".
Elves apa maksudnya batin Elle bingung.
Elle membuka buku itu namun hanya terdapat kertas usang yang kosong tidak ada satupun tulisan disana yang semakin membuat Elle bingung.
Karena tidak mendapat apa-apa, Elle yang berniat menutup kembali kotak itu terhenti saat melihat sebuah ukiran seperti tulisan dengan huruf yang sama dengan Elle lihat di sampul buku dan berada di balik tutup kotak kayu itu.
Beruntung Elle dapat mengerti tulisan itu walaupun ia juga penasaran bagaimana dia tiba-tiba mengerti, padahal Elle belum pernah mempelajari huruf-huruf itu sebelumnya.
“Jawaban di dalam dirimu, alam menunggu kegelapan bersatu, tuntas kan tugasmu.” Elle membaca tulisan itu.
“Apa maksudnya?” lirihnya.
Elle semakin kebingungan dengan teka teki itu ia lalu menutup kembali kotak itu berniat membawanya pulang, saat akan melewati jejeran lemari tiba-tiba kotak itu terasa sangat berat sekali hingga Elle tidak mampu membawanya bahkan dengan terpaksa Elle menyeret nya di lantai.
Elle berbalik kembali membawa kotak itu menuju meja dan menaruhnya ke atas meja, yang ajaibnya kini kotak itu kembali terasa ringan seperti kotak itu telah mengeluarkan beban berat.
“Apa kotak ini tidak ingin aku bawa keluar dari ruangan ini, terus apa yang harus aku lakukan? Haah ini membingungkan, bahkan keberadaan diriku saja membingungkan untuk manusia.” Elle tertawa kaku mendengar ucapannya yang mulai ngelantur.
Elle kemudian kembali membuka kotak itu dan mengeluarkan buku di dalamnya, dan ternyata di dalam kotak itu juga terdapat sebuah pensil kuno berwarna perak dengan ukiran sangat cantik.
Elle mengambilnya lalu mengamati pensil itu dan dia merasa seperti pensil ini juga menginginkannya, sedikit aneh memang tapi itulah yang dirasakan Elle saat pertama kali memegang pensil itu.
“Mungkin besok aku harus kembali lagi kesini untuk memecah teka teki di buku ini, aku yakin semua informasi yang aku cari berada di buku ini. Hari ini aku bersama kakak, aku tidak ingin membuatnya lama menunggu dan untuk pensil ini aku akan membawanya” gumam Elle.
Elle keluar dari ruangan itu setelah kembali menutup kotak yang tadi dia buka, meninggalkan buku yang sudah terkunci secara ajaib di dalam kotak.
“Kakak, maaf membuat kakak menunggu lama” ucap Elle tidak enak, setelah melihat Allan duduk di kursi dekat jendela dengan secangkir teh di depannya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Bagaimana? Vivi mendapatkan sesuatu?” tanya Allan sambil mengusap lembut rambut perak Elle.
“Aku belum dapat apapun, sepertinya aku akan kembali ke sini lagi besok.” Jawab Elle.
“Baiklah, kakak akan antar lagi besok” ujar Allan.
“Tidak kak, aku ingin datang sendiri saja” tolak Elle.
“Baiklah, terserah Vivi saja tapi ingat sweetie tetap harus minta izin dahulu pada kami jika ingin pergi” ucap Allan, agar Elle tidak datang sendirian kecuali dia dijaga ketat oleh orang suruhan Jack atau David.
“Tentu saja” jawab Elle mengangguk cepat.
“Apakah ada yang dapat menarik perhatian nona?” tanya Sera yang berdiri sejak tadi melihat interaksi kakak dan adik itu.
“Ini, aku ingin membelinya” ucap Elle sambil memperlihatkan pensil di tangannya. “Dan sepertinya aku akan sering datang kesini untuk membaca.” Lanjutnya.
“Oh pensil ini, sepertinya dia memang berjodoh dengan nona dan saya akan dengan senang hati menyambut kedatangan nona lagi,” ucap Sera dengan penuh arti.
Pagi-pagi sekali saat ini Elle sudah berada di dalam kelasnya, duduk sendirian dengan memegang sebuah pensil perak di tangannya sambil memandang ke arah langit lewat kaca jendela kelas. Ia masih memikirkan teka-teki yang dia ditemukan di kotak kayu kemarin.
“Ini anak ternyata udah disini, pantas saja kita nunggu di luar nggak nongol-nongol” gerutu Stella kesal saat melihat Elle yang mereka tunggu sedari tadi di parkiran malah duduk santai di bangkunya.
“Tumben datang pagi sekali?” tanya Emma.
“Lagi ingin saja” ucap Elle singkat.
“Benar-benar deh, lama-lama kamu seperti Varo sama Will irit sekali bicaranya” dumel Lily.
“Dia memang sudah seperti itu sejak pertama kali masuk” timpal Emma. Sedangkan yang dibicarakan hanya diam sambil fokus menatap langit dengan pikiran yang berkelana.
__ADS_1
“Ekhem, ngomong-ngomong tentang Varo dan Will. Elle kamu akan pilih mana diantara mereka berdua? Apalagi aku dengar kamu sudah kencan dengan Alvaro,” tanya Lily menaik turunkan alisnya menggoda Elle.
“Untuk mengapa aku memilih? Lagipula kami hanya saling mentraktir karena taruhan saat bertanding waktu itu” ucap Elle dengan masih memandang ke luar jendela.
“Mereka berdua kan menyukaimu Elle” jelas Lily.
“Aku juga menyukai mereka.” Jawab Elle cepat sambil menoleh ke arah Lily.
“Benarkah!?” heboh Lily dan Stella bersamaan, sedangkan Emma hanya menghela nafas diam karena dia tahu apa maksud ucapan Elle.
“Iya, sama seperti aku menyukai kalian.” jelas Elle terlihat bingung melihat respon Lily dan Stella yang tadinya heboh kini berwajah cemberut setelah mendengar ucapannya.
Sedangkan Emma berusaha menahan tawanya, “sudah ku bilang dia tidak akan mengerti, biarpun Elle terlihat dewasa dia tuh masih sedikit polos” bisik Emma pada Lily.
“Bukan itu maksud kita Elle tapi, gimana ya cara jelasinnya?” bingung Lily sendiri sambil menggaruk pelan pipinya menatap Stella dan Emma meminta bantuan.
“Sudahlah, biarkan saja Elle merasakan perasaannya sendiri jika dia sudah paham kita bisa menjelaskannya lagi” ucap Stella.
Di kantin, Elle bersama teman-temannya sedang fokus makan diselingi candaan Stella dan Lily, kedatangan Alvaro dan kawan-kawannya menghampiri meja tempat Elle membuat mereka semakin menjadi pusat perhatian. Ya tidak hari ini saja tapi hampir setiap hari.
“Geser.” Perintah Alvaro datar pada Lily.
“Nggak mau, itu kan ada kursi kosong” tolak Lily. “Oke-oke aku pindah” ucapnya mengalah saat melihat tatapan tajam Alvaro.
Kini, tempat duduk Elle berada diantara kedua pria minim ekspresi itu yang tak lain Alvaro dan William. Yang awalnya tempat duduk Alvaro ditempati oleh Lily.
"Untukmu,” ucap William lembut sambil menyodorkan sekotak susu madu yang tadi ia beli untuk diberikan kepada Elle.
“Terima kasih Liam” balas Elle tersenyum tipis.
__ADS_1
Walaupun Elle sedikit bingung karena hampir setiap hari William memberikannya sekotak susu madu tapi ia tetap menerimanya dan berterima kasih, jika ada yang berniat baik kenapa harus menolak apalagi William adalah teman kecilnya.
Sedangkan seorang gadis yang melihat itu sangat geram sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan semakin melihat Elle dengan tatapan penuh kebencian.